Tiga hari kemudian.
Kejadian jatuhnya meteor masih menjadi perbincangan hangat di seluruh daratan benua tengah, terutama di kota Giok.
Di taman belakang istana kekaisaran, terlihat Kaisar Han Wu bersama Jendral Dong, Kasim Chen Gu, dan Penasehat Chang sedang berbincang-bincang dengan santai.
“Mohon maaf yang mulia. Apakah yang mulia benar-benar telah yakin untuk meminta bantuan sekte Pedang Langit?” tanya Kasim Chen Gu tiba-tiba.
Jendral Dong menyipitkan matanya dan melirik ke arah Kasim Chen Gu.
“Ya, aku sudah yakin Kasim Chen Gu. Keputusan ini adalah yang terbaik menurutku. Memangnya ada apa?” Kaisar Han Wu balik bertanya.
“Begini yang mulia. Apakah tidak sebaiknya kita mengerahkan prajurit kita sendiri? Bukankah kita memiliki beberapa jendral yang hebat? Ditambah Jendral Besar Dong, saya yakin kita dapat mengatasi seandainya ada serangan binatang buas,” ucap Kasim Chen Gu membeberkan pendapatnya.
Jendral Dong hanya mendengus pelan mendengar ucapan dari Kasim Chen Gu tersebut.
“Hmm, makhluk jadi-jadian mulai beratraksi,” gumam Jendral Dong dalam hati.
Jendral Dong memang sering berbeda pendapat dengan Kasim Chen Gu. Namun, sang kaisar benar-benar sangat teliti dalam mengambil sikap. Jadi terkadang, pendapat dari Kasim Chen Gu lah yang lebih diterima oleh Kaisar Han Wu dan yang lainnya meskipun Jendral Dong adalah sahabatnya sekalipun.
“Bukan maksudku meremehkan kekuatan para jendral kita kasim. Kultivasiku saat ini tengah mencapai pendekar langit tahap awal, Jendral Dong pendekar langit tahap menengah, empat jendral lainnya juga sama sepertiku, pendekar langit tahap awal. Sementara itu, tidak mungkin semua jendral aku kerahkan untuk penyelidikan ini karena akan menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat," jelas Kaisar Han Wu.
"Jadi menurutmu, bagaimana seandainya jika ada serangan dari binatang buas level enam? Kalau hanya dua atau tiga mungkin kita masih bisa mengatasinya. Lalu bagaimana seandainya ada binatang buas dengan level di atasnya?” Kaisar Han Wu menambahkan serta balik bertanya kepada Kasim itu.
“Jika memang demikian, hamba mengikuti keputusan ini dengan senang hati yang mulia,” ucap Kasim Chen Gu sedikit merendahkan kepalanya.
Jendral Dong tersenyum penuh makna, “Kasim Chen Gu, aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Tapi kaisar telah memperhitungkan semuanya dengan cermat dan mengantisipasi untuk segala kemungkinan terburuknya.”
Kaisar Han Wu menganggukkan kepala pelan tanda setuju dengan apa yang diutarakan Jendral Dong.
“Hehe, kali ini aku yang menang makhluk jadi-jadian,” batin Jendral Dong puas.
Kasim Chen Gu menatapnya dengan sinis, “Dasar rubah tua.”
Sementara Penasehat Chang hanya menggelengkan kepala melihat mereka berdua yang seperti sedang perang batin.
Tidak lama berselang, datanglah seorang prajurit dan berlutut di hadapan Kaisar Han Wu, “Hormat kepada yang mulia kaisar, semoga yang mulia panjang umur dan sehat selalu.”
Kaisar Han Wu menerima hormat prajurit tersebut, “Ada apa prajurit?”
“Yang mulia, utusan dari sekte Pedang Langit telah tiba di aula istana bersama Pendeta Ming Tao,” lapor prajurit tersebut.
Kaisar Han Wu mengerutkan keningnya karena heran, “Pendeta Ming Tao?” Lalu setelah itu sang kaisar mempersilahkan prajurit itu untuk kembali bertugas.
“Jendral, Kasim Chen Gu, Penasehat Chang, mari kita menemui para tamu kita di aula istana,” ajak Kaisar Han Wu.
“Mari yang mulia,” jawab penasehat Chang.
***
Di Aula istana.
Para utusan sekte Pedang Langit dan pendeta Ming Tao memberi salam setelah Kaisar Han Wu tiba di aula bersama ketiga orang kepercayaannya tersebut.
Kaisar Han Wu membalas hormat mereka, “Silahkan duduk para tamuku yang terhormat.”
Kemudian Kaisar Han Wu duduk di singgasananya diikuti oleh yang lain di kursi mereka masing-masing.
“Selamat datang pendeta Ming Tao. Suatu kehormatan bagi istana Kekaisaran Han mendapatkan kunjungan dari patriak Gunung Suci,” kata Kaisar Han Wu dengan ramah.
Pendeta Ming Tao adalah patriak di sekte Gunung Suci. Meskipun telah berusia tujuh puluh tahun, tapi terlihat masih seperti berusia lima puluh tahunan.
Pendeta Ming Tao pun tersenyum dan berkata, “Yang mulia kaisar terlalu sungkan. Kedatangan saya ke sini berhubungan dengan peristiwa menggemparkan yang telah terjadi tiga hari yang lalu.”
“Mohon penjelasannya pendeta,” pinta Kaisar Han Wu.
Dengan tenang, pendeta Ming Tao mulai menjelaskan perihal kedatangannya, “Yang mulia, berdasarkan penglihatan spiritual pendeta agung, akan muncul seseorang yang diramalkan.”
