Sore hari yang cerah di sekte Pedang Langit.
Di depan pintu gerbang sekte. Patriak, para tetua dan juga murid-murid sekte Pedang Langit sedang berdiri. Tetua Yu Yin juga berada di sana. Yin Mei Lin berdiri di samping tetua Yu Yin. Sedangkan patriak Mu Bai tampak berdiri di bagian paling depan dengan Mu Yinfeng berada di sebelah kanan dan Xin Xiao Yu di sebelah kirinya.
Mereka sedang menunggu dengan hati yang sedikit berdebar-debar karena yang mereka tunggu bukanlah sosok sembarangan dan merupakan orang nomor satu di Kekaisaran Han,
Kaisar Han Wu.
“Dimana dia? Apakah dia tidak ikut menyambut kedatangan ayah?”
Xin Xiao Yu mengarahkan pandangannya kesana kemari mencari keberadaan seseorang.
“Kenapa aku terus kepikiran dengannya? Aku bahkan baru pertama kali melihat wajahnya,” gumam Xin Xiao Yu dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki kuda dari kejauhan. Terlihat dua buah kereta kuda kerajaan dengan iring-iringan prajurit pilihan semakin mendekati sekte. Jendral Dong juga ikut dalam rombongan itu.
Semua yang berdiri di pintu gerbang sekte mempersiapkan diri mereka menyambut kedatangan sang kaisar.
Rombongan itupun tiba. Kereta kuda yang paling mewah berhenti tepat di depan pintu gerbang. Di susul kereta kuda mewah lainnya berhenti di belakangnya.
Dua prajurit berjalan menghampiri pintu kereta kuda tersebut. Satu prajurit membukakan pintu kereta kuda, lalu keluarlah sang kaisar dari dalam kereta disusul permaisuri Xin Xi Rong.
Kemudian prajurit yang satu lagi berkata dengan lantang,
“Hormat kepada yang mulia Kaisar Han Wu!”
Semua yang ada di sana serempak membungkukkan badan memberi hormat kepada sang kaisar.
Kaisar Han Wu menerima hormat mereka.
“Selamat datang di sekte Pedang Langit yang mulia kaisar dan permaisuri.” Patriak Mu Bai berkata menyambut Kaisar Han Wu.
“Terima kasih patriak,” jawab Kaisar Han Wu.
“Ayah. Ibu.” Xin Xiao Yu menghampiri kemudian memeluk mereka satu per satu.
“Putri ibu sudah besar.” Permaisuri Xin Xi Rong berkata sambil membelai rambut putrinya.
“Ayah, ibu aku rindu pada kalian,” kata Xin Xiao Yu dengan manja.
“O, jadi hanya ayah dan ibu yang kau rindukan? Sedangkan kakakmu ini tidak?” Sebuah suara terdengar dari dalam kereta. Kemudian keluarlah pangeran Han Jieru.
“Kakak!” Xin Xiao Yu terlihat senang karena kakaknya juga ikut. Lalu dia menghampiri dan memeluk kakaknya tersebut.
“Tentu saja aku juga rindu dengan kakak,” imbuh Xin Xiao Yu.
Han Jieru saat ini telah berusia tiga belas tahun. Berambut panjang hitam lurus, beralis tebal, menambah wibawanya sebagai putra mahkota kerajaan.
“Wah, pangeran sangat tampan.”
“Aku akan berdoa semoga kelak aku adalah jodoh pangeran.”
“Aku bahkan rela menjadi selir pangeran.”
Terdengar komentar-komentar dari murid perempuan yang mengagumi pangeran Han Jieru.
“Yang mulia kaisar, perkenalkan ini adalah putra saya Mu Yinfeng.” Patriak Mu Bai mengenalkan anaknya kepada Kaisar Han Wu.
“Salam yang mulia kaisar.” Mu Yinfeng membungkuk memberi hormat.
Kaisar Han Wu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Patriak Mu Bai yang melihatnya kemudian sedikit tersenyum misterius.
“Cih! Tidak ayahnya tidak anaknya, yang namanya ular semuanya sama saja,” gumam seorang anak laki-laki berambut merah ketika melihat adegan tersebut.
Tetua Yu Yin yang kebetulan berada di sampingnya bersama Yin Mei Lin mendengar gumaman anak itu lantas mencubit pinggangnya dengan keras.
“A..aa..attdaaa...attdaaawww.”
Bao Chun menahan sakit sambil berjinjit-jinjit. Dia menoleh dan mendapati tatapan tajam dari tetua Yu Yin mengarah padanya. Bao Chun menelan ludahnya seketika, seolah sedang melihat seekor harimau betina yang sedang kelaparan.
Bao Chun membuka sedikit bajunya dan terlihat pinggangnya memerah karena cubitan tetua Yu Yin. Dia lalu mengusap-usap pinggangnya itu.
"Jahat."
Tak lama berselang, rombongan kaisar berjalan menuju ruang perjamuan sekte dipandu oleh patriak Mu Bai. Para tetua mengikuti dari belakang, sementara para murid membubarkan diri untuk kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.
***
“Jin’er, ambilkan nampan yang ada di belakangmu itu,” ucap Liu Bing.
“Baik ayah.” Ling Jin menjawab kemudian bergegas mengambilkan nampan kayu untuk ayahnya.
Saat ini kondisi dapur sekte benar-benar sangat sibuk karena kedatangan rombongan kaisar. Namun Ling Jin selalu bersemangat saat membantu ayahnya di dapur. Terlihat juga beberapa murid sekte membantu pekerjaan Liu Bing.
“Taruh mangkuk-mangkuk itu di atas nampan.” Seorang murid perempuan berkata kepada seorang murid laki-laki di dekatnya.
“Bukan mangkuk yang itu bodooooh," katanya lagi dengan gemas.
“Hey, perhatikan jalanmu!”
“Awas awas. Barang panas.”
Suasana dapur menjadi lebih gaduh dari biasanya karena kesibukan hari ini.
Bao Chun memasuki dapur dan kemudian langsung mengambil bagian pekerjaannya membantu Liu Bing.
“Hari ini kau tidak latihan Chun?” tanya Ling Jin.
“Tidak. Para tetua ikut menjamu rombongan kaisar, jadi lebih baik aku membantu raja kerajaan dapur yang mulia Liu Bing.” Bao Chun berkata sambil membungkuk ke arah Liu Bing.
Liu Bing terkekeh melihat tingkah Bao Chun. Ling Jin dan murid-murid yang lain pun ikut tertawa melihat aksi Bao Chun itu.
“Ayah. Suatu saat aku pasti akan membuatkan rumah makan yang besar untukmu.” Ling Jin membatin ditengah tertawanya sambil menatap Liu Bing.
Memang keberadaan Bao Chun di dapur membuat suasana dapur menjadi lebih berwarna dengan segala tingkah konyolnya.
“Lagipula aku khawatir jatah makanku diambil oleh saingan abadiku,” imbuh Bao Chun sambil melirik ke arah Ling Jin.
“Apa? Bilang saja kau mau menantangku makan lagi,” ucap Ling Jin berpura-pura sinis.
Semenjak kedatangan Ling Jin di dapur, Bao Chun jadi punya rival dalam hal makan. Namun tetap saja Bao Chun lah yang lebih sering keluar sebagai pemenangnya.
“Tentu saja. Akan aku tunjukkan padamu jurus terbaruku.” Bao Chun tersenyum menyeringai.
"Amukan Dewa Makan."
***
Di dalam ruang perjamuan sekte.
