Bayu melonggarkan dasinya, membuka kancing di kedua lengan kemeja kemudian menaikkannya sebatas siku. Ia duduk di salah satu bangku taman menunggu Alex yang tadi ia suruh membelikannya minuman.
Bayu meminta ijin kepada Jimmy untuk keluar dari meeting lebih capat. Ia tidak terbiasa mengikuti durasi meeting yang terlalu lama. Apalagi pembahasannya bukan bidang yang membuatnya tertarik. Kondisi meeting juga berjalan dengan sangat formal. Tidak seperti meeting di perusahaannya yang berjalan dengan santai sesuai dengan kemauannya.
Tampak dari seberang jalan Alex berjalan membawa box coklat berisi minuman pesanannya. Dari arah berlawanan, terlihat seorang anak laki-laki hendak menyeberang jalan tanpa menengok kanan kiri padahal ada mobil yanh cukup kencang sedang melaju.
Bayu langsung bangkit berlari menghampiri anak itu. Ia berlari sekuat tenaga mencoba menyelamatkan anak anak itu agar tidak tertabrak. Tapi terlambat. Jaraknya terlalu jauh untuk bisa menggapai anak itu. Untunglah ada Alex di sana yang berhasil menyelamatkannya.
Mobil yang hampir menabrak anak kecil itu pergi begitu saja. Mungkin pengendaranya sedikit mabuk atau bagaimana, berkendara dengan sangat kencang di area yang telah terpasang papan peringatan batas kecepatan.
Bayu menghampiri Alex yang jatuh tersungkur bersama anak itu. Minuman yang Alex bawa sudah jatuh dan tumpah.
"Oh, My God! Hampir saja." Keluh Alex yang masih kaget dengan kejadian yang baru saja ia alami. Rasanya ingin marah kepada anak kecil yang sembarangan menyeberang jalan.
"Are you okay?" tanya Bayu sembari membantu anak kecil itu bangkit dari aspal.
"Yes, I'm okay. Thank you." anak laki-laki kecil berusia sekitar 4-5 tahun itu menyunggingkan senyum dan berterima kasih kepada Bayu.
Bayu tertegun ketika menatap wajah anak itu. Wajahnya sangat mirip dengannya ketika masih kecil. Warna matanya, bibirnya, hidungnya, bahkan rambut yang pirang itu benar-benar mirip dengannya. Ia seperti bertemu dengan dirinya saat kecil. Bagaimana bisa di Singapura ada anak semirip dirinya.
"Bos... " panggilan Alex membuyarkan lamunan Bayu.
"Ya Alex, ada apa?"
"Lutut anak itu berdarah."
Bayu langsung mengalihkan pandangan pada lutut anak kecil itu. Benar, lututnya berdarah. Bukan darah yang sedikit, tapi darahnya sampai mengalir. Tapi anak itu tidak menangis sedikitpun. Anak itu hanya diam keheranan.
"Ayo kita bawa ke klinik!" seru Bayu seraya menggendong anak itu. Alex mengikutinya.
"Ah! My toy!" anak itu menoleh ke belakang memandang potongan-potongan kayu yang berserakan. Mungkin itu mainannya.
"Alex, punguti mainan anak ini dan bawa kepadaku!"
"Baik, Bos." Alex kembali lagi ke jalanan mengambil mainan yang ditunjuk anak itu.
"Kita ke klinik dulu. Nanti kakak itu akan kembali membawa mainanmu."
Anak itu menurut dan tenang dalam gendongan Bayu.
"Apa kamu merasa sakit?"
Anak itu menggeleng, "No."
Bayu merasa heran, ada anak kecil tidak menangis saat jatuh dan lukanya berdarah. Tiba-tiba ia tersenyum, mengingat dirinya pernah kecil dan dia sudah terbiasa dididik keras oleh ayahnya. Ia dulu sering menangis saat diajari bela diri. Terkena pukulan rasanya sakit. Tapi lama-lama, ia tidak menangis karena sudah biasa terkena pukulan.
Apa anak itu juga sama dengan dirinya, mendapat didikan keras dari ayahnya. Wajahnya benar-benar mirip dirinya.
"Siapa namamu, Nak?" tanyanya.
"I'm Daniel. And you?"
"Em, panggil saja Uncle Yu. Okay?"
"Okay, Uncle Yu." Daniel tersenyum pada Bayu.
"Perawat, tolong obati luka anak ini." perintah Bayu ketika ia sampai di klinik dekat area itu.
Perawat mempersilakan Bayu membaringkan Daniel di atas kasur perawatan.
"Lho, ini kan Daniel. Kenapa ada di sini?" tiba-tiba seorang dokter wanita datang.
"Halo, Dokter Jasmine. Aku tadi jatuh. Hehehe.... "
Sepertinya Daniel dan dokter wanita itu saling mengenal.
"Ah, Anda siapa?" tanya Dokter Jasmine kepada Bayu.
"He's my uncle, Dokter." celetuk Daniel.
"Oh, your uncle. Okay.... apa kali ini kamu kabur lagi dari sekolah?"
Daniel menggaruk-garuk kepalanya, "Hehehe... tidak juga. Aku hanya ke luar sekolah karena ingin menyapa Uncle Yu. Tapi aku malah terjatuh."
Bayu berdecih. Anak kecil itu sudah berbohong.
"Oh, begitu. Baiklah, dokter akan mengobati lukamu sekarang."
Dokter itu mulai membersihkan darah yang mrngalir di lutut dengan cairan alkohol.
"Kamu harus selalu ingat pesan dokter, hati-hati kalau bermain. Jangan sampai terluka. Jangan suka keluar dari sekolah, nanti guru, papa, dan mama kamu akan khawatir. Mengerti?"
"Iya, dokter."
"Nah, sudah selesai. Kembalilah ke sekolahmu dan tunggu mamamu menjemput."
"Siap!"
"Pak, tolong pastikan anak ini kembali ke sekolah ya. Dia sering sekali keluar dari sekolah diam-diam."
"Kali ini dia tidak kabur dari sekolah, Bu. Seperti yang dia katakan, dia melihatku berada di depan sekolahnya. Jadi dia antusias berlari menghampiri saya. Tapi malah terjatuh. Nanti saya juga akan jelaskan kepada pihak sekolah."
"Ya, begitu lebih baik."
"Kami permisi dulu."
"Silakan."
Bayu kembali menggendong Daniel. Sesampainya di kasir, ia hendak membayar namun ditolak. Katanya tidak perlu membayar untuk Daniel karena biayanya sudah ditanggung oleh sekolah.
"Bos.... "
Di depan pintu klinik mereka bertemu Alex.
"Kamu lama sekali." protes Bayu.
"Bos kan menyuruh saya mengumpulkan mainan anak itu. Saya juga kembali ke kafe untuk membelikan bos minuman baru karena yang tadi saya belikan tumpah gara-gara menyelamatkan anak kecil ini."
"Kamu marah padaku?"
"Tentu saja, anak kecil!"
"Heh! Sudah-sudah.... " Bayu menghentikan pertengkaran antara anak kecil dan anak remaja.
Bayu membawa Daniel ke depan sebuah taman kanak-kanak.
"Uncle... aku belum mau masuk lagi ke dalam."
"Kenapa?"
"Aku masih mau bersama Uncle Yu. Uncle harus membantuku memperbaiki mainanku yang tusak."
"Ah, oke."
Bayu mendudukkan Daniel di kursi taman depan sekolah. Ia meminta potongan mainan Daniel yang sudah Alex kumpulkan. Mainan itu berbahan kayu yang bisa disusun menjadi suatu bentuk. Bayu berusaha menyatukan kembali bagian-bagian yang terlepas hingga menyatu kembali membentuk sebuah mainan pesawat.
Mata Daniel tampak berbinar melihat mainannya bisa kembali utuh. "Thank you Uncle." ucapnya dengan bahagia.
"Tadi aku sudah menyusunnya seperti ini di sekolah. Tapi malah hancur saat aku ingin menunjukkannya kepada papaku."
"Papa?"
"Iya, Papaku ada di kantor. Kantornya ada di seberang jalan sana. Aku keluar dari sekolah karena ingin menunjukkan ini kepada Papa. Papa pasti senang melihatnya." Daniel memainkan pesawat-pesawatan itu dengan tangannya.
"Lain kali tidak boleh seperti itu. Kalau ingin menemui papamu, kamu harus ditemani orqng dewasa. Di jalanan berbahaya, banyak kendaraan. Papamu akan sedih kalau sampai kamu tertabrak. Kamu mengerti?"
Daniel mengangguk.
"Sekarang, kamu kembali ke sekolah, ya! Uncle antar ke dalam supaya kamu tidak dimarahi."
Daniel menaikkan kedua tangannya, mengisyaratkan ia ingin digendong. Alex yang melihatnya ingin menjitak anak kecil yang pandai mengambil hati bosnya itu.
Bayu dengan senang hati kembali menggendong Daniel. Dia membawa anak itu memasuki halaman sekolah. Entah mengapa lelaki seperti dirinya tiba-tiba bisa menyukai anak kecil. Padahal, membayangkan memiliki anak saja tidak pernah. Ia tidak ingin jika memiliki anak nasibnya akan sama dengannya. Masa kecil sama sekali tidak menyenangkan.
"Oh, ya Tuhan, Daniel.... kamu keluar lagi dari sekolah?" tanya salah seorang guru yang melihat kedatangan Daniel.
"Tidak, Bu. dia hanya menyapa saya yang kebetulan lewat. Saya Uncle Yu, pamannya Daniel."
Guru itu sama sekali tidak curiga karena wajah Bayu memang ada kemiripan dengan Daniel. Pastilah memang mereka masih saudara.
"Oh, begitu, ya. Terima kasih sudah mengantarnya kembali."
"Tadi dia sempat jatuh, tapi sudah saya obati di klinik. Tolong titip Daniel. Saya pamit dulu."
"Baik, Pak."
"Bye, Uncle. See you tomorrow." Daniel melambaikan tangan me arah Bayu. Bayu membalasnya dengan senyuman.
"Bos beneran paman dari anak itu?" tanya Alex setelah mereka keluar dari area sekolah.
"Bukan."
"Terus, kenapa Bos tadi bilang begitu?"
"Kalau aku tidak bilang seperti itu, nanti aku dikira penculik."
"Ah, iya. Benar juga."
"Alex, simpan ini baik-baik. Kirim ke rumah sakit dan ajukan untuk tes DNA denganku."
Bayu menyerahkan plastik kecil berisi beberapa helai rambut.
"Rambut siapa ini?"
"Rambut Daniel."
"Hah? Apa? Jadi Bos curiga kalau dia adalah anak Bos?:
"Itu mungkin saja. Dia sangat mirip denganku saat kecil. Lakukan apa yang aku suruh tanpa banyak bertanya lagi."
"Baik, Bos. Aku mengerti."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
akhirny bayu ketemu sm anakny .dn bayu bergerak cepat melakukan tes DNA
2023-04-28
0
ƒαqqυяσ
aahhh Bayu ternyata lebih canggih.. langsung gercep😁
2022-11-02
0
Fenty arifian
waaahhh...seeruu nih..
2021-10-04
0