Ana tidak tau kenapa akhir-akhir ini sifat Dylan sedikit menyebalkan dari biasanya, dari dia yang sering berkunjung ke sini, hingga dirinya yang sering mengganggu Ana dalam bekerja.
"Katakan dengan jelas Pangeran, apa maksud anda berkunjung ke sini? Bukankah urusan kita sudah selesai kemarin?" tanya Ana.
Dylan hanya diam, dirinya dengan cuek langsung memegang beberapa alat masak milik Ana yang ada di atas meja.
"Sepertinya anda memiliki banyak sekali waktu luang ya Pangeran? Terlihat dari anda yang begitu santai menemui saya di sini."
Dylan hanya terkekeh mendengar ucapan dari Ana, "Begitulah" jawab Dylan apa adanya.
Ana kembali dibuat kesal dengan sifat Dylan yang terlihat acuh tak acuh, "Kembalilah Pangeran, saya tau saat ini anda memiliki banyak pekerjaan."
Senyum Dylan langsung luntur saat mendengar ucapan Ana yang seolah-olah menyuruh dirinya untuk pergi.
"Aku akan kembali, setelah kau..." tunjuk Dylan ke arah Ana, "Membuatkan ku cake yang paling enak," tambah Dylan sambil tersenyum.
"Saya... Tidak akan membuatkan cake untuk anda!" jawab Ana dengan tegas.
"Apa? Kenapa?"
"Bukankah jawabannya sudah jelas, Karena saya sangat membenci anda Pangeran!" jawab Ana dengan mata menatap tajam ke arah Dylan.
Ana langsung membalikkan badannya membelakangi Dylan, membuat Dylan seketika merasa kesal karena telah diabaikan oleh Ana.
"Pintu keluar tidak terkunci, silahkan anda keluar dari rumah saya Pangeran," ucap Ana sambil kembali fokus pada pekerjaannya.
"Dan saya berharap anda bisa menghargai privasi saya di sini, yang butuh ketenangan dalam bekerja," tambah Ana.
Melihat Ana yang terus mengabaikan dirinya membuat Dylan semakin dibuat kesal dengan sikap Ana, dirinya dengan emosi langsung membalikkan badannya membelakangi Ana, yang juga sedang membelakangi dirinya.
"Kau... Kau pasti akan menyesal telah mengabaikan ku!" tekan Dylan, yang langsung pergi dari hadapan Ana.
Melihat Dylan yang sudah beranjak pergi, membuat Ana bisa kembali bernafas lega, susah juga ternyata menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin dihadapan Dylan.
"Semoga ini pertemuan terakhir, aku sangat berharap agar tidak bertemu lagi dengannya," gumam Ana.
...~*~...
Malam telah tiba, Ana sudah tiba di tempat biasa dia menjual dagangan miliknya di Festival, wajah Ana nampak ceria saat mengetahui banyak sekali anak-anak yang sudah menunggu dirinya di sana.
"Selamat malam anak-anak," sapa Ana dengan ramah.
"Selamat malam juga Kakak," sapa mereka.
Ana hanya tersenyum mendengar ucapan dari anak-anak itu, dirinya dengan penuh kehati-hatian langsung mengeluarkan beberapa cake yang telah dia simpan ke dalam keranjang.
"Wah.... Kakak apa ini?" tanya salah satu anak di sana.
"Ini namanya super hero, kakak sengaja membuatnya agar kalian bisa kuat, seperti karakter yang sudah kakak buat."
"Super hero?" tanya mereka dengan bingung.
Ana langsung menganggukkan kepalanya, "Iya... Super hero itu adalah orang yang sangat kuat, begitu kuat hingga bisa membuat sebagian desa hancur karena kekuatannya."
"Wow..."
Ana merasa senang melihat tatapan penuh penasaran dari wajah anak-anak itu, "Apa... Kalian ingin mendengar sebuah cerita dari super hero ini?"
"Mau, mau mau mau!" jawab mereka serempak.
"Baiklah dengarkan Baik-baik kakak akan mulai bercerita."
Ana mulai menceritakan kisah super hero itu yang pernah dia tonton sewaktu berada di dunianya.
Waktu terus berjalan dan anak-anak masih setia mendengarkan cerita dari Ana, dari sedikitnya anak yang mendengarkan cerita tersebut, menjadi banyak yang ikut mendengarkan, wajah Ana terlihat bersemangat saat dia menceritakan kisah film yang pernah dia tonton.