“Seseorang yang diramalkan?” Kaisar Han Wu tampak bingung mendengarnya.
Semua yang hadir di aula itupun juga bingung dengan penuturan pendeta Ming Tao tersebut.
“Ramalan yang bagaimana maksudnya pendeta?” tanya sang kaisar lagi.
“Menurut penglihatan spiritual dari pendeta agung, kemunculan sosok itu disertai dengan suatu peristiwa yang membuat seluruh daratan di benua tengah ini gempar yang mulia. Kelak, seseorang yang diramalkan itu akan menjadi pengubah sejarah dan menjadi legenda,” jelas pendeta Ming Tao.
“Apa?!”
Sontak semua yang berada di aula itu terkejut.
Kemudian pendeta Ming Tao kembali berbicara, “Akan tetapi pendeta agung juga belum mengetahui apakah sosok tersebut berada di pihak golongan putih atau hitam. Beliau hanya memberi perintah kepada saya untuk menyampaikan hal ini kepada kaisar.”
“Hmm. Jika memang demikian, kita harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi. Karena masih samar akan berada di pihak manakah sosok itu.” Kaisar berkata sambil memijat keningnya.
Kemudian kaisar Han Wu kembali berkata, “Pendeta, kebetulan saat ini utusan sekte Pedang Langit akan membantu istana untuk melakukan penyelidikan ke dalam hutan terkait peristiwa menggemparkan tiga hari yang lalu. Apakah pendeta bersedia mengulurkan tangan untuk membantu penyelidikan ini?”
“Jika memang seperti itu, saya tidak akan sungkan yang mulia,” jawab pendeta Ming Tao dengan tenang.
“Tetua Wen Li, berhubung hari telah senja, mungkin sebaiknya penyelidikan ini kita lakukan esok hari saja. Karena kalian para tetua pasti lelah setelah melakukan perjalanan. Sebelumnya saya atas nama Kekaisaran Han mengucapkan terima kasih atas bantuan dari sekte Pedang Langit,” ucap Kaisar Han Wu.
“Yang mulia terlalu sungkan. Sebagai bagian dari Kekaisaran Han, tentu kami juga berkewajiban untuk membantu,” jawab tetua Wen Li sambil tersenyum.
“Kalau begitu, silahkan para tetua beristirahat. Pelayan akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing,” ucap Kaisar Han Wu, “Pendeta Ming Tao, silahkan anda beristirahat juga.”
Sebelum para tetua sekte Pedang Langit meninggalkan aula istana, tampak Jendral Dong menghampiri mereka.
Buughk!
Sambil tersenyum lebar, Jendral Dong memukul bahu tetua Wei Jun.
“Haisss kau ini. Sudah lama kita tidak bertemu, sekarang sudah bikin kesal saja,” kata tetua Wei Jun.
Jendral Dong dan tetua Wei Jun dulu adalah murid langsung dari tetua agung sekte Pedang Langit dan masuk dalam jajaran sepuluh murid elit. Namun Jendral Dong tidak menjadi tetua sekte karena kemudian dia diangkat menjadi jendral oleh Kekaisaran Han semenjak sahabat masa kecilnya Kaisar Han Wu dinobatkan menjadi kaisar.
Jendral Dong dan tetua Wei Jun satu angkatan dengan tetua Wen Li dan tetua Yu Yin yang dulu juga masuk dalam jajaran sepuluh murid elit sekte Pedang Langit.
“Hahaha.” Kemudian Jendral Dong memeluk sahabat satu sektenya itu, “Apa kabar sahabatku? Kau tampak terlihat tua sekarang,” ucapnya.
“Ya seperti yang kau lihat. Karena terlalu lama aku menjaga perpustakaan.” Tetua Wei Jun menjawab sambil tersenyum kecut.
Jendral Dong tersenyum mendengar jawaban dari sahabat seperguruannya itu. Lalu menyapa kedua tetua yang lain, “Apa kabar saudara Wen Li dan saudari Yu Yin?”
“Salam saudara Dong, lama tidak berjumpa.” Tetua Wen Li menjawab.
“Salam saudara Dong,” jawab tetua Yu Yin.
“Hahaha. Bagaimana kabar guruku? Apa beliau dalam keadaan sehat?” tanya Jendral Dong.
“Tetua agung baik-baik saja saudara Dong. Bahkan beliau saat ini sedang latihan tertutup untuk bisa menembus ke tingkat pendekar pertapa tahap kedua,” sahut Tetua Yu Yin.
“Benarkah saudari Yin? Hahahaha. Ini adalah kabar yang menggembirakan. Tak lama lagi guru akan menjadi yang terkuat di seluruh daratan benua tengah.” Jendral Dong berkata sambil menepuk-nepuk pundak tetua Wei Jun dengan kencang hingga tubuh tetua Wei Jun tergoncang.
“Tchh.” Tetua Wei Jun mendecih.
“Baiklah. Silahkan kalian beristirahat kalau begitu. Aku sangat senang bertemu kembali dengan saudara-saudara lamaku,” ucap Jendral Dong tersenyum ramah.
“Terima kasih saudara Dong,” jawab tetua Wen Li.
Kemudian mereka pun membubarkan diri menuju tempat istirahat masing-masing dengan dipandu oleh pelayan istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Cerita yg cukup menarik
2023-09-21
0
Pa Nya Vina
lanjut
2021-10-14
1
Dae Jen
nex
2021-10-04
0