Shintadewi memeluk Wijaya Kusuma kemudian lenyap menghilang.
"POFF." Shintadewi muncul di gubuk kamarnya dan merebahkan Wijaya Kusuma."AJIAN KANURAGAN BANDAYUDA :KUSUMA JIWA."ucap Shintadewi merapal ajiannya dan mengulurkan telapak kanan tanganya pada tubuh Wijaya Kusuma, muncul aura hijau di telapak tangan Shintadewi.
SRIIING...SYUUT...SYUUT...SYUUT...
Energi Quantum masuk ke dalam tubuh Wijaya Kusuma dan tubuh Wijaya Kusuma kembali seperti sedia kala, tanpa ada luka dan lecet pun di badannya.
Perbedaan ajian ini tergantung pengggunanya punya wadah jiwa di tingkat mana.
Jika wadah jiwanya hanya energi chakra hanya 15% meskipun tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam.
Jika wadah jiwanya hanya energi mana hanya 25% meskipun tabib tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 10%.
Jika wadah jiwanya hanya energi chi hanya 35% meskipun tabib tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 15%.
Jika wadah jiwanya hanya energi Qi hanya 50% meskipun tabib tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 20%.
Jika wadah jiwanya hanya energi Reiki hanya 60% meskipun tabib tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 45%.
Jika wadah jiwanya hanya energi Prana hanya 75% meskipun tabib tingkat Mahadayana itupun hanya luka ringan baik luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 85%.
Jika wadah jiwanya hanya energi Quantum maksimal 100% pada tabib Darama sampai tingkat Mahadayana baik luka ringan, luka berat dan luka luar maupun dalam dan mengembalikan energi hanya 100% serta meningkatkan penggunaan energi 10x lipat selama 1 jam.
Wijaya Kusuma membuka matanya, kaget ternyata ia bangun digubuk milik ibunya Shintadewi.
"Bu, maafkan aku karna aku lemah dan di hajar habis-habisan oleh orang bercadar hitam lain kali aku akan bertarung lebih kuat lagi."ucapnya sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.
"Maafkan aku anaku, aku melakukan ini demi memerkuat dirimu, takdirmu sudah siap menunggumu. Aku berharap kau tidak mati sia-sia suatu saat nanti."batin Shintadewi.
"Baik nak, mungkin waktunya kamu berlatih serius. Sebelum kamu belajar ke padepokan, setidaknya ibu akan memberikanmu sesuatu yang lebih berharga agar kamu bisa menjaga dirimu sendiri ketika pergi ke dunia luar suatu saat ini. Persiapkan dirimu."ucap Shintadewi.
"Baik, ibu aku akan berlatih dengan serius."ucap Wijaya kusuma dengan penuh semangat.
"Itu baru anak ibu, mari kita keluar ibu akan ajari kamu isi pertama dari kitab terlarang kitab jagat buana."ucap Shintadewi sambil mengelus rambut Wijaya Kusuma.
Sampainya di halaman gubuk Energi Quantum menyelimuti tubuh Shintadewi, auranya menyebar ke seluruh tubuh Shintadewi dengan aura warna pelangi.
"Duduk bersilalah, anaku."perintah Shintadewi.
"iya, ibu."ucap Wijaya Kusuma.
Shintadewi menyentilkan tangannya ke kening Wijaya Kusuma,"TUK."kemudian telapak tangannya mengirim aura berwarna merah pada kening Wijaya Kusuma."SYUUT."tanda segel bulatan kepala naga beserta 1 bulu berwarna merah di keningnya bersinar terang.
"Aaaaaakh."teriakan Wijaya Kusuma menahan kesakitan karna energi Quantum yang kuat masuk dalam tubuhnya dan matanya terpejam.
BANG... BANG...BANG...
Wijaya Kusuma naik tingkat dari tanpa tingkat ke tingkat Taruna Asor, terus naik tingkat baharu, terus naik tingkat Inggil. Wijaya Kusuma kini berada ditingkat Taruna Inggil.
Energi Quantum terus mengelilingi tubuh Wijaya Kusuma kemudian masuk ke tanda segel bulatan kepala naga di dikeningnya.
