Empat tahun berlalu.
Hooosss hoooss hooosshh.
Seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun terlihat sedang melakukan squad jump dengan memanggul sebuah batang pohon yang cukup besar di depan sebuah rumah sederhana. Wajahnya sangat tampan rupawan, dengan mata berwarna biru cerah, dewa pun akan iri jika melihat ketampanannya. Tersirat suatu tujuan yang besar dari sorot matanya yang tajam.
Ling Jin. Kini usianya telah menginjak sepuluh tahun. Meski begitu, fisik Ling Jin terlihat seperti remaja berusia lima belas tahun. Dengan tubuh yang atletis, menambah kesan jantan pada dirinya.
“9998...9999...Seesss-sepuluh ribuuuu!”
“Haaah!”
Ling Jin menghempaskan batang pohon itu kemudian merebahkan tubuhnya berbantalkan batang pohon tersebut. Peluh keringat menetes di wajah tampannya. Nafasnya terengah-engah.
Meski tahu dirinya tidak memiliki dantian, tapi Ling Jin tidak patah semangat terlalu lama. Dia terus melatih fisiknya dengan sangat keras karena dia tahu bahwa di dunia ini yang lemah akan ditindas dan yang kuat akan berdiri di atasnya.
Sesaat kemudian, wajah Ling Jin terlihat termenung.
“Tidak terasa sudah empat tahun. Kakek, Qing Long. Suatu saat aku pasti akan menemukan kalian bertiga kembali.” Ling Jin bertekad dalam hati kemudian memejamkan matanya.
Pyurrr pyurrr.
Dahi Ling Jin berkerut.
“Kenapa tiba-tiba hujan?” Ling Jin berkata dalam hati.
Tak lama setelahnya, terdengar suara tawa cekikikan. Ling Jin membuka mata dan melihat ke arah sumber suara. Terlihat Yin Mei Lin sedang membawa ember kayu berisi air sambil tertawa ke arahnya.
Yin Mei Lin kini berusia sembilan tahun. Dia akhirnya bisa menjadi murid sekte Pedang Langit karena lolos seleksi. Yin Mei Lin terbilang jenius di kalangan murid seusianya dengan berada di tingkat pendekar mahir tahap akhir dan menguasai elemen es. Dia diangkat menjadi murid langsung oleh tetua Yu Yin karena elemen es termasuk langka di benua tengah.
Yin Mei Lin selalu berlatih dengan giat selama ini karena dia sadar dia tidak berasal dari keluarga yang terpandang. Untuk itu jalan satu-satunya yang terbaik menurutnya adalah dengan menjadi kultivator yang hebat agar tidak diremehkan orang lain.
“Kau itu, tidak bisa melihat orang sedang santai saja,” gerutu Ling Jin.
“Lagipula kenapa kakak tidur di situ? Kalo mau tidur di kamar sana.” Yin Mei Lin berkata sambil terus tertawa melihat wajah kesal Ling Jin.
“Lin’er, cepat siram tanaman sayuran kita. Kau ini bisa tidak sehari saja tidak mengganggu kakakmu.” Liu Bing berkata sambil menghampiri mereka berdua.
Ya, semenjak kejadian empat tahun yang lalu, Liu Bing memutuskan untuk mengangkat Ling Jin sebagai anak. Yin Mei Lin sangat senang karena punya kakak dan kakaknya sangat tampan. Semenjak itu pula Yin Mei Lin memiliki hobi baru, yaitu Mengganggu Ling Jin.
“Aaa. Ayaaah.” Yin Mei Lin memanyunkan bibirnya kemudian beranjak menuju ke arah kebun kecil mereka.
Liu Bing menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
“Ayah.” Ling Jin menyapa ayah angkatnya.
“Jin’er bersihkan badanmu lalu makan pagi, setelah itu kau pergi lah berbelanja bahan-bahan makanan yang sudah ayah tuliskan ini. Hari ini Kaisar Han Wu datang untuk mengunjungi putrinya.” Liu Bing berkata sambil menyerahkan sekantung uang koin dan daftar belanja.
“Baik ayah,” jawab Ling Jin.
“Aku ikut!” terdengar sahutan suara Yin Mei Lin dari kebun.
“Tidak!” jawab Ling Jin.
“Pokoknya ikut! Awas kalau aku tidak diajak!” sahut suara Yin Mei Lin lagi.
Liu Bing menghela nafasnya.
“Yasudah sana bergegaslah. Ajaklah adikmu,” kata Liu Bing.
“Baik ayah,” jawab Ling Jin lagi dengan malas kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.
“Yeeeeyyy!!” sorak suara kemenangan Yin Mei Lin dari kebun.
Liu Bing menatap punggung Ling Jin dengan hangat.
Meskipun hanya anak angkat, Liu Bing sangat menyayangi Ling Jin. Dia bahkan tidak membeda-bedakan antara Ling Jin dan Yin Mei Lin. Apalagi Ling Jin adalah anak yang baik, penurut dan rajin membantunya.
