Keesokan harinya.
Rombongan istana Kekaisaran Han beserta tiga tetua sekte Pedang Langit dan pendeta Ming Tao telah sampai di pinggiran hutan keramat, dengan dipimpin oleh Jendral Besar Dong.
“Saudara Li, bagaimana menurutmu?” Jendral Dong bertanya kepada tetua Wen Li.
Tetua Wen Li mengangguk sedikit, kemudian berkata, “Untuk saat ini keputusan yang paling bijak adalah dengan memasuki hutan secara bersama-sama. Menurut perkiraanku, setelah ledakan yang terjadi tiga hari yang lalu para binatang buas kemungkinan menjauhi lokasi tersebut untuk sementara waktu. Langkah selanjutnya akan kita bahas setelah kita sampai di sana," jelas tetua Wen Li.
"Bagaimanapun juga, kita belum tahu situasi di lokasi terjadinya ledakan saat ini,” imbuhnya.
“Baiklah kalau begitu mari kita bergerak. Tetap waspada dengan situasi sekitar,” ucap Jendral Dong kepada yang lainnya.
Kemudian rombongan itu berjalan memasuki hutan keramat.
Selama perjalanan, mereka tidak menemukan satupun keberadaan binatang buas di sekitar tempat mereka berjalan.
“Tetua Jun, sepertinya para binatang buas memang telah menjauh dari sekitar tempat terjadinya ledakan,” kata Jendral Yue Lan membuka percakapan.
“Itu karena binatang buas bersifat teritorial jendral. Mereka akan marah apabila daerah kekuasannya diganggu dan tak akan segan-segan untuk bertempur mempertahankan daerah kekuasaan mereka. Namun, menurutku ini adalah kasus yang berbeda.” Tetua Wei Jun memberikan penjelasan kepada Jendral Yue Lan.
“Maksud tetua? Kasus berbeda yang bagaimana?” tanya Jendral Yue Lan lagi.
“Itu karena para binatang buas sadar bahwa ledakan tersebut merupakan suatu kekuatan yang tidak akan bisa mereka lawan. Meski binatang buas dengan level terendah sekalipun, mereka mempunyai kesadaran akan batasan diri mereka," jawab tetua Wei Jun.
"Jadi mereka pergi untuk mencari daerah yang lebih aman. Sedangkan untuk binatang buas level lima ke atas, mereka mungkin hanya sementara waktu menjauhi daerah sekitar ledakan." Tetua Wei Jun menambahkan.
Jendral Yue Lan mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan dari tetua Wei Jun.
“Hahaha. Tidak sia-sia saudara seperguruanku ini dipercaya sekte untuk menjaga perpustakaan. Tingkat kecerdasannya memang di atas rata-rata,” kata Jendral Dong memuji.
Tetua Wei Jun yang mendengar pujian dari Jendral Dong mendongakkan sedikit kepalanya karena merasa bangga.
“Tapi terlihat lebih tua,” imbuh Jendral Dong.
“Kau!” Tetua Wei Jun tampak tak terima. Namun kata-katanya terputus karena saat ini mereka telah sampai di lokasi.
Sebuah cekungan kawah yang cukup besar kini terpampang di hadapan mereka. Di ujung mata memandang, terlihat sebuah area di mana jurang kematian itu berada. Jurang tersebut diselimuti aura kematian yang mengerikan. Sehingga dengan melihatnya saja akan membuat orang bergidik ngeri.
Mereka terdiam melihat kawah tersebut untuk beberapa saat. Kemudian tetua Wen Li melompat masuk ke dalam kawah diikuti oleh pendeta Ming Tao. Lalu tetua Wen Li menyentuh permukaan tanah dalam kawah tersebut. Dia mengerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh.
“Pendeta, bagaimana ini?” tanya tetua Wen Li meminta bantuan petunjuk kepada pendeta Ming Tao.
“Hmm. Saya juga bingung tetua. Padahal api biru merupakan api terkuat ketiga. Jadi seharusnya akan ada bekasnya meskipun itu terasa sangat samar. Tapi di sini benar-benar tidak ada jejak energi sama sekali,” kata pendeta Ming Tao yang juga terlihat bingung.
“Saya pun juga merasa demikian pendeta. Ini benar-benar sangat aneh dan baru pertama kalinya saya menemukan kejanggalan seperti ini,” ucap tetua Wen Li.
Sementara itu di pinggiran kawah, Jendral Dong memandang ke arah jurang kematian. Terlihat aura yang sangat mengerikan melingkupinya. Bahkan Jendral Dong bisa merasakan aura itu dari sini dan itu membuat bulu kuduknya merinding.
Paaghkk!!
Jendral Dong terperanjat kaget setengah mati karena bahunya ditepuk tetua Wei Jun secara tiba-tiba.
“Sial kau ini! Mengagetkan aku saja!” umpat Jendral Dong.
Tetua Yu Yin, Jendral Yue Lan, serta yang lain terkikik berusaha menahan tawa melihat Jendral Dong yang kini wajahnya terlihat pucat. Bahkan beberapa prajurit membalikkan badan karena takut ketahuan jika mereka sedang menertawakan Jendral Dong.
“Kau ini kenapa melamun saja dari tadi? Lihat, kita tidak menemukan petunjuk apapun di sini. Bahkan kami juga sudah berkeliling. Tapi tetap tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk,” kata tetua Wei Jun.
Tetua Wen Li dan pendeta Ming Tao menghampiri Jendral Dong.
“Saudara Dong, benar-benar tidak bisa ditemukan suatu petunjuk apapun di sini. Ini seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Hanya kawah itu saja yang jadi saksi bisu,” kata tetua Wen Li.
“Ini aneh,” gumam Jendral Dong. Lalu dia kembali berkata, “Sebaiknya kita kembali ke istana saudara Li, karena hari sudah hampir sore.”
Kemudian mereka bergegas kembali ke istana Kekaisaran Han karena tidak menemukan petunjuk dalam penyelidikan itu.
Jendral Dong membatin, “ Ini aneh. Padahal kan aku baru sebentar melihat ke arah jurang itu. Tapi Wei Jun mengatakan kalau aku melamun dari tadi.” Dia tampak kebingungan lalu sesaat memandang lagi ke arah jurang kematian. Bulu kuduknya kembali berdiri.
“Hiiiii....”
Jendral Dong pun segera mempercepat langkah untuk menyusul rombongannya.
***
Sore hari di aula istana.
Kaisar Han duduk di singgasananya. Sementara yang lain duduk di tempat duduknya masing-masing.
“Jendral, bagaimana hasil penyelidikannya?” tanya kaisar.
“Yang mulia, untuk masalah tersebut mungkin tetua Wen Li bisa menjelaskannya,” jawab Jendral Dong yang masih teringat dengan kejadian tadi.
Kaisar Han Wu menghela nafas pelan. “Tetua Li, bagaimanakah hasil penyelidikannya?” Kaisar Han Wu kini bertanya kepada tetua Wen Li.
Tetua Wen Li menganggukan kepala dan kemudian berdiri untuk memberikan penjelasan. “Mohon maaf yang mulia. Kita tidak menemukan satupun petunjuk dari lokasi tersebut,” kata tetua Wen Li.
“Tidak menemukan satupun petunjuk? Bagaimana bisa tetua?” tanya kaisar lagi.
“Kami pun juga bingung yang mulia. Bahkan saya dan pendeta Ming Tao memasuki kawah bekas ledakan itu. Akan tetapi kami tidak menemukan jejak energi apapun di tempat itu. Seharusnya akan ada bekasnya yang mulia. Apalagi api biru merupakan api terkuat ketiga,” imbuh tetua Wen Li.
