"Terima kasih gusti,"ucap Maung Bodas sambil berlutut dan mendundukan kepala.
"Tidak perlu sungkan, kita ini sahabat dan keluarga. Aku mengajukan kontrak abadi padamu bukan untuk memperbudakmu, aku suka lebih memperbanyak teman, sahabat, dan bagian keluarga. Baik hukuman pertama yang harus aku terima? "tanya Wijaya Kusuma.
"GRR," Maung bodas menggeram pelan."Pertama sembuhkan semua saudaraku dulu, karna tak mungkin kita membawa seribu maung Lodaya kembali ke istana berdua dalam keadaan seperti ini!" perintah Maung Bodas.
Wijaya Kusuma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf saudaraku! bukannya aku tak bisa menyembuhkan saudara kita semua. Untuk membuat ramuan aku punya banyak bahan tanaman obat. Namun aku belum bisa membuat ramuan, karna aku butuh ajian pencer agni tingkat Mana yaitu ajian pancer agni Azula (api biru)."
(note author di chapter ajian jagat saksana nama api biru asula agni, thor ralat jadi Azula agni).
"Bukannya untuk membuat ramuan hanya membutuhkan sebuah tungku!, dan ajian itu aku baru mendengarnya. Memangnya sehebat apa ajian itu untuk bisa membuat ramuan obat?" tanya Maung Bodas.
para pasukan Maung lodaya yang meringkuk semua di tanah pun bingung, baru mendengar sebuah ajian pancer agni bisa mengeluarkan api jingga setahu mereka hanya api merah.
Tingkatan api terdiri dari :
Api tahap Chakra namanya Pulawa Agni (api merah).
Api tahap Mana namanya Azula Agni ( api biru).
Api tahap Chi namanya Dilawa Agni (api kuning).
Api tahap Qi namanya Berdeva Agni ( api hijau).
Api tahap Reiki namanya Kahela Agnj ( api jingga).
Api tahap Prana namanya Api Itima (Api hitam).
Api tahap Quantum namanya Api Maputi (Api putih).
Di kitab jagat buana memang ada ajian elemen paling kuat ajian pancer semesta namun hanya ada penjelasan keseluruhan elemen tentang penggunaan elemenya saja.
Ajian Pancer Semesta hanya memberikan tingkat pengetahuan penggunaan suatu pancer atau elemen,diantaranya:
Tahap Chakra tingkatan Among Slira yaitu penggunaan hanya boleh dilepaskan dari pengguna untuk satu target. Penggunaanya hanya pada satu titik bagian tubuh, misalnya ajian pancer agni : Topia agni (bola api). Pengguna api hanya membuat bola api dari mulut saja tidak bisa dibagian tubuh lain, dan melepaskannya, ukuran besaran Topia agni tergantung wadah jiwa chakra penggunanya.
Tahap Mana tingkatan Beheera yaitu pengguna ajian bisa mengendalikan dan melepaskan suatu ajian bebas dari bagian tubuh mana saja. Misalnya ajian pancer agni : Topia Agni, jika ajian ini bola api yang dikeluarkan hanya dari bagian mulut. Jika sudah tahap Mana bisa dilepaskan dari bagian tubuh mana saja, contohnya telapak tangan, kepalan tangan atau tendangan kaki.
Tahap Chi tingkatan Lugara yaitu pengguna ajian bisa menyerang lebih dari satu target dengan radius tertentu sesuai penggunaan Chi, atau disebut serangan area.
Tahap Qi tingkatan Nipulima yaitu pengguna ajian bisa memanipulasi bentuk serangan area pada terget.
Tahap Reiki tingkatan Vormana yaitu pengguna ajian bisa membentuk tubuh pengguna menjadi sebuah senjata elemen sesuai imajinasi pengguna ajian.
Tahap Prana tingkatan Verander yaitu pengguna ajian bisa merubah bentuk elemen menjadi sebuah senjata sesuai imajinasi pengguna.
Tahap Quantum tingkatan Kiria yaitu pengguna bebas melakukan seluruh tingkatan dalam melakukan serangan.
"Memang benar untuk membuat ramuan itu harus menggunakan tungku jika merujuk pada bawana keumumannya, namun efektifitas ramuan juga berkurang drastis, pertama di dalam tanaman ada kotoran dan energi negatif. Jika ingin membuat ramuan maka kotoran harus dibuang begitu pula energi negatifnya juga. Dengan menggunakan tungku Kotoran dan energi negatif akan mudah menempel, sekalipun sudah dibersihkan. maka efektivitas sebuah ramuan akan berkurang," jelas Wijaya Kusuma.
"Oh begitu,"kata Maung bodas dan para Maung Lodaya mengerti menganggukan kepalanya.
"Tapi aku tidak tahu cara mengaktifkan Azula agni," Wijaya kusuma sambil menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal dan tersenyum kecut.