Kaisar Han Wu, permaisuri Xin Xi Rong, Han Jieru, Xin Xiao Yu, patriak Mu Bai, Jendral Dong dan empat tetua utama duduk di kursi masing-masing melingkari sebuah meja makan bulat yang cukup besar. Mereka telah selesai makan bersama. Terlihat beberapa murid membersihkan meja itu dari makanan sebelumnya untuk diganti dengan hidangan penutup.
“Yang mulia. Saya mengucapkan selamat atas kenaikan tingkat tuan putri ke tingkat pendekar mahir tahap menengah.” Patriak Mu Bai berkata membuka percakapan.
“Benarkah? Ah. Ayah tak menyangka jika putri ayah ini adalah anak yang berbakat.” Kaisar Han Wu berkata sambil tersenyum ke arah Xin Xiao Yu.
“Adik. Kau hebat,” ucap pangeran Han Jieru ikut memuji adiknya.
Xin Xiao Yu terlihat senang mendengar pujian itu.
“Patriak. Mohon bimbingannya untuk putriku,” ucap Kaisar Han Wu Lagi.
“Yang mulia tidak perlu khawatir. Bahkan saya akan menyuruh putra saya untuk mengajarinya jika dia ada waktu luang. Karena Feng’er adalah murid jenius di sekte ini dengan menginjak tingkatan pendekar fana tahap awal di usianya yang kesebelas tahun,” kata patriak Mu Bai.
“Memang pantas disebut putra patriak,” puji kaisar Han Wu.
“Terima kasih yang mulia,” ucap patriak Mu Bai sambil tersenyum penuh arti.
Jendral Dong ikut tersenyum mendengar perkataan patriak Mu Bai.
“Serigala tua.”
Tak lama kemudian. Beberapa murid memasuki ruang perjamuan dengan membawa hidangan penutup. Mereka menata dan menyuguhkan hidangan-hidangan tersebut ke atas meja.
Lalu muncul seorang anak laki-laki berjubah hitam berambut putih membawa nampan berisikan hidangan penutup, berjalan dengan tergesa-gesa. Saat akan meletakkan hidangan penutup tersebut, nampan yang dibawanya tidak sengaja menyenggol lengan kaisar dan menumpahkan hidangan itu.
Praaakk.
Jubah Kaisar Han Wu terkena tumpahan hidangan itu dan sontak saja hal itu membuat patriak Mu Bai menjadi marah besar dan memaki-maki anak itu.
“Kau punya mata atau tidak!?? Apa yang kau lakukan hah!?? ? Dasar sampah tidak berguna!! Aku hajar kau!” Patriak Mu Bai segera melayangkan tamparan ke arah anak itu tapi segera ditahan oleh Kaisar Han Wu.
“Patriak. Bersabarlah. Dia tidak sengaja,” ucap Kaisar Han Wu.
Melihat siapa anak yang sedang dimarahi itu, Xin Xiao Yu sangat terkejut.
“Kau?”
Namun Ling Jin tampak tidak memperdulikan keterkejutan Xin Xiao Yu.
“Putriku. Kau mengenalnya?” tanya kaisar kepada Xin Xiao Yu.
“Tidak ayah. Tapi aku pernah bertemu sekali. Waktu itu aku dan teman-temanku bertengkar dengan adiknya dan dia datang melerai kami,” jawab Xin Xiao Yu.
“Oh. Ternyata seperti itu,” kata Kaisar Han Wu.
“Nak, siapa namamu?” tanya kaisar.
“Nama saya Ling Jin yang mulia. Saya mohon maaf atas kecerobohan saya. Saya benar-benar tidak sengaja.” Ling Jin berkata sambil membungkukkan badannya.
“Sudahlah. Aku tahu itu. Aku tidak marah,” ucap kaisar.
“Tampan sekali. Matanya berwarna biru terang. Benar-benar indah,” puji Kaisar Han Wu dalam hati.
“Patriak. Apakah Ling Jin juga murid sekte?” tanya kaisar kepada patriak Mu Bai.
