4

Apa yang ku lakukan sudah benar?

Selesai Ana berbicara dengan kepala pelayan kelurga Atlante, sepertinya kepala Pelayan itu cukup menerima saran yang dia berikan.

Brak!

Pintu rumah kaca terbuka, Luna serta Ana langsung masuk ke dalam rumah itu, di sana sudah banyak para nyonya yang berkumpul.

"Selamat siang Nyonya Atlante, maaf kan kami yang telah terlambat datang ke acara anda."

"Duduklah Nyonya Ronan, saya tau alasan anda datang terlambat, jarak rumah anda dengan saya begitu jauh."

"Terima kasih atas pengertian anda."

Luna langsung duduk di kursi yang kosong, sedangkan Ana memilih untuk berdiri karena kursi yang kosong di sana hanya tersisa satu.

"Pft..."

Ana langsung meremas kedua tangannya saat melihat para nyonya di sana secara terang-terangan menghina dirinya.

"Ah... Maafkan saya nyonya Baroness saya tak tau bahwa nona Ronan akan ikut bersama anda, saya mengira Nona Ronan tidak akan datang karena kejadian waktu itu, makanya saya mengundang Nona Kalika untuk menggantikan putri anda."

Deg!

Apa Nona Kalika?

Mata Ana langsung terbuka lebar saat mendengar nama Kalika disebut.

Bukankah itu nama kelurga dari pemeran utama?

Dengan cepat Ana langsung menolehkan kepalanya ke arah perempuan yang dimaksud.

Apa perempuan itu yang dimaksud dengan Nona Kalika?

Ana seketika terdiam saat melihat wanita itu yang juga sedang menatapnya, warna rambut yang seperti bunga mawar itu menatap dirinya dengan tajam.

Serta bola matanya yang berwarna hijau daun itu bisa dirinya tebak bahwa benar perempuan itu pasti karakter utama dalam cerita yang dia buat, Iris Kalika yang sekarang menjadi calon Putri Mahkota.

Ini berbahaya aku tidak boleh berlama-lama disini, tunggu dulu jika disini ada Iris sudah pasti...

Dengan cepat mata Ana langsung melirik ke seluruh penjuru ruangan, dan benar saja apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.

Penjaga Istana? Mirip seperti alur yang telah dia tulis, Dylan tidak akan mungkin membiarkan Iris sendirian lagi, mengingat bahwa Teri pemeran Antagonis didalam cerita sangat senang mencelakai Iris.

Aku harus pergi dari sini, fokus hidup ku hanya membahagiakan kedua orang tua Teri, masalah percintaan mereka aku tidak akan ikut campur.

"Tidak apa-apa Nyonya Atlante saya sadar bahwa kehadiran saya disini tidak begitu diharapkan," ucap Ana dengan tersenyum ramah.

"Saya sangat berterima kasih jika anda memaklumi kesalahan saya nona Ronan."

Memaklumi? Dasar penjilat! Kau sengaja kan menyisakan satu kursi, agar aku tidak bisa duduk.

Baik, mari kita turuti cara main para nyonya disini.

"Tapi jika saya boleh memberi saran," senyum Ana seketika terbit menatap wajah tuan rumah di sana.

"Lebih baik jika anda ingin membuat acara seperti ini lagi, saya sarankan agar anda lebih jeli lagi dalam menyiapkan satu acara."

"Saya tau kehadiran saya di sini tidaklah penting, maka dari itu anda tidak memberikan saya kursi bahkan disaat saya sudah tiba pun pelayan anda tidak sigap untuk memberikan saya kursi," ucap Ana sambil menatap ke arah pelayan kelurga Atlante.

"Bukankah ini sangat memalukan Nyonya Atlante? Anda yang merupakan tuan rumah dari acara ini tidak bisa menjamu tamu anda dengan baik."

Deg!

"Maaf?"

"Apa saya salah berbicara? Saya mengatakan ini juga demi kebaikan anda, coba anda pikir jika saya yang duluan datang mungkin saya akan mendapatkan kursi, tapi bagaimana dengan tamu lain yang datang lebih lambat dari saya?" tanya Ana dengan wajah yang tersenyum licik.

"Apa anda akan memberikan mereka berdiri atau anda akan langsung memberikan mereka kursi?"

"Nona Ronan!" ketusnya yang langsung menatap tajam ke arah Ana.

Wajah Ana langsung terlihat dingin menatap wajah wanita itu, semua Nyonya yang ada di sana memilih untuk diam memperhatikan Ana yang mulai beraksi.

"Hah... Kalo kehadiran saya tidak diharapakan disini lantas kenapa anda mengundang saya?" tanya Ana dengan heran.

"Apa anda ingin sekali mempermalukan saya dihadapan banyak orang? Agar nama Anda semakin dikenal?"

Deg!

Semua orang yang ada di sana terdiam, saat menyadari ada yang aneh pada diri Ana.

"Apa niat anda memang seperti itu? Jika dari awal anda memang seperti itu, saya sungguh sangat berterima kasih."

"Hah?"

"Karena tanpa menyembunyikan lebih banyak pun sifat asli anda sudah keluar," sahut Ana dengan tersenyum ramah.

"Apa maksud anda nona Ronan?"

"Apa perlu saya perjelas lagi? Nyonya Atlante biar saya perjelas menjadi orang yang memiliki sifat mencela lebih baik dari pada orang yang bermuka dua seperti anda!" tekan Ana menatap tajam ke arah wanita itu.

"Jika memang dari awal saya tidak diharapkan ada di tempat ini, maka lebih baik saya pergi saja dari sini, ibu..." panggil Ana pada Luna.

Luna yang dari tadi memilih untuk diam langsung menolehkan kepalanya ke arah Ana.

"Iya?"

"Ibu maafkan saya, jika ibu berkenan, mau kah ibu beranjak dari kursi panas itu? Dibanding kita berdiam disini, bukankah lebih baik kita jalan-jalan saja ke kota?" ajak Ana tersenyum.

Luna hanya diam menatap ke arah Ana, sampai akhirnya senyum Luna terbit yang membuat semua penghuni di sana menjadi terdiam.

"Baiklah," balas Luna yang langsung berdiri dari tempat dia duduk.

"Kalo begitu saya akan pergi dari sini, untuk Nyonya Anlante terima kasih sudah mau mengundang kami hari ini walaupun saya tidak bisa lama-lama disini, namun perlu anda tau bahwa saya sungguh senang anda mau mengundang saya ke sini."

Ana tersenyum puas saat Luna mau mengikuti jalan pikirannya, setelah berkata seperti itu mereka berdua langsung pergi keluar dari tempat itu, semua para Nyonya di sana hanya bisa terdiam melihat Ana dan Luna pergi.

Didalam rumah kaca itu Iris yang merupakan pemeran utama dari cerita, juga memilih untuk diam menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi.

"Apa ini hanya perasaan ku saja, sepertinya ada yang aneh dengan Nona Ronan tadi?"

"Benar kan? Saya pun juga berpikir seperti itu, tidak biasanya Nona Ronan peduli terhadap ibunya."

"Anda benar nyonya, Nona Ronan kan hanya peduli dengan Putra Mahkota saja kenapa dia tiba-tiba jadi bijak begini?"

"Saya sendiri masih sulit mempercayai bahwa Nona Ronan yang berbicara tadi."

"Tapi... Kalo diliat-liat lagi, ucapan Nona Ronan tadi sangat keren ya."

"Ah.... Iya saya sendiri pun berpikir seperti itu."

Dalam waktu singkat acara minum teh itu pun menjadi kacau dengan banyaknya para tamu yang jadi membicarakan Ana, Rasanya harga diri dari tuan rumah itu seperti diinjak-injak saat mendengar ucapan Ana.

Iris yang dari tadi memilih utuk diam, langsung angkat bicara disaat semua orang mulai banyak membicarakan Ana, ditambah lagi dengan kejadian tadi Tuan Rumah hanya bisa terpaku melihat respon Ana yang di luar pemikirannya.

"Wah! Ada apa ini? Acaranya jadi sedikit berbeda dengan kejadian tadi, bagaimana jika kita lupakan saja soal kejadian tadi dan fokus kembali ke dalam acara?" ucap Iris sambil tersenyum ramah.

"Hahaha, yang dikatakan Nona Kalika benar, mari kita lupakan soal kejadian tadi, dan fokus kembali ke dalam acara."

"Hahaha iya anda benar nyonya, mari kita lupakan soal kejadian tadi."

Iris langsung tersenyum ramah saat para nyonya di sana mau mengikuti saran dari dirinya, acara kembali berjalan seperti biasa, namun berbeda dengan Nyonya Atlante yang masih terlihat kesal dengan kejadian tadi.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi?

TBC.

Terpopuler

Comments

Siska sari Ana

Siska sari Ana

kaku banget thor bahasanya, saya ganti jadi aku aja kk

2022-08-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!