Anak Laki-laki yang Pingsan

Hari telah senja di wilayah kekaisaran Han. Matahari mulai terlihat meredup.

Di dalam dapur sebuah sekte, seorang pria paruh baya berusia empat puluh tahun terlihat baru saja selesai mengerjakan pekerjaan sehari-harinya.

“Fiuh, akhirnya selesai juga pekerjaanku hari ini. Saatnya kembali pulang,” ucapnya dalam hati.

Dia adalah Liu Bing, seorang juru masak di sekte tersebut.

Liu Bing membereskan peralatan masaknya. Tampak beberapa murid sekte sedang membantunya menuangkan masakan itu ke setiap mangkuk yang terlihat sangat banyak untuk makan malam seluruh penghuni sekte.

“Chun. Setelah semuanya selesai, kalian bersihkan dapur. Paman mau pulang.” Liu Bing berkata kepada salah seorang murid sekte yang sedang membantunya.

Murid tersebut bernama Bao Chun. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dan memiliki rambut berwarna merah. Bao Chun adalah anak yang  ceria serta mempunyai semangat yang tinggi. Dia juga termasuk murid yang berbakat di sekte itu dan berada pada tingkat pendekar mahir tahap menengah dengan menguasai elemen petir.

“Baik paman,” jawab Bao Chun sambil menuangkan sup masakan Liu Bing ke dalam sebuah mangkuk yang paling besar diantara sekian banyak mangkuk lainnya.

Bao Chun tersenyum menyeringai menatap sup dalam mangkuk besar itu. Kedua matanya mengkilat.

“Saatnya bertempur (makan).”

“Baiklah, kalau begitu paman pulang dulu. Habiskan makananmu.” Liu Bing kembali berkata kepada Bao Chun.

“Emmm.” Bao Chun menganggukkan kepala.

Liu Bing berjalan keluar dari dalam dapur untuk pulang ke rumah sederhananya di bagian belakang sekte, lebih tepatnya rumah pemberian sekte untuk tempat tinggalnya beserta dengan anaknya. Meski begitu, dia bukanlah anggota sekte. Liu Bing hanya bekerja sebagai juru masak di sekte itu. Dia mendapatkan bayaran dua keping koin emas untuk satu bulannya.

Selain seorang juru masak, Liu Bing juga seorang kultivator. Walaupun tingkatannya tidak terlalu tinggi, yaitu di tingkat pendekar master tahap puncak. Namun cukup untuk melindungi dirinya sendiri dan anaknya.

Saat Liu Bing melewati halaman sekte, dia melihat seorang murid senior sedang menggendong seorang anak laki-laki berambut putih.

Kemudian Liu Bing menghampirinya.

“Siapakah anak ini?” tanya Liu Bing kepada murid senior itu.

“Saya juga tidak tahu paman Bing. Saat kami akan berganti berjaga, kami menemukan anak ini tergeletak di depan pintu gerbang,” jawab murid senior itu.

“Sepertinya dia hanya pingsan,” gumam Liu Bing dalam hati.

“Biar aku yang membawanya. Kau kembalilah berjaga,” ucap Liu Bing.

“Baik paman Bing. Maaf sudah merepotkan,” jawab murid senior itu kemudian kembali untuk melakukan tugasnya.

Liu Bing membawa anak laki-laki berambut putih itu ke rumahnya.

Sesampainya di rumah sederhananya, Liu Bing meletakkan anak tersebut di atas ranjang tempat tidur miliknya. Dia memperhatikan anak laki-laki itu. Meski tengah pingsan, namun tidak menutupi ketampanan anak itu. Sebuah kalung melingkar di lehernya dengan bertuliskan Ling Jin yang berwarna putih dan hitam.

“Jadi namanya Ling Jin. Anak yang sangat tampan,” gumam Liu Bing dalam hati.

“Ayah, dia siapa?” Sebuah suara mungil terdengar.

Liu Bing menoleh ke belakang dan mendapati anak perempuannya sedang berdiri di depan pintu.

Anak perempuan itu bernama Yin Mei Lin. Putri Liu Bing satu-satunya. Dia berusia lima tahun, rambutnya berwarna hitam lurus panjang, dengan mata hitam jernih, hidung mancung, dan kulit putih yang halus. Di rumah ini Liu Bing hanya tinggal berdua dengan putrinya itu karena istrinya meninggal saat melahirkan Yin Mei Lin.

“Lin’er kemarilah,” kata Liu Bing kepada putrinya.

Yin Mei Lin berjalan menghampiri ayahnya kemudian duduk dipangkuannya.

“Ayah, kakak ini siapa?” tanya Yin Mei Lin lagi.

“Lin’er, nama kakak ini adalah Ling Jin,” jawab Liu Bing sambil mengusap kepala putrinya. Tersirat kasih sayang yang sangat besar saat kedua mata Liu Bing menatap putri semata wayangnya itu.

“Ayah, apakah kakak Ling Jin sedang tidur?” tanya Yin Mei Lin.

“Kakak Ling Jin pingsan Lin’er.” Liu Bing menjawab kembali.

“Pingsan itu apa ayah?” Yin Mei Lin bertanya lagi.

“Kelak kau akan mengetahuinya sendiri saat kau sudah besar,” jawab Liu Bing sambil mencubit pipi putrinya dengan gemas karena tidak berhenti bertanya.

Memang Yin Mei Lin adalah seorang anak yang rasa keingintahuannya tinggi. Apabila dia penasaran terhadap sesuatu, maka dia tidak akan segan-segan untuk bertanya sampai rasa penasarannya terobati.

“Ayaaaah.” Yin Mei Lin cemberut mengembungkan pipi saat ayahnya mencubit pipinya.

Liu Bing terkekeh gemas melihat wajah putrinya. Lalu dia menerawangkan matanya ke arah jendela kamar yang terbuka.

“Qiao’er, aku akan merawat dan menjaga putri kita dengan nyawaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar kelak putri kita bisa menjadi seorang kultivator yang hebat.”

Pandangan mata Liu Bing terlihat sendu mengingat mendiang istrinya yang telah tiada.

“Lin’er, ayo kita keluar. Biar kakak ini istirahat.” Liu Bing berkata sambil menggendong Yin Mei Lin.

“Eennn.” Yin Mei Lin menganggukkan kepalanya.

 

***

Keesokan harinya.

Ling Jin membuka kedua matanya.

“Dimana ini?” Pertanyaan pertama dalam benaknya setelah dia terbangun.

“Aiiish.” Ling Jin memegang kepalanya yang terasa pusing.

Ling Jin duduk sejenak di ranjang itu sambil memperhatikan ke setiap sudut ruangan.

Tampak di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah meja dengan beberapa buku di atasnya, sebuah lemari kecil dan ranjang tempat tidur yang dia tempati saat ini. Semuanya asing di mata Ling Jin. Setelah mengamati seluruh ruangan itu, Ling Jin berdiri dari tempat tidur tersebut.

“Kakeeeek?” Kata itulah yang pertama kali muncul dari bibir Ling Jin.

Ling Jin beranjak melangkahkan kakinya ke luar.

“Kakek? Kalian di mana?” Ling Jin berjalan sambil memanggil-manggil kedua kakeknya. Namun tidak ada jawaban dari dua sosok yang saat ini sedang dia cari.

“Kau sudah sadar rupanya.” Sebuah suara mengejutkan Ling Jin.

Dia menoleh ke arah sumber suara dan melihat sorang pria paruh baya dengan seorang anak kecil perempuan di sampingnya. Pria paruh baya itu terlihat sedang membawa sebuah keranjang kecil berisi bahan-bahan makanan.

“Paman siapa?” tanya Ling Jin.

Pria paruh baya itu kemudian menghampiri Ling Jin.

“Aku adalah Liu Bing dan ini putriku Yin Mei Lin,” jawab Liu Bing sambil memperkenalkan putrinya.

Saat memperhatikan Ling Jin, Liu Bing baru sadar jika Ling Jin mempunyai mata yang sangat indah menurutnya. Berwarna biru cerah. Menambah ketampanan anak laki-laki tersebut.

“Anak ini. Saat sudah dewasa nanti pasti akan menimbulkan banyak keributan.” Liu Bing membatin sambil menghela nafas.

“Paman, aku ada di mana sekarang? Di mana kedua kakekku?” Pertanyaan Ling Jin menyadarkan Liu Bing dari lamunannya.

“Tenanglah. Kau bersihkan dulu badanmu. Aku akan menyiapkan makanan untuk kita. Nanti akan aku jelaskan semuanya padamu,” kata Liu Bing sambil menunjukkan arah kamar mandi mereka.

