Matahari sudah sepenggalah naik, kicauan burung riang menyambut pagi yang cerah membahana.
Rutinitas pagi Wijaya Kusuma seperti biasa bangun pagi berlatih naik bukit 10 kali putaran, **** up 200x, pull up 200x, push up 200x dengan gelang beban 400 kg totalnya di seluruh tubuhnya.
Akhirnya ia pun teringat, "wah, hari ini kan mau pergi ke luar alas apuy penangsang untuk berburu bersama ibunda lebih baik aku cepat bersiap," Wijaya pun bergegas membersihkan diri setelah selesai latihan.
Wijaya kusuma memakai baju putih,celana putih dan ikat kepala berwarna putih menambah kesan sangat rupawan siapapun yang melihatnya.
"Anak ibu tampan sekali pagi ini, ayo kita pergi."ucap Shintadewi. Sebelum pergi ia menghadap gubuk sederhana itu menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat. Melihat ibunya melakukan seperti itu Wijaya Kusuma pun mengikutinya.
"Nak, jika kamu bertemu binatang buas dan menyerangmu maka seranglah. Ibu takan membantu biar kamu bisa meningkatkan pengalaman bertarungmu, kamu mengerti?" perintah Shintadewi.
"Mengerti,bu," ucap Wijaya Kusuma.
Mereka berdua berjalan menuruti bukit hingga ia tiba di area hutan luar alas apuy penangsang.
Tiba-tiba muncul harimau putih Maung Bodas dan sepuluh harimau putih maung Lodaya. Maung bodas di level Dendawa dan para maung Lodaya di level Ksatria.
GRRRR...GRRRR...GRRR...GRRR...
Bagi Wijaya Kusuma yang masih di level Taruna Inggil akan sangat kesulitan namun bagi Shintadewi yang berada di level mahasura Inggil itu hanya semut belaka, tentunya Shintadewi takan membantu Wijaya Kusuma kecuali Wijaya Kusuma sangat terdesak.
Lima Maung Lodaya melesat cepat menyerang Wijaya Kusuma dengan cakarnya yang kuat.
SLASH...SLASH...SLASH...SLASH...
Sebelum cakaran harimau mengenai tubuh Wijaya dala sepersekian detik Wijaya Kusuma mengaktifkan Wiel aksanya. Wijaya menghindari cakaran lima Maung Lodaya dengan ajian baladewa brabata naga.
SLASH...SLASH...SLASH...SLASH...SLASH...
SWUSH...SWUSH...SWUSH...SWUSH...SHUA...
Wijaya Kusuma melepaskan ajian baladewa siva naga futura, "BAM." Dua kepala Maung Lodaya lepas dari tubuhnya, Wijaya kusuma kembali melakukan ajian baladewa brabata naga dengan meliuk ke kanan dan ke kiri secara cepat hingga membentuk pola serangan zigzag.
SWUSH..SWUSH...SWUSH...SHUA...SHUA...SHUA...
Satu maung lodaya melesat cepat menerkam dengan cakarnya yang kuat, Wiijaya pun melesat cepat menuju Maung Lodaya, sebelum terjadi tubrukan antara cakar maung lodaya dan pukulan Wijaya, dengan konsentrasi yang sangat fokus dan tepat, Wijaya merapal ajian baladewa : brajamusti. Tangan Wijaya dipenuhi aura merah membakar tangan seperti api, adu cakaran Maung Lodaya dan pukulan Wijaya Kusuma pun tak terelakan.
"BAM...," gelombang kejut muncul menghempaskan radius 5 meter, "SWUSH." Maung Lodaya dan Wijaya kusuma tetap tak bergeming, namun belum sempat Maung lodaya menyerang kembali, tiba-tiba seluruh tubuhnya terbakar menjadi abu.
BLAR...KRATAK...KRATAK...PLURUK.
Melihat kedua temannya mati, dua Maung Lodaya meraung keras marah, "Auuuuuuurghhhh." Dua Maung Lodaya melesat cepat mengangkat cakarnya, menebas kedua lengan Wijaya Kusuma, untung saja Wijaya dengan gerakan kilat memundurkan dua langkah tubuhnya, hanya 6 sayatan kecil yang mengenai kedua lengannya.
SLASH...SLASH...SLASH...
