Tak disangka pertemuannya dengan Shuwan Mey yang ia tolong bisa membawa Bayu memasuki sebuah hotel yang telah lama ia incar. Beberapa kali ia pernah memperhatikan hotel itu dari arah luar sambil berangan-angan untuk bisa memilikinya. Baru kali ini ia benar-benar bisa masuk ke dalam hotel atas permintaan Shu.
Shu menyuruhnya menunggu di lobi karena dia ada urusan sebentar yang harus diselesaikan. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menelisik perkembangan hotel yang tampaknya akan sulit ia ambil. Hotel ini berkembang dengan sangat baik.
Holly Hotel Saat awal berdiri hanya bangunan hotel bintang 2 yang memiliki lima lantai. Dalam kurun waktu sepuluh tahun setelah berganti kepemilikan, hotel tersebut telah dikembangkan menjadi hotel bintang 3 yang memiliki 11 lantai.
Holly Hotel kini memiliki 140 kamar yang terdiri dari 110 kamar tipe Superior dengan ukuran 24 meter persegi, 15 kamar tipe Deluxe dengan ukuran 28 meter persegi, 14 kamar tipe Junior Suite dengan ukuran 40 meter persegi, dan 1 kamar Executive Suite dengan ukuran 85 meter persegi.
Semua tipe kamar dirancang dengan design interior yang elegan dengan suasana yang hangat dan nyaman, ditambah setiap kamar memiliki ceiling tertinggi di kelasnya sehingga terlihat lebih luas.
Di lantai 1 Holly Hotel untuk Lobby, Reseptionis Lounge, Restaurant, SPA, ruang olahraga, Outlet Store dan Kolam Renang, sedangkan lantai 2 difungsikan sebagai Pre Function dan Ruang Serbaguna. Sedangkan untuk area unit kamar penginapan berada di lantai 3 hingga lantai 10. Sky Lounge Area yang ada di lantai 11 membuat pengunjung dapat menikmati pemandangan kota dari ketinggian sambil menikmati minuman.
"Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama." ucap Shu yang baru datang dari arah kantornya.
"It's okay."
Shu melihat ke arah jam tangannya, "Apa ini terlalu telat untuk menawarkan makan siang dan terlalu awal untuk menawarkan makan malam?" gumam Shu saat melihat jarum jam menunjukkan pukul tiga sore.
"Tidak perlu merasa terbebani. Aku sudah makan siang."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah kamu jauh-jauh mengantarku ke sini?" Shu menggigit jarinya. Tingkahnya sedikit penyerupai anak kecil.
Bayu menyunggingkan senyum, "Beritahu aku spot-spot menarik di hotelmu. Itu tidak mengganggu pekerjaanmu, kan?"
"No... tidak sama sekali. Dengan senang hati aku akan melakukannya."
Shu langsung membawa Bayu menuju lantai teratas yang terdapat Sky Lounge Area favoritnya. Shu sangat suka menikmati hembusan angin sembari melihat pemendangan Kota S dari lantai 11. Tempat itu baru buka mulai pukul enam sore hingga pukul dua dini hari.
"Ini tempat favoritmu?"
Shu mengangguk, "Di sini kamu juga bisa memesan minuman beralkohol meskipun tak selengkap klub milikmu."
"Kalau malam juga pemandangannya lumayan indah di sini."
"Sore ini juga pemandangannya indah." kata Bayu.
Shu melirik ke arah Bayu yang tampak sedang memperhatikannya dengan tatapan yang membuatnya merasa malu.
"Shu, berapa umurmu?"
"Apa umur penting untuk ditanyakan?"
"Maybe.... "
"I'm 32."
"Oh, kamu masih muda."
"Hahaha... Umur segini bukan ukuran muda lagi kalau di negara ini. Teman-temanku kebanyakan sudah menikah dan telah memiliki beberapa anak. Kalau kamu sendiri?"
"I'm 37 and single."
Shu kembali menatap Bayu, "Apa artinya kamu sedang mempromosikan dirimu?"
"Apa kamu sudah punya pacar?"
"Saat ini tidak."
"Kalau begitu, tidak ada salahnya kan kalau dua orang single berdekatan?"
Bayu balas memberikan tatapan pada Shu, membuat wanita itu semakin terpesona. Bayu seperti pandai melontarkan rayuan.
"Kamu mengajakku pacaran?"
"Kamu mau?"
"Hahaha... kita bahkan baru dua kali bertemu."
