"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kondisi penyakitmu ini disebabkan oleh faktor psikologis. Setelah semalaman melakukan observasi padamu, tidak ada masalah fisik yang ditemukan. Temuilah psikolog dan psikiater untuk membantumu, aku tidak bisa membantu apa-apa lagi." ucap dr. Jerome.
Semalam memang Bayu telah menginap di rumah sakit untuk menjalani NPT atau Nocturnal Penile Tumescence. Hasilnya sama saja, secara fisik dia baik-baik saja.
"Akan lebih baik jika kamu bisa bertemu dengan cinta pertamamu itu dan menyelesaikan masalah di antara kalian secara baik-baik. Mungkin kamu bisa mengeluarkan beban-beban yang selama ini tidak bisa tersampaikan. Siapa tahu bisa membuatmu semakin mudah melupakannya."
"Kalaupun tidak bisa, menemui psikolog atau psikiater juga langkah yang tepat. Mereka bisa memberikan kata-kata sugesti agar kamu bisa melupakan masa lalu yang menyakitkan."
Bayu tersenyum, "Terima kasih atas usahanya, dokter."
"Aku harap kamu tidak menyerah."
"Pasti. Aku pamit dulu."
"Ya, take care!"
Bayu merenung di dalam mobilnya memikirkan perkataan dr. Jerome. Benarkah semua ini terjadi karena rasa sakit hatinya kepada Prita? Benarkah selama ini ia bisa disebut stress karena terus memikirkan wanita itu? Sungguh mencengangkan, seorang Bayu yang tak segan membunuh orang bisa stress gara-gara masalah wanita.
Ia mulai ragu, mungkin dokter itu memang tidak bisa menyembuhkannya sehingga mencari-cari alasan lain sebagai pembenaran. Toh selama 5 tahun ini dia tetap bisa hidup seperti biasa, bahkan bisnis-bisnisnya berkembang dengan sangat baik. Yah, meskipun ia akui belum bisa sama sekali melupakan cinta pertamanya.
Bayu menggelengkan kepalanya, mengusir segala pikiran buruk yang ada di otaknya. Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran rumah sakit.
Saat melintasi area taman kota yang cukup sepi, ia melihat sepertinya ada seorang wanita yang sedang diganggu oleh dua orang lelaki berpakaian preman. Ia hampir saja mengabaikan apa yang dilihatnya karena ia merasa bukan urusannya juga dan dia bukanlah seorang pahlawan. Tapi, semakin mobilnya mendekati mereka, ternyata ia mengenal wanita yang sedang diganggu itu.
Tanpa basa-basi Bayu segera menepikan mobil dan menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan penuh percaya diri.
"Bayu!" Shuwan Mey terkejut melihat kehadiran Bayu yang tiba-tiba datang di sana.
"Heh! Ngapain kamu kesini? Jangan ikut campur sesuatu yang bukan urusanmu!" kata salah seorang di antara mereka yang sepertinya dalam kondisi mabuk. Ia mengacungkan pisau ke arah Bayu dan mencoba menakut-nakuti.
Bayu melepaskan kancing di kedua lengannya kemudian melipat kemejanya sebatas siku. Ia kembali maju seolah sudah siap untuk berkelahi dua lawan satu. Ya, untuk apa takut dengan penjahat sekelas mereka. Dia sudah biasa menghadapi orang-orang yang lebih berbahaya dari mereka.
"Wah, nantangin ini orang!" salah satu penjahat lainnya ikut mengambil pisau yang terselip di pinggangnya. Ia lantas maju mencoba menghunuskan pisaunya ke arah Bayu.
Dengan gesit Bayu bisa menghindari serangan dari orang itu. Ia bahkan bisa membalasnya dengan menendang punggung orang itu hingga jatuh tersungkur ke tanah.
Satu orang lagi penjahat yang tampak mabuk ganti mencoba menyerang Bayu. Tapi Bayu hanya tertawa terbahak-bahak melihat polahnya. Untuk jalan saja sempoyongan, mengacung-acungkan pisau berputar-putar ke arah yang salah. Ia seperti sedang melihat pertunjukan orang tolol.
Sedang asyik bermain-main dengan orang mabuk di hadapannya, orang yang tadi ia tendang ke tanah ternyata sudah bangkit dan hendak menusuknya dari belakang. Reflek Bayu mencekal pergelangan orang itu, kemudian merebut pisau yang ada di genggamannya dan membuangnya jauh ke arah parit.