Wijaya Kusuma salto dua kali ke belakang, dan merapal jurus ajian baladewa, naga kambal binjaka. Muncul 2 siluet naga kembar berwarna merah memutari tangan Wijaya Kusuma, Wijaya Kusuma melesat secepat kilat dengan mengarahkan pukulan naga kembar menuju dua Maung Lodaya.
SHUA....BAM...BAM...
Dua pukulan ajian baladewa, naga kambal binjaka mengenai dua kepala Maung Lodaya, tubuh dua Maung Lodaya terpental jauh menabrak beberapa pohon.
BAM...SHUA...BAM...SHUA...DOOMM...KRAAK...
Akhirnya dua Maung Lodaya menabrak pohon besar, mati mengenaskan dengan otak terburai keluar.
"Aku harus cepat menyelesaikannya," ucap Wijaya Kusuma denga sorot mata tajam dengan pupil mata wiel aksa.
Sedangkan Shintadewi hanya tertawa terbahak-bahak kaya mak lampir sambil duduk di atas batu menyaksikan anaknya bertarung, "Hehehehe, Bener-bener bocah gemblung."
"Oraoraora, woy nenek tua gila bukannya membantu anakmu. Malah enak-enakan duduk manis dasar nenek betus berkarat," ucap Dewata Agung Jayalaksana di dalam pikiran Shintadewi melalui telepati.
"Dewata agung jahanam, biarkan saja anaku pasti hebat lihatlah!, hanya waktu kurang dari lima menit ia sudah membunuh 5 Maung Lodaya yang besar itu dengan umurnya yang hanya 4 tahun.," batin Shintadewi dengan wajah yang penuh kebanggan.
"Cih, kau ingat siapa yang memberikan kitab jagat buana itu?" ledek Dewata Agung Jayalaksana.
"Baiklah, baiklah kau menang," Shintadewi dengan muka pasrah.
Belum sempat 5 maung lodaya membantu, Wijaya Kusuma sudah melesat cepat menghantam kepala 5 maung lodaya dengan ajian baladewa : brajamusti.
BAM...BAM...BAM...BAM...BAM...BLAR...BLAR...BLAR...KRATAK..KRATAK...KRATAK...PLURUK...
Lima Maung Lodaya hancur jadi abu seketika, Maung Bodas meraung keras, karena para prajurit yang sudah Maung Bodas anggap saudara telah mati dibunuh oleh Wijaya Kusuma.
GROOOOOAR... AUUUUUURGH...
Mata Maung Bodas berubah merah semerah darah, Maung Bodas marah dan geram mengeluarkan aura intimidasi, "Awas!, kau anak muda lemah, aku akan membalaskan dendam mereka yang telah kau bunuh. Tunggu saja aku akan mencabik-cabik tubuhmu jadi daging cincang lalu ku lempar ke kotoran."
Maung Bodas pergi meninggalkan mereka berdua, Maung Bodas masuk ke bagian dalam Alas Apuy Penangsang kemudian hilang di telan kabut.
"Aku baru tahu kalau harimau bisa berbicara layaknya manusia ya?" tanya Wijaya kusuma dengan muka kaget, karena baru pertama kalinya bisa melihat binatang bisa berbicara.
"Nak, itu sangat wajar jika binatang sudah mencapai level dendawa, Ia akan bisa berbicara. Maung bodas itu raja siluman binatang disini, jika kau mampu mengalahkannya, kamu bisa melakukan kontrak abadi dengan Maung Bodas itu," Shintadewi yang sudah berada di depan Wijaya Kusuma.
"Alamak! ibu bisakah jangan mengagetkanku?, hampir saja jantungku copot," Wijaya Kusuma mundur dua langkah, karena Shintadewi muncul tiba-tiba di depan muka Wijaya Kusuma.
"Baiklah, baiklah, heheheh," Shintadewi sambil tertawa cekikikan seperti mak lampir.
"Oh, ya ibu adakah ajian di kitab jagat buana untuk melakukan kontrak dengan binatang atau siluman?" tanya Wijaya Kusuma.
"Oh ya ada anaku, namanya ajian beluk sandarawa : bolo sewu. Nanti ibu ajarkan jika sudah sampai ke kerajaan Brabang Sari setelah bertemu kakek dan nenekmu," Shintadewi yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka pun berjalan tanpa ada gangguan yang berarti, dan pulan kembali ke gubuk milik Shintadewi di puncak bukit.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
glanter
😂😂😂
2023-01-21
1
Wak Jon
Hahaha....
2021-10-27
0