“Hey lihat! Sepertinya itu adalah anak laki-laki yang pingsan di depan pintu gerbang sekte.” Seorang murid berkata kepada temannya.
“Iya kau benar. Aku dengar patriak memanggilnya dan paman Liu Bing,” jawab seorang murid lainnya.
“Apa dia akan diangkat menjadi murid di sekte ini?”
“Wah, dia sangat tampan!”
“Lihat! Matanya berwarna biru. Sangat indah.”
“Jika dia sudah besar nanti, aku yakin banyak yang akan menyukainya.”
“Aku bersedia jika harus menunggunya dewasa.”
“Apa yang kau katakan? Bersihkan dulu gigimu.”
Berbagai macam komentar dari murid-murid sekte baik itu murid laki-laki maupun murid perempuan terdengar saat Ling Jin dan Liu Bing melewati halaman tempat berlatih para murid. Tapi Ling Jin sama sekali tidak menghiraukan komentar-komentar itu dan tetap berjalan dengan tenang.
Di dalam halaman berlatih itu, terlihat empat orang anak laki-laki sedang menatap ke arah Ling Jin dengan sinis.
“Kakak Feng, jika anak itu menjadi murid di sini, aku khawatir tempatmu akan digeser olehnya. Lihatlah murid-murid perempuan, semua melihat ke arahnya seolah-olah kita tidak ada di sini.” Tang Jin Song memanas-manasi seorang anak yang dia panggil kakak.
Anak yang dipanggil kakak tersebut adalah Mu Yinfeng. Dia adalah seorang anak yang angkuh dan arogan. Dengan mengandalkan latar belakangnya, dia sering berbuat sewenang-wenang terhadap murid lain. Namun tidak ada yang berani melaporkannya.
Mu Yinfeng berusia tujuh tahun dengan rambut hitam pendek sedikit bergelombang. Dia juga merupakan murid yang jenius di sekte Pedang Langit dan baru saja naik tingkat ke tingkat pendekar mahir tahap menengah, sama seperti Bao Chun. Hanya saja fisiknya lebih kecil dari Bao Chun.
“Jika memang begitu, maka hidupnya tidak akan pernah tenang karena berurusan denganku.” Mu Yinfeng menjawab dengan sorot mata yang mengandung kebencian.
***
Di dalam aula sekte Pedang Langit.
Seorang pria paruh baya berjenggot panjang berwarna hitam sedang duduk di kursi patriak dengan angkuh. Usianya menginjak lima puluh tahun, tingkat kultivasi berada di tingkat pendekar langit tahap akhir, satu tingkat di atas jendral Dong. Orang itu adalah Mu Bai, patriak sekte Pedang Langit dan juga ayah dari Mu Yinfeng.
Terlihat juga tetua Wen Li, tetua Chun Jihai, dan tetua Tang Zu ayah dari Tang Jin song berada di aula tersebut.
“Patriak, selamat karena putra patriak telah berhasil naik tingkat.” Tetua Chun Jihai berkata kepada patriak Mu Bai.
“Terima kasih tetua Ji. Aku juga tidak menyangka jika Feng’er bisa naik tingkat lebih cepat dari perkiraanku,” jawab patriak Mu Bai dengan nada angkuh.
“Tetua Ji, menurutmu apa yang harus aku lakukan terhadap Liu Bing? Saat ini wajahku telah tercoreng olehnya.” Patriak Mu Bai bertanya kepada tetua Chun Jihai.
“Mohon maaf patriak. Tapi dia hanya menolong seorang anak kecil yang pingsan. Lebih baik, kita menunggu Liu Bing dan anak itu sampai di sini untuk dimintai keterangan,” jawab tetua Chun Jihai.
“Hmm.” Hanya itu yang keluar dari mulut patriak Mu Bai.
Tiba-tiba seorang murid datang dan melapor bahwa Liu Bing dan Ling Jin sudah sampai di depan aula sekte.
“Suruh mereka masuk!” Perintah patriak Mu Bai.
Kemudian murid tersebut kembali keluar untuk menyampaikannya kepada Liu Bing. Sesaat setelah itu, Ling Jing dan Liu Bing berjalan memasuki aula sekte.
“Hormat kepada patriak sekte Pedang Langit.” Liu Bing berkata sambil memberi hormat diikuti oleh Ling Jin.
“Hmm. Masih punya sopan santun juga kau rupanya setelah membawa orang asing masuk ke dalam sekte tanpa memberikan laporan.” Patriak Mu Bai berkata dengan sinis.
“Mohon maaf patriak. Waktu itu dia dalam keadaan pingsan dan tidak mungkin saya membiarkannya pingsan di depan gerbang sekte.” Liu Bing menjawab sambil membungkukkan badannya.
“Saya tidak memberikan laporan karena waktu itu saya sedang merawatnya sehingga tidak sempat untuk memberikan laporan kepada tetua maupun kepada patriak,” imbuh Liu Bing.
“Aku tidak butuh alasanmu Liu Bing! Kau bukanlah anggota sekte! Tapi tindakanmu itu sungguh berani! Apa kau sudah bosan bekerja di sini!?” Patriak Mu Bai berkata dengan nada tinggi.
“Ampun patriak.” Liu Bing berkata sambil bersujud.
“Paman. Apa yang paman lakukan?” Ling Jin mencoba menahan Liu Bing agar tidak bersujud karena menurutnya patriak itu tidak pantas mendapatkannya. Tapi Liu Bing tetap bersikeras untuk bersujud.
“Maaf patriak. Liu Bing hanya menolong anak itu. Lagipula, apa kata orang-orang nanti jika tahu sekte Pedang Langit membiarkan seorang anak yang pingsan di depan pintu gerbang sekte? Mohon patriak berbesar hati,” kata tetua Wen Li menengahi.
Mendengar hal itu, patriak Mu Bai tampak berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah. Untuk kali kau kumaafkan. Tapi tidak untuk lain kali!”
“Terima kasih patriak,” kata Liu Bing masih dalam sujudnya.
“Maaf paman. Paman Bing tidak bersalah. Dia hanya menolongku. Jika paman mau menghukum, hukumlah aku paman.” Ling Jin berkata dengan berani meski usianya masih enam tahun.
“Siapa yang pamanmu!? Panggil aku patriak!” sahut patriak Mu Bai.
“Maaf patriak,” jawab Ling Jin.
“Siapa namamu bocah!? Darimana asalmu!?” tanya patriak Mu Bai.
“Namaku Ling Jin patriak. Aku tidak tahu di mana rumahku. Waktu itu aku pingsan dan ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang sekte.” Ling Jin menjawab dengan tegas.
Patriak Mu Bai kemudian berjalan menghampiri Ling Jin dan memegang pergelangan tangannya. Dia curiga Ling Jin adalah seseorang yang sedang menyamar.
“Hmm. Benar masih bocah. Tapi, tidak memiliki dantian?” gumam patriak Mu Bai dalam hati.
“Bocah. Apa kau tahu kondisimu saat ini?” tanya patriak Mu Bai.
“Maksud patriak?” Ling Jin balik bertanya.
“Kau tidak memiliki dantian,” jawab patriak Mu Bai singkat.
“Apa??”
Tetua Wen Li dan yang lainnya terkejut. Namun tidak dengan Liu Bing karena dia sudah tahu sebelumnya.
“Dengan kata lain, kau tidak bisa berkultivasi,” imbuh patriak Mu Bai.
Ling Jin sangat tersentak mendengar hal itu.
“Ta-tapi kakekku bilang fisikku belum kuat untuk berkultivasi patriak. Itu alasan kenapa kakekku belum mengajariku cara berkultivasi,” ucap Ling Jin yang masih belum percaya.
“Itu karena kakekmu tidak mau kau mengetahuinya, bahkan seorang anak berusia lima tahunpun akan bisa berkultivasi jika dia memiliki dantian,” ucap patriak Mu Bai lagi.
Ling Jin diam membeku. Semua semangat yang dia miliki selama ini runtuh seketika. Dia merasa kosong saat itu juga. Dia jauh dari rumah, dia terpisah dari kedua kakeknya yang dia sayangi dan sekarang harus menerima kenyataan yang menjadi momok menakutkan bagi semua kultivator.
Tidak memiliki dantian.
Pandangan Ling Jin menjadi gelap saat itu juga.
***
Mata Ling Jin mengerjap-ngerjap, kemudian mulai terbuka.
“Kau sudah sadar?” terdengar sebuah suara yang tidak asing baginya. Dia menolehkan kepala ke arah sumber suara. Terlihat Liu Bing sedang duduk bersama tetua Wen Li tak jauh dari ranjang tempatnya terbaring.
Ling Jin tidak menjawab, lalu dia mengambil posisi duduk dan masih terdiam.
Tetua Wen Li menghampiri Ling Jin dan duduk di sampingnya.
“Kau tenangkanlah dulu hatimu. Aku sudah memintakan ijin kepada patriak agar kau boleh tinggal di rumah Liu Bing. Namun karena kau bukan anggota sekte, kau dilarang pergi ke halaman latihan, perpustakaan, maupun mengamati murid-murid berlatih,” jelas tetua Wen Li sambil memegang pundak Ling Jin.
Ling Jin tetap masih terdiam.
“Liu Bing. Aku pamit dulu. Kau rawatlah dia agar kondisinya lekas membaik. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu,” kata tetua Wen Li.
“Terima kasih banyak tetua Li. Ini sudah lebih dari cukup.” Liu Bing menjawab sambil membungkukkan badannya.
Lalu tetua Wen Li beranjak keluar dari rumah Liu Bing menuju ke kediamannya. Tak lama setelah itu, muncul Bao Chun masuk ke dalam kamar.
Bao Chun memang sering mengunjungi rumah Liu Bing saat dia sedang bosan ataupun jika suasana hatinya sedang buruk. Maka dari itu lah Bao Chun sudah menganggap rumah Liu Bing seperti rumahnya sendiri dan Liu Bing tidak mempermasalahkannya, karena Liu Bing sudah menganggap Bao Chun seperti keponakannya sendiri.
“Hey, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?” tanya Bao Chun.
Ling Jin tetap hanya terdiam.
“Baiklah kalau tidak mau bicara.”
“Perkenalkan. Aku Bao Chun. Kau boleh memanggilku Chun atau laki-laki yang tampan dan pemberani.” Bao Chun berkata sambil membusungkan dadanya.
Liu Bing menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bao Chun.
“Aku Ling Jin,” ucap Ling Jin singkat.
“Karena mulai sekarang kau tinggal di sini, maka kau resmi menjadi temanku.” Bao Chun berkata lagi sambil meraih tangan Ling Jin dan mengajaknya bersalaman (secara sepihak).
Ling Jin hanya tersenyum simpul.
“Kau tenang saja. Selama ada Bao Chun di sini, maka tidak akan ada yang menganggumu. Karena siapapun yang menganggu temanku, akan berurusan dengan Bao Chun,” ucap Bao Chun lagi membanggakan dirinya.
Ling Jin tersenyum.
“Terima kasih.”
***
Terima kasih teman-teman karena masih bersedia membaca sampai sekarang.
Namun, jika memang teman-teman kurang menyukai novel ini, kalian tidak perlu memaksakan membaca novel ini. Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik.
Oya, di sini tetua Chun Jihai dipanggil tetua Ji. Karena Jika dipanggil tetua Hai, kesannya agak gimana gitu 😂
Oke, terima kasih untuk kalian yang masih mendukung dan vote novel kecil saya ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Dayat
penasaran kelanjutan Ling jin
2022-01-29
0
Yudhistira
suka novel nya keren
2021-12-16
0
Kurnia Bintara Putra Putra
lanjuttttttt
2021-10-05
0