Di istana Kekaisaran Han, terjadi hiruk-pikuk. Semua penghuni istana merasa khawatir akan terjadinya sesuatu hal yang buruk. Sebagian besar dari mereka berkumpul di halaman istana.
“Apa yang terjadi?”
“Apakah telah terjadi bencana?”
“Apakah kita sedang diserang?”
Berbagai macam pertanyaan terdengar di istana kekaisaran. Hal itu wajar mereka pertanyakan, karena di benua tengah peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi.
Ditengah kekhawatiran mereka, tanpa diduga muncul seorang prajurit yang berlari ke halaman istana dengan panik.
“Apa yang telah terjadi? Apa yang telah terjadi? Apakah dunia ini akan hancur? Apa kita akan mati? Oh tidak, aku bahkan belum bertemu dengan jodohku. Setidaknya biarkan aku menikah dulu ya dewa,” kata prajurit itu sambil mengambil sikap memohon dan menghadap ke langit.
“Aaaaaaaaaa...”
Tiba-tiba saja para pelayan yang berada di dekat prajurit itu menjerit.
“Apa ituuuuuu??”
“Aduuuuh, mataku sudah tidak suci lagiii.”
Para pelayan spontan menutupi mata mereka dengan kedua tangan karena secara tidak sengaja telah melihat sesuatu yang sakral. Namun ada juga beberapa yang mengintip dari sela-sela jari mereka.
Tak lama kemudian seorang pelayan senior berjalan dengan cepat dan menghampiri prajurit tersebut.
“Dasar mesum! Apa yang kau lakukan hah?? Setidaknya pakai dulu celanamu!” hardik pelayan senior sambil memukuli sang prajurit.
“Aduuh aduuuh, ampuuun. Aku tadi sedang buang air, kemudian aku mendengar suara ledakan dan goncangan yang besar. Jadi aku tidak sempat memakai celanaku karena panik,” jawab prajurit tersebut sambil menghindari sesekali menahan pukulan tanpa bayangan dari pelayan senior yang memukulinya.
“Aku tidak mau tahu alasanmu dasar laki-laki mesum! Pergi kau dari sini atau aku potong itumu!!” bentak pelayan senior tersebut kemudian dia menghadiahinya dengan bogem mentah.
Buuugh!
Pukulannya mengenai perut sang prajurit.
Prajurit itupun segera melarikan diri secepat kilat sambil menutupi pusakanya dengan kedua tangan karena ia merasa masa depannya telah terancam.
Beberapa pejabat istana dan prajurit yang juga berada di tempat itu menggelengkan kepala mereka melihat kejadian tersebut.
“Ada-ada saja.”
***
Di dalam kamar kaisar. Terlihat seorang pria paruh baya yang cukup tampan dan berkharisma. Dialah penguasa seluruh daratan di benua tengah, Kaisar Han Wu. Seorang kaisar yang adil dan bijaksana sehingga dia begitu dicintai oleh rakyatnya.
Di sisinya seorang wanita yang terlihat anggun sedang memangku seorang anak laki-laki berusia tiga tahun yang sedang menangis. Dia adalah istri sang raja, Permaisuri Xin Xi Rong. Sedangkan anak laki-laki itu putra mahkota kerajaan, Pangeran Han Jieru.
“Tenanglah Ru’er, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” kata Kaisar Han Wu berusaha menenangkan putranya.
“Huhuhu,” rengek sang pangeran.
“Tenanglah nak. Semuanya baik-baik saja. Sekarang kamu tidurlah. Hari sudah malam,” ucap Permaisuri Xin Xi Rong yang juga berusaha menenangkan putranya.
Namun Pangeran Han Jieru masih saja menangis.
Tok..tok..toook!
Terdengar ada yang mengetuk pintu kamar kaisar.
“Ada apa?” tanya Kaisar Han Wu dari dalam kamar.
“Mohon maaf yang mulia kaisar. Jendral Dong ingin bertemu dengan yang mulia,” kata prajurit yang menjaga pintu kamar kaisar.
Kaisar Han Wu kemudian berpamitan kepada istrinya untuk menemui Jendral Dong. Lalu setelah itu dia beranjak keluar kamar.