“Putraku, ayah doakan semoga suatu saat nanti kau dapat mengubah takdirmu saat ini.”
***
“Kakaaaaak. Kenapa harus aku yang membawanyaaa?” Protes Yin Mei Lin sambil memanggul sebuah bungkusan yang besar dipunggungnya.
“Sudah jangan cerewet. Kau tidak tahu seberapa-seberapa yang harus di beli. Jadi lakukan saja tugasmu,” jawab Ling Jin.
“Hehehe. Aku balas kau rubah cilik.” Ling Jin diam-diam menyeringai.
“Uuuh menyebalkan! Tahu begini aku tidak ikut dan membantu bibi Yin.” Yin Mei Lin terus menggerutu.
Namun Ling Jin hanya bersiul-siul tidak menghiraukannya sambil terus berjalan dengan sangat santai dan sangat pelan.
“Kakak dengar aku tidak!?” Yin Mei Lin terus mengoceh tanpa henti. Karena tidak memperhatikan jalan, Yin Mei Lin menabrak seseorang.
Bruuukkk!
Yin Mei Lin terjatuh beserta barang bawaannya. Di depannya tampak seorang anak perempuan seusia Yin Mei Lin tengah bangun dan membersihkan pakaiannya.
“Kau itu tidak punya mata ya!?” ucap Yin Mei Lin dengan kesal. Padahal jelas-jelas dia lah yang tidak memperhatikan jalan. Tapi karena suasana hatinya sedang buruk, dia tidak mau tahu itu.
Pokoknya dia tidak salah.
“Aku? Jelas-jelas kau yang menabrakku. Tampaknya kau buta!” Anak perempuan itu menjawab dengan tidak kalah sengit. Perdebatan mereka menjadi perhatian para pedagang dan pembeli yang ada di situ.
“Lihat, gadis itu sungguh berani melawan tuan putri.”
“Kau benar, gadis itu tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa.”
Berbagai komentar mulai terdengar.
“Apa!? Kau bilang aku apa!? Coba ulangi sekali lagi kalau berani! Jangan kau kira karena kau seorang tuan putri aku takut padamu!” kata Yin Mei Lin dengan berteriak. Meski tahu identitas lawan bicaranya, Yin Mei Lin terlihat tidak takut sama sekali. Suasana hatinya benar-benar sedang buruk saat ini karena seseorang.
Ling Jin.
“Buta! Buta buta butaaaa!” Gadis itu berkata berulang-ulang dengan ekspresi wajah yang mengejek.
“Kauuu!” Yin Mei Lin mencengkeram pakaian gadis itu.
“Hey, berani sekali kau berbuat kasar kepada tuan putri Xin Xiao Yu!” hardik seorang anak gadis lainnya sambil menghempaskan tangan Yin Mei Lin dengan kasar. Dua anak gadis yang sebaya dengan Yin Mei Lin berdiri di depan Xin Xiao Yu. Mereka adalah teman-teman Xin Xiao Yu.
“Kalian mau apa hah!? Kalian kira aku takut!?” ucap Yin Mei Lin dengan sengit.
“Kau tidak takut dikeluarkan dari sekte karena melawan tuan putri!? Sadarlah siapa dirimu dan siapa tuan putri Xin Xiao Yu!” kata teman Xin Xiao Yu.
“Kau!” kata-kata Yin Mei Lin terhenti karena Ling Jin menghampirinya dan berdiri menghadap ke arahnya.
“Lin’er apa yang kau lakukan? Tugas kita belum selesai. Jangan membuat masalah.” Ling Jin berkata menasehati Yin Mei Lin.
Xin Xiao Yu kemudian maju dan berkata dengan seorang remaja berambut putih yang berdiri membelakanginya.
“Hey kau. Urus adikmu itu dan pergi dari sini! Waktuku untuk berjalan-jalan jadi terbuang sia-sia karena gadis miskin itu!” Xin Xiao Yu berkata dengan angkuh.
“Apa? Apa kau bilang!?” tanya Ling Jin tanpa menoleh ke arah Xin Xiao Yu.
“Memang dia gadis miskin kan? Memangnya dia siapa!?” ucap Xin Xiao Yu lagi.
Ling Jin membalikkan badannya.
Degh.
Mata Xin Xiao Yu dan kedua temannya melotot saat itu juga.
“Tampan sekali.”
“Dengar tuan putri yang terhormat. Kau boleh menghinaku sesuka hatimu, tapi jangan pernah kau menghina keluargaku. Kalau mau meludah, ludahkan ke wajahku, jangan sekali-sekali kau meludahi wajah keluargaku. Atau aku tidak akan segan-segan meski kau seorang tuan putri sekalipun!” Ling Jin berkata dengan nada tinggi lalu dia mengambil barang belanjaannya dan segera menarik tangan Yin Mei Lin menjauh dari tempat itu.
“Siapa dia? Apa dia kakak Yin Mei Lin? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya di sekte?” Xin Xiao Yu bertanya dalam hati.
