Sudah Ada Mama

Setelah makan siang bersama kedua anaknya, Dian mulai membereskan isi dapur yang sedikit berantakan. Hal seperti ini seharusnya sudah menjadi kebiasaan para ibu rumah tangga, namun banyak juga yang lebih memilih mempekerjakan pembantu daripada harus repot-repot bekerja sendiri.

Berbeda dengan Dian, meski termasuk kalangan atas yang berkecukupan, ia lebih suka bekerja sendiri menyangkut masalah rumah maupun anak. Kepribadiaannya cukup tertutup sehingga tidak memiliki banyak teman atau kenalan.

Dian menyeka keringat di dahinya dan mengibas-ngibaskan pakaiannya yang terasa gerah. Ia sedikit kelelahan setelah membersihkan perkarangan rumahnya yang luas, lalu dilanjutkan dengan pekerjaan dapur.

Jujur, ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia masih gadis remaja yang bahkan baru lulus SMA saat bertemu mantan suaminya, Nico. Ada banyak hal yang ia dapat dan pelajari selama berada di rumah besar itu.

Setelah selesai, Dian beranjak naik ke lantai atas. Ia membersihkan diri terlebih dahulu baru kemudian menemani Emily dan Emilio menyelesaikan tugas sekolahnya.

"Emi." Dian menegur putra kesayangannya yang sibuk dengan tugas sendiri. Anak ini lebih mandiri dibandingkan Emily yang terkadang manja.

"Butuh bantuan?" Duduk disampingnya seraya mengelus kepala Emi lembut.

"Tidak, aku akan mengatakan pada Mama jika ada yang tidak ku mengerti." Dian mengiyakan dengan tersenyum.

"Dimana Lily?" Baru menyadari hanya ada Emi disana.

"Ruang seni."

"Kalau begitu Mama menyusul Lily dulu." Emilio mengangguk.

Ruang seni merupakan salah satu tempat khusus yang disediakan Dian untuk Lily. Putrinya itu memiliki bakat dalam hal melukis serta bermain piano, bahkan gadis kecil itu selalu membawa buku gambarnya kemana-mana. Namun, satu hal yang selalu membuat Dian sedih. Lily begitu gemar melukis maupun menggambar sosok papanya.

Seperti sekarang, ketika ia masuk, ia sudah disuguhi pemandangan Lily yang memegang kuas dan kanvas. Gadis itu nampak serius melukis setiap detail wajah sang papa.

Dian tak pernah melarang anak-anaknya dalam mengenali papa mereka. Ia tidak ingin egois sehingga anak-anaknya tidak tahu papa mereka sendiri. Tak ingin mengganggu, Dian hanya mengitari ruang seni hingga ia berhenti di depan sebuah figura besar. Figura yang menampilkan sepasang wanita dan pria yang mengenakan pakaian pengantin.

Dian tersenyum. Sudah tujuh tahun, apa yang pria ini lakukan sekarang? Apa masih mengingat dirinya?

Aku menyimpan foto ini untuk Emily dan Emilio, agar mereka yakin jika mereka memiliki papa.

"Mama! Lihat ini." Lily dengan senang menunjukkan lukisan barunya. Dian sedikit terkejut dengan lukisan Lily kali ini.

"Lily ... apa yang kau gambar?" Pasalnya putrinya itu melukis dirinya, Nico, bahkan dirinya sendiri serta Emilio layaknya keluarga bahagia.

Melihat raut wajah ibunya yang berbeda, Lily menunduk takut. Ia hanya ingin memiliki keluarga lengkap meski hanya dalam sebuah lukisan. Ia tahu jika keinginan itu takkan terwujud, tapi tak ada salahnya bermimpi, kan?

"Maaf, Mama," cicitnya menyesal.

Dian menarik nafas pelan, mengatur emosinya agar tidak membuat Lily takut. Ia bukan lagi gadis remaja yang bisa melepaskan emosinya sembarangan, tapi ia seorang ibu yang harus sabar mendidik anak-anaknya.

"No. It's okay. Lukisan Lily sangat bagus, Mama suka!"

Lily yang menunduk langsung tersenyum cerah. "Sungguh?" Dian mengangguk.

"Ini hanya akan menjadi rahasia kita saja, Mama. Kita harus selalu bahagia dengan cara masing-masing."

Lily selalu mencoba mengingat apa yang diajarkan Dian, termasuk bahagia dengan cara masing-masing. Ia tidak akan merusak kebahagiaan sang papa hanya karena dirinya menginginkan orang tua lengkap. Lily yang manja namun pengertian.

"Mama tidak boleh sedih ya meski tidak ada papa. Kan sudah ada kakak dan Lily yang mencintai Mama." Lily tahu jika Dian sering menyembunyikan kesedihannya, berpura-pura bahagia di depan mereka.

Dian tak sanggup menahan diri. Air matanya mengalir pelan namun bibirnya tetap melengkungkan senyuman untuk sang buah hati. "Itu sebabnya Lily juga tidak boleh sedih. Bukankah ada kakak dan Mama yang mencintai Lily juga?" Lily tersenyum lebar dan memeluk Dian erat.

"Benar. Tidak apa-apa tidak ada papa. Kan sudah ada Mama." Suara bocah laki-laki menyahuti keduanya. Dian terkekeh dan membawa Emi ikut kepelukannya.