Ling Jin terlihat penasaran, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Ling Jin telah selesai membersihkan diri. Dia memakai jubah berwarna putih karena hari ini adalah jadwal dia memakai jubah tersebut. Kini Ling Jin terlihat seperti seorang sastrawan muda yang sangat tampan.

Liu Bing tampak sudah menunggu Ling Jin untuk makan pagi bertiga bersama Yin Mei Lin.

“Kemarilah,” ucap Liu Bing memanggil saat melihat Ling Jin telah selesai membersihkan diri.

Ling Jin berjalan menghampiri dan bergabung dengan mereka.

“Paman Bing, sebenarnya saat ini aku ada di mana? Lalu di manakah kedua kakekku?” Ling Jin tak henti-hentinya menanyakan keberadaan kedua kakeknya.

“Kau makanlah dulu, dari kemarin perutmu belum di isi,” kata Liu Bing sambil mengambilkan makanan untuk Yin Mei Lin. Akhirnya mereka bertigapun memakan makanan mereka.

Setelah selesai makan pagi.

“Namamu pasti Ling Jin?” Liu Bing bertanya membuka percakapan.

“Dari mana paman Bing tahu?” tanya Ling Jin.

Liu Bing menunjuk ke arah kalung yang melingkar di leher Ling Jin. Melihat itu, Ling Jin mengerti.

“Kemarin saat aku berjalan kembali ke rumah, aku melihat seorang murid senior sedang menggendongmu yang tengah pingsan. Kemudian aku membawamu pulang ke rumahku ini.” Liu Bing menjelaskan kepada Ling Jin.

“Pingsan?” Ling Jin bertanya lagi memastikan.

Liu Bing menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Benar.”

“Lalu, kedua kakekku, mereka ada di mana paman?” tanya Ling Jin lagi.

“Paman tidak tahu di mana kedua kakekmu Jin’er, karena saat itu dirimu ditemukan tergeletak seorang diri di depan pintu gerbang,” jawab Liu Bing.

Ling Jin tampak termenung mendengar penjelasan dari Liu Bing. Lalu dia berdiri dan memberi hormat kepada Liu Bing.

“Paman Bing, terima kasih banyak karena telah menolongku. Suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan paman.”

“Kau tak usah sungkan. Bukankah sesama manusia kita harus saling menolong?” ucap Liu Bing.

Ling Jin menganggukkan kepalanya.

“Namun aku tetap berterima kasih kepada paman karena telah menolongku,” kata Ling Jin lagi.

“Kakak. Kakak sangat tampan. Kalau sudah dewasa nanti, aku mau menjadi kekasih kakak.” Yin Mei Lin tiba-tiba berceletuk.

Bibir Liu Bing berkedut.

“Haihh. Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu? Kau ini masih kecil,” kata Liu Bing sambil mencubit lembut pipi Yin Mei Lin.

“Aaa. Ayaaaah.” Yin Mei Lin cemberut karena pipinya dicubit oleh ayahnya.

“Aku tidak bohong. Kakak Ling Jin memang tampan,” imbuhnya sambil mengusap-usap pipi yang dicubit ayahnya.

Ling Jin hanya tersenyum canggung mendengar perkataan Yin Mei Lin.

 

***

Terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung novel kecil saya ini. Semoga kalian menyukainya.

Jangan lupa like, gift, vote dan kalau berkenan masukkan novel ini ke daftar favorit kalian.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih ^_^

Terpopuler

Comments

Cah Cepu LiMartin

Cah Cepu LiMartin

kayk katak sih thor...langsung lompat begtu.../Gosh/

2025-01-24

0

jeck

jeck

tiba" pingsan dan ditemukan digerbang sekte, pdhl sebelumnya berada didunia bawah 🤔🤔

2023-10-22

0

ceritanya kok bikin bingung, tadi di Kerajaan Iblis dan sekarang pingsan di dekat sekte yang jelas saja tor... apalagi Li Mei masih amat kecil sdh bisa bilang kekasih🤔🤔🤔🤔

