Aura kuning menyelimuti tubuh Maung Bodas, disusul para maung lodaya yang telah melewati pintu gerbang perbatasan. Semua maung lodaya sudah melewati pintu gerbang perbatasan, tubuh mereka diselimuti aura kuning tebal, mereka semua telah berbaris rapi.
Tiba-tiba.
POFF...POFF...POFF...POFF...POFF...POFF...
Tubuh seluruh maung lodaya yang semula tubuh harimau menjadi tubuh manusia, sontak membuat semua orang yang melihatnya kaget bukan kepalang kecuali Wijaya Kusuma.
Bagaimana mungkin seekor harimau berubah menjadi manusia. Para pria badanya tegap, kekar, memakai baju berwarna kuning loreng hitam. Para wanita badannya langsing dan sintal, dengan rambut panjang lurus berwarna hitam, memakai baju putih dengan loreng hitam.
Ada 3500 wanita dan 6501 Pria, Maung Bodaslah yang terlihat lebih gagah kisaran manusia umur 25 tahun, dengan tubuh kekar dengan jubah hitam loreng putih dan tanda segel kontrak abadi di keningnya.
Kontrak abadi di benua nusantara belum pernah ada yang menggunakannya jadi manusia lain tak akan curiga dengan tanda segel itu.
Wijaya menghampiri Maung bodas, " saudaraku aku akan pergi ke istana untuk menyembuhkan kakek raja dan nenek ratu dahulu, lalu aku akan menyerahkan surat ini dan membicarakannya dengan mereka."
"Keren juga Wijaya ini, ternyata dia pengeran dikerajaan ini, tak kusangka!, pantas saja balakosawa disini langsung menerimanya dengan baik," batin Maung Bodas.
"Woy, kedengaran tau!" teriak Wijaya.
"Eeeeeeh, oh maaf, maaf, baiklah aku akan mendirikan kamp dahulu di sini dengan para rakyatku!" kata Maung Bodas.
Sebelum pergi Wijaya Menghampiri Sarja, "Kakek mohon izin dan bantuannya, untuk para rakyatku mendirikan kamp disini untuk sementara waktu, karna aku harus bergegas ke istana untuk menyembuhkan kakek raja dan nenek ratu, serta meminta izin kakek arya untuk rakyatku tinggal di Wilayah Brabang Sari!".
"Baiklah nak, hati hati di jalan!" Sarja sambil mengelus lembut kepala Wijaya.
Wijaya pun pergi berlari melesat cepat dengan ajian baladewa brabata naga,"SHUA...SWUSHH...".
Peningkatannya pun lebih cepat dari sebelumnya, hanya dalam waktu 15 menit dengan berlari Wijaya sudah sampai di pintu gerbang istana kerajaan.
"KRESEEKKK," kepulan debu bertebaran membuat dua ksatria binting terbatuk-batuk, "uhuk,uhuk,uhuk,". Wijaya mengeluarkan lencananya ke salah satu ksatria binting yang menjaga pintu gerbang istana.
"Hormat pada pangeran Wijaya!, silahkan masuk pangeran!" ksatria binting sambil membungkuk hormat. "Eeeeeeeh, kenapa pangeran bertambah tinggi dan memakai baju dan mahkota raja?, sudahlah ini bukan urusanku," batin ksatria binting.
Wijaya bergegas masuk ke aula istana menemui Arya. Sedangkan Shintadewi masih merawat Angga dan adiningrum di kamar khusus pengobatan istana. Kondisi Angga dan adiningrum memang pulih tapi belum bisa berdiri lama.
"Hormat, kakek Arya!" ucap Wijaya dengan membungkuk hormat.
"Wijaya kamu sudah kembali?" Arya yang menunduk sedang memeriksa beberapa dokumen penting kerajaa. "Iya, kakek aku sudah kembali membawa obat untuk kakek raja dan nenek ratu", jawab Wijaya.
Ketika Arya melihat Wijaya sangat terkejut, "Eeeeeeeh, kamu wijaya cucuku benar?, kenapa jadi seperti ini?."
"Ya, tentu saja aku masih cucumu kakek, memangnya cucu setampan ini cucu siapa?" ledek Wijaya.
"Ya,ya kamu benar," ucap Arya tersenyum lebar.
"Kakek aku masuk dulu ya!, mau menyiapkan obat dulu untuk kakek raja dan nenek ratu, aku juga nanti ingin berbicara dengan kakek arya , kakek raja angga, ibunda dan juga nenek ratu untuk meminta pendapat setelah ini. Kakek arya jika ada waktu mohon bantuannya kek!, ucap Wijaya dengan sopan.
"Baik, nak aku juga ada hal yang ingin kusampaikan padamu nanti, aku selesaikan dulu beberapa dokumen penting ini, aku akan menyusul ke kamar khusus pengobatan istana jika sudah selesai!" ucap Arya.
"Baik, kek!, aku undur diri," Wijaya sambil membungkuk hormat.
Wijaya pun pergi menuju kamar khusus pengobatan. Di dalam kamar ada Shintadewi yang sedang menjaga Angga dan Adiningrum istirarahat. Wijaya menceritakan semuanya pada ibunya kejadian yang telah terjadi dengannya.
