"Mamanya Daniel dan Dean belum datang ya?" tanya Bu Nia kepada Samsul, satpam sekolah.
Tampak Daniel dan Dean sedang bermain berdua di pos satpam menunggu dijemput.
"Belum, Bu. Apa Ibu lupa memberitahu kalau hari ini mereka pulang lebih awal?"
"Sudah, kemarin saya sudah bilang."
Bu Nia mengambil ponselnya, menboba menghubungi Prita. Tapi, nomor yang dihubungi tidak aktif.
"Uncle Yu.... " Daniel melambai-lambaikan tangan ketika melihat Bayu lewat di depan sekolahnya. Dia sangat kegirangan.
"Siapa?" Tanya Dean penasaran. Dia ikut-ikutan memanjat pagar untuk melihat orang yang dilihat kakaknya. Tampak dua orang laki-laki sedang berjalan ke arah mereka.
"Uncle Yu.... " Daniel langsung meminta gendong pada Bayu ketika satpam membukakan gerbang.
Dean menggigit jarinya, ia heran melihat kakaknya begitu dekat dengan orang asing. Dean tak mengenal siapa orang itu.
"Selamat siang, Pak. Apa hari ini Anda yang akan menjemput kedua anak ini?" tanya Bu Nia.
"Ah, memangnya mama mereka tidak bisa menjemput?"
"Sepertinya Beliau lupa kalau hari ini mereka pulang lebih awal."
"Oh, kalau begitu biar saya yang menjaga mereka sampai mamanya menjemput."
"Terima kasih, Pak. Kami tidak bisa menjaga anak-anak karena rapat akan segera dimulai."
"Tidak apa-apa. Saya juga senang bersama mereka. Kalau begitu, kami ke taman depan dulu. Permisi."
Bayu melirik ke arah anak kecil yang sejak tadi mengemut jarinya. Anak itu tampak polos. Sekilas mirip dengan lelaki yang ia benci. Ia segera mengabaikan perasaan itu. Dia hanyalah sosok anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Mau ikut?"
Bayu mengulurkan tangannya, namun Dean tetap diam. Akhirnya ia gendong anak itu juga. Bayu menggendong dua anak kecil sekaligus dan membawa mereka ke taman.
"Who are you?" Dean menatap Bayu dengan penuh curiga. Kalau sudah besar sepertinya Dean cocok menjadi detektif. Bawaannya curiga terus.
"Dia Uncle Yu, Dean." jawab Daniel.
"Siapa Uncle Yu? Kata Mama tidak boleh bersama orang asing."
"Dia Uncle kita, bukan orang asing. Dia Uncle yang baik."
"Bukan. Uncle kita Uncle Arga, not him. Dia penculik!" tuduh Dean.
Bayu hanya tertawa kecil mendengar obrolan kedua anak kecil di gendongannya itu. Adik Daniel sepertinya sangat curiga padanya sampai menuduhnya sebagai penculik. Ya, kalau dia mau mungkin saja dia akan menculik mereka. Apalagi keduanya anak Prita. Dia bisa menggunakannya untuk mengancam Prita atau semacamnya. Ah! Tapi dia tidak akan menggunakan cara lama itu lagi.
"No! Uncle Yu orang baik. Dia bukan penculik!" Daniel kekeh membela Bayu.
"Dia penculik!"
"Bukan!"
"Penculik!"
Kedua anak kecil itu saling pukul dan adu pendapat. Bayu terhibur melihat pertengkaran mereka.
Plak!
"Ups! Maaf.... " Daniel tanpa sengaja memukul wajah Bayu. Dia takut dimarahi.
"Hahaha... Kak Daniel pukul penculik." Dean tertawa lepas.
"It's okay, Uncle Yu tidak marah. Jangan takut begitu." Bayu menenangkan Daniel.
"Kalian mau es krim?"
"Mau!" Daniel dan Dean menjawab dengan kompak.
"Biar saya saja Bos yang membelikan es krimnya." Alex menawarkan diri.
"Tidak, aku saja yang beli. Tolong kamu jaga mereka di sini."
Bayu menurunkan kedua anak itu di area taman bermain. "Kalian tunggu sebentar ya di sini. Uncle akan membelikan kalian es krim."
"Oke, Uncle!"
*****
Prita buru-buru berjalan cepat menuju sekolahan Daniel dan Dean. Setelah menitipkan Livy di rumah tetangganya, ia hampir lupa kalau hari ini mereka akan pulang lebih awal karena ada rapat.
"Pak, Daniel dan Dean mana?" tanya Prita kepada satpam yang berjaga di depan.
"Mereka sudah pulang, Bu."
