Tiga tahun berlalu.
Cuaca sangat cerah. Burung-burung menari-nari di atas langit. Di pepohonan, terdengar kicuan merdu dari para burung yang hinggap di dahannya. Seolah-olah mereka sedang bernyanyi riang. Kondisi benua tengah kini sudah kembali seperti sedia kala. Peristiwa ledakan meteor telah mereka lupakan.
Sementara itu di dalam sebuah hutan, terlihat dua sosok kakek yang salah satunya menggendong seorang anak kecil berusia tiga tahun yang sangat tampan dengan rambut putih dan mata berwarna biru cerah sedang berjalan menyusuri jalan setapak.
Ya, mereka adalah kakek putih, kakek hitam dan Ling Jin.
Kakek putih menggendong Ling Jin di punggungnya. Sementara kakek hitam tampak sedang menggoda Ling Jin yang sedang memegang sebuah mainan berbentuk naga yang terbuat dari kayu.
“Huuupp waaaaa...” Kakek hitam menutup dan membuka mata seolah-olah sedang mengagetkan Ling Jin.
“Ahahahahha...” Ling Jin tertawa riang melihat kakek hitam menggodanya. Apabila orang lain yang melihat mata kakek hitam itu, tubuh mereka pasti akan bergetar karena ketakutan. Tapi tidak dengan Ling Jin.
Sesekali kakek putih akan berlari ringan dan kakek hitam berpura-pura menjadi binatang buas yang sedang mengejar mereka.
“Ayo akek ayo akek, ejal atuuu (ayo kakek ayo kakek, kejar akuuu).” Ling Jin dengan suara cadelnya tampak kegirangan.
Sesekali Ling Jin mengarahkan mainannya ke arah kakek hitam.
“Cuuuu...cuuuu..cuuu.” Seolah-seolah dia sedang memberikan serangan kepada kakek hitam dan kakek hitam bergulingan berpura-pura terkena serangan dari Ling Jin.
Tampak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka bertiga. Kakek putih dan kakek hitam seperti mendapatkan anugerah yang besar dan merasa sangat beruntung semenjak hadirnya cucu kecil mereka.
Sejenak kemudian Ling Jin menggerak-gerakkan kakinya meminta untuk turun. Kemudian kakek putih menurunkan Ling Jin dan membiarkannya berjalan.
Kini Ling Jin berjalan dengan kakek putih berada di sebelah kirinya serta kakek hitam di sebelah kanan.
Namun tak berapa lama kemudian.
Ggrrrrrrr..
Di depan mereka, muncul belasan ekor serigala perak. Di bagian paling depan, terlihat seekor serigala dengan ukuran paling besar setinggi tiga meter dan panjang enam meter yang berada di level enam tahap awal. Tampak serigala yang paling besar itu adalah pemimpin gerombolannya. Mereka menyeringai dan meneteskan air liur melihat ketiga sosok di depan mereka yang mereka anggap sebagai mangsa empuk.
Tanpa di duga, Ling Jin melemparkan mainannya ke arah gerombolan serigala itu.
“Uuuugh. Lasakan, pelgi kau (Uuuugh. Rasakan, pergi kau)!” kata Ling Jin.
Pemimpin serigala itu menepis mainan Ling Jin dan menamparnya hingga hancur menabrak pohon.
Praaaaaakkkk!!
Suasana menjadi hening seketika itu juga.
Dan tiba-tiba saja.
“Huaaaaa. Akek ainantuuu (Kakek mainankuuu).” Ling Jin menangis menjadi-jadi karena mainan kesayangannya kini telah hancur.
Kakek putih menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Sementara kakek hitam mendengus sangat kesal. Terlihat asap hitam tipis keluar dari dua lubang hidungnya. Kedua mata kakek hitam itu mengkilat. Niat membunuh yang sangat besar tersirat dari tatapan matanya. Sekejap kemudian dia menghilang.
Buuugkhh buuuggkhh!
Sreeetttt craaaass!
Blaaaaarrrr!!
Kaaiiiinggg kaiiiiingg!
Dalam hitungan detik, semua serigala itu tewas dengan tubuh terpotong-potong. Bahkan nasib dari pemimpin serigala itupun juga sama mengenaskannya. Mati tanpa menyadari.
Kakek hitam sengaja tidak mengeluarkan auranya karena akan dapat membunuh gerombolan serigala tersebut tanpa dia harus bergerak. Menurutnya hal itu tidaklah mengasikkan.
Setelah itu kakek hitam kembali menghilang dari tempatnya. Sementara kakek putih berusaha menenangkan cucu kecilnya yang masih menangis sambil memunguti pecahan mainan kesayangannya itu.
Beberapa waktu kemudian kakek hitam muncul kembali. Dia mengibaskan tangannya secara tiba-tiba. Lalu muncullah ratusan mayat serigala perak yang tampak menggunung. Sebagian besar dari mereka dalam kondisi tubuh yang terpotong-potong.
“Apa yang kau lakukan?” Kakek putih terkejut dengan apa yang dia lihat di depannya.
Namun, kakek hitam tampak tidak peduli dan berjalan menghampiri Ling Jin.