"Aaaaa," para Maung Lodaya yang meringkuk di tanah menjatuhkan rahangnya.
"Nampaknya permintaan hukuman pertama belum bisa dilaksanakan. Mungkin warisan Maung Sanjaya bisa membantumu saudaraku dan sebenarnya kami para maung bisa merubah diri kami menjadi bentuk manusia, perbedaan kami dan manusia biasa ada pada mata kami. Pupil mata kami berwarna kuning mengkilap dan ada garis vertikal hitam ditengah pupil mata, tapi itu dulu sewaktu leluhur kami masih hidup yaitu leluhur Maung Sanjaya. Ketika leluhur Maung Sanjaya masih hidup kami bebas bergerak kemana saja, sekarang ada segel kuat yang dipasang di bagian dalam alas apuy penangsang. Kami bisa berubah ke bentuk manusia ketika berada di dalam istana sampai radius 5 km ke luar istana. Jika kami memaksa berubah jadi bentuk manusia kami kehilangan 75% energi kami di seluruh tingkatan baik Chakra sampai Quantum. Namun kami semua rata rata berada di tingkat wadah jiwa Chakra, hanya aku yang berada di tingkat wadah jiwa Chi. Segel itu di tanam pada bukit kecil dekat istana jaraknya 5 km ke selatan dari istana kami. Leluhur Maung Sanjaya juga pernah berkata pada kami, bahwa jika ada yang bisa menghancurkan segelnya maka seluruh rakyat Maung harus melewati perbatasan kerajaan Brabang Sari jika kekuatannya ingin kembali seperti semula. Dan juga mewariskan sebuah kitab Pancer Agni : Sansinu Munda, kitab elemen api terkuat dan terlengkap dari tingkat asor,baharu sampai inggil. Kitab itu di jaga roh leluhur Maung Sanjaya, leluhur takut jika kitab itu jatuh ke tangan orang jahat. Jadi menempatkan kekuatannya yang berbentuk roh maung 10 kali lipat besarnya dari diriku ini ditempat itu namanya Bukit Maung Loka. Segel dan kitabnya ada di sana " Kata Maung Bodas menceritakan sambil menunjuk ke arah bukit maung loka dengan cakarnya.
"Nampaknya ada jalan keluar, baik aku akan membantumu melepaskan segel itu, aku tidak berjanji bisa atau tidak yang penting aku akan berusaha sekuat mungkin. oh ya, aku ingin bertanya padamu saudaraku, kau tahu cara mengalahkan Bleta permoda?" tanya Wijaya Kusuma dengan mata bersinar.
"Tentu saja tahu, karena yang menaklukan para siluman di seluruh gunung ciremai kan leluhur Maung Sanjaya dengan menggunakan Azula agni!" tegas Maung Bodas.
"Nampaknya perjalanku kemari adalah takdir dari dewata Agung bukan hal kesengajaan," batin Wijaya Kusuma.
"Mohon tunjukan jalannya saudaraku!" Wijaya Kusuma sedikit membungkuk dan menyodorkan jempolnya.
"Naiklah ke punggungku, saudaraku biar bisa lebih cepat sampai!" ujar Maung Bodas. Para Maung Lodaya yang masih meringkuk ditanah mengernyitkan dahinya, karna tidak habis pikir dengan kelakuan raja mereka yang tegas, berwibawa dan keras kepala bahkan mempunya aura Kinra malah tunduk pada seorang pemuda yang telah membunuh saudaranya.
"Tidak saudaraku, kau ini seorang raja dari rakyatmu!, aku tidak ingin menghancurkan wibawamu di depan rakyatmu!" ucap Wijaya Kusuma dengan sopan.
"Seharusnya kamu mengerti saudaraku, jika hewan ataupun siluman membuat kontrak abadi dengan tuannya, maka hewan atau siluman tersebut harus tunduk dan patuh kepada tuannya. Meskipun kau memperlakukanku dan saudaraku semua sebagai saudara, semenjak aku menyetujui kontrak abadi ini, aku sudah siap melayanimu dan berjanji sumpah setia hidup dan mati untukmu," Ucap Maung Bodas membuat Para Maung Lodaya meneteskan air mata karna siapa sangka rajanya yang keras kepala itu bisa luluh terhadap seorang pemuda di tambah ia mau menjadi pengikutnya.
Wijaya Kusuma juga menyeka air matanya,"terima kasih saudaraku, aku akan selalu melindungi dan menjagamu serta rakyatmu."
Wijaya pun naik ke punggung Maung Bodas," Tunggulah disini baik-baik, aku akan memulihkan kalian sesegera mungkin saudaraku!."
Maung Bodas melesat menuju bukit Maung Loka dengan kecepatan penuh.
SHUA...SHUA...SHUAA...BRAG...BRAG...BRAG...
Setelah 30 menit mereka sampai di depan gua maung loka, Wijaya Kusuma turun dari punggung Maung Bodas. Maung bodas maju ke depan mulut gua dan meraung keras seperti datang menyapa hormat pada leluhur kemudian berlutut,"GROAAAAR".
Kemudian ada raungan keras dari dalam gua,"GROAAAAR".
Maung Bodas berdiri kembali,"masuklah saudaraku, leluhur mengizinkanmu, namun ia akan mengujimu duduk dan bersemedilah."
"Baik, saudaraku!" Wijaya Kusuma menganggukan kepalanya, kemudian masuk ke dalam gua maung loka dan bersemedi.
Setelah beberapa lama bersemedi, tiba-tiba Wijaya sudah masuk ke dalam ruangan putih kosong. Disana hanya ada seorang berjanggut putih panjang dengan baju dan jubah hitam, memiliki garis vertikal di pupil mata kuning mengkilapnya, serta berambut putih panjang.
Wijaya membungkuk hormat dan menyilangkan tangan kanan di dada kirinya,"hormat pada leluhur Maung Sanjaya!".
"sangat sopan sekali kau anak muda, tapi aku tidak akan sungkan untuk mengujimu," tegas Maung Sanjaya.
Maung Sanjaya menggertakan giginya,"GRRRR," angin kencang menyelimuti seluruh tubuhnya, kuku di tangan dan kakinya memanjang lalu meruncing,"SRIING."Tiba-tiba muncul Azula agni yang membara seperti membakar tubuhnya namun Maung Sanjaya tidak terbakar sama sekali.
"Ajian apa ini apakah ini?, apakah ini ajian pancer agni sansinu munda?, gawat! begitu mengerikan ini bisa membuat tubuhku jadi gosong!" batin Wijaya Kusuma.
Wijaya Kusuma mengaktifkan Wiel Aksa dan ajian papakala katakawan pamungkas secara bersamaan dengan dua energi sekaligus Chakra dan Mana, aura berwarna merah menyelimuti tubuh wijaya Kusuma. Semakin lama semakin besar hingga terjadi tubrukan antara aura merah Wijaya dan Azula Agni milik Maung sanjaya.
BOOOOOOOOOOMMMMM...
Suaranya sangat keras dan memekakan telinga. Asap mengepul menjulang tinggi menghalangi pandangan mata, ketika asap lenyap Maung Sanjaya sudah tidak melihat Wijaya Kusuma di tempatnya berdiri. Wijaya sudah berada disamping Maung Sanjaya melepaskan pukulan ajian baladewa brajamustinya, Maung Sanjaya dengan mata lurus tajam ke depan menangkap pukulan tangan Wijaya Kusuma,"PAK."
Maung Sanjaya melempar Wijaya Kusuma ke atas,"SWUSH." Wjaya Kusuma berputar ke belakang beberapa kali di udara, lalu berpose merentangkan tangan, kaki kanannya dinaikan setinggi lutut seperti elang siap mengincar mangsa. Kemudian Wijaya Kusuma melepaskan ajian baladewa, siva naga futura. Maung Sanjaya menyilangkan tanga ditengah dada,"SHUA...BAM...", Maung Sanjaya terpundur 50 meter,"KRARAAAK....". Wijaya Kusuma mendarat dan langsung melesat menuju Muang Sanjaya, begitu pula Maung Sanjaya melesat menuju Wijaya. Tabrakan pukulan yang kuat tak terelakan,"BAM", gelombang kejut dengan radius 50 meter menerpa udara sekitar,"SWUUSHHHH". Wijaya Kusuma dan Maung sanjaya terus bertukar ribuan gerakan yang sangat cepat.
DAK..DUK..DAK..DUK..DAK..DUK..DAK..DUK..
Pertarungan yang sengit terus bertahan lama keduanya mulai kelelahan, kemudian kedua pukulan bertabrakan,"BAM".
Keduanya terpundur sejauh 30 meter,"Hebat juga kau bocah tengik, bisa membuat aku bertarung serius dan kelelahan seperti ini!, AJIAN PANCER AGNI : TOPIA AZULA AGNI." Maung Sanjaya melepaskan bola api biru sangat besar dari mulutnya, "SWUSSHHHHH," di susul dari pukulan tangannya,"SWUSHHHHH," lalu dari tendangan kakinya,"SWUSHHHHH." Tiga bola api biru sangat besar beruntun melesat menuju Wijaya Kusuma.
"Akan aku akhiri semua ini, AJIAN KANURAGAN BANDAYUDHA : NAGA KAMBAL BINJAKA!" Wijaya mengeratkan kedua kepalan tangannya, muncul dua siluet naga merah padam memutari tangan Wijaya.
"Aaaaaaargh," Wijaya Kusuma melesat menuju tiga Azula Agni beruntun.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments