Setelah dirinya merasa cukup beristirahat Ana langsung berdiri dari duduknya untuk melanjutkan berbelanja.
"Owh... Siapa ini Nona Ronan? Selamat siang Nona Ronan!"
Ana yang tadi ingin beranjak pergi meninggalkan cafe langsung menghentikan langkah kakinya saat dirinya dipertemukan oleh 4 orang perempuan yang tidak dia kenal.
Siapa mereka? Kenapa mereka tau nama ku?
"Anda terlihat buru-buru sekali nona, apa anda tidak mau menyapa kita dulu, bukankah Kita sudah lama tidak bertemu?" ucap perempuan yang lain.
Astaga mereka ini siapa? Aku sungguh tidak tau, ah... Masa bodoh senyumin aja dulu.
"Ah... Maaf sekali saya tidak bisa lama-lama disini, karena saya sedang buru-buru," balas Ana dengan ramah.
Senyum Ana langsung luntur saat keempat perempuan itu nampak kesal melihat responnya yang diluar pemikiran mereka, tak lama kemudian datanglah pelayan cafe membawakan pesanan mereka ke meja.
"Nona ini pesanan anda," ucap Pelayan cafe itu memberitahukan pada keempat perempuan itu.
Perempuan yang bernama Rita itu langsung menolehkan wajahnya ke arah pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan untuk mereka.
"Tunggu!" ucapannya pada pelayan itu.
"Iya?"
"Bisa kau bawakan minuman itu ke sini?" ucapnya memberi perintah pada pelayan itu.
"Baik!" Dengan cepat pelayan itu langsung memberikan minuman itu pada Rita.
Dengan wajah tersenyum Rita langsung menerima minuman itu dari tangan pelayan, "Terima kasih."
Tak lama dari itu, Rita kembali menolehkan wajahnya ke arah Ana, "Anda mau?" tanya Rita pada Ana.
Namun Ana dengan tenang menolak tawaran dari Rita, "Maafkan saya nona, tapi saya sudah cukup kenyang sekarang, terima kasih atas tawaran anda."
Keempat perempuan semakin dibuat jengkel dengan sikap Ana, yang terlihat bermain muka dihadapan mereka.
"Anda menolak tawaran saya? Tidak disangka ya ternyata sikap sombong anda itu sudah mendarah daging!" ucap Rita tersenyum.
"Maaf?"
"Benar, bahkan niat kita sudah baik, tapi tetap saja dia menolaknya!"
"Padahal keluarganya sudah diusir dari Ibu kota, masih saja dirinya berlagak sok berkuasa!"
"Saya heran! Dengan dia yang sudah hancur begini, apa lagi yang mau dia banggakan?"
Mata Ana langsung terbuka lebar menatap keempat perempuan itu, dirinya nampak bingung dengan ke empat perempuan ini yang secara terang-terangan merendahkan dirinya, bahkan para pengunjung yang melihat mereka pun jadi berbisik-bisik.
"Maaf... Nona... Apa selama ini saya pernah berbuat salah?" tanya Ana.
Karena dirinya sendiri pun tidak ingat dengan keempat gadis ini, jangan kan untuk mengingat bahkan dirinya saja lupa dengan alur cerita yang sudah dia buat.
"Apa? Anda lupa?" tanya salah satu gadis itu tak percaya.
Rita yang sudah mulai kesal dengan Ana, langsung menumpahkan minumannya ke arah Ana yang membuat pakaian yang dia gunakan menjadi kotor serta lengket.
"Astaga!" pekik beberapa pengunjung cafe.
"Ini adalah balasan, atas kejadian setahun yang lalu, dimana anda pernah menumpahkan makanan di atas kepala saya!"
"Apa?"
Ternyata perempuan yang ada dihadapan ku ini, korban dari kesombongan Teri.
"Kenapa? Apa anda sudah lupa soal kejadian waktu itu!" ucap Rita yang kembali kesal.
Tidak ada waktu untuk ku terus disini, jika aku terus berlama di sini yang ada, mereka akan semakin merendahkan ku dihadapan banyak orang.
Sebaiknya aku minta maaf saja, agar masalah ini cepat selesai.
"Tidak! Saya tidak melupakannya!" lirih Ana sambil menundukkan kepalanya.
"Karena saya hanya sedikit bingung," lirih Ana.
Ana kembali menolehkan wajahnya ke arah perempuan itu, "Sakin bingungnya saya sampai lupa, anda korban ke berapa yang sudah pernah saya bikin malu!" ucap Ana yang membuat semua pasang mata di sana terbuka lebar.
"Apa!"
"Anda ini benar-benar tidak tau malu ya!" ketus temannya yang semakin menambah suasana menjadi panas.
"Ya! Saya memang tidak tau malu!" ucap Ana dengan nada yang begitu serius.
"Saya juga tidak tau diri yang telah membuat kalian semua dipermalukan dihadapan banyak orang, maka dari itu saya ingin minta maaf."
"Apa?"
"Mungkin ini adalah karma yang telah diberikan dewa atas kelakuan saya dulu."
Semua penghuni cafe langsung terdiam mendengar kata-kata dari Ana, bahkan Rita dan ketiga temannya pun ikut terdiam.
Ana langsung tersenyum tipis menyadari bahwa apa yang dibuat Teri dulu sebenarnya bukanlah murni keinginannya, melainkan itu semua adalah keinginan Ana yang menjadikan Teri sebagai Antagonis didalam cerita yang dia buat.
Akan ku buat kepribadian mu dikenal sebagai orang baik Teri, ini semua kulakukan demi dirimu yang sudah banyak ku buat sengsara.
"Saya sungguh minta maaf, "Ucap Ana dengan tulus.
"Dan saya mengaku salah telah membuat anda malu dengan kejadian yang dulu, saat itu saya benar-benar tidak tau diri telah membuat kalian malu dihadapan banyak orang, saya bahkan pernah membuat kalian terluka karena keegoisan saya, saya sungguh minta maaf atas kejadian waktu itu."
Ana langsung menundukkan kepalanya dihadapan Rita serta ketiga temannya, Luna yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam menyaksikan anaknya benar-benar mau meminta maaf pada orang lain.
Dia benar-benar sudah berubah.
Rita semakin dibuat kesal dengan kelakuan Ana, apakah Ana dengan sebegitu gampangnya mempermalukan dirinya dihadapan banyak orang.
"Nona! Apa nona sadar dengan anda bersikap seperti ini! Orang-orang akan menilai bahwa sayalah yang jahat di sini!" pekik Rita yang membuat Ana langsung membesarkan kedua matanya.
"Saya tidak berpikir sampai ke situ," lirih Ana.
"Dasar! Apa anda sadar saat ini orang-orang telah melihat ke arah kita! Jika anda benar-benar ingin minta maaf pada kami maka lakukanlah dengan tulus, tidak seperti orang yang sedang berderma!" ketusnya.
"Saya tidak berderma Nona! Saya sungguh-sungguh minta maaf pada kalian semua, saya benar-benar sudah introspeksi diri, karena selama ini saya sudah benar-benar jahat pada anda sekalian."
"Apa?"
"Dulu saya bersikap jahat, karena anda membicarakan saya dibelakang, namun kali ini saya tidak akan seperti itu lagi."
Dengan tersenyum Ana mengucapkan bahwa dia sudah tidak peduli lagi dengan para bangsawan, bahkan Putra Mahkota sekali pun.
Ana berucap dengan tampang yang sedang tersenyum, bahkan matanya pun berkaca-kaca menyadari betapa jahatnya dia dulu, yang telah membuat Teri menjadi menderita seperti ini.
"Saya sungguh minta maaf kepada kalian semua, bahkan kelurga saya pun sudah dapat karmanya karena kelakuan saya, maka dari itu saya ingin berbuah."
"Saya sungguh akan berbuah," ucap Ana dengan nada yang begitu serak.
"Tolong lupakan saya! dan anggap saja saya sudah mati, karena saya sudah cukup... Bahagia di sini."
Rita langsung terdiam begitu juga dengan temannya, entah mengapa kata-kata yang dikeluarkan oleh Ana, membuat mereka yang mendengarnya menjadi sedih bahkan Rita sekali pun.
"Ke... Kenapa aku menangis?" tanya temannya saat air matanya tiba-tiba saja keluar.
"Saya... Sungguh tidak ingin mengingat masa lalu saya, karena saya sudah cukup bahagia hidup di keluarga yang berkecukupan."
Tidak ada yang tau rasa sakit yang selama ini Teri tahan, seketika penderitaan yang selama ini dia pendam, bisa sedikit keluar, dengan dirinya bicara seperti ini.
Semua orang yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan mata mereka yang berkaca-kaca, bahkan Rita pun jadi ikut sedih mendengar pengakuan dari Ana.
"Maaf saya sudah berbuat jahat pada kalian, saya melakukan itu hanya karena ingin diperhatikan," isak Ana.
"Saya sungguh tidak ada niatan untuk mempermalukan anda, saya... benar-benar minta maaf, telah membuat kalian sakit hati," ucap Ana yang kembali menundukkan kepalanya.
"Berhenti!" ucap Rita tiba-tiba.
"Berhenti berkata seperti itu! Karena... Karena kau telah... membuat ku menangis," pekik Rita yang sudah mengeluarkan air mata.
Di dalam cafe itu, semua penghuni yang ada di sana hanya bisa terdiam dengan kesedihan mereka masing-masing, sekarang mereka sadar, bahwa yang jahat belum tentu jahat, bisa saja mereka bersikap seperti itu karena haus akan perhatian.
"Kami... Sudah memaafkan mu."
Mendengar itu Ana langsung tersenyum, "Benarkah? Terima kasih."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments