Perbedaan Kasta

Mita menatap keluar jendela mobil yang membawanya. Matanya mengawasi setiap orang yang berlalu lalang di sekitar sekolah di dekat taman yang sering dikunjunginya. Ia memegang hati-hati sebuah kotak makan lucu berkarakter yang biasa disukai oleh anak-anak.

Sejak tadi ia sudah menunggu seseorang keluar dari bangunan itu. Hingga bel istirahat berbunyi, anak-anak berlarian keluar. Namun yang ditunggu Mita tak kunjung muncul. Ia mulai putus asa, berpikir jika gadis kecil yang kemarin bertemu dengannya hanya istirahat didalam.

"Lily bilang dia bersekolah disini. Apa tidak keluar untuk bermain?" Padahal ia sudah turun tangan untuk memasak sendiri, berharap Lily menyukai masakannya.

"Mungkin nona Lily membawa bekal sendiri Nyonya dan sedang makan siang di dalam." Sopir pribadi keluarga Abraham itu sudah banyak melihat Mita berubah. Bahkan kedatangan wanita paruh baya itu ke dapur membuat gempar para pelayan yang berjaga.

"Sayang sekali," lirihnya sedikit kecewa. Ia masih sedikit berharap dan menunggu sebentar lagi, namun Lily belum juga muncul.

Mita menghela nafas pelan. "Kembali saja." Sopir itu mengangguk. Saat ingin menjalankan mobil, ia tidak sengaja menangkap sosok yang dicari sang Nyonya. "Nyonya, bukankah itu nona Lily?" Mita sontak bergerak cepat menatap arah pandang sopir.

Benar, itu memang Lily. Gadis kecil itu sedang duduk di pinggir trotoar bersama seorang bocah yang terlihat kumuh. Mita segera turun dari mobil mendekati mereka.

"Lily?" Gadis itu sedang berbagi makan siangnya?

Lily terkejut melihat kehadiran Mita. Ia langsung berdiri. "Nyonya ...."

"Lily, apa yang kau lakukan disini? Lihat pakaianmu kotor, kan." Mita mengibas-ngibas pakaian Lily dan sedikit menjauhkan posisi Lily dari bocah kumuh itu.

"Jangan terlalu dekat dengannya, kau tidak lihat kondisinya?" bisiknya. Mita merasa agak risih dengan keadaan di depannya.

Melihat sikap Mita yang seperti ini, Lily tidak menyukainya. Ia semakin yakin untuk tidak terlibat begitu jauh dengan sang nenek. Kasta mereka berbeda. Mita merupakan wanita sosialita yang menjunjung tinggi martabatnya, sedangkan ia gadis kaya yang sederhana.

"Dia temanku, Nyonya." Lily menjelaskan. Mita jelas tidak terima penjelasan tersebut. Bagaimana mungkin Lily berteman dengan orang seperti ini!

"Apa kau tidak bisa menceri teman lain yang lebih baik?"

Bocah kumuh itu juga tidak bodoh. Ia mendengar jelas perkataan Mita yang tidak menyukainya. Ia juga sering meminta Lily agar tidak mendekatinya, tapi gadis itu tidak mendengarkan.

"Lily, dengarkan dia," katanya. Lily menggeleng, ia melepaskan pegangan tangan Mita. "Aku sudah menceritakan tentang dia pada mama dan mama tidak keberatan."

Mita tidak mengerti cara ibu Lily mendidik Lily seperti ini. Bagaimana bisa membiarkan Lily bermain dengan sembarang orang! Namun, ia juga tak bisa melarang, mengingat ia hanya bertemu sekali dan bukan siapa-siapa.

"Mama sangat peduli. Selama mereka orang baik dan dapat dipercaya, tidak peduli seburuk apa, kita tidak seharusnya menjauhinya. Mereka juga berhak mendapat pengakuan dari orang lain," kata Lily seolah tahu pikiran Mita, membuat wanita itu membeku.

"Maaf Nyonya ... sudah Lily bilang jika kita berbeda. Anda tidak akan cocok dengan Lily." Gadis itu hendak pergi membawa bocah laki-laki itu, namun Mita menahannya.

"Maaf ... lain kali tidak akan seperti ini." Mita merasa malu dengan dirinya, bahkan anak kecil lebih mulia darinya. Seharusnya ia yang menunjukkan contoh baik pada mereka, bukan mereka yang mengajarinya.