"Hah, sudah pulang? Pulang dengan siapa? Saya baru menjemput."
"Pulang dengan pamannya. Kereka tadi berjalan ke arah sana." Satpam menunjuk ke arah taman.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Prita langsung berbalik. Hatinya berdebar-debar. Ia sangat khawatir dengan kedua anaknya. Siapa sebenarnya Uncle yang sering Daniel sebut-sebut? Semoga saja orang itu bukanlah orang jahat.
Prita berjalan lurus menuju ke area taman bermain. Jalanan siang itu terlihat tampak ramai dipadati para pejalan kaki. Apakah sedang ada demo? Rata-rata yang berkumpul anak-anak remaja. Padahal belum waktunya jam pulang sekolah tapi mereka sedang berkerumun di jalan.
Plak! Plak! Plak!
Tiba-tiba teejadi hujan batu. Sekumpulan pemuda yang berkerumun itu ternyata sedang tawuran. Segala bebatuan terlempar kesana kemari. Suasana kacau, bising, dan ribut. Prita hendak melewati kerumunan karena anaknya ada di seberang. Tapi, ia justru ikut terdorong oleh mereka yang saling bentrok.
Prita terjatuh. Tubuhnya entah berapa kali terinjak oleh mereka yang saling ribut. Rasanya tidak mungkin untuk keluar dari kerusuhan itu. Massa jumlahnya ratusan dan saling melontarkan kata-kata makian. Sesekali terjadi dorong-dorongan.
"Kamu sudah terlalu tua untuk berbaur dengan mereka!" suara dengan nada berat itu sangat familiar di telinga Prita.
"Bayu!" Prita membulatkan mata ketika melihat Bayu tepat ada di hadapannya.
Prita berusaha bangkit berdiri, namun kakinya terkilir akibat jatuh. Bayu berinisiatif menggendong Prita dalam sekali sentakan. Tubuh Prita seakan seringan kapas hingga ia tak kesusahan mengangkatnya.
Prita reflek mengalungkan tangan pada leher Bayu. Ditatapnya wajah yang selama lima tahun ini tak pernah ia jumpai. Lelaki itu masih sama seperti dulu. Wajahnya selalu terlihat galak, angkuh, dan terkesan tidak peduli. Lelaki yang pernah membuat jalan hidupnya sangat sulit, sekaligus lelaki yang selalu datang menjadi penolongnya di saat-saat ia membutuhkan. Prita membenci Bayu, tapi tak bisa benar-benar membencinya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu jatuh cinta padaku?"
Mendengar perkataan Bayu Prita langsung panik dan salah tingkah. "Ah, maafkan aku. Turunkan aku!"
Bayu mengabulkan permintaan Prita. Ia menurunkan wanita itu di tempat yang cukup jauh dari area bentrokan.
"Ah! Aduh!" Prita mengaduh karena kakinya sakit, tak kuat menopang tubuhnya.
"Beristirahatlah sebentar. Kakimu masih terkilir, tak akan bisa dibawa berjalan."
"Terima kasih sudah menolongku. Kamu boleh meninggalkanku sekarang." tegas Prita sambil memijit pergelangan kakinya.
"Cih!" Bayu berdecih. "Dasar keras kepala." Ia berjongkok di depan kaki Prita. Dipeganginya bagian pergelangan kaki yang kecil baginya.
"Mau apa kamu!?" Prita terhenyak melihat Bayu memegangi pergelangan kakinya.
Klek!
"Ah!" jerit Prita saat bagian kakinya yang sakit ditarik oleh Bayu dengan sangat kasar. Rasanya benar-benar sakit.
"Coba gerakkan kakimu!" perintah Bayu.
Prita mulai menggoyang-goyangkan kakinya. Rasanya lebih enteng dan tak sakit lagi. Kakinya tidak kaku. Meskipun caranya menyakitkan, tapi tarikan tangan Bayu membuat kondisi kakinya membaik.
"Apa kamu senang bisa lari dariku? Bagaimana rasanya hidup tanpa mendengar kabar tentangku?"
Prita hanya menunduk. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Bayu yang begitu menohok hatinya. Kabur? Ya, dia memang selalu kabur. Dia tak pernah berani untuk menghadapi kenyataan secara langsung. Dia pengecut. Makanya dia memilih hidup di luar negeri untuk menghindari masalah. Tapi, seberapa keraspun ia berusaha menghindari masalah, akan muncul permasalahan lain yang membuat hidupnya lebih rumit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
akhirny mereka ketemu
2023-04-29
0
Dewi
Thor lebih setuju Bayu samA prita
2021-09-11
2