12

Ana tak ingin berada terlalu lama bersama dengan Dylan, dirinya ingin secepat mungkin untuk bisa berpisah dengan Dylan, yaitu orang yang sudah mengusir keluarga Teri dari Ibu kota.

"Apa mau anda Pangeran?" tanya Ana dengan mata yang memancarkan ketidak sukaan.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, apakah yang dikatakan banyak orang benar atau tidak?"

"Apa yang sudah dikatakan banyak orang?" tanya Ana bingung.

"Soal itu..."

Dylan melangkah lebih dekat ke arah Ana, membuat Ana dengan pelan memundurkan langkah kakinya ke belakang.

"Jangan mendekat!" ucap Ana pada Dylan.

Srek!

Mata Ana langsung terbuka lebar, disaat tangan Dylan tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya, yang membuat Ana dengan cepat langsung menahan tubuh Dylan yang ingin mencium bibirnya.

"Apa yang sudah anda lakukan Pangeran!" tanya Ana dengan mata yang menatap tajam wajah Dylan.

"Apa kau tak suka?" bisik Dylan, "Bukankah dulu kau sangat menyukai sifat ku yang seperti ini?" tanya Dylan.

Deg!

Jantung Ana langsung berdetak kencang disaat dirinya merasakan hembusan kasar dari bibir Dylan, matanya semakin melirik tajam wajah Dylan yang sedang memamerkan senyum remeh ke arahnya.

Apa dia sudah gila?

Brak!

Dengan posisi kepala yang menunduk, Ana langsung mendorong kuat tubuh Dylan untuk menjauh, mata mereka langsung melirik satu sama lain, memancarkan sebuah kebencian dari mata mereka.

"Pergilah Pangeran, saya sudah lelah dengan ini semua! Termasuk dengan anda!"

Deg!

Mata Dylan langsung terbuka lebar, mendengar ucapan Ana yang telah berani mengusir dirinya, seketika senyum tipis terbit dibibir Dylan.

"Apa aku tidak salah dengar?" kekeh Dylan.

"Kau yakin ingin mengusir ku? Bukankah dulu kau sangat memohon mohon untuk bisa dekat dengan ku?"

Ana langsung menatap datar ke arah Dylan, bahkan tangannya terkepal kuat menahan emosi saat Dylan dengan santainya memamerkan senyum liciknya.

"Mungkin saya dulu seperti itu, tapi tidak untuk sekarang!" balas Ana.

"Apa?"

"Saya sudah muak dengan ini semua! Saya bahkan tidak ingin lagi bertemu dengan anda Pangeran!" ketus Ana.

Dylan langsung terdiam dengan mata yang menatap tajam ke arah Ana, "Apa? Apa aku tidak salah dengar?"

Dengan cepat Ana langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak! Yang anda dengar itu tidak salah, saya memang sudah tidak ingin berhubungan dengan anda lagi, bahkan saya sangat berharap bahwa kita tidak akan bertemu lagi!"

"Kenapa? Apa kau sudah introspeksi diri? Dan kau mulai menyadari kesalahan mu?"

"Ya... Anggap saja seperti itu Karena... Saya sudah lelah, untuk terus memohon pada anda," ucap Ana dengan nada yang begitu berat.

"Maka dari itu... Saya mohon pada anda Pangeran, tolong jangan ganggu keluarga saya lagi, kami sudah nyaman tinggal dengan kehidupan seperti ini, mari kita saling melupakan satu salam lain, dan mencari kebahagiaan kita masing-masing."

Ana berucap dengan nada yang begitu serius, seketika bayangan Teri yang sering diabaikan oleh Dylan terlintas dikepalanya, Mata Ana langsung berkaca-kaca saat ingatan tentang Teri terlintas dikepanya, bahkan dirinya sendiri pun bisa melihat dengan jelas betapa kasarnya Dylan yang saat itu mendorong tubuh Teri dengan sangat kasar.

"Kejam," lirih Ana.

"Anda sangat kejam!"

Deg!

Ana berkata seperti itu, disaat Dylan sedang menatapnya dengan tajam, seketika tangannya langsung terkepal kuat, melihat Ana yang begitu jelas membencinya.

"Pergilah Pangeran, urusan saya dengan anda telah selesai, dan mulai sekarang saya akan melupakan anda, sampai kapan pun saya tidak akan lagi memohon pada anda."

"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Dylan.

"Karena... Saya... Sudah muak, dan sudah capek meminta belas kasih pada anda yang tidak pernah mau peduli dengan saya."

"Pergilah Pangeran, jika anda mencari Nona Teri yang dulu suka memohon pada anda, dia sudah tidak ada lagi, karena... Yang berdiri dihadapan anda sekarang bukalah Teri yang anda kenal dulu!" jawab Ana dengan tegas.

