"Mama.... " Daniel dan Dean berlari ke arah Prita yang sudah datang di halaman sekolah untuk menjemput mereka.
Prita memeluk hangat dua sosok jagoan kecilnya. Mereka anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
"Jagoan mama sudah selesai sekolah, ya... bagaimana, apa kalian menjadi anak baik selama di sekolah?"
"Mama... Kak Daniel suka pergi-pergi. Bu guru sampai bingung mencari." adu Dean.
"Daniel, kamu masih suka ke luar sekolah tanpa ijin?" Tanya Prita. Dia memang pernah beberapa kali mendengar aduan dari guru Daniel di sekolah.
"No, Mama. Aku jadi anak baik di sekolah." Daniel membantah.
"Halo, ada mamanya Daniel dan Dean." sapa Bu Nia, guru Daniel.
"Halo, Bu Nia. Terima kasih sudah menjaga anak-anak dengan baik."
"Ya, tentunya sudah menjadi tugas kami untuk mendampingi mereka bermain sambil belajar. Livy masih tidur, ya?"
"Iya. Sepertinya dia masih lelah setelah bermain seharian dengan temannya."
"Ah, iya. Saya baru tahu kalau ternyata Daniel punya paman, ya. Dia orangnya ramah dan baik sekali, selalu mengajak Daniel jalan-jalan sebelum pulang."
Prita mengerutkan dahi, ia tidak paham dengan hal yang guru Daniel bicarakan. Paman? Daniel bertemu pamannya? Apa maksudnya Kak Arga? Kalau dia ada di Singapura kenapa tidak mampir ke rumah.
"Em, maaf Bu Nia. Maksudnya paman Daniel yang mana, ya?"
"Itu loh yang biasa dipanggil Uncle Yu oleh Daniel. Wajahnya mirip sekali dengan Daniel. Saya langsung bisa tahu kalau dia pasti pamannya Daniel."
"Beberapa hari ini dia selalu minta ijin untuk membawa Daniel jalan-jalan. Dia juga yang memberikan mainan kepada Daniel. Dia paman yang perhatian."
Prita kira mainan yang selalu Daniel bawa pulang adalah hasil karya dari sekolahnya. Siapa orang itu? Tidak mungkin Daniel mau diajak orang yang tidak ia kenal. Tapi siapa?
"Bu? Bu Prita.... "
"Eh iya maaf, kenapa?" Prita menghentikan lamunannya.
"Jangan lupa besok jemput Daniel dan Dean lebih awal, karena sekolah akan ada rapat jadi hanya setengah hari saja masuknya."
"Terima kasih sudah mengingatkan, Bu. Kami pamit pulang dulu."
"Bye bye Bu Guru.... " Daniel dan Dean melambaikan tangan ke arah gurunya.
"Bye bye Daniel dan Dean.... sampai bertemu besok."
Prita berjalan sambil mendorong stroller dan mengawasi kedua putranya yang masih tampak akur bernyanyi bersama. Rumah mereka tak begitu jauh dari sekolah. Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki. Setiap hari Prita mengantar dan menjemput anak-anaknya sendiri. Memang, di rumah ia memiliki beberapa asisten rumah tangga. Tapi, ia sebisa mungkin mengurusi anak-anaknya sendiri selagi masih mampu. Ia tak mau kehilangan sedetikpun momen berharga bersama anak-anaknya.
"Daniel.... "
"Yes, Mama?" Daniel menjawab panggilan Prita sambil memainkan rubiknya.
"Apa benar, kamu pergi dengan seorang paman beberapa hari ini?"
"Ya... namanya Uncle Yu."
"Kamu masih ingat pesan mama, tidak boleh pergi dengan orang asing."
Daniel berhenti bermain. Matanya menatap ke atas beberapa detik seperti berpikir. "Ya, aku ingat pesan itu. Orang asing bisa menculikku, kan?"
"Benar. Lalu, kenapa kamu pergi dengan orang yang kamu sebut Uncle Yu itu?"
"Mm... tapi Uncle Yu bukan orang asing, Mama. Dia baik, tidak menculik."
"Tetap saja kamu tidak boleh ikut dengan orang yang tidak dikenal, okay?"
"Aku tidak mau! Aku suka Uncle Yu. Dia baik dan suka mengajakku bermain seperti Papa."
Prita heran melihat anaknya keras kepala seperti itu. Daniel bukan tipe anak yang mudah dekat dengan orang yang baru dia kenal. Mungkinkah orang itu memang masih kerabatnya atau teman Ayash yang sudah pernah Daniel kenal?
