Keesokan paginya di herehuisa Puntadewa, langit yang begitu cerah diselingi kicauan suara burung yang merdu, Shintadewi sudah siuman nampak tubuhnya segar bugar setelah mandi dan aura kecantikannya yang sangat maksimal.
Raja dan ratu bersama Shintadewi sedang berada di aula herehuisa sedang menjelaskan apa yang terjadi kemarin pada putrinya itu.
Nampak rona sedih Shintadewi, kemudian ia izin pamit kepada raja dan ratu untuk pergi ke tanah para dewa, kepala pelayan menyiapkan perbekalan dan kuda untuk Shintadewi.
Raja Angga memberikan sebuah peta tanah para dewa, dan menjelaskan bahwa tanah para dewa tidak terletak di bumi ini, tapi ada satu portal tingkat tinggi yang ia ketahui di atas puncak gunung ciremai.
Dan tentu saja ada cara licik yang sudah raja Angga rencanakan yaitu menggunakan ajian andalannya untuk pergi ke sana tanpa harus bersusah payah. Raja Angga pernah bertapa disana selama seratus tahun mendapatkan Ajian kanuragan bandayuda : kusuma jiwa, yaitu pengguna ajiannya mampu meregenerasi luka mereka hanya hitungan detik saja bahkan melipatgandakan 10 kali chakranya.
"Aku akan menemanimu putriku sampai gua garuda saka, setelah itu aku percayakan semuanya padamu putriku."ucap raja Angga dengan tersenyum manis.
"Baik, ayahanda."ucap shintadewi.
Ratu adiningrum mencium kening dan memeluk putrinya : "Kembalilah putriku, ibunda akan selalu menunggumu dan mmerindukanmu.'"
"Baik ibunda pasti."ucap shintadewi penuh percaya diri.
Raja Angga memegang erat tangan Shintadewi, kemudian merapal ajiannya :"AJIAN PANCER BUMI : MELIPAT BUMI."
CWUSZHZHZ.... Mereka hilang dari pandangan sekejap mata.
CWUSZHZH... Muncul Raja Angga dan Shintadewi di depan mulut gua Garuda saka.
"Nak, ini guanya silahkan masuk dan hati hati, kembalilah nak ayahanda dan ibunda bahkan rakyat brabang sari menantimu."ucap raja Angga sambil mencium kening putrinya.
Shintadewi menyeka air matanya berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang agar tekadnya tidak buyar.
"Ayahanda dan ibunda aku akan kembali tunggu saja," batin Shintadewi
TAP.TAP.TAP.TAP.TAP.TAP.
Ketika ia masuk terdengar suara, "bersemedilah, wahai anak muda!, pusatkan pikiranmu masuk lebih dalam."
Shintadewi duduk bersila di atas sebuah batu bulat berpermukaan datar, memejamkan mata berkonsentrasi. Muncul rune emas dibawah tempat duduknya tubuhnya melayang 1 meter, aura emas berada diseluruh tubuhnya. Lalu rune itu menelan tubuh Shintadewi perlahan.
SYUUUUUUUUUUT.....
Kemudian muncul di tempat yang semuanya berwarna putih seperti dimensi kekosongan tapi berwarna putih.
"Bukalah matamu, anak muda!." ucap seorang pria berparas ganteng, berhidung mancung pupil berwarna ungu dan rambut panjang putih sepinggang, menggunakan jubah berwarna putih dan mahkota di atas kepalanya.
Ketika Shintadewi membuka mata ia tersentak kaget dan batinnya berkata :"Sangat tampan."
"Memang benar aku sangat tampan, aku belum beristri kok, mau kamu menjadi istriku?" tanya pria berjubah putih penuh kenarsisan.
DEG..DEG..DEG..
Suara jantung Shintadewi tak menentu dan pipinya merah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan bergumam, "apakah dia bisa tahu isi hatiku? aiiihhhh, padahal hanya berkata seperti itu. Ya, tentu saja aku mau, eh keceplosan kampret."
"Ya, aku bisa tahu isi hati dan pikiranmu, hehehehe. Ya sudah sini kemari!, ini kitab jagat buananya, tidak usah takut. Perkenalkan aku dewata agung Jayalaksana."ucap Jayalaksana.