Sesampainya di luar kamar, Jendral Dong sudah menunggunya bersama dua orang prajurit yang menjaga kamar kaisar.
“Salam yang mulia kaisar. Semoga yang mulia kaisar panjang umur.” Jendral Dong memberi hormat kepada Kaisar Han Wu.
“Ada apa jendral?” tanya sang kaisar.
“Yang mulia, saya sudah mendapatkan informasi mengenai penyebab ledakan itu,” kata Jendral Dong.
“Baiklah, mari kita bicarakan hal ini di ruang kerjaku jendral,” ucap Kaisar Han Wu yang kemudian berjalan menuju ruang kerjanya dan diikuti oleh Jendral Dong.
Sesampainya mereka di sana, Kaisar Han Wu langsung bertanya pada intinya.
“Sebenarnya apa yang menyebabkan suara ledakan itu? Bahkan goncangannya terasa sangat kencang.” Kaisar Han Wu bertanya sembari melihat ke sekeliling ruang kerjanya yang tampak sedikit berantakan.
“Mohon maaf sebelumnya yang mulia, menurut keterangan prajurit yang kebetulan saat itu sedang berpatroli, mereka melihat sebuah benda misterius berwarna emas dengan diselimuti api biru yang sangat terang jatuh dari langit menuju ke dalam hutan keramat. Beberapa penduduk juga melihat benda tersebut,” jawab Jendral Dong sambil sedikit membungkukkan badannya.
Mendengar jawaban dari sang jendral, Kaisar Han Wu mengkerutkan keningnya.
“Hais kau ini. Kita tidak sedang dalam rapat formal. Tidak usahlah kau bersikap seperti itu. Sudah berapa puluh tahun kita bersahabat? Bahkan sudah tak terhitung berapa kali aku mengingatkan,” kata Kaisar Han Wu sedikit kesal.
Jendral Dong hanya terkekeh pelan. “Hehe, maaf adik Wu. Itu karena sudah menjadi kebiasaan,” ucap Jendral Dong membela dirinya.
“Terserah kau sajalah,” kata sang kaisar singkat, “Lantas, apakah para penduduk mendatangi tempat dimana benda itu meledak? Sebenarnya benda apa itu?”
“Tidak ada yang menghampirinya adik Wu, seperti yang kita tahu bahwa penduduk tidak ada yang berani untuk masuk ke dalam hutan keramat dikarenakan aura mencekam yang berasal dari jurang kematian," jelas Jendral Dong.
"Para kultivator yang berani masukpun palingan tidak sampai ke bagian hutan paling dalam. Mereka lebih mengutamakan keselamatan mereka. Sehingga tidak ada yang mengetahui mengenai benda misterius tersebut. Saat ini para prajurit juga tengah membantu untuk menenangkan para penduduk,” imbuhnya.
Kaisar Han Wu yang mendengar penjelasan dari sahabat sekaligus jendralnya itupun juga menyetujui hal itu. Karena biar bagaimanapun keselamatan penduduk lebih penting. Tampak ia sedang berpikir.
Tidak lama kemudian,
“Kakak, bagaimana jika kita meminta bantuan sekte Pedang Langit untuk menyelidiki hal ini? Setidaknya untuk disekitaran jurang kematian, aku yakin mereka akan menyanggupinya. Karena situasi di sana pastinya juga tak jauh berbeda dengan situasi di kekaisaran saat ini,” ucap Kaisar Han Wu.
“Aku setuju dengan hal itu adik. Selain itu letak sekte Pedang Langit paling dekat dengan istana kekaisaran,” jawab Jendral Dong.
“Kau benar kakak Dong. Lagipula, dulu kau adalah murid di sekte Pedang Langit. Jadi aku rasa tidak akan sulit untuk meminta bantuan mereka. Baiklah, besok pagi kakak perintahkan seorang utusan untuk pergi ke sekte Pedang Langit. Akan aku siapkan sebuah surat atas nama kekaisaran untuk mereka,” perintah Kaisar Han Wu.
“Baik adik Wu,” jawab sang jendral singkat.
