11

Sejak kejadian di cafe itu, Rita serta ketiga temannya menjadi berteman baik tanpa mereka sadari.

Bahkan dirinya sendiri pun masih tidak percaya bahwa Rita akan menjadi temannya, setelah mereka mempermalukan dirinya dihadapan banyak orang.

"Teri!"

"Iya?"

"Ibu kira kau hanya becanda saat mengatakan ingin berubah, namun setelah melihat aksi mu tadi, ibu jadi sadar bahwa ucapan mu untuk berubah bukan sekedar omong kosong."

"Ibu sangat bangga dengan dirimu sekarang Teri," ucap Luna sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih ibu," balas Ana yang juga ikut tersenyum.

...~*~...

Malam harinya Ana kembali berjualan di festival yang masih diselenggarakan, hari ini jualan yang dipamerkan agak lumayan banyak karena target dia saat ini adalah anak-anak yang gemar sekali makanan manis.

"Wah... Ibu liat! lucu sekali aku mau!"

"Apa?"

"Silahkan dibeli bu, harganya cuman 1 perak saja!" seru Ana pada ibu itu.

"Ibu aku mau! Liat bu! aku mau yang ini!"

"Astaga kau ini, baiklah kita beli."

"Tolong bungkus yang ini satu."

"Baik!"

Ana dengan senang hati langsung membungkus cake itu ke dalam sebuah wadah, dan langsung memberikannya pada anak gadis itu dengan ceria.

"Terima kasih, silahkan datang lagi."

Tak lama dari itu, banyak para warga yang penasaran dengan cake yang dijual Ana, kali ini Ana menjual korean cake dimana, cake-cake itu dia hias dengan bentuk dari wajah-wajah para binatang, membuat orang-orang yang melihatnya jadi ingin beli.

"Astaga lucu sekali!"

"Anda ingin belinya? Harganya hanya 1 perak," ucap Ana menawarkan.

"Benarkah? Tolong bungkus kan yang bentuk panda ini!"

"Baiklah," balas Ana dengan senang hati.

"Astaga apa ini? Bentuknya lucu sekali!"

Waktu terus berjalan, cake yang tadinya terlihat banyak, lama-kelamaan mulai menipis, bahkan ada beberapa anak yang menangis karena tidak kedapatan cake yang dia mau.

"Maaf ya adik kecil, cakenya sudah habis."

"Tapi aku mau! kenapa cepat sekali habisnya!"

"Maaf sekali dek, besok datanglah lebih awal agar kau bisa cepat kebagian," balas Ana dengan ramah.

"Kalo begitu aku pesan saja!"

"Ya?" mata Ana langsung terbuka lebar mendengar ucapan dari anak itu.

"Aku pesan yang paling besar, dan paling istimewa, ini aku bayar duluan."

Tak!

Mata Ana langsung terbuka lebar, saat anak kecil itu memberikan satu koin emas pada dirinya, melihat koin itu Ana sama sekali tidak bisa berkedip.

"Nak ini terlalu banyak," balas Ana tersenyum.

"Aku sengaja memberikannya, agar kau membuatkan ku cake, yang berbeda dari yang lain," ucapnya dengan percaya diri.

"Ah..."

Mendengar itu Ana langsung tersenyum lebar, "Baiklah kalo begitu, aku akan membuatkan mu cake yang berbeda dari yang lain."

Wajah anak itu langsung tersenyum, begitu juga dengan Ana, "Nak, kau harus menunggu cake itu besok, Ingat! kau tidak boleh terlambat."

"Baik!"

Setelah berkata seperti itu, Ana serta Anak itu berpisah, ketika beberapa pria dewasa telah datang untuk menjemputnya.

"Sampai jumpa lagi ka," serunya melambaikan tangan ke arah Ana

"Iya," balas Ana yang juga ikut melambaikan tangan.

"Sepertinya dia anak orang kaya."

...~*~...

Setelah Ana telah selesai menyusun kembali barang dagangannya, dirinya pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang begitu senang.

"Ayah... Ibu... Aku pulang!" pekik Ana setelah dirinya turun dari kereta kuda.

"Terima kasih paman," ucap Ana pada kusir yang telah mengantarnya pulang.

"Ayah... Ibu..."

Brak!

Dengan susah payah, Ana membuka pintu rumahnya, dengan cara ditendang dikarenakan kedua tangannya sedang sibuk membawa sisa dagangnya.

"Ayah... ibu... Liat sa-"

Deg!

Mata Ana langsung terbuka lebar saat dirinya melihat ada sosok pria tampan sendang duduk di sofa milik keluarganya.

Brak!

Regis dan Luna langsung memejamkan mata mereka, saat Ana dengan wajah datar langsung melepas semua barang bawaannya ke lantai.

"Kenapa... Anda ada di sini Pangeran?" tanya Ana dengan mata yang menatap tajam wajah Dylan.

"Nak, sebaiknya kau masuk ke dalam, Pangeran ke sini hanya ingin berbicara dengan ayah," ucap Regis kepada Ana.

"Begitu Kah? Kalo begitu berbicaralah, maaf saya sudah tidak sopan menganggu pembicaraan kalian."

Setelah berkata seperti itu, Ana dengan cepat kembali merapikan barang miliknya yang tadi berjatuhan ke lantai.

Tanpa mau berbicara dengan Dylan, Ana langsung masuk ke dalam rumahnya sambil membawa barang dagangannya.

Brak!

Regis dan Luna kembali menutup mata mereka, saat mendengar ada barang yang sengaja dilempar asal oleh Ana.

"Yang Mulia, tolong maafkan kelakuan anak kami."

"Iya... Tidak masalah."

Dia terlihat tidak suka saat menatap ku tadi.

"Jadi Pangeran, ada urusan apa anda datang ke sini?" tanya Regis dengan pelan.

"Ah... Soal itu, aku dengar akhir-akhir ini Teri membuka usaha cake, apa itu benar?" tanya Dylan.

Regis dan Luna langsung saling lirik mendengar ucapan dari Dylan, "soal itu, dari mana anda tau Pangeran?" tanya Regis penasaran.

"Kebetulan salah satu pelayan di Istana ada yang mengenal Teri, dan kebetulan juga dirinya tau bahwa yang menjual cake itu adalah Nona Ronan, maka dari itu saya datang ke sini untuk memastikan sendiri apakah benar yang berjualan itu Nona Ronan?"

"Jujur saya sangat penasaran dengan Cake yang dibuat oleh Nona Ronan, maka dari itu saya menyuruh pelayan tadi untuk kembali membeli cake yang telah dijual oleh Nona Ronan."

"Namun disaat dia ingin beli cake itu, cake itu ternyata sudah habis terjual, karena alasan itulah aku datang ke sini untuk meminta secara langsung apakah Nona Ronan mau membuatkan satu cake untuk saya?"

"A... Apa... Pa...Pangeran rela datang ke sini, ke wilayah timur hanya untuk... memastikan?" tanya Luna tak percaya.

"Pa... Padahal anda bisa saja menyuruh seseorang, untuk datang ke sini," kekeh Luna tersenyum.

Memang sulit dipercaya pangeran Homounculus yang telah membuang mereka ke tempat pinggiran seperti ini, kini kembali datang menemui mereka dengan alasan penasaran.

"Apa... Permintaan ku ini begitu sulit bagi kalian?" tanya Dylan, Ana dan Regis dengan cepat langsung menggelengkan kepala mereka.

"Tidak Pangeran bukan seperti itu maksud kami," jawab Regis dengan cepat.

"Baiklah Pangeran, tunggulah sebentar saya akan membawakan cake buatan Teri jika pun masih ada," ucap Luna dengan sopan.

"Iya, aku akan menunggu di sini."

Luna pun langsung beranjak dari hadapan Dylan serta Regis, saat dirinya sudah tiba di dapur Luna langsung tersenyum saat melihat Ana yang masih ada di sana.

"Sayang."

"Ibu? Bagaimana apa Pangeran sudah kembali?"

"Ah... Itu... Dia belum kembali," jawab Luna yang membuat Ana langsung membesarkan kedua matanya.

"Kenapa sih dia ada di sini?" pekik Ana yang membuat Luna menjadi panik.

"Sayang kecilkan suara mu, bagaimana jika nanti Pangeran mendengarnya?"

"Biarkan saja," jawab Ana dengan santai, "Lagian aku juga tidak mengharapkan dia ada," tambah Ana yang langsung melipat kedua tangannya didepan dada.

"Astaga."

"Apa aku bisa berbicara dengan Teri berdua?"

Deg!

Mati Ana dan Luna langsung terbuka lebar saat melihat Dylan yang sudah berdiri tegak di depan pintu dapur.

"Pangeran?"

"Apa Nyonya Baroness mengizinkan saya untuk berbicara berdua dengan putri anda?"

"Ah..." Mata Luna langsung melirik ke arah Ana.

"Te...Tentu saja Pangeran," jawab Luna yang langsung dicegah oleh Ana.

"Ibu..."

"Ibu akan menunggu mu diluar," jawab Luna yang langsung melepaskan pegangan Ana dari lengannya.

Luna pun langsung menundukkan kepalanya sebelum dia pergi dari berhadapan Dylan, setelah Luna pergi Dylan pun kembali menoleh ke arah Ana, dimana Ana sedang menatapnya dengan datar.

"Apa yang anda mau Pangeran?" Tanya Ana langsung.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!