2023-09-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman
2 Meteor dan Bayi Laki-laki
3 Kakek Putih dan Kakek Hitam
4 Situasi Di Istana.
5 Ling Jin
6 Sebuah Ramalan
7 Tak Terpecahkan
8 Kakek yang Protektif
9 Qing Long
10 Identitas Kakek Putih dan Kakek Hitam
11 Pertempuran Shen Ling Vs Mo Jin
12 Dantian Alam
13 Perkenalan dan Kembali Pulang
14 Anak Laki-laki yang Pingsan
15 Perpisahan
16 Tetua Yu Yin
17 Kenyataan Pahit dan Teman Baru
18 Xin Xiao Yu
19 Kedatangan Rombongan Kaisar
20 Hadiah Untuk Yin Mei Lin
21 Amarah Terpendam Ling Jin
22 Terbukanya Dantian Alam
23 Elemen Kegelapan
24 Kitab Dewa Iblis
25 Yin Mei Lin Yang Berubah
26 Bermain Peran
27 Mu Yinfeng Yang Malang
28 Pertemuan Kembali
29 Menjadi Buronan I
30 Menjadi Buronan II
31 Amukan Yin Mei Lin
32 Keputusan Ling Jin
33 Mengunjungi Mo Lianfeng
34 Memasuki Dunia Buatan Shen Ling
35 Kelicikan Patriak Mu Bai
36 Aliansi Bintang Hitam
37 Melawan Tetua Agung Fang Dan I
38 Melawan Tetua Agung Fang Dan II
39 Kekhawatiran Ling Jin
40 Turnamen Benua Tengah I
41 Turnamen Benua Tengah II
42 Serangan Aliansi Bintang Hitam
43 Ling Jin Melawan Dua Patriak
44 Kemunculan Pasukan Iblis
45 Mode Iblis
46 Pedang Dosa
47 Pahlawan Kota Changlin
48 Pertengkaran Segitiga
49 Huang Xiuren
50 Dua Hati Mulai Bersemi
51 Menghancurkan Keluarga Besar Chang I
52 Menghancurkan Keluarga Besar Chang II
53 Kebenaran Terungkap
54 Bing Xie
55 Tehnik Linghun
56 Klan Naga Iblis
57 Merampok Perampok
58 Sembilan Gerbang Jiwa
59 Dewa Obat
60 Shi Shen Zhe Sang Pembantai Dewa
61 Pohon Kegelapan Abadi dan Embun Iblis
62 Kecemburuan Bao Chun dan Kedatangan Qing Long
63 Terbukanya Kitab Dewa Naga
64 Lima Pangeran Neraka
65 Kabar Peperangan
66 Segel Maha Dewa Mulai Terkikis
67 Makan Bersama
68 Hari Peperangan
69 Formasi Kuno Xiwang Xunhuan
70 Reinkarnasi Dewa Panah Xin Chen
71 Tujuan Xin Chen
72 Nama yang Tidak Bisa Disebutkan
73 Kutukan Budak
74 Kedatangan Shen Ling dan Mo Jin
75 Kemalangan Qing Long dan Xin Chen
76 Mimpi Buruk Ling Jin
77 Perbincangan Bao Chun dan Han Jieru
78 Penasbihan Penguasa Bangsa Iblis Dimulai
79 Bertemu Kakek Buyut
80 Jiu Huangzi
81 Rasa Terima Kasih Ling Jin
82 Pemimpin Baru Klan Naga Iblis
83 Kota Zhongyang
84 Membantu Desa Bianyuan
85 Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Halilintar I
86 Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Halilintar II
87 Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Tombak Api (Kemunculan Sang Naga Raksasa)
88 Memasuki Dunia Jiwa
89 Mencari Informasi
90 Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Kelelawar Darah
91 Firasat Buruk Qing Long
92 Menyerang Istana Kekaisaran Tang
93 Menyerang Istana Kekaisaran Tang II
94 Menyerang Istana Kekaisaran Tang III - Kemunculan Sang Iblis Raksasa
95 Bao Chun Menipu Qing Long
96 Pertemuan yang Tidak Disadari
97 Menjadi Alkemis Besar - Hanya Perlu Membayangkannya Saja!
98 Rencana Pertunangan
99 Ling Jin Sang Pengacau
100 Kegundahan Bao Chun
101 Tunjukkan Usahamu, Jendral!
102 Bandit Salah Sasaran