Orang itu tidak menyerah. Ia masih berusaha menyerang Bayu dengan tangan kosong. Dari segi bela diri, orang itu cukup lumayan mahir meakipun belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Bayu. Itu sudah pasti. Bayu merupakan orang yang terlatih sejak kecil. Segala macam bentuk bela diri sempat ia pelajari, bahkan cara menggunakan senjata tajam juga sudah ia kuasai sejak usia remaja. Mungkin jika di Jepang ia sudah menjadi seorang ninja.
Sementara, Shu yang menonton di dekat mobilnya masih harap-harap cemas melihat Bayu yang berkelahi dengan kedua preman itu. Ia takut Bayu akan terluka. Apalagi mereka membawa senjata.
"Ampun, Pak!" pekik orang yang sedari tadi melawan.
Bayu berhasil membekuk orang itu hingga tersungkur ke tanah dalam kondisi babak belur.
"Apa yang kamu mau dari wanita itu?" Bayu menginterogasinya dengan tatapan mata mengintimidasi.
"Kami hanya ingin merebut mobilnya saja."
"Bohong! Kalau hanya ingin mengambil mobilnya, tidak perlu kan membawa senjata?"
"I... ini hanya untuk menakut-nakuti saja."
"Halah! Dilihat dari cara bertarungmu, aku tahu kamu mahir merkelahi dan menggunakan senjata. Kamu ingin mencelakai orang, kan? Sampai bawa-bawa teman pemabuk seperti dia."
"Sumpah! Kami belum pernah membunuh orang. Kami hanya merampok saja."
"Kalau mau dapat uang jangan merampok, tapi cari kerja!"
"Lha, pekerjaan kami kan memang rampok, Pak? Kalau nggak ngerampok malah namanya nggak kerja."
"Benar juga, ya." gumam Bayu membenarkan logika orang itu. "Maksudku kerja yang benar, bukan jadi rampok. Jadi pemulung kek, tukang parkir, kan bisa... masih banyak pekerjaan lain, kan?"
"Yah, Pak! Cuma rampok pekerjaan yang simpel, tidak butuh ijasah atau keahlian khusus selain kemampuan menakuti orang. Hehehe.... "
"Sampai kamu bertemu aku lagi masih jadi perampok, mati kamu, ya!"
Bayu mengambil dompet dari saku celananya. Ia mengeluarkan sekitar dua puluh lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada lelaki yang sudah dihajarnya habis-habisan.
"Ini buat berobat dan modal cari kerja. Awas saja kalau nanti masih jadi rampok."
"Makasih, Pak." orang itu terlihat senang sekali mendapatkan uang itu.
"Pergi sana, bawa sekalian temanmu yang teler itu!" perintah Bayu sembari menunjuk ke arah lelaki pemabuk yang sudah terkapar di tanah.
Shu yang melihat kejadian itu terlihat berbinar matanya. Bayu tampak keren seperti pahlawan penolong. Apalagi dia juga berbaik hati memberikan uang kepada penjahat itu. Membuatnya semakin kagum.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bayu.
"Ah, iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong."
"Kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Ban mobilku bocor. Tadi aku turun ngecek. Tiba-tiba mereka berdua datang nodongin senjata minta kunci mobil. Beruntungnya pas ada kamu lewat."
"Lain kali kalau mobil bermasalah di jalan, menepi saja. Terus, telepon orang terdekat untuk menjemput. Kalau tidak ada ya bisa telepon polisi. Jangan keluar mobil sendiri, bahaya."
"Iya, akan aku ingat."
"Ayo masuk ke mobilku."
"Hah?" Shu melongo mendengar ajakan Bayu.
"Kamu mau tetap di sini bersama mobilmu yg bocor?"
Shu menggeleng.
"Makanya ikut aku. Kamu mau kemana biar aku antar."
"Aku mau kembali ke kantorku."
"Oke."
Bayu menarik tiba-tiba tangan Shu, membuat wajah wanita itu seketika memerah karena malu. Perlakuan Bayu menurutnya itu suatu hal yang patriotis dan romantis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
smg shu dpt menggantikn posisi prita di hati bayu
2023-04-28
0
Umie Irbie
bayu jangan dama shu😫😩😡😡😡😡😡😡😡😡 samaalex aja donk thor
2021-09-13
1