Hosshhh hooossh hooosh!
Terlihat seorang anak sedang memanggul sebuah batu dengan bobot seratus kilogram sambil berlari mengelilingi hutan. Dengan rambut berwarna putih sebahu, mata biru cerah dan bibir merah merona, tetap terlihat sangat tampan meskipun dalam kondisi yang teramat sangat kelelahan.
Namun anak itu seperti tidak merasakan kelelahan yang dia alami. Sorot matanya yang tajam seolah menunjukkan bahwa kelelahan ini tidak akan bisa menghentikannya.
Ya, sudah dua tahun ini Ling Jin menjalani latihan fisik yang bisa dibilang kejam dari kedua kakeknya. Dia mulai latihan fisik semenjak usianya menginjak empat tahun. Dan kini dia telah berusia enam tahun.
Berkat latihan ini, fisik Ling Jin terlihat seperti anak berusia delapan tahun. Kekuatan fisiknyapun tidak main-main. Dia saat ini mampu bertarung melawan pendekar mahir tahap awal hanya dengan kekuatan fisiknya saja. Meskipun pasti juga akan mengalami luka yang tidak ringan.
Sebenarnya Ling Jin sangat ingin untuk segera mempelajari kekuatan seperti kedua kakeknya sehingga dia bisa menjadi kultivator yang hebat dan dapat melindungi kedua kakeknya itu.
Namun, kedua kakeknya selalu mengatakan jika kekuatan fisik Ling Jin belumlah cukup untuk menjadi seorang kultivator.
Akhirnya Ling Jin hanya bisa mengiyakannya dan terus berlatih dengan giat sampai dua tahun lamanya. Baik itu latihan di hutan terlarang maupun di dalam jurang kematian, semua bentuk latihan fisik yang kedua kakeknya suruh dia jalani semuanya dengan sangat tekun.
Buuugh!
Ling Jin melemparkan batu yang dipanggulnya karena sudah genap dia mengelilingi hutan sebanyak seratus kali dengan memanggul batu seberat seratus kilogram.
"Haaaaaah!"
Ling Jin menghempaskan tubuhnya sambil bernafas terengah-engah.
Sinar matahari menyusupi celah dedaunan. Ling Jin memperhatikan matahari tersebut untuk beberapa saat, kemudian dia mengarahkan telapak tangannya ke atas seolah ingin meraih matahari itu dan menggenggamkan tangannya dengan erat. “Suatu saat aku akan menjadi yang paling kuat, bahkan diantara semua dewa sekalipun!” kata Ling Jin dengan semangat yang membara.
Lalu Ling Jin berdiri dan berjalan ke arah sungai untuk membersihkan tubuhnya dan kembali pulang ke dalam jurang.
“Hah, segarnya.” Ling Jin bergumam setelah hampir seluruh tubuhnya masuk ke dalam air sungai lalu mulai membersihkan diri.
Setelah beberapa saat, Ling Jin telah selesai membersihkan tubuhnya. Kemudian dia memakai kembali jubahnya dimana hari ini adalah jadwal dia memakai jubah berwarna hitam. Namun saat ingin beranjak melangkahkan kakinya menuju jurang, mendadak Ling Jin mengurungkan niatnya untuk pulang.
“Ah, sebaiknya nanti saja aku pulang. Lagipula aku menyelesaikan latihanku hari ini lebih cepat dari waktu yang ditentukan kakek,” gumam Ling Jin yang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sebuah batang pohon.
Entah kenapa siang itu terasa lebih sejuk dari biasanya. Angin berhembus dengan manja dan membelai lembut permukaan kulit Ling Jin yang halus.
Zzzzzzztttt.
Dan Ling Jin pun tertidur.
Beberapa jam kemudian, Ling Jin terbangun. Tampak hari sudah mulai senja.
“Alamak mati aku! Bisa-bisa kakek menggantungku karena terlambat pulang.” Ling Jin berkata dengan panik. Kemudian dia segera berlari melesat ke arah jurang.
Sebenarnya, kakek hitam telah mengetahuinya. Saat dirinya mencari Ling Jin karena tak kunjung pulang, dia menemukan Ling Jin tengah tertidur bersandarkan sebuah batang pohon di dekat sungai. Akhirnya dia pun kembali ke jurang karena tidak tega membangunkan cucu kesayangannya itu.
Sesampainya di dasar jurang, Ling Jin menoleh kesana-kemari sambil berjalan mengendap-endap.
“Fiuuuh. Sepertinya kakek sedang keluar.” Ling Jin bergumam sambil bernafas lega. Kemudian dia kembali berjalan menuju ke dalam gua.
"Eheemm!"
Ling Jin terperanjat sangat kaget, kemudian menolehkan kepalanya ke arah belakang. Kedua mata indahnya itu membulat sempurna.
“Eh. Hehehee. Hai kakeeeekk.” Ling Jin menyapa kakeknya sambil memasang wajah secerah mungkin.
“Hehe. Sedang apa kakek di sini?”
"Oopps!"
Ling Jin langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena merasa pertanyaannya itu sangat bodoh.
“Sial! Kenapa harus pertanyaan ini yang pertama kali muncul di kepalaku?” umpat Ling Jin pada dirinya sendiri.
“Hmm. Sudah makan?” Kakek putih bertanya sambil memejamkan matanya.
“Belum kek,” jawab Ling Jin sambil nyengir.
Kakek putih kemudian menghela nafasnya. “Yasudah sana makan. Kakekmu hitam sudah menyiapkan makanan untukmu,” imbuh kakek putih.
“Baik kek!!!” Ling Jin menjawab dengan semangat yang berapi-api lalu berjalan dengan langkah yang tegap menuju ke dalam gua.
Kakek putih menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu kecilnya itu. Tak lama kemudian, wajahnya tampak murung. Kesedihan terlihat dengan jelas pada raut wajahnya.
Sesaat kemudian, kakek hitam datang menghampiri kakek putih.
“Bagaimana?” tanya kakek putih.
“Aku telah menyuruh Nyinyin untuk tidur setelah dia makan,” jawab kakek hitam kemudian duduk di sebelah kakek putih.
“Kenapa ini sangat mendadak? Aku sangat tidak rela jika harus meninggalkan cucu kita.” Kakek putih berkata dengan sedih.
“Kau pikir aku juga mau, pergi meninggalkan Nyinyin?” sahut kakek hitam dengan raut wajah yang juga terlihat tidak rela.
“Tapi biar bagaimanapun kita harus mencari jalan keluar untuk Nyinyin. Aku tidak mau setelah kita meninggalkannya nanti, hidupnya akan terlunta-lunta. Aku tidak akan sanggup melihatnya,” kata kakek hitam lagi.
Kakek putih hanya terdiam tak bersuara. Karena saat ini mereka berdua tidak dalam situasi yang bisa menolak perintah sesosok tersebut.
Selang beberapa waktu kemudian, kakek hitam berkata, “Sepertinya Nyinyin sudah tidur.”
Kakek hitam mengarahkan telapak tangannya ke arah gua. Muncul sebuah segel rumit yang melesat ke arah gua dan kemudian melingkupinya. Segel itu adalah segel pelindung dan peredam agar Ling Jin tidak dapat mendengar apa yang akan mereka bicarakan di luar gua.
Kemudian kakek hitam mengarahkan telapak tangannya ke atas. Sekarang seluruh penjuru jurang juga telah terpasang segel pelindung dan peredam tersebut.
Setelah semuanya selesai, kakek putih mengeluarkan kalung Ling Jin dari ruang jiwanya. Memang selama waktu berlatih, Ling Jin dilarang membawa kalung itu oleh kedua kakeknya. Ling Jin tidak tahu apa alasan dia dilarang memakai kalung tersebut selama latihan. Tetapi dia tetap menuruti perintah kedua kakeknya.
Kakek putih melempar dan membuat kalung itu mengambang di udara.
“Keluarlah!” kata kakek hitam dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian,
SWOOOOSHHHH!!
GRROAAAAHHHHH!!!
Dari dalam kalung itu tiba-tiba muncul seekor singa dengan tubuh yang menjulang tinggi sangat besar. Singa itu memakai zirah perang yang megah, mempunyai empat sayap di punggungnya, dengan mahkota di kepala, serta tanda suci berbentuk api berwarna biru di keningnya. Tampak seluruh tubuh singa itu di selimuti api biru yang berkobar-kobar.
Sosok Singa itu adalah singa langit. Binatang dewa yang menjadi penjaga gerbang istana langit di alam dewa. Dia menjaga gerbang tersebut berdua dengan seekor naga yang juga binatang dewa.
Dengan tingkatan pendekar raja dewa tahap awal, singa langit itu melayang di udara beberapa saat untuk memperlihatkan keagungannya sambil memberikan tekanan aura api biru kepada kakek putih dan kakek hitam.
Tapi anehnya, kakek putih dan kakek hitam terlihat biasa saja melihat singa langit tersebut. Bahkan raut wajah mereka hanya terlihat datar menghadapi tekanan aura dari singa langit. Seperti tidak ada sesuatu yang membuat kedua kakek itu tertekan.
Kemudian singa langit menjejakkan kakinya di tanah.
“Hohohooo. Dua semut yang berani mengganggu istirahatku dan menyuruhku keluar.” Singa langit berkata dengan angkuh.
Sebenarnya dia heran karena kedua kakek yang ada di hadapannya itu tidak tertekan sama sekali dengan aura yang dia arahkan kepada mereka berdua. Namun dia segera menepis pikirannya itu karena bagaimanapun juga, kedua kakek itu hanyalah semut di matanya.
“Semut?” Kakek putih itu bertanya kepada singa langit dengan wajah yang masih datar sambil sedikit memiringkan kepalanya.
“Hahahaha. Ya, kalian hanyalah semut di mataku. Tapi aku akui kalian cukup berisi juga rupanya bisa bertahan dari tekanan aura api biruku,” ucap singa langit.
“Tapi karena kalian telah merawatnya, maka yang agung ini akan mengampuni nyawa kalian,” kata singa langit itu lagi.
“Yang agung?”
“Mengampuni?”
“Kau pikir kau siapa bayi kucing??” Kakek hitam mulai kesal.
Mendengar ucapan kakek hitam, mata singa langit mengkilat. Kemudian api biru berkobar lebih besar dari sebelumnya. Terlihat tanda suci di keningnya bersinar saat itu juga.
“Kau sungguh berani menyebutku bayi kucing! Maka sekarang tidak akan ada lagi pengampunan untuk kalian sekalipun kalian bersujud!” Singa putih berkata dengan emosi yang meledak-ledak.
Kakek putih yang melihat tingkah singa langit tersebut, kemudian tersenyum menyeringai.
“Apa kabar?”
“Qing Long!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ternyata Singa Langit 🤔🤔🤔
2023-09-22
0
A.0122
qing long kok singa langit hrusnya naga karna ada nama long
2021-10-21
0
Diamond
lanjutt
2021-10-03
0