Melihat Wijaya ada di kamar Angga dan Adiningrum terbangun, Wijaya segera saja mengecek kondisi Angga dan Adiningrum dengan Reinka Aksa.
Lalu membuat pil dengan bahan madu hitam dan rumput bintang. Pembuatan ramuan yang ditunjukan oleh Wijaya sangat langka dan menurut mereka aneh karna tidak menggunakan tungku. Madu hitam sendiri tanaman yang sangat langka.
Setelah beberapa lama Wijaya berhasil membuat 10 pil parantaja efektivitas 80%, manfaat pilnya juga sangat jauh berbeda dengan pil parantaja umumnya hanya menyembuhkan.
Dengan campuran madu hitam pil parantaja menyembuhkan luka dalam dan luar langsung sembuh seketika, mengembalikan stamina dan energi serta menambah kapasitas wadah jiwa 10%.
Lagi dan lagi Wijaya membuat terobosan dalam dunia medis, prestasi yang sangat gemilang di umurnya 5 tahun meski tubuhnya berumur 20 tahun.
Raja Angga dan Ratu Adiningrum terkagum-kagum dengan Wijaya yang sangat jenius, meskipun Wijaya bukan cucu kandung mereka namun ikatan batinnya semakin kuat.
"Ibunda, aku sudah berhasil membuat pil parantaja. Namun efektifitasnya hanya 80%, Apakah ibu mengetahui bahan obat yang meningkatkan tingkat efektivitas sebuah ramuan?" tanya Wijaya.
"Ada nak, namanya batu bintang bharatayudha!" jawab Shintadewi
"Baik bu, nanti kita bicarakan lagi. Aku akan segera menyembuhkan kakek dan nenek ratu!" seru Wijaya.
Wijaya mengaktifkan reinka aksa, dan melihat kondisi aliran energi di dalam tubuh mereka berdua, dan menotok titik enerhiya (aliran energi) dengan jarinya.
Mereka berdua memuntahkan darah hitam pekat, "uhuk,uhuk,uhuk." Wijaya mengeluarkan inti jiwa mereka dari ripela aksa dan memasukannya ke mulut mereka dan menekan pinagmulan (sumber energi tepatnya antara pusar dan ulu hati).
Wijaya mengeluarkan ajian jagat saksana, kusuma jiwa dengan tiga energi sekaligus, Chakra, mana dan chi. Proses penyatuan jiwa memang membutuhkan banyak energi, Wijaya meminum 10 ramuan cair parantaja efektifitas 50%, energinya kembali meski hanya 10%.
Setelah 1 jam akhirnya Wijaya berhasil, mereka berdua kembali memuntahkan darah hitam pekat, darah yang bercampur racun, "uhuk,uhuk,uhuk."
Wijaya memberikan masing-masing 5 pil parantaja efektifitas 80% kepada raja Angga dan ratu Adingrum. Mereka berdua duduk bersila dan Wijaya memegang pundak mereka berdua membantu mempercepat menyerap pil parantaja 80%.
Setengah jam kemudian mereka berhasil disembuhkan, tubuhnya kembali pulih dan wajah mereka kembali segar, sehat dan bugar seperti semula. Sel-sel mereka berdua beregenerasi dengan cepat bahkan wajah raja Angga dan Ratu Adingrum tampak sangat cerah serta berseri-seri.
"Terima kasih cucuku, telah menyembuhkan kami. Aku akan memberikan hadiah padamu," ucap mereka berdua raja Angga dan ratu Adiningrum.
Setelah beberapa saat Arya pun masuk kamar khusus pengobatan istana, melihat kakaknya dan kakak iparnya tampak cerah dan berseri-seri.
Arya pun sangat senang dan meneteskan air mata kebahagian, pasalnya sudah 1000 tahun lebih tak ada satupun bawana yang mampu menyembuhkan bahkan mengidentifikasi penyakit mereka.
Shintadewi pun tak mampu membendung air matanya dan memeluk Wijaya, Arya pun juga memeluk Wijaya. Melihat Arya dan Shintadewi memeluk Wijaya Angga dan Adiningrum pun ikut memeluk Wijaya, adegannya seperti teletubies berpelukan.
"Uhuk,uhuk,uhuk, tolong lepaskan aku sesak nafas, aku tahu aku ini sangat tampan mohon bergantian memelukku!" ledek Wijaya.
"Hahahaha," mereka berempat melepaskan dan tertawa mendengar ocehan konyol Wijaya yang begitu narsis.
"Maaf kakek, aku mau memberikan surat ini," Wijaya memberikan gulungan surat kepada Arya.
Arya membaca isi gulungan surat teekejut dan memberikannya pada Angga, Angga pun juga terkejut.
"Aku hanya memohon kepada kakek raja dan kakek arya meminta persetujuan kalian, aku sebagai raja siluman maung bodas yang baru meminta bantuan. Aku memberikan setengah harta dari kerajaan maung bodas kepada kerajaan brabang sari totalnya 500.000 giga dan 2000 ramuan cair parantaja dengan efektifitas 1000 cairan 25% dan 1000 cairan 50%. Mohon bantuan kami yang tidak seberapa!" ucap Wijaya sambil membungkuk hormat.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments