Seminggu setelah kunjungan Kaisar Han Wu di sekte Pedang Langit.
Siang hari itu.
“Hah. Apa yang harus aku lakukan dengan uang-uang ini?” Ling Jin duduk termenung di teras rumah. Matanya menatap sebuah kantong berisi uang koin di genggamannya. Uang itu diberikan oleh Kaisar Han Wu seminggu yang lalu. Tidak main-main, isinya sebanyak sepuluh ribu koin emas. Uang terbanyak yang pernah Ling Jin lihat selama hidupnya.
“Menyebalkan sekali! Bagaimana aku bisa berlatih kalau pedangku patah!”
Terlihat Yin Mei Lin sedang berjalan menuju ke rumah sambil mengoceh. Tangan kanannya memegang sebilah pedang yang patah di bagian ujungnya.
Ling Jin cepat-cepat memasukkan kantong uang itu ke dalam jubah hitamnya karena kalau tidak, bisa-bisa kantong uang itu langsung raib dari tangannya. Yin Mei Lin berjalan dengan cepat melewati Ling Jin tanpa menoleh sedikitpun, seakan-akan Ling Jin tidak ada.
Braaaakk!!
Terdengar suara pintu rumah ditutup dengan keras.
“Ada apa dengan rubah cilik itu?” Ling Jin bergumam heran dengan tingkah adiknya hari ini. Lalu dia beranjak masuk ke dalam rumah untuk menemui Yin Mei Lin.
Di dalam kamar terlihat Yin Mei Lin sedang duduk meletakkan kepalanya dengan bertumpu kedua tangan di atas meja.
“Hey Lin’er. Kau kenapa?” tanya Ling Jin.
Namun yang di ajak bicara diam saja seolah-olah dia sedang sendirian di kamarnya itu.
Ling Jin melihat sebilah pedang yang patah di bagian ujungnya tergeletak di atas meja.
“Pedangmu kenapa bisa patah?” Ling Jin bertanya lagi kepada Yin Mei Lin.
“Tadi habis aku gunakan untuk memotong-motong seorang anak laki-laki yang cerewet!” jawab Yin Mei Lin tanpa menoleh ke arah Ling Jin.
Gleekk.
Ling Jin menelan ludahnya merasa ngeri.
“Huh. Padahal kan sedikit lagi aku menguasai elemen es ku dengan baik menggunakan pedang. Tapi-tapi baru saja pedangku mengeluarkan energi es, pedangku tiba-tiba patah.” Yin Mei Lin menerocos dengan sangat cepat kemudian dia duduk menegakkan tubuhnya, matanya memandangi pedangnya yang kini telah patah dengan wajah kusut.
“Kata bibi Yin, aku belum bisa mengontrol qi ku dengan baik. Energi yang aku keluarkan terlalu besar untuk pedang itu,” imbuhnya.
“Kakak, bagaimana ini? Aku tidak bisa berlatih pedang lagi.” Yin Mei Lin berkata dengan mengiba. Kedua mata indahnya terlihat sembab kemerahan.
“Kau ini bicara apa? Tidak mungkin bibi Yin membiarkanmu tidak berlatih hanya gara-gara pedangmu patah. Dia pasti akan meminjamimu pedang. Lagipula kau itu kan rubah kesayangannya,” jawab Ling Jin.
Tiba-tiba saja, Ling Jin mendapat sebuah ide.
“Lin’er. Ayo ikut kakak sekarang!” Ling Jin berkata sambil memakai kerudung jubahnya lalu menarik tangan Yin Mei Lin.
“Ee eeee. Kakak mau membawaku kemana?” tanya Yin Mei Lin.
“Sudah jangan cerewet. Pokoknya ikut saja,” jawab Ling Jin sambil terus menarik tangan adiknya.
Akhirnya Yin Mei Lin hanya bisa pasrah mengikuti kakaknya.
***
Kini Ling Jin yang memakai jubah hitam berkerudung dan Yin Mei Lin telah sampai di depan sebuah bangunan besar dengan papan yang bertuliskan,
Serikat Dagang Tianyuan.
Tempat itu merupakan tempat yang menjual pil, kitab tehnik bela diri, senjata, informasi dan jasa pengantar. Serikat Dagang Tianyuan merupakan serikat dagang terbesar di benua tengah. Mereka memiliki banyak cabang. Bahkan juga memiliki beberapa cabang di empat benua lainnya.