“Dia hanyalah anak yang tidak diketahui asal-usulnya yang mulia. Ditemukan tergeletak pingsan di depan pintu gerbang sekte empat tahun yang lalu, kemudian diasuh dan diangkat menjadi anak oleh Liu Bing tukang masak sekte," jelas patriak Mu Bai.
“Dia juga tidak memiliki masa depan yang mulia,” imbuh patriak Mu Bai.
“Maksud patriak?” Kaisar Han Wu bertanya lagi.
“Anak ini tidak memiliki dantian,” jawab patriak Mu Bai.
“Apa?”
Semua terkejut mendengarnya, tapi tidak dengan para tetua utama. Yang paling terkejut adalah Xin Xiao Yu. Terlihat dengan jelas kekecewaan terukir di wajahnya.
“Patriak, apa tidak terlalu berlebihan? Patriak tidak perlu menyinggung tentang hal itu,” kata tetua Wen Li mengingatkan.
“Memang pada kenyataannya seperti itu kan?” sahut patriak Mu Bai.
“Maka dari itu sekte melarangnya untuk masuk ke perpustakaan, halaman berlatih maupun tempat-tempat yang dikhususkan untuk murid-murid sekte karena itu adalah peraturan sekte. Dia hanya diperbolehkan memasuki dapur untuk membantu Liu Bing yang mulia.” Patriak Mu Bai menjelaskan.
Kaisar Han Wu menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari patriak Mu Bai.
“Kasihan sekali anak ini. Padahal wajahnya sangat tampan, bahkan ru’er tidak bisa dibandingkan dengannya. Namun sayang tidak memiliki dantian,” ucap kaisar dalam hati.
“Sudah sana pergi! Dasar tidak berguna!” Terdengar suara patriak Mu Bai membentak Ling Jin.
Entah kenapa hati Xin Xiao Yu merasa sakit melihat Ling Jin diperlakukan seperti itu.
“Kau itu kenapa patriak? Jangan kasar-kasar. Dia hanyalah anak kecil, jangan keterlaluan seperti itu,” kata Jendral Dong dengan nada tinggi karena tidak suka dengan sikap patriak Mu Bai.
“Yang mulia, saya mohon undur diri untuk kembali membantu ayah saya di dapur.” Ling Jin berkata lagi sambil membungkukkan badannya.
“Tunggu.”
Kaisar Han Wu mengeluarkan sekantong uang koin kemudian diberikan kepada Ling Jin.
“Ini ambilah,” kata Kaisar Han Wu.
“Maaf yang mulia, bukan maksud saya untuk lancang, tapi saya bukanlah pengemis,” ucap Ling Jin.
“Tidak ada yang menyebutmu pengemis. Kalau kau menolak, aku akan menghukummu.” Kaisar Han Wu berkata sambil tersenyum hangat.
“Terima kasih banyak yang mulia kaisar.” Mau tidak mau akhirnya Ling Jin menerima uang itu kemudian pamit undur diri.
Xin Xiao Yu menatap punggung Ling Jin sampai anak itu tidak terlihat lagi.
“Anak yang malang,” ucap Kaisar Han Wu sambil menghela nafasnya.
“Patriak, ke depannya aku minta patriak jangan bertindak kasar padanya. Ingatlah prinsip sekte aliran putih.” Kaisar Han Wu mengingatkan.
“Baik yang mulia, terima kasih atas peringatannya,” jawab patriak Mu Bai.
“Kasihan sekali Ling Jin itu. Padahal dia sangat tampan,” ucap pangeran Han Jieru sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka mulai menikmati hidangan penutup yang ada di depan mereka saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Supandi
Dari awal cerita sudah ketebak, ceritanya akan makin seru.. jadi novel favoritku.. Lanjutkan Up Thor.. 👍👍💪💪
2021-12-29
0
Mike Sj
blm tau dia.heheje
2021-12-12
0
Ali Sabana
ini Yang Gue Suka.........😇
2021-11-05
0