Dari jauh sosok pria yang dari tadi menatap Ana dari jauh, hanya bisa terdiam menatap Ana yang terlihat begitu berbeda dengan sifat Teri yang biasa dia kenal.
Pergilah Pangeran, urusan saya dengan anda telah selesai, dan mulai sekarang saya akan melupakan anda, sampai kapan pun saya tidak akan lagi memohon pada anda lagi.
Entah kenapa ucapan yang kemarin Ana katakan terus muncul di kepalanya, bahkan dirinya sendiri pun dibuat bingung dengan sifat Teri yang tiba-tiba saja berubah menjadi tidak seperti biasanya.
"Pangeran, ini sudah saatnya anda pergi."
Seorang prajurit yang juga sedang menyamar sebagai rakyat biasa, langsung menundukkan kepalanya ke arah Dylan yang masih fokus menatap Ana dari jauh.
"Baiklah, mari kita pergi," jawab Dylan yang langsung beranjak dari sana.
Tanpa mau melawan Dylan langsung berjalan menuju kereta kudanya dengan beberapa prajurit yang ikut dengan dirinya dibelakang, dari dalam kereta kuda dirinya masih kepikiran tentang sifat Ana yang tidak seperti biasanya.
Hingga sampai kereta kuda itu tiba di Istana Dylan masih bertanya-tanya dengan perubahan sifat Ana, Teo yang merupakan tangan kanan Dylan, langsung menundukkan kepalanya saat Dylan sudah memasuki ruangannya.
"Apa ada masalah selama aku pergi?" tanya Dylan yang baru saja duduk di kursinya.
"Sejauh ini tidak ada masalah besar yang terjadi Pangeran, hanya saja beberapa para bangsawan mulai bertanya-tanya soal kedudukan Putri Mahkota."
Itu lagi.
"Mereka mulai bertanya-tanya soal kejelasan untuk Nona Kalika saat ini, apa... Pangeran akan terus menunda soal hubungan anda dengan Nona Kalika?"
Dylan langsung terdiam mendengar ucapan Teo, matanya langsung fokus menatap ke bawah, dengan pikiran bercampur aduk.
"Bagaimana dengan Yang Mulia?" tanya Dylan.
"Untuk saat ini Yang Mulia masih tutup mulut soal kedudukan Putri Mahkota, bahkan beliau secara terang-terangan mengatakan bahwa beliau tidak akan ikut campur atas kedudukan putri Mahkota," jawab Teo dengan sopan.
Ayah pasti masih marah dengan kejadian waktu itu.
"Baiklah, beritahu Yang Mulia, bahwa aku akan datang berkunjung untuk menemui beliau," perintah Dylan pada Teo.
Tanpa membantah Teo langsung menundukkan kepalanya, "Baik Pangeran."
Setelah Teo pergi, Dylan kembali kalut dalam pikirannya, kejadian waktu itu yang membuat geger kekaisaran atas Kasus Teri yang meracuni Iris masih terbilang hangat di ibu Kota, bahkan gosip soal kejadian itu masih banyak dibicarakan dikalangan bangsawan, khususnya pada pergaulan kelas atas.
Dylan, ayah sungguh sangat bangga mempunyai anak yang cerdas seperti dirimu, tapi... Untuk kejadian ini, ayah akan berterus terang bahwa ayah... Sangat kecewa dengan keputusan mu.
"Sial... Kenapa kejadian itu terus teringat di kepala ku!" ucap Dylan yang sudah frustasi.
Tok
Tok
Tok.
Dylan langsung menoleh ke arah pintu, saat Teo baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Pangeran," sapa Teo.
"Bagaimana?" tanya Dylan langsung.
"Yang Mulia akan menemui anda, saat makan malam besok."
"Baiklah, aku mengerti silahkan kau kembali ke ruangan mu," jawab Dylan dengan acuh.
"Baik."
Teo kembali keluar dari ruang kerja Dylan, setelah dirinya telah selesai memberi hormat ke arah Dylan yang masih kalut dengan pikirannya.
"Baiklah... Aku akan berbicara baik-baik dengan ayah nanti," gumam Dylan menatap ke arah depan.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Cty Badria
saran, up nya jgn terlalu lm thor jd bosan menunnggunya...hingga pinda kelain hati..
2022-07-18
0