"Bos, kapan kita ke Bubu Baba? Aku mulai merasa bosan di sini."
"Bosan kenapa, Lex? Di Bubu Baba malah lebih berisik, lho. Mungkin kamu bisa mati terinjak di sana saking sesaknya. Hahaha.... " ledek Fazid.
"Aku lebih suka yang ramai-ramai, Kak Zid. Daripada di sini. Aku seperti sedang berada di kuburan."
"Alex, sepertinya aku masih betah di sini. Tolong kabari Martin malam ini aku tidak bisa datang ke Bubu Baba."
"Baik, Bos." Alex menjawab dengan nada malas.
"Tuh kan, Bos Bayu saja betah di sini. Nih minum Jack Daniels kamu kan bukan anak kecil lagi." Fazid menyodorkan segelas wiski.
"Jangan, Zid. Alex harus menyetir. Dia tidak boleh mabuk."
"Oke." Fazid meminum sendiri gelas yang dipegangnya.
Alex tampak sibuk menekan ponselnya, mencoba menghubungi Martin, manajer Bubu Baba.
"Halo, Kak Martin!" serunya.
"Kenapa, Lex?"
"Malam ini bos tidak jadi ke sana. Masih sibuk di King Crown."
"Oh, oke."
"Bye."
Alex mematikan ponselnya. "Sudah, Bos."
"Terima kasih, Alex."
"Boleh aku ikut duduk di sini?" tanya Shuwan Mey dengan seulas senyum termanis di bibirnya.
Bayu memberikan kode mempersilakan Shu duduk di sofa sebelahnya. Alex dan Fazid terperangah melihat kecantikan wanita itu dari dekat.
"Kata teman-temanku setidaknya aku harus menyapamu karena telah memberikan kami hadiah wine yang mahal."
Bayu menengok ke arah teman-teman Shu. Mereka tampak melambaikan tangan antusias ke arahnya.
Bayu tersenyum, "Teman-temanmu mengajarkan hal yang benar. Mereka tahu caranya bersopan santun."
"Ya, mereka teman yang baik. Terima kasih untuk winenya."
"Nona Shu, Anda wanita pertama yang membuat Bos Bayu tertarik sampai menyuruh saya menghadiahi Anda sebotol wine."
"Benarkah?" mata Shu tampak berbinar mendengar perkataan Fazid.
"Zid.... " Bayu memberi kode agar Fazid diam.
"Aku kira Anda tipe yang suka merayu wanita."
"Saya tidak bisa dekat dengan sembarang wanita jika saya tidak tertarik."
Shu menyunggingkan senyum, "Apa artinya Anda tertarik dengan saya?"
"Apa Anda tidak keberatan jika saya menjawab iya?"
"Oh, baiklah. Sepertinya kita saling tertarik. Bagaimana kalau kita memulainya dengan saling memperkenalkan diri?" Shu mengulurkan tangannya, "Nama saya Shuwan Mey. Biasa dipanggil Shu."
Bayu menyambut jabatan tangannya, "Bayu. Bayu Bagaskara. Senang mengenalmu, Nona Shu."
"Nona Shu, kenalkan Aku Alex Dimitri, asisten Bos Bayu."
Tiba-tiba saja Alex maju memperkenalkan dirinya dihadapan Shu. Shu hanya tersenyum-senyum melihat lelaki muda yang tampak percaya diri itu.
"Hai, Alex, salam kenal."
Fazid langsung menarik Alex agar tidak mengganggu bosnya dan Nona Shu.
"Kak Zid sialan! Aku ingin ikut ngobrol dengan Nona Shu." umpatnya.
"Em, bagaimana kalau kita jangan memanggil satu sama lain dengan bahasa yang formal? Rasanya canggung sekali harus menyebut 'saya', 'anda'. Bagaimana kalau memakai 'aku', 'kamu' saja?"
"Terserah Nona Shu saja."
"Ah... jangan panggil aku 'nona'. Panggil saja 'Shu'."
"Baiklah, Shu."
Shu tersenyum, "Ngomong-ngomong asistenmu tadi kelihatannya masih anak-anak." ucap Shu.
"Iya. Usianya baru 20tahun. Tapi, dia anak yang cerdas."
"Oh... asisten yang biasa aku lihat sudah bapak-bapak alias sudah tua. Baru kali ini aku bertemu asisten yang masih kelihatan anak-anak."
Bayu melirik ke arah Shu. Wanita itu sekilas tampak pemberani namun di waktu yang bersamaan juga tampak pemalu.
Tak disangka Shu sendiri yang akan mendekatinya lebih dulu dan mengajaknya berkenalan. Padahal, Bayu sudah berniat untuk lebih mendekati wanita cantik itu secara perlahan agar lebih mengenalnya. Shu wanita yang menarik. Kecantikannya termasuk di atas rata-rata.
Sepertinya Shu juga tertarik dengan pesona Bayu. Ya, wanita mana yang mampu menolak kharisma seorang pengusaha muda yang sukses serta berwajah tampan.
"Aku dengar dari Kak Ruben kalau kamu pemilik klub ini, ya?"
"Mau minum?" Bayu menawarkan segelas wiski kepada Shu.
"Boleh." Shu menerima gelas itu dan meminumnya.
"Aku hanya orang yang memodali klub ini saja. Pemilik dan penguasanya tetap Fazid. Lihatlah, aku datang kemari saja diperlakukan seperti tamu. Bahkan, para pelayan tak semuanya mengenaliku. Kalau aku yang memberi mereka perintah, mungkin aku disebut tamu yang songong."
Shu tertawa kecil, "Yang terpenting setoran lancar mengalir, kan?"
"Hahaha... itu yang utama."
"Selain klub ini, apa kamu memiliki bisnis lain?"
"Kamu tahu Minata Food dan Laziz Restaurant?"
Shu terdiam sejenak. Otaknya berpikir kedua tempat yang Bayu sebutkan, "Ah, entahlah. Sepertinya aku kurang pergaulan. Tapi maaf, aku tidak kenal kedua perusahaan itu."
Shu sepertinya tampak merasa bersalah. Dia sudah menanyakan hal privasi kepada Bayu tapi saat Bayu menjawabnya malah dia tidak mengenal kedua tempat usaha yang Bayu katakan.
"Hahaha... santai saja. Tidak perlu memasang wajah merasa bersalah seperti itu. Keduanya memang hanya perusahaan kecil wajar saja kalau kamu tidak tahu."
"Apa kesibukanmu sekarang?"
"Tiga tahun terakhir ini aku membantu ayahku mengurus hotelnya. Namanya Holly Hotel."
"Hm, ternyata wanita cantik sepertimu anak pemilik Holly Hotel yang terkenal itu? Aku merasa tersanjung bisa bertemu dengan anak pengusaha hebat seperti Tuan Zetian Yan."
Shu kembali meneguk gelasnya. Wajahnya memerah malu, "Kamu terlalu memuji. Hotel kami tak seterkenal itu. Masih banyak hotel-hotel yang lebih terkenal."
"Tapi aku tahu Holly Hotel. Berarti hotelmu juga terkenal."
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Bayu.
Shu membelalakkan matanya, "Kok tiba-tiba menanyakan itu?"
"Aku takut ada yang marah jika kita berdekatan seperti ini."
"Hahaha... kamu tenang saja karena tidak akan ada yang marah."
"Kamu belum punya pacar?"
Shu menggeleng.
"Rasanya tidak percaya wanita secantik kamu belum punya pacar. Tapi aku senang mendengarnya."
Shu tersenyum, "Kenapa?"
"Artinya aku punya kesempatan kan, untuk lebih dekat denganmu."
Shu kembali tersenyum.
"Apa artinya tidak? Kamu tidak memberiku kesempatan untuk dekat denganmu?"
"Kita lihat saja nanti, ya."
Percakapan keduanya terus berlanjut. Banyak hal yang mereka bicarakan dari hal-hal sepele hingga masalah-masalah bisnis. Satu demi satu teguk minuman keras terus mereka nikmati hingga perlu membuka beberapa botol baru.
Keduanya seperti menemukan lawan bicara yang cocok. Mereka saling berbagi tawa satu sama lain.
Shu tipe wanita yang sedikit pemalu. Namun, saat menemukan orang yang ia anggap nyaman untuk bicara, ia bisa dengan mudah menanggapi. Begitu pula cara dia berteman. Sebenarnya dia tak terlalu pandai bergaul. Namun, karena menemukan teman-teman yang satu frekuensi dengannya, membuat Shu terlihat seperti orang yang easy going.
Sementara, Bayu memandangnya berbeda. Shu dimatanya wanita yang unik. Dia tak terlalu agresif seperti Karla namun juga tak terlalu jinak seperti Prita. Shu tipe tengah-tengah. Mungkin dia tahu kapan saatnya menjadi agresif dan kapan saatnya menjadi jinak. Yang jelas, Shu sudah membuat Bayu merasa tertarik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 301 Episodes
Comments
Nur Lizza
smg shu jodohny bayu
2023-04-28
0
Franda Aulia
wooow keren
2021-10-26
0
Sagitarius
ayo move on
2021-09-03
0