"Nyonya, aku tak bermaksud mengajarimu. Tapi, itulah yang ditanamkan ibuku padaku. Jangan memaksakan diri untuk menerima kasta kami."

Bagai ditusuk ribuan jarum, hati Mita begitu perih. Dulu gadis yang menjadi menantunya juga mengatakan hal yang sama. Jangan memaksakan diri menerima kaum rendah. Lebih baik terus terang daripada berpura-pura.

Sama seperti Lily. Jika Nyonya tahu Lily anak dari wanita yang kau benci, apakah masih bisa menerima dengan baik? Nyonya akan menyesali pertemuan kita. Aku hanya anak yang terlahir tanpa nama Abraham dibelakangnya.

"Tidak, bukan seperti itu Lily. Aku hanya khawatir, itu saja. Seharusnya aku tidak seperti ini, maaf." Mita menyesal. Ia tak ingin Lily menjauhinya.

"Tidak perlu minta maaf, anda tidak salah. Setiap orang itu berbeda-beda, aku mengerti." Lily tersenyum.

"Aku yang salah. Maafkan Oma ya, Nak. Jangan menjauhiku," mohonnya, memegang tangan bocah laki-laki itu dan tangan Lily.

Lily bisa melihat penyesalan di mata Mita. Lily kecil tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Apa Oma nya benar-benar berubah?

.

.

.

.

"Kau membawa pekerjaan mu kemari?" Serena melihat tumpukan dokumen yang dibawa Dian. Keduanya sedang makan siang sambil menunggu buah hati mereka pulang, sedangkan suami Sera sedang bekerja sebagai Manajer di sebuah perusahaan besar.

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku ingin memasukkan teman Lily ke sekolah. Sayang sekali jika dibiarkan, dia sangat pintar," jelas Dian.

"Teman yang mana?" Seingatnya Lily tidak memiliki teman, hanya bergaul dengan Emilio dan putranya.

Dian tersenyum. "Seorang anak kecil yang tinggal di pinggiran kota. Aku melihatnya mengumpul barang bekas di sekitar jalan." Ia bangga pada Lily yang justru memilih berteman dengan orang seperti itu, padahal ada banyak teman yang sepadan di dekatnya.

Serena merasa prihatin mendengarnya. Ia bersyukur masih diberi kehidupan yang layak sehingga anaknya dapat hidup dengan baik.

"Tapi, aku takjub dengan tekadnya. Dia masih bisa bermimpi menjadi orang yang luar biasa meski hanya seorang pemulung jalanan. Tapi yang membuatku iri, dia dan keluarganya sangat harmonis. Mereka tidak mengeluh meski merasa kesulitan."

Dari anak itu kita bisa melihat bahwa materi bukan segalanya. Tak apa hidup biasa saja, yang terpenting bagaimana kita menjalani hidup dengan ikhlas. Ingat! Uang bisa dicari, namun kebahagiaan sulit untuk diraih.

Serena tersenyum, ia memegang tangan Dian di atas meja. "Kau sudah melakukan hal yang benar."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Bab ini sudah di Up dari kmren ya Say. Gak tau kenapa proses review nya lama dari biasanya....

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

dasarnya kau gak pernah berubah dan gak akan pernah sadar. pantas cucumu mulai menjauh sm mu. tanpa kau sadari