“Hmm. Ini aneh,” gumam Kaisar Han Wu dalam hati.
“Penasehat Chang, bagaimana menurutmu?” tanya sang kaisar.
Penasehat Chang berdiri memberi hormat, kemudian mulai berbicara, “Yang mulia, menurut saya alangkah sebaiknya apabila segera memberi pengumuman kepada penduduk bahwa situasinya sudah aman. Mengenai penyebab ledakan tersebut, kita anggap saja bahwa benda itu tidak bersifat membahayakan dan sudah hancur."
"Karena bagaimanapun juga, penduduk harus segera bisa merasakan ketenangan kembali, supaya mereka bisa melakukan kegiatan dengan baik sebagaimana mestinya. Untuk kembali melakukan penyelidikanpun saya rasa percuma. Karena bahkan para tetua sekte Pedang Langit dan pendeta Ming Tao pun tidak dapat menemukan petunjuk apapun di lokasi itu," imbuh penasehat Chang.
Sesaat kemudian pendeta Ming Tao berdiri dan memberi hormat kepada kaisar.
“Silahkan pendeta,” kata Kaisar Han Wu.
“Yang mulia, saya setuju dengan pendapat dari penasehat Chang. Tidaklah bijak apabila membiarkan penduduk dalam keadaan tidak tenang secara terus-menerus. Istana kekaisaran harus bisa menjadi pelita bagi rakyatnya. Karena sejatinya istana kekaisaran ada untuk melayani rakyat,” jelas pendeta Ming Tao.
Kaisar Han Wu merasa tertusuk hatinya mendengar penuturan dari pendeta Ming Tao. Dia baru sadar bahwa dia telah melupakan kondisi rakyatnya saat ini karena terlalu terfokus hanya pada satu masalah. Kaisar Han Wu seketika teringat akan sumpahnya untuk bersedia melayani rakyat dengan adil, bijaksana dan tanpa pandang bulu ketika dia dinobatkan menjadi Kaisar.
“Pendeta, terima kasih banyak atas pencerahan yang sangat berharga dan tidak dapat dibeli dengan apapun ini.” Kaisar Han Wu berkata sambil memberi hormat kepada pendeta Ming Tao.
“Yang mulia tidak perlu sungkan,” jawab pendeta Ming Tao dengan tenang sambil membalas hormat dari kaisar.
Kaisar Han Wu berdiri dari singgasananya kemudian berkata, “Mewakili Kekaisaran Han, saya Kaisar Han Wu menyatakan penyelidikan ditutup dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang terlibat di dalamnya.”
Semua yang hadir di aula itupun berdiri dan memberi hormat kepada Kaisar Han Wu.
Setelah itu, sang kaisar memberikan imbalan masing-masing sebuah cincin ruang yang di dalamnya terdapat satu juta koin emas dan beberapa pil tingkat tinggi kepada mereka. Bahkan beberapa prajurit yang ikut penyelidikan juga mendapatkan jumlah nilai yang sama. Kaisar Han Wu benar-benar tidak pandang bulu dalam memberikan balasan rasa terima kasihnya.
Para prajurit yang mendapat imbalan terlihat sangat syok setelah mengetahui isi yang ada di dalam cincin ruang itu. Dengan uang dan pil-pil tersebut, keluarga mereka bisa hidup mewah selama beberapa tahun bahkan tanpa bekerja sekalipun serta bisa meningkatkan tingkat praktik mereka.
Para prajurit itu meneteskan air mata karena terharu dan berjanji akan mengabdikan diri kepada kaisar dengan nyawa mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Novel yg bagus... moga Mcnya cerita Mcnya juga bagus asal tdk mudah tergoda cewek2 karena jika mudah tertarik sama cewe..alamat Novel membosankan
2023-09-22
0
Bagasjionju
jozzzzzzz
2021-09-22
0
Dan T Reki
180
2021-09-07
1