16

Sejak kejadian kemarin membuat Dylan serta Teri menjadi bahan perhatian, bahkan banyak dari para bangsawan yang mendukung mereka untuk bisa dijadikan pasangan suami istri.

Tepat 3 hari setelah perlombaan berburu itu dilaksanakan kedua orang tua Teri serta dirinya diundang ke istana untuk membicarakan masalah ini pada kelurga kekaisaran.

"Apa kabar Tuan Duke?" sapa kepala pelayan istana pada Regis.

"Kabar saya baik Tuan Duke Vergette," Sapa Regis pada Kepala pelayan Istana.

"Lalu ada di mana Yang Mulia sekarang?" tanya Regis.

"Beliau ada di ruangannya silahkan anda ikuti saya, saya akan mengantar anda semua ke sana."

"Terima kasih Tuan Duke," balas Luna.

Mereka kembali berjalan menuju ruang kerja kaisar, sepanjang lorong menuju ruang kerja Kaisar, Teri hanya bisa diam dengan matanya yang tidak pernah lepas melirik ke sekitanya, Karpet berwana merah yang terbentang secara luas sepanjang jalan, serta lukisan para leluhur yang dipajang sepanjang lorong, tempat itu membuat tempat ini menjadi sangat elegan serta menjadi tempat yang sangat menakutkan bagi Teri yang melihatnya.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja Kaisar, kepala pengurus istana langsung mengetuk pintu ruang kerja kaisar, memberitahukan bahwa kelurga Teri serta dirinya telah sampai.

"Suruh mereka masuk."

"Baik Yang Mulia," jawabnya pada kaisar Homounculus.

"Tuan Duke, silahkan kalian masuk."

"Baik, terima kasih sudah mau melayani kami, Tuan Duke."

"Sama-sama Tuan Duke Ronan."

Setelah kepergian dari kepala pengurus istana, kelurga Teri serta dirinya langsung masuk ke dalam ruang kerja Kaisar, di dalam sana sudah ada Ragnar dan juga Dylan yang saling berhadapan.

"Selamat datang Tuan Duke dan Nyonya Dueheses."

"Selamat siang Yang Mulia," sapa Regis sambil menundukkan kepalanya.

Teri serta Luna pun ikut menundukkan kepalanya, saat berhadapan dengan Regis dan juga Dylan.

"Silahkan duduk."

"Terima kasih Yang Mulia."

Tanpa menolak Regis langsung duduk di sofa yang ada di sana diikuti oleh Teri dan juga Luna setelah itu.

"Kau juga pangeran silahkan ikut duduk di sana."

"Baik Yang Mulia."

Tanpa membantah Dylan langsung ikut duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Teri mata mereka saling bertemu disaat tidak sengaja Teri menatap Dylan saat dia ingin duduk.

"Saya senang jika anda menerima dengan cepat undangan yang sudah saya berikan Tuan Duke."

"Apa pun itu, jika dari anda kami pasti akan senang menerimanya Yang Mulia," balas Regis tersenyum.

"Benarkah?"

Ragnar langsung tertawa dengan keras saat mendengar jawaban dari Regis, dirinya langsung berjalan menuju sofa untuk ikut duduk di samping Dylan.

"Seperti yang sudah kau tau Tuan Duke, semenjak acara berburu itu selesai banyak gosip yang tersebar tentang hubungan tentang anak kita."

"Iya Yang Mulia, saya tau tentang rumor itu."

Ragnar langsung tersenyum menatap ke arah Regis, "Menurutmu bagaimana masalah ini agar cepat selesai?" tanya Ragnar.

"Iya? Ah... Mungkin saya akan bilang pada putri saya untuk sementara waktu menunda beberapa undangan yang datang di kediaman kami."

"Kau akan melakukan itu?" tanya Ragnar memastikan.

"Iya, Yang Mulia."

"Hm... Apa... Kau merasa terbebani dengan gosip ini?" tanya Ragnar.

"Iya?"

Mulut Regis seketika menjadi kaku, saat Ragnar secara jelas menunjukan ketidak sukaan saat mendengar ucapan dari Regis.

"Jika kau menginginkan masalah ini selesai begitu saja, maka itu berbeda dengan pendapatku yang ingin hubungan ini dipublikasikan," ucap Ragnar dengan santai sambil mengambil segelas cangkir teh yang ada di atas meja.

Mendengar ucapan dari Ragnar kedua orang tua Teri serta dirinya langsung terdiam, bahkan Teri yang saat itu masih berusia 8 Tahun pun sudah tau arah pembicaraan ini.

