Sosok separuh ikan dan separuh singa ikonis, Merlion, berdiri di tepi perairan Merlion Park. Dari mulutnya menyemburkan air mancur yang akan keluar sepanjang hari. Bangunan ini menjadi ikon khas negara Singapura. Belum ke Singapura jika belum mengambil foto berlatar belakang patung Merlion.
Badan Merlion melambangkan awal mula sederhana Singapura sebagai desa nelayan saat masih bernama Temasek, yang berasal dari kata tasek atau danau dalam bahasa Melayu.
Kepalanya mencerminkan nama asli negara ini, Singapura, atau 'kota singa' dalam bahasa Melayu.
Alex sangat bersemangat mengambil foto selfi dirinya. Sementara, Bayu hanya duduk santai memandangi orang-orang yang berlalu lalang di area itu. Semakin siang suasana di sana justru semakin ramai.
Kalau saja bukan kemauan Alex, Bayu tidak akan pergi ke tempat itu. Alex seperti adik kecil yang merengek minta diantar melihat patung Merlion. Akhirnya Bayu menyetujui. Berada di sana lebih baik dari pada duduk di tempat rapat. Lagi-lagi dia meminta ijin keluar lebih dulu dari ruangan rapat. Jimmy tak bertanya apapun, dia hanya mengiyakan keinginannya.
"Bos, ayo foto bersamaku." ajak Alex.
Bayu menggeleng. Ia tak menyukai hal sepele semacam itu. Matanya melihat ke arah lain. Ada seorang penjual mainan yang menjajakan dagangannya. Bayu tertarik dengan puzzle konstruksi, tipe permainan yang hampir sama seperti pesawat-pesawatan yang Daniel miliki. Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk memberikan mainan itu kepada Daniel.
"Alex, ayo pulang!" seru Bayu setelah ia membeli mainan itu. Ia tak sabar untuk segera memberikannya kepada Daniel.
"Apa itu?"
"Mainan."
"Untuk Leo?"
"No, ini untuk Daniel."
"Hah? Maksud Bos untuk anak kecil yang kemarin?"
"Iya."
Alex langsung berhenti bertanya. Pikirannya sibuk mencari tahu perubahan sikap bosnya yang tiba-tiba menjadi penyayang anak kecil. Apa itu benar-benar anak bosnya?
Bayu berhenti tepat di depan sekolahan Daniel. Tampak anak lelaki itu sedang bermain memanjat pagar. Melihat kedatangan Bayu, anak itu melambaikan tangan. Bayu lantas mendekatinya.
"Pak Satpam, tolong bukakan pintunya. Aku mau main dengan Uncle Yu." pinta Daniel.
"Eh, ada pamannya Daniel, ya?" guru yang kemarin Bayu lihat muncul. Bayu mengiyakan dengan senyuman.
"Boleh saya ajak Daniel jalan-jalan sebentar?"
"Boleh, tentu saja boleh. Pak Satpam, tolong bukakan pintu gerbangnya, ya."
"Baik, Bu."
Daniel berlari keluar gerbang ketika pintu dibuka. Ia memeluk Bayu dengan perasaan sangat bahagia.
"Kita mau jalan-jalan kemana, uncle?"
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kamu suka makan apa?"
"Aku suka spagetti."
"Baiklah, kalau begitu kita cari spagetti."
"Ye.... " Daniel bersorak gembira.
Sementara, Alex terlihat kurang suka mendapat musuh kecil. Bayu lebih perhatian dengan anak kecil itu dibanding dirinya. Kalau biasanya dia terlihat seperti adik bayu, saat ini dia terlihat seperti asisten rumah tangga.
"Mmm.... enaknya.... "
"Kamu suka?"
Daniel mengangguk.
Bayu memperhatikan Daniel yang dengan lahap menyantap makanannya sendiri. Mungkin spagetti memang makanan kesukaan anak itu.
"Ini untukmu."
Mata Daniel berbinar melihat mainan yang Bayu beli di Merlion Park.
"Waow... mainan. Terima kasih, Uncle."
"Aku akan menyusun mainan ini lagi. Mainanku yang kemarin Uncle perbaiki dirusak lagi oleh Dean."
Bayu mengernyitkan dahinya, "Dean, siapa Dean?" tanya Bayu penasaran.
"Dean itu adikku."
"Oh, kamu punya adik?"
"Ya, aku punya dua orang adik. Namanya Dean dan Livy."
Bayu terdiam sejenak. "Siapa nama ibumu?" tanyanya.
"Prita."
Deg.