"SLUURP..."Wijaya membuka matanya dengan nagas terengah-engah."hah...hah...hah..."betapa kagetnya Shintadewi melihat mata anaknya berubah merah dengan pupil hitam ada 7 tomoe berwarna merah, mengelilingi pupil hitam, kedua telapak tangannya juga muncul mata beriak warna merah.
"Wiel aksa (Mata roda)."gumam Shintadewi sambil membelalakan matanya dan mengernyitkan dahi saking kagetnya.
"Luar biasa anaku, baru berlatih ajian kanuragan bandayuda : baladewa sudah bisa masuk tahap sempurna. Tanda kesempurnaan ajian ini ada pada Wiel Aksa telah terbangkitkan.
Ajian kanuragan bandayuda : baladewa.
Ada 8 tahap tingkatan
Tingkat 1 Baladewa : Naga kambal binjaka (pukulan naga kembar)
Tingkat 2 Baladewa : Siva Naga Futura (tendangan naga terbang)
Tingkat 3 Baladewa : Papalaka katawan Pamungkas (penguatan tubuh sempurna)
Tingkat 4 Baladewa : Brajamusti(pukulan pengahncur)
Tingkat 5 Baladewa : Kambal Sanglibo (Pukulan seribu)
Tingkat 6 Baladewa : Brabata Naga (Langkah naga)
Tingkat 7 Baladewa : Among slira (membelah diri menjadi seribu tubuh)
Tingkat Pamungkas Baladewa : Wiel Aksa (Mata roda).
"Nak, kamu sungguh luar biasa di usia 5 tahun mampu membangkitkan wiel aksa dengan sekejap mata. Aku rasa akan memberikan kitab jagat buana untuk kamu jaga."ucap Shintadewi
"Oh, begitukah bu. Tapi-."ucapnya dengan muka polos.
"Sudah aku tahu apa yang kamu risaukan, cara menyimpan kitab jagat buana agar tak dicuri oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan menyembunyikan tanda segel di dahimu kan? Itu mudah kamu cukup menempelkan benda apapun di telapak tanganmu maka benda apapun akan terhisap seperti ini."SYURP..."(Kitab jagat buana terhisap ke dalam tangan shintadewi). Untuk mengeluarkannya kamu cukup membayangkan benda yang ingin kamu keluarkan dari dalam telapak tanganmu."SYURP."(Kitab jagat buana keluar dari tangan Shintadewi). Mudah bukan?. Untuk tanda di dahimu untuk menghilangkan hanya butuh segel tangan seperti ini ( 3 jari tangan menutup yaitu jempol,jari manis dan kelingking sedangkan jari tengah dan telunjuk tegak) lalukan tepat di depan diafragma. Untuk Mengaktifkan Wiel Aksa pun cukup kamu tangkupkan kedua tanganmu di depan diafragma."Ucap Shintadewi menjelaskan ke Wijaya Kusuma.
"Baik, ibu terima kasih ibu sudah melatihku."ucap Wijaya Kusuma membungkuk hormat.
"Tidak perlu sungkan anaku, begini-begini juga aku ibumu. Mana mungkin membiarkan anaknya akan celaka jika ia akan bepergian keluar suatu saat nanti."ucapnya sambil mengelus rambut Wijaya Kusuma.
Tak terasa matahari pun hampir tenggelam menandakan waktu telah sore.
"Sudah ayo kita beristirahat, dan bersihkan diri kemudian makan dan tidur. Besok kita akan berburu untuk memperkuatmu," ucap Shintadewi
"Baik, ibu," ucap Wijaya Kusuma dengan wajah polosnya.
Mereka kembali ke gubuk, dan membersihkan diri masing-masing, Shintadewi memasak makanan untuk Wijaya Kusuma, sedangkan Wijaya Kusuma sedang memakai baju yang di jahit Shintadewi sendiri dari bulu domba agni.
(Note perubahan warna rambut Shintadewi jadi putih karna ia lama di alam dewata agung ya readers).
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
glanter
semoga ketemu raden sabrang
2023-01-21
0
Wak Jon
🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗🆗
2021-10-27
0
Dapp
lnjut
2021-09-24
1