"Jadi, bagaimana hasil pemeriksaannya?" Karla begitu semangat saat diperbolehkan dr. Jerome masuk ke ruangannya. Bayu hanya bisa memijat keningnya melihat tingkah Karla yang terlalu lebay.
"Sepertinya susah, Karla."
Karla mengernyitkan dahi mendengar ucapan Jerome.
"Secara fisik tidak ada masalah, semuanya baik. Hanya saja, sepertinya temanmu memiliki masalah psikologis yang dalam. Jadi, kesembuhan sepenuhnya tergantung pada Bayu sendiri."
"Mungkin sebaiknya kamu menghubungi psikolog atau psikiater. "
"Kamu harus bisa meninggalkan masa lalumu, Bayu. Untuk apa tetap terjebak dalam masa lalu jika hanya membuatmu tersiksa. Please, move on!"
"Ayo Jerome. Kamu harus membantunya. Seberapapun uang yang kamu mau, bukan masalah besar bagi Bayu."
"Tentu aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin sebagai dosen. Tapi, hasil akhirnya tetap Bayu sendiri yang menentukan."
Karla langsung lemas mendengar ucapan Jerome.
"Ah, iya. Sepertinya kamu juga harus berhenti mengganggu Bayu, Karla. Jelas sekali keberadaanmu juga menyumbangkan rasa stress untuknya."
"Hahaha.... " Bayu terkekeh dengan pembelaan Jerome untuknya. Bayu memang kurang suka dengan Karla. Dia akan terus menempel jika ia bersikap baik padanya. Namun, jika dia berbuat kasar pada Karla, dia bisa mengamuk.
Bayu yang dulu memang masih tetap sama dengan Bayu yang sekarang. Namun ada perbedaannya. Dia sangat fokus kerja. Karena dia memiliki satu sisi kelemahan, maka ia menyibukkan diri untuk terus bekerja agar melupakan sisi kelemahannya. Red Wine yang ia bentuk tak seberbahaya Tiger King. Bahkan, ia berharap tak ada yang akan mengetahui keberadaan Red Wine, termasuk ayahnya.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Ada urusan kantor yang harus aku selesaikan."
"Baiklah, terima kasih atas kedatangannya. Jangam sungkan untuk berkonsultasi."
Jerome dan Bayu saling menjabat tangan.
"Aku juga pamit, Jerome." ucap Karla.
"Karla, kamu harus bertobat. Oke?" goda Jerome.
Karla memutar malas kedua bola matanya. Ia menyusul Bayu yang lebih dulu keluar ruangan.
"Bayu, Tunggu!" seru Karla seraya menggamit lengan Bayu dan memeluknya erat.
"Kamu sudah dengar kan, keberadaanmu bisa membuatku semakin stress. Berhentilah mengikutiku dan kembali pada suamimu. Jadilah istri yang berbakti."
Bayu mengusap kepala Karla sebelum ia kembali berjalan. Karla sudah tak mengikutinya lagi. Ia terdiam mematung selama beberapa detik hingga akhirnya menelepon seseorang untuk menjemputnya.
*****
"Rasakan ini! Aku tidak akan kalah dasar pemain sombong!"
Alex memainkan game di ponselnya dengan penuh emosi. Pasalnya, dia sudah beberapa kali main dan dikalahkan oleh pemain yang bernama Princess Charming. Apa benar dia seorang perempuan, mana mungkin Alex dikalahkan perempuan?
"Ah! Sial!"
"Kenapa, Lex?"
Alex langsung terkesiap mendengar suara bosnya, "Ah, Bos sudah kembali."
"Kenapa sepertinya emosi begitu?"
"Tidak... hanya game saja sih. Aku cuma kesal karena ada pemain yang sulit dikalahkan."
"Oh, aku kira masalah serius apa."
"Ini serius, lah! Yang ngalahin aku cewek... biasanya aku selalu menang. Masa aku kalah sama cewek."
"Hahaha... Alex ternyata bisa kalah sama cewek."
"Bahasa chat-nya kayak orang songong pula. Aku kesal!"
"Tinggal kamu lacak aja kan, siapa tahu bukan cewek tapi cowok."
"Sudah pernah. Tapi alamat IP nya bukan milik pribadi. Dia main game di warnet."
"Ya sudahlah, cuma permainan saja kan? Wajar kalau sesekali kalah."
Alex tentu saja tidak akan membiarkan orang yang membuatnya kesal begitu saja. Dia bersumpah akan terus mencari orang yang berani meremehkannya walau hanya di dunia permainan game.
"Ah, iya. Katanya Bos mau pergi ke Singapura, ya?"
"Kok kamu tahu?"
"Pak Jimmy yang memberi tahu. Tadi siang aku bertemu dengannya di toko perlengkapan game. Sepertinya dia ingin membangun studio game untuk anaknya. Banyak sekali barang yang dibeli dari toko."
Deg!