Serikat Dagang Tianyuan berdiri sendiri. Dalam artian, mereka tidak terikat pada aliran putih, hitam maupun netral. Siapapun yang ingin menggunakan jasa mereka, akan mereka layani dengan baik. Serikat Dagang Tianyuan memiliki kultivator-kultivator hebat yang bekerja pada mereka. Bahkan pimpinan keamanan mereka berada di tingkat pendekar pertapa tahap awal. Sebab itu lah sekte-sekte aliran putih, hitam dan netral menaruh hormat pada mereka.
“Kakak, kenapa kita ke sini?” Yin Mei Lin akhirnya bertanya karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ling Jin.
“Sudah, ikut saja,” jawab Ling Jin singkat sambil berjalan masuk ke dalam gedung.
“Selamat siang tuan dan nona muda, nama saya adalah Ming Mei pelayan di gedung Serikat Dagang Tianyuan. Apa ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita muda menyapa mereka dengan ramah.
“Kami ingin membeli sebuah pedang,” jawab Ling Jin.
“Apa? Membeli pedang? Memangnya kakak punya uang?” Yin Mei Lin terkejut dengan tindakan Ling Jin.
Namun Ling Jin tampak diam saja tak menghiraukan pertanyaan Yin Mei Lin.
“Mari tuan muda, akan saya antar menuju ke ruang penjualan senjata,” jawab Ming Mei sambil berjalan memandu Ling Jin dan Yin Mei Lin.
“Kakak, jangan bercanda. Kita tidak punya uang!” Yin Mei Lin menarik-narik jubah hitam Ling Jin.
“Sudah kau itu ikut saja. Pokoknya semuanya aman.” Ling Jin menjawab sambil berjalan mengikuti Ming Mei.
“Tuan dan nona muda, inilah ruang penjualan senjata. Senjata-senjata yang di jual di sini merupakan senjata-senjata pilihan. Silahkan tuan dan nona muda memilih yang sesuai dengan keinginan tuan dan nona muda,” jelas Ming Mei.
“Wooaaaaaah.”
Hanya itu yang keluar dari bibir Ling Jin dan Yin Mei Lin. Mereka baru pertama kali ini masuk ke dalam gedung Serikat Dagang Tianyuan.
Kini di depan mereka terpampang banyak sekali senjata dengan berbagai macam jenis. Semuanya terlihat bukan senjata sembarangan. Panah, tombak, pedang, cambuk, pedang pendek, dan masih banyak macam lagi terdapat di dalam ruang yang besar itu.
Ling Jin dan Yin Mei Lin berjalan berkeliling untuk melihat-lihat.
“Ini seperti mimpi,” gumam Yin Mei Lin dengan pelan. Namun dia tidak berani menyentuh senjata-senjata itu.
Tiba-tiba matanya memandang ke sebuah sudut ruang yang terdapat sebilah pedang yang sangat cantik. Yin Mei Lin mendekati dan memandangi pedang itu. Berwarna serba putih susu, bahkan gagang pedang warnanya juga sama. Terdapat sebuah batu bulat sebening kristal di antara gagang dan bilah pedang.
“Lin’er. Bagaimana menurutmu pedang ini?” Ling Jin bertanya tanpa melihat ke arah Yin Mei Lin sambil memegang sebilah pedang berwarna hijau.
Tidak ada jawaban.
Ling Jin menoleh ke arah Yin Mei Lin, namun adiknya itu tidak ada di tempatnya.
“Itu adalah pedang racun ular tuan muda,” jelas Ming Mei.
“Pedang racun ular!?” Ling Jin terkejut mendengarnya, lalu cepat-cepat mengembalikan pedang tersebut.
“Hiiiiiiii.”
Ling Jin kemudian berkeliling mencari adiknya itu. Tak lama akhirnya dia melihat adiknya sedang berdiri di sudut ruangan sambil melihat sebilah pedang dengan seksama.
“Tampaknya Lin’er menyukai pedang itu,” gumam Ling Jin.
“Bibi, apa nama pedang yang sedang dilihat adik saya itu?” Ling Jin bertanya kepada Ming Mei.
“Itu adalah Pedang Awan Es tuan muda. Pedang itu sudah bertahun-tahun berada di situ karena hanya yang menguasai elemen es lah yang bisa menggunakan dan mengeluarkan potensi pedang itu. Sedangkan kultivator dengan elemen es keberadaannya langka di benua ini,” jelas Ming Mei.
“Berapa harganya bibi?” Ling Jin bertanya lagi.
“Harga yang sebenarnya adalah sepuluh ribu koin emas, tapi jika tuan muda berminat kami akan memberikan potongan harga menjadi tujuh ribu koin emas,” jawab Ming Mei.
“Ayo belilah bocah tampan, dengan begitu aku akan mendapatkan untung sendiri sebesar seribu koin emas.” Ming Mei membatin dengan licik.
“Tapi bibi. Aku hanya bisa mengeluarkan lima ribu koin emas saja.” Ling Jin berkata dengan wajah memelas. Kedua mata birunya yang sangat indah itu seperti menghipnotis Ming Mei sehingga dia tidak kuasa untuk menolak.
“Mata itu.”
“Baiklah tuan muda, tidak masalah!” Ming Mei menjawab dengan sangat mantap.
“Baik, terima kasih bibi,” ucap Ling Jin dengan wajah cerah.
Tak lama berselang, akhirnya Ling Jin mengajak Yin Mei Lin menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
“Kakak. Untuk siapa pedang itu?” Yin Mei Lin heran karena ternyata pedang putih tadi lah yang dibeli Ling Jin.
Namun, Ling Jin tetap diam saja.
“Tuan muda sesuai kesepakatan. Lima ribu koin emas,” kata Ming Mei.
“Haaaaah!!!???”
Yin Mei Lin berteriak karena terkejut mendengar harga pedang itu.
Semua pengunjung sontak melihat ke arah mereka karena kaget.
“Kau bisa kecilkan suaramu tidak?” Ling Jin berkata kepada Yin Mei Lin.
Kemudian Ming Mei kembali menjelaskan, “Tuan muda. Pedang ini adalah senjata tingkat langit kelas tinggi.”
“Haaaaaahhh!!???”
Kali ini Ling jin dan Yin Mei Lin berteriak serempak karena sangat terkejut mendengarnya.
Semua pengunjung menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan dua bocah itu.
“Ada-ada saja.”
“Bahkan pedang bibi Yin adalah senjata tingkat langit kelas rendah.” Yin Mei Lin membatin.
Ling Jin sejenak menenangkan pikirannya dengan mengambil nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
“Hfffff fiuuuhhh.”
“Tuan muda. Pedang Awan Es adalah pedang yang dimiliki oleh seorang pendekar yang sangat kuat yang berasal dari benua selatan di jaman dulu. Konon jika potensi tertinggi dari pedang ini keluar, pedang ini bisa terbang dengan sendirinya.” Ming Mei menjelaskan kembali.
Ling Jin menganggukkan kepala.
“Tidak kusangka ada pedang yang hebat seperti itu bibi,” ucap Ling Jin.
Ming Mei mengangguk sambil tersenyum dan membatin, “Ayo cepat bayar bocah tampan.”
“Kakak. Apa kau benar-benar akan membeli pedang ini? Kita kan tidak punya uang kak.” Yin Mei Lin khawatir jika mereka terkena masalah karena tidak mampu membayar pedang itu.
Ling Jin hanya diam saja kemudian mengeluarkan sebuah kantong dari jubahnya. Dia mengeluarkan setengah dari seluruh isi kantong itu dan menghitungnya.
Mata Yin Mei Lin dan Ming Mei melotot saat itu juga.
“Kakak! Itu uang darimana? Kakak merampok siapa? Ayo cepat katakan atau aku akan melapor kepada ayah!” Ancam Yin Mei Lin.
Namun, Ling Jin tetap tidak menggubris perkataan adiknya itu.
Lain halnya dengan Ming Mei.
“Bocah ini.”
“Menipuku.”
“Bibi. Ini lima ribu koin emasnya,” ucap Ling Jin sambil menyerahkan uang-uang koin itu kepada Ming Mei lalu mengambil pedang beserta sarung pedangnya yang berwarna bening seperti kristal itu dari meja.
“Terima kasih tuan muda.” Ming Mei berkata dengan bahagia yang terpaksa.
“Tuan muda. Apa saya boleh bertanya sesuatu?” Ming Mei kembali bertanya.
“Ya?” jawab Ling Jin singkat.
“Bukankah tadi tuan muda bilang hanya memiliki lima ribu koin emas saja?” tanya Ming Mei.
Dahi Ling Jin mengerut mendengarnya.
“Sepertinya bibi salah dengar. Aku tadi bilang hanya bisa mengeluarkan lima ribu koin emas, bukan memiliki lima ribu koin emas.” Ling Jin menjawab sambil mengajak Yin Mei Lin kembali pulang karena hari sudah beranjak sore.
Bibir Ming Mei berkedut mendengar jawaban Ling Jin.
“Bocah itu ternyata, ular yang sangat berbisa.”
Ming Mei mencoba menenangkan hatinya.
“Hufff. Gara-gara dia, aku harus mengganti rugi seribu koin emas. Itu adalah gajiku selama dua tahun lebih,” gumamnya dengan wajah yang memelas.
***
“Kakaaaak. Cepat jawab pertanyaanku tadi. Kakak punya uang sebanyak itu darimana? Apa kakak menjadi perampok?” Yin Mei Lin bertanya tanpa henti di sepanjang jalan.
Ling Jin berhenti kemudian menoleh ke arah Yin Mei Lin.
“Kau ini bicara apa? Ayah akan memasakku jika aku menjadi perampok. Uang ini pemberian Kaisar Han Wu seminggu yang lalu waktu beliau mengunjungi putrinya,” jawab Ling Jin.
Yin Mei Lin mendelikkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ling Jin untuk memastikan apakah kakaknya itu berbohong atau tidak.
“Hmm. Baiklah aku percaya. Lalu untuk siapa pedang itu?” Yin Mei Lin kembali bertanya sambil melihat ke arah lain dengan hati yang berharap. Tidak, tapi sangat berharap.
Ling Jin tersenyum penuh arti.
“Tentu saja untuk bibi Yin. Dia kan menguasai elemen es. Aku berikan ini ke bibi Yin sebagai ucapan terima kasih karena telah mengajarimu selama ini,” jawab Ling Jin berpura-pura tidak peduli dengan Yin Mei Lin.
Raut wajah Yin Mei Lin berubah murung seketika.
“Oh. Bibi pasti sangat senang. Akupun turut senang jika bibi Yin senang,” katanya dengan lirih.
Hahahahaaaa!
Tiba-tiba Ling Jin tertawa dengan keras.
“Lihatlah wajah rubah cilik ini!”
“Tentu saja pedang ini untukmu adikku yang paling liciiiikkk.” Ling Jin berkata sambil mengacak-ngacak rambut Yin Mei Lin kemudian menyerahkan pedang itu kepada adiknya.
“Ini sungguh untukku kak?” Mata Yin Mei Lin mulai berkaca-kaca.
“Emmm.” Ling Jin menganggukkan kepala.
“Kakak jahaaaatt!” Yin Mei Lin langsung memeluk Ling Jin sambil menangis.
“Hey, kau itu sudah aku belikan pedang masih saja mengatakan aku jahat,” ucap Ling Jin mengusap pucuk rambut adiknya.
“Habis tadi kakak bilang pedang ini untuk bibi Yin.” Yin Mei Lin berkata sambil mengusap air matanya, tapi masih sesenggukan.
“Bibi Yin itu pedangnya sudah banyak. Kau hanya memiliki satu pedang dan pedang itu patah. Kakak mana yang tidak sedih melihat pedang adik tercintanya patah,” ucap Ling Jin.
“Emmmm. Terima kasih kakak.” Yin Mei Lin merasa sangat senang.
Ling Jin hanya menggelengkan kepalanya dan ikut senang melihat adiknya bahagia.
“Yasudah mari kita pulang. Hari sudah sore.”
“Kakak. Aku mau manisan.”
“Baik. Sebelum pulang kita beli manisan terlebih dahulu.”
“Yeeeyyyy! Kakakku memang yang terbaik!!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Syahla Annisa
Hmmmm
2023-01-18
0
Rinto Rin
alurnya terlalu lambat mc kelamaan blajar silatnya ni novel silat to romansa
2021-11-26
0
A.0122
mau untung tpi malah berakhir buntung tuh pelayan
2021-10-21
0