Whuuuzzzt!
Kakek putih dan kakek hitam muncul di depan mulut gua di dasar jurang, lalu kedua kakek itu langsung membawa sang bayi masuk ke dalam gua agar tidak kedinginan. Tampak bayi itu telah tidur digendongan kakek hitam.
“Apa kau juga mengetahuinya?” tanya kakek hitam kepada kakek putih melalui telepati sambil melihat ke arah kalung sang bayi.
“Hmm, tentu saja aku juga mengetahuinya. Sepertinya dia tidak tahu siapa kita sebenarnya. Kita tunggu saja, sampai kapan dia akan bertahan di dalam kalung itu,” jawab kakek putih melalui telepati dan kemudian beranjak keluar dari dalam gua.
Kakek hitam mengeluarkan jubah hitam dari ruang jiwanya lalu melilitkannya ke tubuh sang bayi. Setelah itu dia meletakkan bayi itu di atas sebuah batu berbentuk persegi panjang dengan perlahan.
Batu itu adalah tempat tidur kakek hitam selama ini. Di dalam gua itu sendiri terdapat dua buah batu yang seperti itu. Tentu sudah dapat ditebak siapa pemilik batu yang satunya. Sesaat setelah meletakkan sang bayi, kakek hitam keluar menyusul kakek putih.
Sesampainya dia di sana, terlihat kakek putih sedang duduk bersila dan memejamkan matanya.
“Dibalik sikapnya yang menyebalkan, tidak aku pungkiri dia adalah sosok yang gila akan kultivasi. Dimanapun dia berada, dia akan selalu menyempatkan diri untuk memperkuat kekuatannya. Mungkin ini yang menyebabkan aku selalu tertinggal darinya,” puji kakek hitam dalam hati.
Tidak ingin mengganggu kakek putih berkultivasi, kakek hitam berniat untuk berkeliling hutan sekedar untuk melepaskan rasa bosannya di dalam jurang.
Namun baru saja dia membalikkan badan, terdengar suara dengkuran halus dari arah belakangnya. Kakek hitam terhenyak, bibirnya terlihat berkedut.
“Tua keriput itu...”
Tampak saat ini dia sedang menahan rasa sesak di dada serta memejamkan kedua matanya. Lalu dia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Asap hitam tipis keluar dari dua lubang hidungnya.
“Hmm..”
“Aku tarik pujianku tadi. Yaaa, aku tarik pujianku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu,” gumam kakek hitam sambil mendengus.
Namun beberapa saat kemudian, sebuah ide terlintas di benaknya. Kakek hitam itu tersenyum licik. Lalu dia melirik ke arah kakek putih dan menjentikkan jarinya.
CETIKK!
“Hehehe. Halus tapi mematikan. Anggap saja kita impas,” gumam kakek hitam dalam hati. Raut wajah kakek itu terlihat sangat girang. Sesaat kemudian dia menghilang begitu saja.
Beberapa saat setelah itu, kakek putih yang sedang tertidur tiba-tiba saja merasakan perasaan yang tidak nyaman.
“Apa ini?”
“Apa aku sedang bermimpi?”
“Apa saat ini aku sedang dihukum lagi?”
“Tapi aku merasa tidak melakukan suatu kesalahan semenjak sepuluh juta tahun yang lalu.” Kakek putih berkata dalam hati.
“Tapi ini?”
Kakek putih itu mengenduskan hidungnya karena mencium bau yang tidak asing. Lalu dia membuka kedua matanya.
Begitu matanya terbuka, dia tersentak kaget. Wajahnya berubah sangat jelek ketika mendapati jubahnya hampir habis terbakar oleh api hitam. Bahkan celana yang dia kenakan hanya menyisakan sedikit bagian saja yang menutupi kebanggaannya itu. Meski begitu, tubuh kakek putih tidak terbakar sama sekali. Tampak kepulan asap menyelimuti tubuh kakek putih. Mata emas kakek putih mengkilat saat itu juga.
“Dasar kau tua bangka sialaaaaaan!!!” teriak kakek putih. Suaranya terdengar menggelegar.
Kakek putih berjalan ke sana kemari mencari keberadaan kakek hitam. Namun dia tak kunjung menemukan sang pembuat onar tersebut.
“Dimana tua bangka itu?” Kakek putih bertanya dalam hati.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia berhenti mencari kakek hitam karena tak dapat menemukan keberadaannya.
