Sudah 2 tahun cerita yang dia buat ini tamat, bahkan pikiran untuk membuat seri ke 2nya pun tidak pernah terpikirkan olehnya.
Entah bagaimana caranya dia bisa sampai pada dunia yang dibuat ini, yang pasti dia hanya menginginkan dirinya untuk bisa kembali ketempat seharusnya dia tinggal dan bertemu kembali dengan teman-temannya.
Teman?
"Ah... Kira-kira bagaimana kabar Tia di sana? Apa saat ini Teri sedang berada di dunia ku?" tanya Ana.
Brak!
"Teri kau sudah siap?"
Sosok wanita paruh baya datang menghampiri Ana yang saat itu masih belum selesai merias dirinya.
"Sebentar lagi," jawab Ana yang kembali fokus.
Wanita itu berjalan mendatangi Ana yang saat itu belum selesai merias diri, wajah dari wanita itu nampak terkejut, saat melihat keterampilan Ana dalam merias diri.
"Wah... Nak kau cantik sekali."
Mendapatkan pujian itu, Ana hanya tersenyum, "Terima kasih Ibu."
"Apa... kau sudah bisa menerima kenyataan ini? Makanya kau berusaha untuk tetap tegar."
Deg!
Senyum Teri seketika menjadi luntur, sentuhan hangat dari wanita itu membuat Ana menjadi terdiam.
Aku hanya ingin bahagia.
Aku hanya ingin keluarga ku bisa hidup bahagia.
Seketika dirinya kembali teringat dengan permintaan Teri, yang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya.
"Ibu... Maafkan aku, gara-gara aku kita hidup susah seperti ini."
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menunjukan sebuah senyum manis dihadapan Ana, "takdir dunia siapa yang tau, walau terasa berat namun ibu mohon pada mu untuk bisa bersabar, ibu yakin kita pasti bisa keluar dari penderitaan ini."
Mendapatkan perilaku lembut dari ibunya Teri, Ana hanya bisa tersenyum dengan perasaan yang tidak karuan dia rasakan.
Maafkan aku, gara-gara keegoisan ku kalian mengalami penderitaan seperti ini.
"Ngomong-ngomong Teri, yang ibu tau, kau tidak pandai dalam merias diri, tapi melihat kau sekarang ibu sedikit takjub, kira-kira belajar dari mana kau bisa merias diri seperti ini?"
"Iya?"
Aku harus jawab apa, Aku memang pandai make up, tapi tidak mungkin kan aku bilang begitu saja pada ibunya Teri.
"Ah... Saya hanya iseng saja, lagian kalo bukan sekarang siapa lagi yang bisa membantu ku," balas Ana dengan tersenyum kaku.
"Ah... Benar juga, sekali lagi kami minta maaf ya sayang, gara-gara kami kau mendapatkan penderitaan hidup seperti ini, hidup tanpa pelayan pasti sulit kan?"
"Ah... Tidak juga, hidup tanpa pelayan tidak sesulit yang aku bayangkan, lagian aku juga bisa lebih mandiri lagi dalam bertindak, dan lebih pentingnya lagi, rahasia ku bisa lebih aman terjaga," ucap Ana sambil sedikit berbisik pada ibu Teri.
"Hahaha, benar juga, ibu senang jika kau tidak merasa kesulitan, waktu awal kita bangkrut, ibu ingat sekali kau selalu mengeluh dan sering memecahkan barang, membuat ayah dan ibu menjadi putus asa untuk menenangkan mu."
Apa Teri pernah seperti itu?
Mendengar itu Ana hanya bisa terkekeh, ibu Teri yang dulunya merupakan seorang Duchess Ronan kini telah turun menjadi Baroness Ronan.
Ana ingat dengan kejadian dimana kelurga Ronan hancur, waktu itu dia membuat cerita yang mengatakan bahwa saat itu Teri secara terang-terangan ingin membunuh Iris yang merupakan tokoh utama dalam cerita.
Saat kejadian itu Teri seolah-olah menjadi orang gila yang begitu terobsesi dengan Dylan yang merupakan Putra Mahkota kerjaan Homunculus.
Akibat dari kejadian itu kelurga Ronan dijatuhkan hukuman mati dengan khusus percobaan membunuh calon Putri Mahkota.
Namun hukuman yang diberikan Teri tidaklah berat, itu dikarenakan Teri yang saat itu ingin meracuni Iris sedang dalam keadaan mabuk maka dari itu hukuman yang didapatkan Teri masih terbilang ringankan.
Dengan diturunkannya gelar bangsawan yang awalnya Duke Ronan menjadi Baron, kelurga Ronan pun hanya bisa pasrah menerima hukuman itu dimana gelar ini merupakan gelar yang paling rendah dalam kelas bangsawan.
Maafkan aku yang telah membuat kelurga kalian menjadi seperti ini.
Ada rasa tidak enak pada dirinya saat mengetahui bahwa kelurga Teri merupakan kelurga yang hangat terhadap anaknya, didalam cerita juga tertulis bahwa kelurga Ronan akan selalu tutup mata jika mengetahui Teri anak semata wayangnya melakukan hal tercela terhadap para nona ataupun tokoh utama yang ada dalam cerita ini.
Sekarang aku tau alasan mengapa kau ingin bahagia Teri.