Terima kasih telah mengirimkan malaikat kecil ini padaku.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

anak yang patuh

2025-02-28

0

Nana

Nana

cara mendidik ank yg bagus....kita bahagia dengan cara kita sendiri....ceritanya bagus...aku suka

2025-01-29

1

pipi gemoy

pipi gemoy

mampir Thor

2024-07-24

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Flashback : Awal Mula
3 Sudah Ada Mama
4 Bahagia?
5 Penyesalan yang Terlambat
6 Menjadi Orang Asing
7 Flashback : Sepenting Itukah Sebuah Status?
8 Flashback : Menderita Sendirian
9 Sedikit Harapan
10 Harta Bukan Segalanya
11 Perbedaan Kasta
12 Yang Tersisa dari Dian
13 Mama Dian
14 Perasaan Akrab
15 Takdir Bukanlah Kebetulan
16 Tujuan Akhir adalah Bahagia
17 Flashback : Akan Ku Coba
18 Emilio
19 Ketemu!!
20 Flashback : Tujuanku, Semangat ku, Hidupku, Anakku.
21 Sederhana, Namun Berharga
22 Ikatan Batin
23 Jangan Ambil Dia!
24 Sifat Asli yang Tersembunyi
25 Bukan Akhir, tapi Baru Dimulai
26 Gangguan Kecemasan
27 Menyesali Keputusan
28 Dian Berbeda
29 Biarkan Aku Pulang!
30 Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
31 Kehangatan yang Begitu Nyata
32 Pertunjukan Menarik
33 Kau Istriku, Bukan Ja*langku!
34 Maaf ....
35 Satu Sisi yang Berbeda
36 Flashback : Bukan Anak Haram
37 Flashback: Neraka
38 Luka yang Tak Dapat Sembuh
39 Histerektomi
40 Apapun Alasannya
41 Sudah Berbeda
42 Kenalan Lama
43 Saat itu ....
44 Saatnya Bebas
45 Terungkap
46 Bagian dari Rencana
47 Fakta Lain
48 Tidak Apa-apa
49 Rico
50 Memulai Kembali
51 Ricard
52 Neraka (2)
53 Singkat, namun Membekas
54 Stok Kesabaran
55 Kalau Begitu Lihat
56 Kegelapan Lain
57 Mama Tidak Jahat
58 Kedatangan Rea
59 Gangguan Kepribadian
60 Johan
61 Tidak Bernafas
62 Ruang Seni
63 Ruang Seni (2)
64 Bersama Mama
65 Bertemu Johan
66 Keputusan Rico
67 Mengakui
68 Gadis Kecil Mama
69 Salah Waktu
70 Melakukannya dengan Benar— Sekali Lagi (End)
71 Extra Part
72 NOVEL BARU
73 P
74 Miss. Rich (new)
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Prolog
2
Flashback : Awal Mula
3
Sudah Ada Mama
4
Bahagia?
5
Penyesalan yang Terlambat
6
Menjadi Orang Asing
7
Flashback : Sepenting Itukah Sebuah Status?
8
Flashback : Menderita Sendirian
9
Sedikit Harapan
10
Harta Bukan Segalanya
11
Perbedaan Kasta
12
Yang Tersisa dari Dian
13
Mama Dian
14
Perasaan Akrab
15
Takdir Bukanlah Kebetulan
16
Tujuan Akhir adalah Bahagia
17
Flashback : Akan Ku Coba
18
Emilio
19
Ketemu!!
20
Flashback : Tujuanku, Semangat ku, Hidupku, Anakku.
21
Sederhana, Namun Berharga
22
Ikatan Batin
23
Jangan Ambil Dia!
24
Sifat Asli yang Tersembunyi
25
Bukan Akhir, tapi Baru Dimulai
26
Gangguan Kecemasan
27
Menyesali Keputusan
28
Dian Berbeda
29
Biarkan Aku Pulang!
30
Kesempatan Tidak Datang Dua Kali
31
Kehangatan yang Begitu Nyata
32
Pertunjukan Menarik
33
Kau Istriku, Bukan Ja*langku!
34
Maaf ....
35
Satu Sisi yang Berbeda
36
Flashback : Bukan Anak Haram
37
Flashback: Neraka
38
Luka yang Tak Dapat Sembuh
39
Histerektomi
40
Apapun Alasannya
41
Sudah Berbeda
42
Kenalan Lama
43
Saat itu ....
44
Saatnya Bebas
45
Terungkap
46
Bagian dari Rencana
47
Fakta Lain
48
Tidak Apa-apa
49
Rico
50
Memulai Kembali
51
Ricard
52
Neraka (2)
53
Singkat, namun Membekas
54
Stok Kesabaran
55
Kalau Begitu Lihat
56
Kegelapan Lain
57
Mama Tidak Jahat
58
Kedatangan Rea
59
Gangguan Kepribadian
60
Johan
61
Tidak Bernafas
62
Ruang Seni
63
Ruang Seni (2)
64
Bersama Mama
65
Bertemu Johan
66
Keputusan Rico
67
Mengakui
68
Gadis Kecil Mama
69
Salah Waktu
70
Melakukannya dengan Benar— Sekali Lagi (End)
71
Extra Part
72
NOVEL BARU
73
P
74
Miss. Rich (new)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!