“Dasar tua bangka. Lihatlah apa yang telah dia lakukan kepada jubahku. Bagaimana kalau dewi bulan melihatnya? Mau ditaruh dimana wajah tampanku ini.” Kakek putih bergumam sambil melihat keadaan dirinya sendiri yang saat ini terlihat mengenaskan.
Oeekkk oeeekkk!
Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan sang bayi dari dalam gua.
“Haiiis. Gara-gara dia, bayi itu kini menangis,” ucap kakek putih kesal. Padahal bayi itu menangis karena mendengar suara kakek putih yang menggelegar.
Kakek putih segera mengganti jubah dan celananya.
“Awas saja kau pembuat onar!”
Lalu dia bergegas berjalan menuju ke dalam gua.
Jika dihitung-hitung, sebenarnya kakek putihlah yang paling sering mengerjai kakek hitam. Bahkan dia pernah secara diam-diam menyerang kakek hitam yang saat itu sedang berkultivasi dengan menggunakan sebuah jurus ilusi. Sehingga seakan-akan rambut kakek hitam terbakar api putih sampai habis dan menjadikan kepalanya botak. Sontak saja kakek hitam marah besar.
Dan hasilnya, kakek hitam mengejar-ngejar kakek putih sampai berminggu-minggu. Jadi bisa disimpulkan siapa pembuat onar yang sebenarnya.
Sesampainya di dalam gua, kakek putih bergegas menggendong bayi itu dan menimang-nimangnya.
“Cup cup cup. Anak baik, kenapa kau menangis? Apa kau takut ditinggal sendirian?” Kakek putih terus berusaha menenangkan bayi tersebut. Namun usahanya tidak membuahkan hasil karena sang bayi tidak berhenti menangis.
“Sepertinya dia lapar. Tapi apa yang harus aku berikan kepadanya? Aku kan tidak punya susu.” Kakek putih berusaha mencari-cari sesuatu yang cocok untuk sang bayi selain susu.
Meskipun sangat jarang keluar dari hutan keramat, kakek putih tahu tentang kehidupan di dunia tengah ini karena kekuatan jiwanya. Jadi dia paham apa yang harus dia lakukan saat ini.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba kakek putih teringat dengan air kehidupan miliknya.
Air kehidupan adalah harta spiritual legenda yang mempunyai banyak manfaat. Salah satunya untuk memperkuat kekuatan jiwa seorang kultivator.
“Ah benar, air kehidupan. Semoga saja cocok sebagai pengganti susu bayi ini,” gumam kakek putih.
Kemudian dia mengeluarkan secawan air kehidupan dan meminumkannya kepada sang bayi dengan perlahan. Setelah itu, dia menunggu efek yang terjadi pada bayi tersebut.
Beberapa saat tidak muncul efek apapun kepada sang bayi.
“Hmm, kenapa bisa?” tanya kakek putih keheranan dalam hati.
Lalu dia kembali meminumkan air kehidupan itu kepada sang bayi. Tampak bayi itu sangat menyukainya, bahkan dia meminumnya sampai habis. Sesaat kemudian bayi itu kembali terlelap di gendongan kakek putih.
Meskipun bayi tersebut sudah tertidur, namun entah kenapa kakek putih seperti tidak mau melepaskan bayi itu dari gendongannya.
Tidak lama berselang, kakek hitam muncul di dalam gua, “Apa dia masih tidur?”
“Tadi dia terbangun dan menangis. Aku pikir dia lapar. Lalu aku memberikan air kehidupan untuknya,” jawab kakek putih dengan wajah datar karena masih kesal dengan kakek hitam.
“Apa?!"
“Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau memberikan air kehidupan kepada seorang bayi??” Kakek hitam tampak terkejut mendengar jawaban kakek putih. Tentu hal itu karena kakek hitam tahu khasiat dari air kehidupan dan syarat-syarat untuk bisa menggunakannya.
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya?” tanya kakek hitam lagi.
“Kau itu cerewet sekali. Bisa-bisa bayi ini bangun dan menangis lagi mendengar suara sumbangmu itu,” kata kakek putih sambil mengelus-elus kepala sang bayi.
“Lihatlah, nyatanya tidak terjadi apa-apa pada dirinya bukan?” sambungnya.
Kakek hitam kemudian mengamati bayi itu dengan seksama.