Hidup Teri yang selalu berlimpah harta membuat dia menjadi lupa diri, dia yang tidak pernah merasakan kekurangan namun tiba-tiba saja semuanya menghilang, Teri yang selalu dimanja oleh keluarganya berubah menjadi Teri yang arogan, dimana dia hanya mau hormat pada orang yang statusnya lebih tinggi darinya.
Namun sekarang semua itu berbuah, harta, status, teman, kelurga, semua itu tidak ada apa-apanya jika digunakan tidak dalam porsi yang tepat.
Mulai sekarang aku akan membantu kelurga ini untuk kembali ke posisi awal mereka.
"Teri, ibu tau ini bukan emas asli, namun pakailah kalung ini agar pakaian yang kau gunakan tidak terlihat polos."
"Terima kasih ibu," jawab Ana yang langsung menerima kalung itu.
"Kau sudah siap?"
Dengan semangat Ana menganggukkan kepalanya, ibu Teri tersenyum ke arah Ana, dan mereka memutuskan untuk jalan bersama keluar rumah.
Jika dipikir lagi, ini pertama kalinya aku keluar rumah, kira-kira isi dunia yang ku buat seperti apa?
Ibu Teri yang bernama Luna itu naik duluan ke dalam kereta kuda, barulah setelah itu dirinya yang ikut naik.
Kereta kuda? aku ingat dengan kereta kuda ini, sebenarnya kereta kuda ini bukan milik keluarga Rohan, karena semua harta milik Rohan sudah banyak disita oleh Istana, yang tersisa hanyalah rumah yang sebentar lagi akan roboh.
"Teri, apa kau merasa takut?"
"Iya?"
Luna tersenyum ke arah Ana, "Jika kau memang tidak sanggup berada di sana maka pulanglah lebih dulu, biar ibu yang mengurus sisanya."
Ana hanya tersenyum mendengar ucapan dari Luna, sepertinya ibu Teri takut jika Teri akan membuat masalah di pesta minum teh nanti, mengingat karakter Teri yang dia buat dalam cerita, merupakan orang yang sangat suka menjatuhkan martabat orang lain, termasuk dengan menghinanya.
"Tidak apa-apa ibu, saya baik-baik saja, ibu tidak usah khawatir dengan masalah yang akan terjadi nanti," balas Ana tersenyum.
Tak lama mereka bercerita akhirnya kereta kuda yang ditumpangi Ana telah tiba di kediaman keluarga Atlante, sebuah gerbang yang begitu besar terbuka saat kereta kuda yang ditumpangi mereka masuk.
"Selamat datang di kediaman Atlante Nyonya Baroness," sapa kepala pelayan di sana.
Ana ikut turun setelah Luna selesai disambut, kening Ana sedikit mengerut saat banyak sekali para pelayan yang secara terang-terangan membisikkan dirinya.
Apa seperti ini rasanya jadi pemeran antagonis?
"Di mana para Nyonya berkumpul?" tanya Luna pada pelayan itu.
"Mereka ada di rumah kaca, mari saya antar anda ke sana."
"Terima kasih."
Ana langsung mengikuti kepala pelayan itu dari belakang, dengan Luna yang berada disampingnya, selama perjalan menuju rumah kaca perasaan Ana sedikit tidak enak karena banyak sekali pasang mata yang menatap dirinya secara terang-terangan.
"Permisi."
"Iya?"
Langkah pelayan itu langsung terhenti begitu juga dengan Luna yang langsung menatap Ana dengan heran.
"Ada apa Nona?" tanya pelayan itu.
Tangan Ana seketika menjadi panas dingin, ternyata begini rasanya jika dia masuk ke dalam karakter yang dia buat, jangankan untuk berbicara bernafas saja rasanya begitu sulit.
"Jujur aku sedikit terganggu dengan kehadiran para pelayan di sini."
"Ya?"
"Mau diabaikan bagaimana pun mereka akan tetap melakukan hal yang sama kan?" ucap Ana dengan mata yang menatap tajam ke arah kepala pelayan.
"Bisakah setelah Tuan mengantar saya dengan ibu saya nanti, Tuan berkenan untuk memberi pelajaran pada pelayan disini, tentang etika menerima tamu!"
"Teri!" pekik Luna saat melihat Ana yang mulai berulah lagi.
"Awalanya saya hanya bersikap biasa saja, namun lama-kelamaan tatapan para pelayan disini mulai berani," ucap Ana dengan mata menatap tajam ke arah para pelayan.
"Apa? Sebegitu rendahnya martabat dari tamu kelurga Atlenta, hingga kami disambut dengan cara hina seperti ini!"
"Teri!" Pekik Luna yang penuh khawatir.
"Tidak apa-apa nyonya yang dikatakan anak anda memang benar, Nona Ronan mohon jika anda kurang nyaman dengan sambutan kami, keluhan dari anda akan segera kami sampaikan kepada para pelayan Atlenta agar mereka tidak berbuat seperti itu lagi," ucap Kepala pelayan itu dengan hormat.
"Baguslah jika anda dapat cepat mengerti, Hanya ini saja yang ingin saya sampaikan, Saya pribadi tidak masalah jika diperlakukan seperti ini, namun bagaimana jadinya jika tamu lain yang mendapatkan perilaku yang sama? Apa menurut Tuan harga diri dari keluarga Atlenta akan baik-baik saja?"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Awien_Azui
ga semestinya pangeran jadi peran utama... lanjut thor...
2022-08-28
0
est
semoga teri dengan cogan yg lain jgn pangeran
2022-08-27
3