19

Tentu saja Dylan merasa bingung entah kenapa Teri tiba-tiba saja bersikap dingin padanya, matanya yang biasanya memancarkan kehangatan untuk pertama kalinya dirinya melihat ada yang aneh pada diri Teri.

"Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Jika aku memang ada berbuat salah pada mu katakan saja, tidak perlu kita bersikap seperti kucing dan tikus seperti ini!" pekik Dylan.

"Kucing dan tikus?" tanya Teri mengulang ucapan dari Dylan.

Mata mereka saling bertemu, tatapan mereka begitu tajam memancarkan auranya masing-masing, hingga sebuah suara yang begitu kecil membuat mereka langsung tersadar.

"Dylan?"

Iris datang bersama dengan beberapa pelayan yang ada dibelakangnya melihat itu wajah Teri langsung memancarkan ketidak sukaan saat melihat, Iris yang sudah datang bersama dengan beberapa pelayan yang menemaninya, melihat itu dirinya bisa menebak bahwa selama ini Iris pasti sudah dimanjakan oleh pihak kerajaan seperti layaknya seorang putri.

"Dylan apa kau sudah selesai berbicara dengan Yang Mulia?" tanya Iris tanpa mau memperdulikan Teri di sana.

Wajah Dylan yang tadi terlihat kusut berbuah ceria saat dirinya dihadapan dengan Iris, melihat reaksi Dylan Teri langsung tau bahwa selama ini kehadirannya tidak terlalu diharapkan, mengetahui itu membuat dirinya seketika merasa kesal.

Menyebalkan.

"Jika tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, maka saya akan mengundurkan diri Pangeran," ucap Teri yang langsung memutuskan pembicaraan mereka.

Teri langsung menundukkan kepalanya saat dirinya ingin pamit pergi dari hadapan Iris dan juga Dylan.

"Akan ku antar kau sampai depan," ucap Dylan pada Teri.

Dengan tersenyum tipis, Teri dengan lembut menolak tawaran dari Dylan, "Tidak perlu Pangeran saya bisa pergi sendiri silahkan anda lanjutkan pembicaraan anda dengan nona Kalika!" ucap Teri yang langsung pergi dari hadapan Dylan dan juga Iris.

Setelah kepergian dari Teri tiba-tiba saja ruang kerja Kaisar terbuka, Ratnar muncul dari dalam ruangannya bersama dengan sekretarisnya yang juga ikut bersamanya.

Wajah Ratnar nampak terkejut saat melihat ada Dylan serta Iris yang sedang berdiri didekat ruang kerjanya.

"Selamat sia-,"

"Di mana Nona Ronan?" tanya Ratnar memotong salam dari Iris.

"Nona Ronan sudah kembali Yang Mulia," jawab Dylan yang sedang menundukkan kepalanya.

"Owh begitu..." Jawab Ratnar yang langsung menorehkan matanya pada beberapa pelayan yang berdiri dibelakang Iris.

"Cih..."

Deg!

Walau terdengar begitu kecil namun umpat itu bisa terdengar jelas oleh mereka, apa lagi saat mereka menyadari bahwa Ratnar secara terang-terangan menunjukan ketidak sukanya pada Iris yang begitu dekat dengan Dylan.

Setelah Ratnar pergi, Iris dan Dylan kembali berdiri tegak, wajah mereka nampak lega saat Ratnar sudah pergi jauh dari hadapan mereka.

"Astaga walaupun sudah berapa kali bertemu dengan beliau tetap saja, wibawa beliau begitu tajam hingga aku sendiri tidak berani untuk angkat bicara," ucap Iris.

Dylan hanya tersenyum mendengar ucapan dari Iris, pembicaraannya tadi dengan Teri masih belum selesai, apa dirinya pergi saja ke kediaman Keluarga Ronan besok?

...~*~...

Besok harinya di kediaman kelurga Ronan, beberapa pelayan dari kelurga Ronan nampak sibuk saat mereka membawakan beberapa hadiah untuk Teri pakai di acara pembentukan negara nanti.

Semuanya nampak mewah terbungkus dengan rapi, dari yang kecil hingga yang besar semuanya merupakan pemberian dari keluarga Kaisar.

Teri yang baru saja bangun dari tidurnya, langsung berdesis tidak suka saat melihat begitu banyak kotak hadiah yang telah berjejer rapi di kamarnya.

"Nona, ini semua adalah pemberian dari Yang Mulia Pangeran, karena menurut Pangeran semua gaunnya terlihat cantik, makanya beliau membeli semua gaun ini dari butik yang terkenal di Ibu kota."

Mendengar penjelasan dari pelayannya bukannya terlihat senang Teri malah menatap datar ke arah kotak hadiah itu.

