"Uncle Bayu.... "
Leo langsung berlari memeluk Bayu ketika sampai di lobi perusahaan. Saat itu jam makan siang. Jimmy sidah mengabari kalau ia akan mampir ke kantor Bayu. Ternyata Jimmy membawa serta Leonel Marshall bersamanya.
Leo masih mengenakan seragam SD. Sekarang dia sudah kelas empat. Anak itu sudah semakin besar karena Bayu jarang bisa bertemu anak itu.
"Keponakanku sudah semakin besar saja." Bayu mengacak-acak rambut Leo. "Kamu baru pulang sekolah, ya?"
"Sebenarnya belum pulang, Uncle. Tapi papa mrnjemputku lebih awal. Katanya mau mengajakku membeli sepeda."
"Oh, dia ayah yang baik ya." Bayu mencebikkan bibirnya.
"Tentu. Dia ayah yang baik. Tapi Uncle Bayu tetap yang terbaik."
"Heh... dasar anak nakal." Jimmy menjewer kecil telinga Leo.
"Hahaha... anakmu lebih memujiku daripada ayahmu sendiri."
"Uncle Bayu kan memang baik, Pa."
"Lihatlah, berkat kebiasaanmu yang selalu memberikannya mainan mahal, semua pemberian ayahnya sendiri tidak dihargai." Jimmy melirikkan matanya tajam ke arah Bayu.
"Papa jangan begitu. Aku suka memuji Uncle Bayu kan juga untuk kepentingan Papa. Kalau Uncle Bayu senang kan bisnis Papa tetap lancar. Katanya uang Uncle Bayu banyak yang digunakan untuk proyek-proyek Papa."
"Halah ini anak!" Jimmy menepuk pelan kepala Leo yang tidak bisa menjaga rahasia.
"Hahaha... pintar sekali anakmu. Sepertinya uncle harus memberimu hadiah yang lebih besar."
"Yes!" Leo bersorak penuh kegirangan.
"Hadiah apa yang kamu inginkan dari Uncle?"
"Aku mau satu set alat gaming, Uncle."
Jimmy dan Bayu sama-sama melongo dengan permintaan anak kelas empat SD itu.
"Aku mau Uncle membelikan monitor, headset, microfon, dan kursi gaming terbaru yang temanya Iron Man."
"Jim, anakmu ngelunjak, ya. Ini pasti hasil didikanmu ya?" bisik Bayu.
"Bukannya kamu sendiri yang suka memanjakannya? Aku sebagai orang tua juga kewalahan gara-gara ekspektasi dia selalu tinggi saat diberi hadiah. Dia kira orangtuanya sekaya dirimu."
"Hahaha.... " Bayu tertawa.
Leo jadi bingung melihat kedua orang dewasa di depannya berbicara dengan berbisik-bisik.
"Oke, Leo. Nanti lasti Uncle belikan." Bayu mengerlingkan sebelah matanya pada Leo.
"Yes!" seru Leo.
Sementara Jimmy hanya bisa menepuk dahi.
"Bayu.... "
Tiba-tiba Karla sudah ada di sana dengan penampilan seksi yang membuatnya tampak mencolok. Mood Bayu langsung berubah.
"Kamu masih ingat kan janji kita?"
Padahal tidak ada janji apapun antara keduanya.
"Iya, Karla. Tentu saja."
"Pacar Uncle, ya?" tanya Leo dengan polosnya.
"Bukan. Dia rekan bisnis Uncle."
"Sebenarnya ada apa di antara kalian?" Jimmy bertanya dengan nada berbisik. Dia memang tidak tahu juka di masa lalu Bayu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Karla, Istri Pak Andriyanto.
"Kapan-kapan aku jelaskan." bisik Bayu Balik. "Ah, iya. Katanya kalian mau pergi membeli sepeda. Kalau begitu cepat pergilah, sekalian beli peralatan game yang kamu mau." Bayu memberikan kartu kreditnya kepada Jimmy, berharap mereka segera pergi dan tidak mengetahui urusannya dengan Karla.
"Hore.... Uncle memang selalu yang terbaik."
"Kita pergi dulu." pamit Jimmy menggandeng Leo. Ia melemparkan tatapan ketika melewati Karla.
Karla melipat tangannya di dada. Raut wajahnya menyiratkan ia sedang marah pada Bayu. "Aku berkali-kali meneleponmu kenapa tidak diangkat? Aku sampai datang ke apartemenmu dan ternyata kosong. Kamu mau membuatku kesal?"
Bayu langsung menarik tangan Karla dan membawanya keluar dari area kantor sebelum lebih banyak orang memperhatikan mereka. Bayu membawa Karla ke parkiran dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Tolong jangan seenaknya muncul di kantorku. Kamu bisa membuat gosip yang tidak-tidak di antara para karyawan."