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengumuman
2
Meteor dan Bayi Laki-laki
3
Kakek Putih dan Kakek Hitam
4
Situasi Di Istana.
5
Ling Jin
6
Sebuah Ramalan
7
Tak Terpecahkan
8
Kakek yang Protektif
9
Qing Long
10
Identitas Kakek Putih dan Kakek Hitam
11
Pertempuran Shen Ling Vs Mo Jin
12
Dantian Alam
13
Perkenalan dan Kembali Pulang
14
Anak Laki-laki yang Pingsan
15
Perpisahan
16
Tetua Yu Yin
17
Kenyataan Pahit dan Teman Baru
18
Xin Xiao Yu
19
Kedatangan Rombongan Kaisar
20
Hadiah Untuk Yin Mei Lin
21
Amarah Terpendam Ling Jin
22
Terbukanya Dantian Alam
23
Elemen Kegelapan
24
Kitab Dewa Iblis
25
Yin Mei Lin Yang Berubah
26
Bermain Peran
27
Mu Yinfeng Yang Malang
28
Pertemuan Kembali
29
Menjadi Buronan I
30
Menjadi Buronan II
31
Amukan Yin Mei Lin
32
Keputusan Ling Jin
33
Mengunjungi Mo Lianfeng
34
Memasuki Dunia Buatan Shen Ling
35
Kelicikan Patriak Mu Bai
36
Aliansi Bintang Hitam
37
Melawan Tetua Agung Fang Dan I
38
Melawan Tetua Agung Fang Dan II
39
Kekhawatiran Ling Jin
40
Turnamen Benua Tengah I
41
Turnamen Benua Tengah II
42
Serangan Aliansi Bintang Hitam
43
Ling Jin Melawan Dua Patriak
44
Kemunculan Pasukan Iblis
45
Mode Iblis
46
Pedang Dosa
47
Pahlawan Kota Changlin
48
Pertengkaran Segitiga
49
Huang Xiuren
50
Dua Hati Mulai Bersemi
51
Menghancurkan Keluarga Besar Chang I
52
Menghancurkan Keluarga Besar Chang II
53
Kebenaran Terungkap
54
Bing Xie
55
Tehnik Linghun
56
Klan Naga Iblis
57
Merampok Perampok
58
Sembilan Gerbang Jiwa
59
Dewa Obat
60
Shi Shen Zhe Sang Pembantai Dewa
61
Pohon Kegelapan Abadi dan Embun Iblis
62
Kecemburuan Bao Chun dan Kedatangan Qing Long
63
Terbukanya Kitab Dewa Naga
64
Lima Pangeran Neraka
65
Kabar Peperangan
66
Segel Maha Dewa Mulai Terkikis
67
Makan Bersama
68
Hari Peperangan
69
Formasi Kuno Xiwang Xunhuan
70
Reinkarnasi Dewa Panah Xin Chen
71
Tujuan Xin Chen
72
Nama yang Tidak Bisa Disebutkan
73
Kutukan Budak
74
Kedatangan Shen Ling dan Mo Jin
75
Kemalangan Qing Long dan Xin Chen
76
Mimpi Buruk Ling Jin
77
Perbincangan Bao Chun dan Han Jieru
78
Penasbihan Penguasa Bangsa Iblis Dimulai
79
Bertemu Kakek Buyut
80
Jiu Huangzi
81
Rasa Terima Kasih Ling Jin
82
Pemimpin Baru Klan Naga Iblis
83
Kota Zhongyang
84
Membantu Desa Bianyuan
85
Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Halilintar I
86
Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Halilintar II
87
Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Tombak Api (Kemunculan Sang Naga Raksasa)
88
Memasuki Dunia Jiwa
89
Mencari Informasi
90
Menaklukkan Kekaisaran Tang - Sekte Kelelawar Darah
91
Firasat Buruk Qing Long
92
Menyerang Istana Kekaisaran Tang
93
Menyerang Istana Kekaisaran Tang II
94
Menyerang Istana Kekaisaran Tang III - Kemunculan Sang Iblis Raksasa
95
Bao Chun Menipu Qing Long
96
Pertemuan yang Tidak Disadari
97
Menjadi Alkemis Besar - Hanya Perlu Membayangkannya Saja!
98
Rencana Pertunangan
99
Ling Jin Sang Pengacau
100
Kegundahan Bao Chun
101
Tunjukkan Usahamu, Jendral!
102
Bandit Salah Sasaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!