"Apa maksud Yang Mulia?" tanya Regis hati-hati.

"Apa lagi, apa perlu aku perjelas, aku ingin anak kita dijodohkan apa lagi saat ini banyak gosip yang beredar bahwa mereka merupakan pasangan yang cocok."

Deg!

Aku seperti ingin muntah

Wajah Teri terlihat pucat dirinya seperti ingin keluar dari ruangan ini secepat mungkin, karena sudah tidak tahan dengan topik pembicaraan ini.

"Melihat mereka berdua yang kemarin sama-sama hilang dan dipertemukan kembali secara bersaman aku sudah sangat yakin bahwa mereka berdua begitu cocok, pemikiran ku tidak salah kan Tuan Duke?" tanya Ragnar tersenyum.

Mau Regis ataupun Luna mereka berdua sama-sama diam mendengar ucapan dari Ragnar, diwaktu bersamaan pula Dylan semakin tajam menatap wajah Teri yang terlihat semakin pucat.

"Yang Mulia!" Panggil Dylan pada ayahnya.

"Iya Pangeran."

"Bolehkah saya membawa Nona Ronan keluar? ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengannya."

"Hmm...," Mata Ragnar langsung menoleh ke arah Teri yang juga sedang menatap wajah Dylan, melihat itu senyum tipis langsung terbit dibibir Ragnar.

"Baiklah, kau boleh membawa Nona Ronan pergi," ucap Ragnar sambil tersenyum lebar.

"Baik Yang Mulia."

Dengan penuh kehati-hatian Dylan langsung membawa Teri pergi dari ruang kerja Kaisar, tentu saja mendapatkan perilaku istimewa itu dari seorang Pangeran Teri tidak akan menolaknya.

Dilain sisi lain disaat Teri dan Dylan keluar dari ruang kerja kaisar, Ragnar kembali menolehkan kepalanya ke arah Regis dan juga Luna.

"Kalian liat itu, bukankah mereka begitu dekat jika ingin dibilang sebagai teman?" tanya Ragnar tersenyum.

"Dari pada muncul gosip baru yang tidak-tidak lebih baik kita jodohkan saja mereka!"

Mendengar ucapan dari Ragnar mau itu Regis ataupun Luna mereka sama-sama diam, karena mereka tidak tau tahu harus menjawab apa.

...~*~...

Di luar kerja Kaisar Dylan yang berhasil membawa Teri keluar dari ruangannya, dengan cepat dia melepas tangan Dylan yang saat itu masih menggenggam tangannya.

"Maaf Pangeran, saya ingin ke toilet sebentar," ucap Teri yang langsung berlari meninggalkan Dylan di sana.

Melihat Teri yang sudah berlari meninggalkan dirinya, membuat Dylan sedikit terpaku dengan sikap Teri barusan, telapak tangan yang tadi saling bersentuhan berubah jadi dingin saat Teri melepaskan genggamannya.

Rasanya begitu hampa

...~*~...

Di dalam toilet Teri melap mulutnya secara kasar dihadapan cermin yang ada dihapannya, dirinya tidak menyangka bahwa Kaisar di kerjaannya ingin menikahi dirinya dengan putranya sendiri.

Sulit untuk dipercaya.

Teri menatap datar ke arah depan, harapannya untuk hidup bebas semakin jauh dia gapai jika Kaisar mereka pun berkeinginan untuk menikahi anaknya dan dirinya.

Lantas bagaimana dengan impian yang selama ini sudah dia buat, mau bagaimana pun caranya dirinya harus bisa mencari cara agar bisa terbebas dari situasi ini.

"Aku harus kembali, Pangeran pasti sudah lama menunggu."

Brak!

Pintu toilet terbuka, wajah Teri langsung dibuat kaget saat melihat Dylan yang sudah berdiri di samping pintu toilet untuk menunggunya keluar.

"Pangeran!"

"Kau sudah selesai?" tanya Dylan menatap tajam ke arah Teri.

"Iya," jawab Teri yang kembali menunduk.

"Baguslah kalo begitu, ayo kita pergi," ajak Dylan.

"Tunggu Pangeran!" pekik Teri yang langsung menahan lengan Dylan.

"Apa ada masalah lagi?"

"Ah... Itu Pangeran... Apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Teri hati-hati.

"Ya... Kau ingin tanya apa?"

Teri napak ragu untuk mengatakannya pada Dylan, "Apa anda serius dengan perjodohan ini?" tanya Teri hati-hati.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!