"Daniel, Uncle Yu itu seperti apa orangnya?" Prita berusaha menggali ciri-ciri fisik orang itu, siapa tahu ia bisa kenal.
"I think He's handsome just like me." Daniel nyengir. Prita tersenyum kecut.
"Maksudnya, apa kamu tahu seberapa tingginya, warna rambutnya, atau ada tahi lalat di wajahnya? Mama juga ingin tahu."
Daniel terlihat berpikir, "I don't know. Dia tinggi seperti Papa."
Prita menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya tidak mungkin bertanya pada anak sekecil itu.
Plak!
"Aduh!"
"Dean...!"
Daniel mengaduh kesakitan karena kepalanya dipukul dengan stick drum mainan oleh Dean. Prita mengelus-elus kepala anak sulungnya. Sementara Dean masih berlarian sambil tertawa membawa stick drum yang digunakan untuk memukul kakaknya.
"Dean, berhenti. Nanti jatuh." Prita mencoba memperingati. Dean tak menghiraukannya. Dia tetap berlarian kesana kemari dengan riangnya.
Bruk!
"Huwaa.... "
Dean terjatuh karena tersandung mainannya sendiri. Prita segera berlari dan menggendong anak keduanya yang paling aktif itu.
"Sudah mama bilang kan, berhenti berlari." Prita mengelus punggung Dean untuk menenangkan anak itu.
"Papa pulang.... "
"Papa.... " Daniel langsung berlari menyongsong kedatangan Ayash. Ia langsung meminta gendong pada papanya.
"Wah, jagoan ayah yang satu lagi kenapa menangis?"
Dean menyembunyikan wajahnya di dada mamanya.
"Biasalah, dia baru terjatuh." jawab Prita.
Ayash memberikan kecupan singkat di bibir Prita.
"Livy dimana?"
"Dia masih tidur."
"Sudah sesore ini masih tidur?"
"Ya, seharian bermain dengan Stela sampai kelelahan."
"Papa... ayo main bola." ajak Daniel.
"Daniel, papa kan baru pulang. Papa harus istirahat dulu supaya tidak lelah."
"Ah, Mama... Papaku kan kuat. Iya kan, Pa?"
"Iya, dong.... "
"Sayang.... "
"Sudah, tidak apa-apa. Melihat mereka rasa lelahku langsung hilang." Ayash menyunggingkan senyum.
"Ayo Dean, turun dari gendongan mama. Kita main bola bersama!"
Dean yang mendengar ajakan main bola langsung berhenti menangis dan meminta diturunkan dati gendongan mamanya. Ia berlari menghampiri Ayah dan kakaknya yang sudah lebih dulu ke halaman samping.
Prita tersenyum melihat kekompakan ayah dan anak itu. Ayash suami yang sangat sempurna untuknya. Dia tak pernah memprotes kekurangannya, yang ada dia terus mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada keluarga.
Senyumnya memudar saat mengingat ibu mertuanya, Mama Maya yang keceplosan mengatakan Daniel tak mirip sedikitpun dengan Ayash. Orang tidak akan percaya kalau mereka ayah dan anak karena perbedaan fisik yang begitu mencolok. Walaupun Ayash selalu menutupinya dengan berbagai alasan, tetap saja pertanyaan seperti itu akan terus muncul. Apalagi jika pertanyaan semacam itu keluar dari mulut orang-orang terdekat.
Kebenaran sesungguhnya hanya dia, Ayash dan Irgi yang tahu. Sampai saat ini mereka masih menyembunyikan fakta ayah kandung Daniel yang sebenarnya. Sejak kelahiran Daniel, Mama Maya orang yang paling kritis bertanya. Daniel lahir setelah 6 bulan pernikahannya dengan Ayash.
Mau tidak mau mereka harus mengakui kalau Prita memang hamil duluan. Dan Ayash selalu mengaku kalau dia yang telah menghamili Prita. Dia jelaskan pada keluarganya kalau dia sudah sering tidur dengan Prita sebelum menikah. Karena perkataannya, ia mendapatkan tamparan keras dari Mama Maya.
Tentu Mama Maya kecewa melihat anak lelaki yang dibesarkan dengan penuh cinta sudah berbuat tidak baik kepada wanita. Meskipun akhirnya mereka menikah, tidak mengubah kenyataan kalau sebelumnya mereka telah membuat kesalahan. Ayash mau menerima tuduhan itu demi Prita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut thor
2023-04-28
0
Putraa Siktuss
tp kok aku ngersa sih ayash ini aada niat terselubung ya
2021-12-30
0
Sagitarius
Ayash suami idaman bngt....
2021-09-10
0