Jawaban polos Daniel membuat Bayu tersentak kaget. Anak kecil yang ada di hadapannya kini adalah anak dari wanita yang ia cintai. Ia melirik ke arah Alex yang juga tampak masih tidak percaya seperti dirinya.
Bayu menjadi bertanya-tanya, mungkinkah Daniel benar-benar anaknya bersama Prita? Baru kemarin ia menyuruh Alex mengirimkan sampel rambut untuk dilakukan tes DNA. Hasilnya baru akan keluar sekitar 2-4 minggu.
Bayu memang dulu sering tidur dengan banyak wanita. Bis saja salah seorang dari mereka mengandung anaknya meskipun kemungkinannya kecil karena dia selalu memastikan menggunakan pengaman. Hanya bersama Prita dia tidak melakukan kebiasaannya yang satu itu.
Bayu memandang lekat wajah Daniel yang begitu identik dengannya. Diusapnya rambut pirang bergelombang itu dengan penuh cinta. Bayu yakin Daniel adalah putranya. Meskipun hasil tes DNA belum keluar, instingnya kuat mengatakan iya.
Seumur-umur tak pernah membayangkan dirinya memiliki seorang anak. Tapi, melihat Daniel bagaikan sebuah keajaiban yang membuatnya merasa bahagia. Ada sosok anak kecil yang mirip dengannya dan itu adalah anaknya. Dia sekarang seorang ayah.
"Uncle.... kenapa sejak tadi senyum-senyum begitu?"
Pertanyaan Daniel menyadarkan lamunan Bayu.
"Ah, tidak apa-apa. Uncle hanya senang bisa makan siang bersamamu. Uncle ingin bisa bersamamu setiap hari."
"Kalau begitu, Uncle harus datang setiap hari ke sekolah supaya bisa bertemu denganku."
"Baiklah, akan uncle lakukan. Kamu habiskan dulu makannya."
Tiba-tiba Bayu menginginkan hal lebih. Ia ingin Daniel menyebutnya 'daddy', bukan 'uncle'.
Bayu kembali teringat malam terakhir ia berjumpa dengan Prita. Di tepi laut, saat ia menyelamatkan Prita dari Mario. Malam itu Prita masih mengenakan gaun pengantinnya. Karena merepotkan, Bayu berinisiatif memotong gaun pengantin yang panjang itu. Saat sedang memotong gaun, ada darah yang mengalir dari paha dalam Prita. Prita langsung menjerit histeris menyebut-nyebut 'anakku.... anakku.... '
Mungkinkah saat itu ia sedang mengandung Daniel? Kalau dia sedang hamil, kenapa dia tetap nekat menikah dengan Ayash, bukan meminta pertanggungjawabannya yang telah menghamilinya? Prita bahkan hanya meninggalkan sepucuk surat tanpa mengucapkan terima kasih dengan benar setelah ia mati-matian menyelamatkannya.
Prita begitu tega menyembunyikan keberadaan Daniel selama lima tahun. Bayu berhak tahu karena Daniel adalah anaknya. Ingin rasanya ia membawa pulang Daniel. Daniel adalah anaknya, ia berhak memiliki Daniel.
"Uncle... aku sudah selesai makan. Antar aku kembali ke sekolah." pinta Daniel.
"Kenapa? Katanya mau jalan-jalan dengan uncle?"
"Emmm... besok saja kita main bersama. Aku sudah tidak sabar memainkan mainan yang Uncle berikan bersama Dean."
"Oke, baiklah."
Bayu menuruti permintaan anak itu. Ia mengantarkan Daniel kembali ke sekolahnya. Guru Daniel tersenyum ramah padanya saat berpapasan dengannya. Bayu benar-benar mereka kira sebagai paman Daniel.
"Bos, itu anak wanita yang dulu aku mata-matai, kan?" tanya Alex penasaran.
"Iya, benar."
"Wanita itu melahirkan anak Bos tapi kenapa menikah dengan lelaki lain? Daniel sangat mirip dengan Anda. Kalian cocok sebagai ayah dan anak."
"Sampel yang kemarin aku berikan sudah kamu kirim ke Kota S, kan?"
"Sudah, Bos."
"Kalau bisa, suruh mereka lebih cepat membaca hasilnya. Aku hanya ingin memastikan jika Daniel benar-benar anakku."
Ada perasaan kesal berkecambuk di hati Bayu. Ia ingin menemui Prita dan menerima kejelasan tentang Daniel. Jika Daniel benar-benar anaknya, dia berhak membawa Daniel pulang ke Indonesia bersamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2023-04-28
0
Sagitarius
Daniel emg hrs tau siapa ayahnya,,,, tp jgn bawa Daniel juga dong... prita nanti sedih..
2021-09-09
1