"Hah! Kenapa sepertinya sekarang kamu jadi sangat peduli pada penilaian orang? Bukannya sejak dulu juga kamu biasa membawa wanita yang berbeda ke kantormu?"
"Ini Kota S, Karla... bukan Kota J. Lagipula, apa salah kalau orang mau berubah?"
"Terserahlah! Aku juga tidak akan muncul tiba-tiba di kantormu jika kamu tak mengabaikan teleponku."
"Oke, oke."
"Sekarang ayo kita ke rumah sakit!" perintah Karla.
*****
Bayu dan Karla sampai di sebuah rumah sakit untuk bertemu dengan dr. Jerome, seorang dokter spesialis andrologi yang merupakan teman Karla. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya Karla mengalah untuk keluar dari ruangan dr. Jerome. Sebelumnya dia memaksa untuk tetap berada di dalam menemani Bayu. Tapi hal itu pasti akan membuat pasien tidak nyaman. Oleh karena itu, dr. Jerome menyuruh Karla keluar.
"Menurutku kondisinya sangat baik. Seharusnya tidak ada masalah kalau dilihat secara fisik."
Begitu perkataan dr. Jerome setelah melakukan pemeriksaan fikis dan beberapa prosedur tes kepada Bayu.
"Memang penyakit ini disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari penyakit pembuluh darah, gangguan metabolik dan hormon, gangguan saraf, gangguan psikologis dan psikososial, serta riwayat trauma atau kecelakaan. Selain itu, pola hidup yang tidak banyak bergerak, penggunaan alkohol, merokok, dan obat-obatan juga memiliki efek samping berupa penyakit ini."
"Perlu serangkaian pemeriksaan agar bisa mengetahui penyebab sesungguhnya seperti pemeriksaan darah, urine, tes spesifik sampai pencitraan alat kelamin."
"Melihat dari kondisimu yang bugar, kemungkinan penyebabnya karena masalah psikologis atau trauma mungkin."
"Sudah berapa lama kira-kira hal ini terjadi?"
"Sekitar 5 tahun." jawab Bayu santai.
"Selama itu?"
"Ya."
"Apa kira-kira ada suatu peristiwa yang mengawali terjadinya hal itu?"
Bayu diam sejenak, mencoba mengembalikan ingatannya di masa lalu. "Entahlah!"
"Aku sempat menjadi gila saat wanita yang aku cintai pergi dan menikah dengan orang lain. Mungkin sejak saat itu aku kehilangan gairah. Beberapa kali aku juga pernah mencobanya dengan wanita lain. Tapi tidak berhasil."
"Apa kehidupan **** mu yang dulu bersama wanita itu berjalan dengan baik?"
"Tentu. Hanya melihatnya saja bisa membuatku bergairah. Kami sering melakukannya dan durasinya aku rasa juga termasuk panjang."
"Ah, bisa begitu, ya. Seorang yang aktif bercinta tiba-tiba kehilangan gairah setelah ditinggal seorang wanita. Pasti dia sangat spesial untukmu."
"She's my first love."
"Oh... Andai saja wanita itu masih ada di sisimu, mungkin akan lebih mudah mencari cara pengobatannya."
"Hahaha... Kalau dia masih bersamaku, sepertinya kita kita akan pernah bertemu."
"Ya, ya ya. Kamu benar juga."
"Aku merekomendasikanmu menjalani NPT atau Nocturnal Penile Tumescence."
"Apa itu?"
"Tes untuk mengukur frekuensi tegang saat sedang tidur. Normalnya kan lelaki mengalaminya 3-5 laki selama tidur di malam hari. Penurunan frekuensi tegang menandakan masalah pada fungsi saraf atau sirkulasi darah kelamin. Jika kamu masih dapat begitu dalam jumlah normal, maka masalah disfungsi ereksi berasal dari faktor psikologis, misalnya depresi, kecemasan dan insomnia."
"Kamu harus menyempatkan diri menginap 1-2 hari di rumah sakit untuk diobservasi."
"Ah, berarti aku harus meninggalkan pekerjaanku?"
"Of course. Bukankah ini juga demi dirimu sendiri? Apa kamu mau seperti ini sampai akhir hayat?"
"Oke. Besok aku akan kembali kesini."
"Btw, apa hubunganmu dengan Karla?"
"Kami hanya teman."
"Ah, kalian pasti berteman sangat dekat sampai dia rela membantumu mengurusi hal semacam ini."
"Hasil pemeriksaanmu hari ini tidak akan kamu bocorkan pada Karla, kan?"
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Karla. Aku sangat menjaga privasi pasien."
"Kalau begitu biarkan dia masuk. Pemeriksaannya sudah selesai, kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2023-04-28
0
Öžôŕã
masalah yg rumit thorrr 😂😂😂sya kurag suka sma karla
2021-09-05
0