“Waaaah, dia tampan sekali. Tapi kenapa dia kakak gadis miskin itu? Huh, menyebalkan,” gerutu salah seorang teman Xin Xiao Yu.
Lalu mereka bertiga beranjak kembali ke sekte.
***
“Lin’er, kau itu kenapa? Jangan sembarangan membuat masalah dengan orang lain.” Ling Jin berkata kepada Yin Mei Lin.
“Semua ini gara-gara kakak!” jawab Yin Mei Lin.
“Apa? Aku? Jelas-jelas kau yang menabraknya kenapa aku yang kau salahkan?” Ling Jin tampak tak terima.
“Iya karena kakak. Kalau kakak tidak menyuruhku membawa barang sebanyak ini, semua itu tidak akan terjadi!” jawab Yin Mei Lin dengan ketus.
Ling Jin menghela nafasnya panjang, kemudian dia berjalan mendahului Yin Mei Lin dan meletakkan barang belanjaan mereka di depannya.
Buugh!
Yin Mei Lin terheran dengan sikap kakaknya itu.
“Itu apa?” Ling Jin bertanya sambil menunjuk ke arah sebuah cincin di jari manis Yin Mei Lin.
“Cincin ruang,” jawab Yin Mei Lin singkat.
“Lalu?” tanya Ling Jin lagi sambil melipatkan tangannya di depan dada.
"???"
“O iyaaaa! Kenapa aku bisa lupa.” Yin Mei Lin menepuk jidatnya.
“Hehehe. Maaf kakak,” kata Yin Mei Lin sambil nyengir kuda tanpa merasa berdosa sama sekali.
Lalu dia mengarahkan cincin itu ke arah barang belanjaan mereka dan memasukkannya ke dalam cincin ruang tersebut.
“Beres,” kata Yin Mei Lin yang terlihat bangga dengan dirinya sendiri.
Ling Jin menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu.
“Lin’er, tidak semua masalah harus di atasi dengan emosi. Aku tentu senang karena kau tumbuh menjadi gadis pemberani. Tapi terkadang kita harus mengalah untuk kebaikan kita ke depannya. Contohnya tadi. Jika sampai patriak mengetahui hal ini dan ayah diberhentikan dari pekerjaannya bagaimana?" kata Ling Jin.
"Apa kau bisa membayangkan betapa hancurnya hati ayah? Apa kau pernah berpikir sampai sejauh itu sebelum membuat masalah? Ingat Lin’er, selama ini ayah menghidupi kita dengan uang hasil bekerja sebagai juru masak di sekte Pedang Langit," imbuh Ling Jin menasehati adiknya.
Yin Mei Lin tampak termenung menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca.
“Ma-maafkan aku kakak,” katanya dengan lirih.
“Lin’er. Kakak akan berjuang sekuat tenaga hingga suatu saat nanti kakak bisa membuatkan sebuah rumah makan untuk ayah agar ayah tidak perlu lagi bekerja di sekte sialan itu. Jadi kau dan ayah tidak perlu hidup seperti ini lagi, dihina-hina orang lain. Kakak berjanji akan berusaha merubah hidup keluarga kita.” Ling Jin berkata sambil memegang pundak Yin Mei Lin.
“Kakak.”
Kini air mata Yin Mei Lin benar-benar mengalir dari kedua mata indahnya mendengar ucapan dari kakaknya tersebut.
“Haiss. Sejak kapan rubah cilik ini menjadi anak yang cengeng?” ucap Ling Jin lagi.
Yin Mei Lin mengusap air matanya.
“Siapa yang menangis. Mataku Cuma terkena debu saja tadi,” kata Yin Mei Lin tak mau kalah.
Ling Jin hanya terkekeh melihat ekspresi wajah adiknya.
“Baiklah. Dengan uang satu koin perak ini, kita bisa membeli dua tusuk manisan. Untuk kali ini kau bisa memiliki manisan itu semuanya.” Ling Jin berkata sambil memperlihatkan satu koin perak kepada adiknya.
Setiap kali berbelanja untuk kebutuhan sekte, Ling Jin selalu mendapat upah satu koin perak dari Liu Bing. Tentu saja jika Yin Mei Lin mengetahuinya, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merampok kakaknya.
“Benarkah?” Wajah Yin Mei Lin berubah cerah seketika.
“Eemm.” Ling Jin menganggukkan kepala.
“Yeeeeeyy!” Yin Mei Lin bersorak senang.
Kedua kakak beradik itupun kemudian berjalan bergandengan tangan dengan riang untuk membeli manisan kesukaan Yin Mei Lin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Dayat
semoga alurnya gak bercabang cabang,
2022-01-30
0
A.0122
akhirnya sebentar lg ling jin akan bisa berkultivasi jg
2021-10-21
0
Bay Luy
Ini suasana yg bikin males baca novel pantastis.Alurnya kebanyakan kebucin,ya si adek kakak,tapi kan kalo terus2 gini ceritanya mending ganti judul ja lah...!!!!!
2021-10-06
0