"Selamat pagi, Pak." sapa para karyawan ketika Bayu memasuki kantornya.
Bayu hanya membalas dengan anggukan kepala sebagai kode. Jangan harap untuk mendapat sapaan balik darinya. Tersenyum saja tidak.
Sikapnya terkesan dingin dan serius membuat karyawannya sungkan dan takut berhadapan dengannya. Bayu dikenal sebagai bos yang kejam. Jika ada kesalahan yang karyawannya buat, ia gak segan-segan untuk memecat atau memutasi ke kantor cabang lain.
Dari segi gaji, dia bukan bos yang pelit. Karyawannya digaji dengan bayaran yang tinggi, di atas rata-rata perusahaan lain, dengan konsekuensi mereka harus benar-benar bekerja dengan serius dan bertanggung jawab.
Meskipun demikian, Bayu tetap menjadi primadona di kalangan karyawan wanita. Kehadiran Bayu di kantor adalah sesuatu yang sangat mereka nantikan karena tidak setiap hari Bayu datang ke kantornya. Seringkali mereka berkhayal bisa menjadi istri seorang Bayu Bagaskara.
Tok tok tok
"Masuk."
Reni, kepala bidang marketing masuk ke ruangan Bayu setelah mendapatkan ijin. Dilihatnya sang bos sedang duduk serius membaca-baca laporan yang ada di mejanya. Sementara sang asisten, Alex, dengan santainya rebahan di sofa mengemut permen lolipop sambil memainkan game di ponselnya.
Reni hanya bisa menggeleng kepala melihat asisen yang bertingkah santai bahkan seperti bos di hadapan bosnya.
"Masuk saja Kak Reni, anggap aku tidak ada." ucap Alex dengan santainya.
Reni langsung duduk di hadapan Bayu.
"Pak, ini laporan penjualan produk perusahaan selama tiga bulan terakhir."
Reni menyodorkan berkas laporannya. Bayu langsung menerima dan membacanya.
"Ini produk baru, kan? Kenapa penjualan terus menurun dalam tiga bulan terakhir? Kerja kalian apa?"
"Maaf, Pak. Tapi, dipasaran semakin banyak produk serupa yang beredar. Pilihan konsumen menjadi lebih beragam dan sepertinya... produk kita kalah saing."
"Ini gunanya aku mempekerjakan kalian agar bisa mencari solusi saat menemukan permasalahan. Bagaimana kalian bisa diam saja melihat penjualan kita yang terus merosot?"
"Sepertinya itu lebih tepat sebagai tugas bagian inovasi produk, Pak. Kami dari bagian marketing telah menjalankan pekerjaan sesuai SOP."
Bayu menyeringai, "Apapun dan bagaimanapun produk yang dihasilkan perusahaan, pada akhirnya tetap bagian marketing yang harus menentukan strategi promosi yang tepat agar produknya laku terjual. Kalau kalian tidak bisa melakukannya, aku anggap kalian gagal."
"Tapi, Pak.... "
"Alex, pergi ke bagian marketing. Bantu mereka menemukan strategi pemasaran yang tepat untuk produk kita."
"Oke."
Alex langsung mematikan ponselnya dan bangkit dari duduk.
"Kalau mereka tetap tidak bisa menaikkan kurva penjualan, pecat semua karyawan di bagian marketing dan ganti yang baru."
Reni membulatkan mata mendengar ancaman bosnya. Bagaimanapun juga, dia adalah kepala bagian, bos bagi bawahannya. Jika terjadi pemecatan pada seluruh anggotanya, berarti itu menjadi tanggung jawabnya juga.
"Pak, saya mohon, jangan gegabah memutuskan sesuatu. Kami sudah lama bekerja untuk Bapak. Kamu juga akan berusaha sekuat tenaga untuk memajukan perusahaan Bapak."
"Saya tidak butuh kata-kata, Reni. Berikan saya bukti.Silakan keluar."
"Permisi, Pak."
Reni pamit keluar dari ruangan Bayu. Di belakangnya ada Alex yang mengikutinya. Anak itu kembali memainkan game di ponselnya setelah keluar dari ruangan Bayu.
"Alex, umurmu berapa?"
"20 tahun. Memangnya kenapa, Kak?"
"Ah, ternyata kamu sudah bukan anak-anak lagi. Tapi kenapa tingkahmu itu masih seperti anak kecil?"
"Anak kecil? Tubuhku bahkan lebih tinggi darimu, Kak."
"Sifat kedewasaan tidak bisa diukur dari tinggi badan. Tapi dari sikapnya."
"Memangnya sikapku kenapa? Bos tidak pernah protes dengan apa yang aku lakukan. Malah Kak Reni dan kawan-kawan kan yang terancam akan dipecat. Hehehe.... "
Reni menelan ludah. Orang yang lebih muda sepuluh tahun darinya itu benar-benar membuat mentalnya jatuh.
"Kamu benar-benar senang ya, kalau aku dan teman-teman dipecat?"
"Loh, kok bilang begitu? Aku sekarang bareng Kak Reni kan juga untuk membantu."
"Halah, nanti kamu pura-pura saja biar dipuji bos."
"Jangan ragukan bantuanku, Kak. Aku ini sangat kompeten."
Alex melirih ke arah Reni yang tampak meragukannya. "Aku buktikan ya, nanti. Kalau Kak Reni tidak jadi dipecat, traktir aku makan selama satu bulan."
"Heh! Kamu mau memerasku? Gajiku bisa habis kalau kamu minta begitu."
"Kalau begitu satu minggu, ya."
"Oke."
Dibandingan dengan Bayu, Alex lebih ramah dengan karyawan lain. Dia memanggil kebanyakan karyawan dengan sebutan 'Kak', 'Pak', atau 'Bu' karena dia orang yang paling muda di perusahaan. Alex mudah akrab dengan siapa saja. Itu yang orang-orang suka.