"Terserah kalian saja mau kalian apakan hadiah itu, apa air untuk ku mandi sudah kalian siapkan?" tanya Teri yang nampak tidak peduli dengan hadiah pemberian Dylan.

"Sudah kami siapkan Nona, namun ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan pada anda."

"Apa?"

"Itu... Datangnya hadiah ini bersamaan dengan hadirnya Pangeran yang ingin bertemu dengan anda."

"Apa?" pekik Teri yang langsung membesarkan kedua matanya.

"Kenapa dia datang pagi-pagi seperti ini? ditambah dia datang tanpa memberi kabar?" pekik Teri yang langsung menutup sebelah wajahnya karena merasa kesal.

"Agh... Rita!" panggil Teri.

"Iya Nona."

"Persiapkan semuanya aku akan bertemu dengan Pangeran sekarang!" perintah Teri.

"Baik Nona."

...~*~...

Di ruang tamu, Dylan yang begitu lama menunggu kehadiran Teri langsung menolehkan kepalanya, saat melihat Teri yang baru saja tiba di ruang tamu setelah dirinya telah selesai bersiap.

"Maaf sudah membuat anda menunggu lama Pangeran," ucap Teri sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak Apa-apa."

Teri langsung mengambil posisi duduk dihadapan Dylan yang masih menatap dirinya, "Jadi ada tujuan apa anda datang ke sini Pangeran?" tanya Teri sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.

"Silahkan diminum Pangeran," ucap Teri memberikan secangkir teh pada Dylan.

"Terima kasih nona Ronan," jawab Dylan yang langsung menerima gelas cangkir itu.

Lama Teri menunggu Dylan selesai meminum tehnya, dengan matanya yang terus menatap ke arah Dylan.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mu Nona Ronan!."

"Ya Pangeran, tanyakan saja?"

"Kenapa? Akhir-akhir ini kau tidak pernah lagi mendatangi ku?" tanya Dylan dengan matanya yang langsung menatap tajam wajah Teri.

Teri terdiam cukup lama mendengar ucapan dari Dylan, wajahnya yang terlihat datar itu nampak biasa saja saat Dylan secara terang-terangan menatap dirinya dengan tajam.

"Apa maksud ucapan mu kemarin? Kenapa kau langsung pergi disaat pembicaraan kita belum selesai?" tanya Dylan.

"Memang apa lagi yang perlu kita bicarakan Pangeran?" tanya Teri.

"Bukankah anda sendiri sudah tau apa yang membuat saya memilih untuk menjauhi anda!"

"Apa kau cemburu dengan Nona Kalika?" tanya Dylan langsung.

Teri langsung mengepalkan kedua tangannya menahan kesal, "Cemburu? Ha... Nilai saja sesuka hati anda Pangeran."

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan tentang hubungan ku dengan Nona Kalika, aku dan dia memang sudah lama kenal bahkan dari kami kecil, maka dari itu tidak heran jika banyak orang yang menilai kita ini mirip seperti sepasang kekasih."

"Begitu? Jika memang seperti itu baguslah, namun untuk kedepannya bisa kah anda membatasi pertemanan anda dengan Nona Kalika?"

"Apa? Kenapa aku harus membatasi pertemanan ku?" tanya Dylan bingung.

Teri langsung menggelengkan kepalanya, "Saya bukan bermaksud untuk membatasi pertemanan anda Pangeran, saya hanya ingin meminta agar anda membatasi pertemanan anda dengan Nona Kalika," pita Teri.

"Mengingat saat ini banyak pasang mata yang melirik ke arah kita, apa lagi saat ini hubungan kita sedang dalam masa pertunangan," tambah Teri.

Mendengar ucapan Teri, Dylan langsung terdiam dengan pikiran yang kemana-mana, "Saya berkata seperti ini bukan karena saya melarang anda pertemanan dengan Nona Kalika Pangeran, tapi saya perkata seperti ini agar nama baik kelurga kita tetap terjaga dari gosip-gosip yang tidak jelas."

"Aku mengerti, baiklah kalo begitu aku akan pergi."

Dylan langsung berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Teri yang ikut berdiri, "Apa anda akan pergi sekarang?" tanya Teri.

"Ya," jawab Dylan cepat.

Mereka berdua keluar dari ruang tamu secara bersamaan, selama perjalan banyak dari para pelayan ataupun orang-orang yang menemani Dylan, mengikuti mereka dari belakang.

"Nona Ronan!" Panggil Dylan tiba-tiba.

"Ya... Pangeran."

Langkah Dylan langsung terhenti saat dirinya ingin masuk ke dalam kereta kuda, "Apa kau besok ada waktu?" tanya Dylan pada Teri.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!