“Ayolah. Bukankah ini terlalu berlebihan. Kau bahkan membunuh semua serigala perak yang ada di seluruh hutan ini,” kata kakek putih lagi.
“Menyelesaikan masalah harus sampai ke akarnya. Siapapun yang berani mengganggu cucu kecilku, MATI,” jawab Kakek hitam menekankan kata mati sambil menggendong Ling Jin.
“Cup cup cup. Cucu kakek yang tampan, nanti kakek buatkan mainan yang baru. Jangan menangis lagi ya,” kata kakek hitam menghibur Ling Jin kecil.
“Eeennn.“ Ling Jin menjawab dengan singkat sambil sesenggukan.
“Anak pintar,” kata kakek hitam lagi.
“Haiiis.” Kakek putih hanya bisa menerima dengan pasrah. Kemudian dia membakar gunungan mayat serigala perak dengan api putihnya. Dalam sekejap, gunungan mayat serigala perak tersebut lenyap tak tersisa. Tempat itu menjadi bersih, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali pulang ke dalam jurang kematian.
Sesampainya mereka di dalam jurang, tampak Ling Jin tertidur digendongan kakek hitam. Kakek hitam lalu berjalan-jalan sejenak disekitaran depan gua sambil menepuk-nepuk punggung Ling Jin dengan pelan.
Sementara kakek putih yang sedang duduk di depan gua melirik dengan sinis ke arah kakek hitam.
“Tua bangka itu. Apa dia pura-pura lupa atau memang sudah pikun?” Kakek putih bergumam dalam hati.
“Eheemmm.” Kakek putih berdehem memberi tanda.
Namun yang diberi tanda hanya bersikap masa bodoh sambil terus berjalan-jalan.
“Eheeeemmmm!” Kakek putih berdehem lebih keras.
Langkah kakek hitam terhenti dan menoleh ke arah kakek putih.
“Kau itu kenapa? Tersedak gunung?” tanya kakek hitam dengan heran.
Kakek putih tidak menjawab, kemudian dia berdiri dan menghampiri kakek hitam. Sesampainya di depan kakek hitam, kakek putih melipatkan tangan di depan dada sambil memejamkan mata.
“Apa kau sudah benar-benar pikun?” tanya kakek putih.
“Maksudmu?” Kakek hitam balik bertanya karena benar-benar tidak mengerti maksud dari kakek putih.
Kakek putih menghirup udara dan menghembuskannya secara perlahan.
“Hari ini adalah.” Kakek putih menggantungkan kalimatnya.
“Adalah apa? Kau ini kenapa sebenarnya hah?” Kakek hitam semakin heran dengan tingkah kakek putih. Kemudian kakek hitam menyentuh kening kakek putih karena khawatir terjadi sesuatu kepadanya.
Kakek putih mendengus. “Hari ini adalah jadwal giliranku menggendong Nyinnyin!” Kakek putih berkata dengan kesal.
Jeddeeeerrrr!!
Seketika itu juga, kakek hitam bagai disambar petir mendengar perkataan kakek putih.
“Eh! Hehehehe. Maaf, aku benar-benar lupa saudaraku yang tampan dan pemberani.” Kakek hitam berkilah sambil nyengir kuda memperlihatkan gigi-giginya.
Nyinnyin adalah panggilan kesayangan kakek putih dan kakek hitam kepada Ling Jin. Karena dulu ketika mereka memanggil namanya, cucu kesayangan mereka itu selalu menjawab dengan kata nyinnyin. Akhirnya kakek putih dan kakek hitam memanggilnya dengan kata itu karena merasa Ling Jin menyukainya.
Apabila orang-orang mengetahuinya, mereka pasti akan tertawa terpingkal-pingkal karena itu adalah panggilan untuk anak perempuan. Namun, kedua kakek itu tidak peduli. Sebab apabila ada yang berani mengganggu cucu mereka, maka hanya penyesalan seumur hidup yang akan mereka dapatkan.
“Hmm. Hari ini kau telah menggendong Nyinnyin selama dua belas menit. Besok giliranmu dikurangi dua belas menit,” kata kakek putih sambil tangannya mengambil Ling Jin dari gendongan kakek hitam.
“Ee-eeee.” Kakek hitam tampak tidak rela Ling Jin diambil oleh kakek putih.
“Huffft.” Akhirnya kakek hitam hanya bisa pasrah.
“Tapi besok giliranku jangan dikurangi ya?” pinta kakek hitam dengan wajah memelas.
“Hmmm.” Kakek putih tampak sedang berpikir, lalu kemudian tersenyum hangat ke arah kakek hitam.
Kakek hitam wajahnya menjadi cerah seketika melihat senyuman kakek putih.
“Tidak.” Kakek putih berkata singkat. Kemudian dia berjalan menjauhi kakek hitam sambil menepuk-nepuk punggung Ling Jin dengan lembut.
Wajah kakek hitam kembali kusut.
“Yaaa. Terserah kau saja,” ucapnya sambil berjalan dengan lesu menuju hutan mencari kayu untuk membuatkan Ling Jin mainan yang baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
MATI.... ngeri amat ancamanya
2023-09-22
0
Kurnia Bintara Putra Putra
mantapppp
2021-10-04
0
Diamond
lanjuttt.y
2021-10-03
0