“Awalnya aku juga tidak yakin dengan apa yang aku lihat. Tapi pada kenyataannya memang tidak ada efek apa-apa pada bayi ini,” kata kakek putih lagi, “Kau lihat, betapa tampannya bayi ini. Aku seakan enggan untuk melepaskannya.”
Kemudian kakek hitam itu menatap kembali wajah sang bayi.
“Kau benar, dia sangat tampan sepertiku,” jawab kakek hitam dengan singkat.
“Tch, bahkan binatang buaspun akan muntah bila melihat wajahmu itu,” ucap kakek putih sambil meletakkan sang bayi ke atas batu dengan perlahan.
“Hmm, aku seolah ingin selalu berada di dekatnya setelah aku melihat wajahnya dengan seksama. Lihatlah wajah itu, sangat menggemaskan,” kata kakek hitam.
“Aku punya ide. Bagaimana kalau kita angkat bayi ini menjadi cucu kita? Bukankah akan sangat menyenangkan jika ada cucu yang hadir di sekitar kita?” kata kakek hitam lagi mengemukakan idenya.
“Aku setuju,” jawab kakek putih kembali bersemangat, “Baiklah. Sekarang kita harus memberikannya sebuah nama.”
Kakek hitam pun menepuk jidatnya, “Astaga, kenapa bisa lupa kalau kita belum memberinya nama.”
“Sebaiknya kita memikirkan nama untuknya di luar gua. Aku khawatir dia akan menangis lagi,” ajak kakek putih.
“Baiklah, ayo,” sahut kakek hitam singkat.
Selang beberapa saat tampak kedua kakek itu sibuk memikirkan sebuah nama yang bagus untuk cucu baru mereka di depan gua.
“Hua Wei,” ucap kakek hitam.
“Tidak-tidak-tidak. Nama itu terdengar aneh," jawab kakek putih.
“Qiao Mi?” kata kakek hitam lagi
Kakek putih menggelengkan kepalanya.
“Kurang jantan.”
“Xian Jing?” Kakek hitam kembali berkata.
Lagi-lagi Kakek putih menggelengkan kepalanya.
“Terlalu brutal.”
“Bagaimana kalau Ling Ling?” Kakek hitam berkata dengan penuh harap.
Uhuk uhuukk.
Kakek putih tersedak lalu terbatuk-batuk mendengar usulan nama itu.
“Kau pikir cucu kita itu perempuan hah? Setidaknya pakai sedikit otakmu!” ucap kakek putih sedikit kesal.
“Apa-apaan kau ini. Bukankah dari tadi aku terus yang mengusulkan nama. Sementara kau hanya diam saja,” kilah kakek hitam membela diri.
Dan pada akhirnya suasana kembali hening.
Sesaat kemudian tiba-tiba kakek putih mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar seperti baru saja mendapatkan pencerahan.
Kakek hitam yang melihat hal itu menjadi heran.
“Kau kenapa? Apa kau sudah mulai kehilangan kewarasanmu hanya gara-gara memikirkan sebuah nama?” Kakek hitam bertanya kepada kakek putih.
“Aku sudah menemukan nama yang cocok untuk cucu kita. Aku yakin kau pasti akan menyukainya,” kata kakek putih dengan senyum lebar.
“Memangnya nama apa yang menurutmu cocok?” tanya kakek hitam lagi.
Kakek putih itu tersenyum misterius.
“Ling Jin.”
“Nama itu diambil dari namaku dan namamu. Dengan begitu, di manapun cucu kita berada, kita akan selalu memberkatinya. Bagaimana menurutmu?” tanya kakek putih.
Kedua mata kakek hitam pun membulat dan raut wajahnya seketika menjadi cerah. Terlihat senyum lebar sekarang menghiasi wajahnya.
“Sempurna.”
***
Terima kasih untuk teman-teman yang mau meluangkan waktunya membaca novel ini.
Saya harap teman-teman menyukainya.
Saya akan usahakan update setiap hari dan saya berharap nantinya novel ini akan meninggalkan kesan yang baik untuk para pembaca semuanya.
Terima kasih ^_^
Follow IG: @ben.gurion14
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
༄༄᩿ᴀʟғᴀʀɪᴢɪ°•༄᩿
kenapa gak Yin dan Yang aja Thor
2024-07-08
0
Tiana
kakek hitam kenapa kamu lucu sekali/Silent/
2023-10-30
0
nama yg singkat tapi bagus
2023-09-21
0