"Ya, dan aku sudah tertarik sejak pertama melihatmu masuk ke klub ku. Makanya aku memberikan hadiah wine untukmu."
"Ah, wine yang kamu berikan malam itu sangat enak rasanya."
"Apa ada tempat lain yang ingin kamu tunjukkan padaku?"
"Ada. Di hotel ini terdapat satu ruangan yang belum pernah direnovasi sejak awal berdiri. Kamu mau lihat?"
"Tentu."
"Ayo ikut aku. Letaknya ada di lantai 5."
Shu mengajak Bayu berjalan meninggalkan area Sky Lounge menuju lift yang aken membawa mereka ke lantai 5.
"Sebenarnya hotel ini awalnya hanya 5 lantai. Ayahku membelinya dari rekan bisnisnya yang bernama Rudi Hartanto. Katanya saat itu dia kesulitan keuangan untuk menutupi kerugian perusahaan asuransinya akibat korupsi yang dilakukan adiknya sendiri. Sepertinya dia orang baik, karena sebelum hotel ini dijual, semua karyawan diberi pesangon yang layak. Dia juga memberikan santunan kepada beberapa karyawan yang harus masuk penjara karena dijebak adiknya. Tapi sayangnya tak lama berselang setelah itu, katanya rekan bisnis ayahku ini meninggal bersama istrinya dalam sebuah kecelakaan. Seluruh harta peninggalannya diambil alih adiknya yang bajingan itu. Kasihan katanya Tuan Rudi juga memiliki putri yang masih remaja saat itu. Entah bagaimana nasibnya sekarang."
Shu menceritakan panjang lebar tentang sejarah hotelnya yang tentu saja sudah diketahui Bayu.
"Ini dia tempatnya."
Shu berhenti di depan sebuah kamar lantai 5 bertuliskan angka 33.
Saat pintu di buka, langsung terlihat sebuah kamar yang luas dengan dekorasi ala kerajaan dilengkapi dengan kereta kuda. Lebih tepat menjadi kamar seorang putri kerajaan.
"Sepertinya kamar ini dulunya diperuntukkan untuk anak kesayangan Tuan Rudi. Ayahku melarang merubah kamar ini karena katanya sebagai tanda penghormatan terhadap rekan bisnisnya itu."
Bayu melangkahkan kaki mendekati area meja belajar yang menarik perhatiannya. Pada dinding itu tercetak dua telapak tangan yang menempel mengapit sebuah figura berukuran 30 x 30 yang berisi potret punggung seorang gadis yang sedang berdiri di tepi pantai memandang matahari terbenam.
"Sejak dulu kamar ini tidak dirubah sedikitpun. Paling hanya dibersihkan. Foto ini sepertinya foto dari putri Tuan Rudi dan juga jejak telapak tangannya."
Shu meletakkan jari-jarinya pada jejak telapak tangan itu. Ukuran tangannya terlihat lebih panjang.
"Sepertinya dia lebih pendek dariku. Jari-jarinya terlihat lebih pendek dari milikku."
Bayu hanya diam. Dia sudah tahu siapa pemilik jejak tangan itu dan sudah hafal berapa tingginya. Prita bahkan hanya setinggi dadanya jika di sejajarkan. Berbeda dengan Shu yang tingginya seperti model, di atas 170 cm.
"Kamar ini tidak pernah ditempati tamu?"
"No... ayahku melarangnya. Dia takut tamu akan merusak interior kamar ini. Apalagi kalau dilihat dari bentuknya, orang dewasa pasti akan mengira kalau kamar ini seperti love hotel yang banyak terdapat di negara Jepang."
"Tapi tak apa, kepercayaan ayahku menjaga peninggalan temannya bisa memperlancar rejekinya. Terbukti juga sudah sepuluh tahun hotel ini semakin berkembang dengan baik."
Bayu merasa semakin sulit untuk mendapatkan hotel yang sangat stabil itu. Biasanya, perusahaan yang bisa ia ambil adalah perusahaan yang memiliki banyak hutang, manajemen yang buruk, korupsi, dan hampir pailit. Keluarga Shu sangat pintar mengelola hotel itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
ternyata ayah ny shu teman baik ayahny prita
2023-04-28
0
Fitri Sandi
bayu n prita...
2021-12-14
0
Tika Ayu Septiani Harrya
jgn trlalu Playboy donk Thor Bayu nya ,😴😴😴
2021-09-23
0