Shintadewi pun mendekat dengan hati yang tidak karuan, terima kasih dewata agung," ucapnya sambil membungkukan hormat.
"Sudah tak perlu sungkan, aku mencintaimu. Aku sudah lama menantikanmu, aku memang sengaja melakukan ini, maafkan aku!" ucapnya sambil menjetikan jari ke kening Shintadewi dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku akan melatihmu meskipun tidak semua bisa dikuasai dari kitab jagat buana, karna kamu memegang rantai takdir yang kuat di masa depan. 1000 tahun lagi akan ada bencana, malapetaka dan peperangan terjadi bersamaan. Aku akan mengirimkan sesuatu padamu jika waktunya sudah tepat, lakukanlah ritual setiap malam bulan purnama, jika sudah kembali dari alam dewata ini. Aku tahu sekarang kamu bisa dibilang hidup abadi, tapi hidup abadi kalau lemah kan tidak bisa menolong sesama, pergunakan kitab jagat buana itu untuk membela kebenaran. kutukan naga percola akan hilang ketika kamu ditransfer energi Quantum dari kitab jagat buana. Aku sudah memberikan wadah energi Quantumnya namun untuk mengisinya kamu harus masuk tahap evolusi wadah jiwa," ucap Dewata Agung Jayalaksana menjelaskan.
Tingkatan evolusi energi
Chakra
Mana
Chi
Qi
Reiki
Prana
Quantum
"Kutukan naga percola kini telah lenyap semua energi kitab jagat buana beserta isiua sudah aku transfer ke dalam tubuhmu, tinggal kau berlatih disini untuk menyempurnakannya pada tubuh dan wadah jiwamu." Ucap Dewata Agung Jayalaksana
Setelah beberapa lama waktu yang tidak di ketahui di alam dewata, Shintadewi pun sudah memaksimalkan seluruh kitab jagat buana. Bumbu-bumbu cinta antara keduanya pun tumbuh mekar seiring berjalannya waktu. Bisa dibilang mereka sudah menikah di alam dewata yang penuh kekosongan.
Akhirnya tiba Shinta dewi pulang ke alam mamiita (fana).
"Sudah waktunya kamu kembali, adinda. Tapi aku tak bisa menemanimu di sana. Aku pun tak bisa turun ke sana, maafkan aku yang mencintaimu dan membuat dirimu jatuh cinta padaku," ucap dewata agung jayalaksana penuh penyesalan.
"Apaaa? dewata agung jahanam, sialan kau, kutu kupret, betus berkarat, kampret, oplet, kera busuk."umpat shintadewi dengan kesal
"Hmmm, dasar nenek tua gila."ucap dewata agung. Kemudian mengecup kening Shintadewi.
CUP.
"Sial, gara gara kau dewata agung jahanam aku harus melajang seumur hidupku."ucapnya dengab pipi memerah.
"Tenang saja aku masih bisa menghubungimu lewat telepati atau suara dari langit, hehehe."ucapnya terkekeh.
"ya,ya," Shintadewi mendengus kesal.
Mereka saling beradu pandang dan saling tersenyum. Muncul rune berwarna emas dibawah telapak kaki Shintadewi.
"Aku mencintaimu kakang, aku juga akan selalu merindukanmu."batin Shintadewi
"Aku mendengarnya! tentu saja aku mencintaimu juga, bahkan sampai 1000 tahun ke depan," ucap dewata agung jayalaksana.
SYUUUUUUT...
Rune emas menelan tubuh Shintadewi dan hilang sekejap.
*Flashback end*
Shintadewi tersadar dari lamunannya.
"Haaaah, kakang aku merindukanmu, apalagi kau memberikanmu anak ini serasa aku telah berblaem-blaem denganmu terus aku mengandung," pikirnya mesum.
"Aiiiih, kenapa malah berpikiran seperti itu. seharusnya aku memikirkan nama untuk putraku ini. Hmmm, namanya WIJAYA KUSUMA, ya wijaya kusuma nama yang keren dan mendonimasi, hehehe."ucap shintadewi kegirangan.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
al-del
jadi nenek tua itu sinthadewi
2022-11-28
0
Wak Jon
😆😆😆😆😆😆😆😆
2021-10-27
1
Wong kam fung
ya kak hahaha
2021-09-12
1