Meskipun masih muda, wawasannya sangat luas. Memang tidak mungkin Bayu membiarkannya tetap bertahan di sisinya jika Alex tak memiliki kelebihan. Alex cepat sekali belajar. Pemikirannya kritis, mampu menganalisa solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Seperti kali ini, tim marketing dibuat melongo memperhatikan contoh desain iklan yang dibuat Alex.
"Ini baru adik kita, Alex." Puji Jonan.
"Lulusan mana kamu, Lex? Jonan saja kalah. Otaknya nggak berfungsi deh di marketing."
"Wah, Bu Reni kata-katanya kejam, ya? Aku ini sudah ditugaskan di lapangan lho, masa harus memikirkan tentang konsep iklan juga? Tuh, Winda kan yang biasanya menyusun konsepnya."
"Lah, kok aku?"
"Sudahlah, Kakak-Kakak tidak perlu bertengkar. Lebih baik kita segera selesaikan saja. Aku juga sudah ingin main game lagi."
"Ini konsep iklannya memang begini, ya, Lex? Apa nanti orang-orang yang melihat tidak bingung karena iklannya ambigu?" tanya Hari.
"Ya, Kak. Semakin mereka bingung, semakin mereka kepo tentang produk kita."
"Gimana kalau untuk promosi ada program undian berhadiah juga? Aku rasa bisa lebih banyak menarik minat konsumen."
"Boleh juga idenya Kak Winda."
"Berarti perlu juga mencari artis terkenal untuk jadi BA?" tanya Hari.
"Aduh, kalau artis terkenal butuh biaya endorse yang besar. Jangan deh." Reni menolak.
"Kalau begitu pakai saja seleb-seleb internet yang sedang viral. Biaya endorse bisa lebih ditekan, produk bisa cepat terkenal." usul Jonan.
"Nah, ini ide bagus." Reni mengacungkan jempol
"Dari awal memang kita sudah salah strategi, ya. Aku kira produk baru kita akan langsung booming di pasaran."
"Ya mana ada hal seperti itu, Jo." ucap Winda.
"Dilihat dari kemasan, rasa, ukuran, produk kita lebih bagus lho daripada produk-produk serupa."
"Masalahnya promosinya kurang, jadi belum banyak orang yang tahu." tambah Hari.
"Em, ini kalian sudah tidak butuh aku, kan? Sepertinya kalian bisa lanjut berdebat dan aku juga mau lanjut main game." Alex menyela di antara perdebagan mereka.
"Jangan dulu, Alex. Tunggu kami selesai diskusinya." cegah Winda.
"Oke."
"Alex, kamu sebenarnya adik Pak Bayu, ya?" tanya Winda penasaran.
Sebenarnya Winda lebih penasaran dengan Bayu. Bayu adalah tipe lelaki idamannya. Namun, Bayu sangat menyeramkan untuk didekati.
"Bukan. Aku hanya anak pungut, kok. Aku dipungut oleh ayah Bayu dari jalanan."
"Kok sepertinya Pak Bayu sangat menyukaimu, ya? Apa dia gay?"
Senua mata langsung mengarah ke Winda. Berani-beraninya dia keceplosan menyebut bosnya itu homo.
"Ya maaf... soalnya Pak Bayu sepertinya tidak terlalu suka berdekatan dengan wanita. Aku kira karena sudah punya pacar cowok. Kamu."
"Hem, Kak Winda perlu aku laporin nih ke Bos."
"Laporin saja, Lex. Mulutnya itu nggak ada saringan astaga Winda.... " Jonan mengompori.
"Jangan dong... aku bisa mati kalau aku kena PHK. Cari kerja jaman sekarang susah. Aku kan hanya penasaran. Aku yakin karyawan lain juga sama."
"Penasaran sih penasaran, Win. Tapi nggak cablak gitu juga kali."
"Ya maaf, maaf.... "
"Bos masih normal, kok. Mungkin karyawan di sini bukan tipenya saja jadi Bos tidak tertarik."
"Tipe Pak Bayu seperti apa?" Reni ikut-ikutan kepo.
Alex mencoba mendeskripsikan Prita, wanita yang bosnya cintai, "Sepertinya tipe Bos itu wanita yang penyayang, ramah, sederhana, mandiri, pantang penyerah, tegar.... "
Reni, Jonan, Winda, dan Hari mendengarnya heran.
"Stop stop... bukannya itu tipe wanita kebanyakan, ya?" kata Winda.
"Iya. Kok sepertinya tidak cocok untuk Pak Bayu."
"Aku sependapat. Aku kira wanita yang tepat bersamanya itu wanita yang cantik, seksi, menantang... "
"Halah, itu paling tipe khayalanmu, Jo."
"Yang aku katakan benar itu, Kak. Aku kan sudah pernah bertemu langsung dengan wanita yang Bos sukai."
"Tapi kok Pak Bayu tidak pernah terlihat bersama wanita itu?"
"Dia sudah menikah dengan lelaki lain dan tinggal di luar negeri."
"Ooh.... " kata mereka serempak.
"Kakak-kakak katanya mau diskusi, kok jadi membahas Bos? Kalau begitu aku tinggal ya, kalian kerjakan sendiri saja. Hati-hati, kalau omset penjualan menurun, kalian semua bisa dipecat."
"Eh, Alex tunggu!" seru Reni.
Alex langsung berlari sebelum ditahan oleh karyawan divisi pemasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
akhirny bayu jd bahan ngibah para karyawan
2023-04-28
0
Nella Pinontoan Roring
up
2021-12-09
0
Yeyen Dhevan
lnjutty thorrr
2021-10-21
0