Bayu membulatkan matanya. Ia baru ingat kalau sudah memberikan kartu kreditnya kepada Jimmy. Entahlah nanti ia akan syok atau tidak saat melihat tagihannya.
"Bos, aku juga diajak kan ke Singapura?"
"Hah, untuk apa aku mengajakmu? Ini urusan bisnis temanku, bukan perjalanan bisnis perusahaan kita."
"Yah... Aku juga mau jalan-jalan ke luar negeri. Belikan satu tiket tambahan untukku, Bos. Tidak akan rugi mengajakku pokoknya."
Bayu berpikir sejenak, "Kalau begitu aku potong dari gajimu, ya?"
"Yah.... " Alex langsung lemas.
"Terserah Bos sajalah yang penting aku ikut jalan-jalan ke luar negeri."
"Oke. Sekarang kamu tolong pergi ke bagian tim pengembangan produk. Tanyakan laporan yang aku minta sudah selesai apa belum."
"Siap, Bos!" Alex memberikan hormat kepada Bayu sebelum keluar dari ruangan Bayu.
Bayu merebahkan diri di sofa. Dia buka ponselnya mengecek tagihan kartu kredit yang masuk. Matanya membelalak ketika melihat angka tagihan mencapai enam ratus juta. Tanpa basa basi, Ia langsung menghubungi Jimmy.
"Halo, Bro... kenapa?" terdengar sahutan dari Jimmy dengan nada yang sangat santai.
"Jangan pura-pura tidak tahu." Bayu berbicara dengan menahan geram.
"Hahaha... kamu sudah sadar, ya? Kamu pasti sudah membaca notifikasi tagihan dari kartu kreditmu kan... Makasih, ya."
"Sialan! Aku hanya menyuruhmu membelikan perlengkapan game untuk Leo, ya. Kamu bawa mampir kemana saja kartu kreditku!"
"Ya, tentu saja yang utama aku bawa ke toko peralatan game sesuai permintaanmu. Terus, aku bawa ke toko sepeda. Sekalian lah bayar sepeda pakai kartu kreditmu yang unlimitted, lumayan dapat diskon. Eh, sebelum pulang tiba-tiba aku ingat istriku. Jadi, aku belikan dia tas memakai kartu kreditmu."
Bayu menghembuskan nafas kasar. 'Dasar teman laknat!' umpatnya.
"Santai saja, nanti kalau kamu punya anak, giliranku yang akan memberikan hadiah untuk anakmu. Uangmu kan banyak, habis segitu bukan jadi masalah tentunya buatmu."
"Bro, mana pantas memberi hadiah untuk istri dari hasil merampok teman." sindir Bayu.
"Hahaha... kalau yang aku rampok dirimu, hukumnya sah-sah saja. Ini di sampingku ada istriku yang sedang tertawa-tawa mendengarkan percakapan kita berdua. Berkat hadiah tas yang aku beli dengan kartu kreditmu, istriku sepertinya jadi semakin cinta padaku. Katanya aku pandai memilih teman."
"Berikan teleponnya pada Renata." pinta Bayu.
"Halo.... " terdengar suara Renata di seberang.
"Renata.... "
"Ya?"
"Kamu tahu, kenapa suamimu bisa memegang kartu kreditku?"
"Emm... tidak. Apa ada alasan khusus?"
"Dia selama ini bekerja sampingan menjadi partnerku. Suamimu itu gay.... Makanya dia dapat bayaran."
"Oh, iya? Benarkah?"
"Tentu saja. Mana ada kebaikan yang gratis. Kamu baru tahu kan, kalau selama ini ternyata suamimu selingkuh? Bukan dengan lawan jenis tapi justru dengan sesama jenis."
"Sayang... Bayu bilang kamu gay, kamu selingkuhan Bayu?"
"Ah, akhirnya dia mengakui hubungan kami. Bagaimana denganmu, apa kamu masih bisa menerimaku setelah tahu kalau aku partner Bayu?"
"Mmm... Selama sainganku bukan sesama wanita tidak apa-apa ya, apalagi kalau itu Bayu. Tidak rugi kamu meneruskan hubungan dengannya. Aku tetap mendukungmu."
"Hahaha... dengar sendiri kan jawaban istriku? Dia tidak masalah dengan hubungan kita."
"Sepertinya keluarga kalian bermasalah semua. Jangan-jangan kalian punya bakat sakit jiwa."
"Besok pagi-pagi datang ke kantorku dan kembalikan kartu kreditku."
"Oke, oke... siap bos Bayu. Jangan marah terus nanti cepat tua."
Klik
Bayu langsung mematikan sambungan telepon. Renata dan Jimmy memang dua orang yang sama-sama gesrek otaknya. Keduanya sama-sama gila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lho si jerome itu dosen? bukannya dokter ya? apa dokter rangkap dosen
2023-10-05
0
Nur Lizza
🤣🤣🤣🤣bayu miskin
2023-04-28
0
Muhammad Firgiawan
bayu abis di kuras
2021-12-24
0