Setelah Ana berkata seperti itu, dirinya langsung membalikkan badan membelakangi Dylan, dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

"Aku tidak yakin dengan ucapan mu Teri! Aku yakin kau pasti menyembunyikan sesuatu yang bisa membuat orang lain terluka benar kan?" Tanya Dylan, mendengar ucapan Dylan Ana dengan cepat langsung menatap datar wajah Dylan.

"Terserah anda mau menilai seperti apa diri saya ini, yang pasti saya berharap bahwa ini adalah pertemuan terakhir kita, Pangeran!" ucap Ana dengan tegas.

Mendengar itu Dylan semakin dibuat emosi dengan perkataan Ana, tangannya langsung terkepal kuat saat Ana membelakangi tubuhnya.

"Aku akan terus mengawasi mu Teri, kau... Tidak akan aku biarkan begitu saja, kau camkan itu!" ucapnya yang langsung pergi meninggalkan Ana.

Setelah Dylan pergi, Ana pun langsung terduduk di lantai dengan posisi badan yang begitu lemas.

"Tolong jauhkan aku dari dia Tuhan."

...~*~...

Besok paginya Ana dibuat sibuk dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan, dari dia berbelanja ke pasar, membantu Luna membersihkan rumah, hingga kembali ke pekerjaannya yaitu membuat cake.

Tidak ada habisnya jika dirinya terus memikirkan Dylan, yang ada dirinya bisa makin tua karena kebanyakan beban pikiran, dari pada memikirkan Dylan, lebih baik dia fokus saja dalam membuat cake.

Kali ini cake yang akan dia buat sedikit istimewa, Karena cake ini adalah kali pertama dirinya buat selama ada di dunia ini, biasanya cake ini akan dia buat jika ada yang ulang tahun ataupun acara formal lainnya.

"Wah... Teri... Bagus sekali, ibu belum pernah melihat mu membuat cake sebesar ini," ucap Luna yang baru saja datang.

"Iya, ini produk baru karena ada seseorang anak yang kemarin memesan cake dengan harga yang cukup tinggi."

"Anak?"

Dengan posisi yang masih fokus menghias cake, Ana menganggukkan kepalanya, "Iya anak itu sepertinya, anak orang kaya karena saat aku ingin berpisah dengannya, ada seseorang pria yang menjemput anak itu."

"Benarkah? Wah.. Berati ini semua adalah keberuntungan mu nak."

Ana hanya tersenyum mendengar itu, tak terasa dekorasi cake yang sudah dia hias dengan susah payah, akhirnya selesai.

"Saya harap anak itu suka dengan cakenya."

"Tidak perlu diragukan lagi, anak itu pasti senang dengan hasil cake yang sudah kamu buat."

Ana langsung tersenyum mendengar ucapan dari Luna, setelah cake itu selesai, Ana kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.

Tok

Tok

Tok

Tiba-tiba saja pintu rumahnya berbunyi, Luna pun langsung beranjak dari hadapan Ana untuk mencari tau siapa yang telah bertamu di rumah mereka pagi-pagi seperti ini.

"Iya... Tunggu sebentar," ucap Luna sambil membuka pintu rumah.

Deg!

Mata Luna langsung terbuka lebar saat menyadari tamu yang telah berkunjung ke rumahnya adalah Dylan Pangeran di kerjaan Homounculus.

"Pangeran?" tanya Luna tak percaya.

"Apa Teri ada di dalam?" tanya Dylan langsung.

...~*~...

Di dapur Ana masih terlihat sibuk dalam meracik adonan cake yang ingin dia panggang, sampai-sampai Ana tidak sadar bahwa saat ini dirinya sedang di perhatian oleh Dylan dalam jarak yang cukup jauh.

"Anda bisa meninggalkan kami Nyonya Baroness."

"Baik Pangeran."

Setelah Luna pergi, Dylan kembali melangkahkan kakinya mendekati Ana yang nampak sibuk dengan pekerjaannya.

"Wow... Cake yang bagus."

Deg!

Mata Ana langsung terbuka lebar saat menyadari ada suara yang tidak asing didekatnya.

Dengan cepat Ana langsung menoleh kebelakang untuk mencari tau siapa yang ada dibelakangnya.

Deg!

Saat Ana tau bahwa dibelakangnya adalah Dylan, mata Ana langsung terbuka lebar memancarkan ketidak sukaan.

"Pangeran? Ada perlu apa lagi anda di sini?" tanya Ana tak suka.

"Menurut mu apa lagi? Tentu saja aku ingin melihat mu memasak sebuah cake," ucap Dylan dengan santai.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!