Kemudian Jendral Dong berpamitan kembali ke kediamannya untuk beristirahat.
“Apa tidak ada yang bisa dibicarakan lagi? Ayolah kak, sangat jarang kita bisa berbincang empat mata seperti ini,” kata Kaisar Han Wu berusaha mencegah sahabatnya itu.
“Hoamm. Aku sudah mengantuk adik,” jawab Jendral Dong sambil menguap dan kemudian beranjak keluar dari ruang kerja kaisar.
“Hey, kau masih berhutang ikan kepadaku kakak. Setidaknya kasih tahu aku kapan kau akan menepatinyaaa,” kata Kaisar Han Wu dengan sedikit berteriak.
Namun Jendral Dong terus berjalan tanpa melihat ke belakang dan melambaikan tangannya.
“Kapan-kapan.”
“Kau...” Ucapan Kaisar Han Wu terhenti karena Jendral Dong sudah keluar dan tidak terlihat lagi.
“Awas saja kalau sampai kau tidak menepatinya Jendral Besar Dong,” kata Kaisar Han Wu sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah pintu keluar ruang kerjanya.
Sesaat setelahnya sang kaisar tampak tersenyum hangat. Lalu dia kembali duduk.
Tidak berselang lama, muncul Permaisuri Xin Xi Rong berjalan menghampiri suaminya.
“Suamiku, bagaimana diskusimu dengan Jendral Dong? Langkah apa yang telah kau ambil menyikapi kejadian ini?” tanya Permaisuri Xin Xi Rong.
Sang kaisar sejenak menghela nafasnya, kemudian menjawab pertanyaan dari istrinya itu. “Aku telah meminta kakak Dong mengirim seorang utusan untuk pergi ke sekte Pedang Langit. Aku ingin meminta bantuan mereka untuk menyelidiki benda yang menjadi penyebab ledakan itu.”
“Apakah hanya sekte Pedang Langit yang kau libatkan? Bagaimana dengan sekte lainnya?” Permaisuri Xin Xi Rong kembali bertanya.
“Menurutku, untuk saat ini melibatkan terlalu banyak pihak bukanlah pilihan yang bijak. Lagipula, letak sekte Pedang Langit adalah yang paling dekat dengan istana kekaisaran. Jadi tidak memakan terlalu banyak waktu. Aku ingin masalah ini segera terselesaikan agar para penduduk bisa kembali tenang,” jawab Kaisar Han Wu.
“Baiklah, apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu. Selama itu adalah hal yang baik untuk rakyat kita,” ucap Permaisuri Xin Xi Rong sembari menggenggam tangan suaminya.
“Terima Kasih istriku. Kau selalu mendukung dan berada disampingku bagaimanapun keadaanku.” Kaisar Han Wu berkata sambil tersenyum ke arah istrinya.
“Ya sudah, lebih baik kita beristirahat. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit karena terlalu lelah,” ajak permaisuri Xin Xi Rong.
“Apa putra kita sudah tenang?” tanya Kaisar Han Wu.
“Ru’er sudah tenang. Bahkan sekarang dia sudah tidur,” jawab sang permaisuri.
“Baiklah, kalau begitu mari kita istirahat,” ucap Kaisar Han Wu.
Sang kaisar bersama permaisurinya itu lalu berjalan kembali menuju ke kamar mereka.
***
“MC-nya mana thor?”
“Thor, kok MC-nya gak muncul-muncul?”
“Sebenernya pakai MC gak sih?”
“Payah lu thor.”
“Novel sampah.”
Tenang, nanti MC-nya muncul kok. Cuma belum waktunya. Sengaja saya tidak langsung memunculkan MC-nya dari awal, karena saya sedang mencoba membuat sesuatu yang berbeda.
Jadi harap bersabar ya. Anggap saja kemunculan tokoh-tokoh lain di awal novel ini sebagai pemanasan sebelum Ling Jin beraksi. Hehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Harri Novianto
gass thor
2023-10-16
0
Lanjut
2023-09-21
0
NameLess
saran aja Thor, buat novel2 fantasi timur kyknya lebih cocok disebut hutan mistis atau hutan terlarang gitu
2022-11-25
0