2025-03-15

0

Ds Phone

Ds Phone

dia ibu yang baik

2025-02-28

1

Nurul Kosidah

Nurul Kosidah

q suka,klu peran utama tegar,walau dijjh

2023-11-17

3

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Flashback : Awal Mula
3 Sudah Ada Mama
4 Bahagia?
5 Penyesalan yang Terlambat
6 Menjadi Orang Asing
7 Flashback : Sepenting Itukah Sebuah Status?
8 Flashback : Menderita Sendirian
9 Sedikit Harapan
10 Harta Bukan Segalanya
11 Perbedaan Kasta
12 Yang Tersisa dari Dian
13 Mama Dian
14 Perasaan Akrab
15 Takdir Bukanlah Kebetulan
16 Tujuan Akhir adalah Bahagia
17 Flashback : Akan Ku Coba
18 Emilio
19 Ketemu!!
20 Flashback : Tujuanku, Semangat ku, Hidupku, Anakku.
21 Sederhana, Namun Berharga
22 Ikatan Batin
23 Jangan Ambil Dia!
24 Sifat Asli yang Tersembunyi
25 Bukan Akhir, tapi Baru Dimulai
26 Gangguan Kecemasan
27 Menyesali Keputusan
28 Dian Berbeda
29 Biarkan Aku Pulang!
30 Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
31 Kehangatan yang Begitu Nyata
32 Pertunjukan Menarik
33 Kau Istriku, Bukan Ja*langku!
34 Maaf ....
35 Satu Sisi yang Berbeda
36 Flashback : Bukan Anak Haram
37 Flashback: Neraka
38 Luka yang Tak Dapat Sembuh
39 Histerektomi
40 Apapun Alasannya
41 Sudah Berbeda
42 Kenalan Lama
43 Saat itu ....
44 Saatnya Bebas
45 Terungkap
46 Bagian dari Rencana
47 Fakta Lain
48 Tidak Apa-apa
49 Rico
50 Memulai Kembali
51 Ricard
52 Neraka (2)
53 Singkat, namun Membekas
54 Stok Kesabaran
55 Kalau Begitu Lihat
56 Kegelapan Lain
57 Mama Tidak Jahat
58 Kedatangan Rea
59 Gangguan Kepribadian
60 Johan
61 Tidak Bernafas
62 Ruang Seni
63 Ruang Seni (2)
64 Bersama Mama
65 Bertemu Johan
66 Keputusan Rico
67 Mengakui
68 Gadis Kecil Mama
69 Salah Waktu
70 Melakukannya dengan Benar— Sekali Lagi (End)
71 Extra Part
72 NOVEL BARU
73 P
74 Miss. Rich (new)
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Prolog
2
Flashback : Awal Mula
3
Sudah Ada Mama
4
Bahagia?
5
Penyesalan yang Terlambat
6
Menjadi Orang Asing
7
Flashback : Sepenting Itukah Sebuah Status?
8
Flashback : Menderita Sendirian
9
Sedikit Harapan
10
Harta Bukan Segalanya
11
Perbedaan Kasta
12
Yang Tersisa dari Dian
13
Mama Dian
14
Perasaan Akrab
15
Takdir Bukanlah Kebetulan
16
Tujuan Akhir adalah Bahagia
17
Flashback : Akan Ku Coba
18
Emilio
19
Ketemu!!
20
Flashback : Tujuanku, Semangat ku, Hidupku, Anakku.
21
Sederhana, Namun Berharga
22
Ikatan Batin
23
Jangan Ambil Dia!
24
Sifat Asli yang Tersembunyi
25
Bukan Akhir, tapi Baru Dimulai
26
Gangguan Kecemasan
27
Menyesali Keputusan
28
Dian Berbeda
29
Biarkan Aku Pulang!
30
Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
31
Kehangatan yang Begitu Nyata
32
Pertunjukan Menarik
33
Kau Istriku, Bukan Ja*langku!
34
Maaf ....
35
Satu Sisi yang Berbeda
36
Flashback : Bukan Anak Haram
37
Flashback: Neraka
38
Luka yang Tak Dapat Sembuh
39
Histerektomi
40
Apapun Alasannya
41
Sudah Berbeda
42
Kenalan Lama
43
Saat itu ....
44
Saatnya Bebas
45
Terungkap
46
Bagian dari Rencana
47
Fakta Lain
48
Tidak Apa-apa
49
Rico
50
Memulai Kembali
51
Ricard
52
Neraka (2)
53
Singkat, namun Membekas
54
Stok Kesabaran
55
Kalau Begitu Lihat
56
Kegelapan Lain
57
Mama Tidak Jahat
58
Kedatangan Rea
59
Gangguan Kepribadian
60
Johan
61
Tidak Bernafas
62
Ruang Seni
63
Ruang Seni (2)
64
Bersama Mama
65
Bertemu Johan
66
Keputusan Rico
67
Mengakui
68
Gadis Kecil Mama
69
Salah Waktu
70
Melakukannya dengan Benar— Sekali Lagi (End)
71
Extra Part
72
NOVEL BARU
73
P
74
Miss. Rich (new)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!