Pagi yang cerah dengan udara yang begitu segar, Ana mengawali paginya dengan sebuah senyuman, dari jauh dirinya bisa melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain dan para warga yang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Haaa... Hari yang begitu damai."
Ana berjalan keluar kamar setelah dirinya telah selesai mandi, tujuannya saat ini adalah ruang makan.
"Selamat pagi ayah, ibu," pekik Ana yang langsung duduk di kursinya.
"Pagi juga sayang."
Luna menaruh menu makan terakhir mereka di atas meja, sarapan pagi ini begitu mewah karena ada daging di atas meja, jarang sekali Luna mau membeli daging mengigat bahwa harga daging yang begitu mahal.
"Ayah akan sibuk sekali hari ini, karena sebentar lagi anak Marquez Valantie akan melakukan debutnya."
Anak Marquez Valantie itu berarti putra pertama mereka.
Astaga tidak terasa anak itu akan tumbuh besar secepat ini, padahal dulu dia masih anak-anak dari terakhir aku menulis.
Marques Valantie merupakan pemimpin dari pasukan kekaisaran, Marques Valantie juga dikenal sangat kuat dalam ahli seni pedang, bukan itu saja dirinya juga dikenal sebagai master ditempat para prajurit kekaisaran berlatih.
Aku jadi ingin bertemu dengannya, anak yang memiliki mata seindah laut, dengan rambutnya yang berwana silver ciri khas dari kelurga Valantie, hmmm jika diingat-ingat lagi anak itu bukan hanya terkenal di dunianya saja, bahkan para pembaca ku pun ikut menyukainya.
Dirinya pasti akan merasa sangat senang jika dia bisa bertemu dengan karakter yang sempat membuat banyak pembacanya tergila-gila, jika saja dirinya bisa bertemu dengan karakter itu mungkin dirinya akan sangat beruntung.
"Baiklah kalo begitu ayah pergi dulu."
"Iya... Hati-hati di jalan ayah," balas Ana tersenyum.
Setelah acara sarapan pagi mereka selesai, Ana langsung membantu Luna untuk membersihkan bekas makan mereka, barulah setelah ini Luna dan Ana akan pergi ke pasar untuk membeli keperluan membuat cake serta bahan makanan untuk mereka.
"Ibu bisa tinggalkan saya sekarang, biar saya yang mengurus sisanya."
"Baiklah, ibu tinggal ya."
Luna langsung pergi meninggal Ana sendirian di dapur, sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya jika ingin pergi, Ana pasti akan selalu memastikan bahwa tempat tinggal mereka selalu rapi dan bersih sebelum akhirnya mereka tinggal pergi.
"Ah... Selesai juga."
...~*~...
Siang harinya Luna dan Ana pergi ke pasar, menggunakan kereta kuda yang sudah mereka pesan.
"Apa yang sedang kau tulis Nak?"
"Ah... Ini catatan bahan kue yang perlu saya beli, karena saat ini saya akan mencoba produk baru," balas Ana tersenyum.
"Produk baru?" tanya Luna mengulang, Ana dengan cepat langsung menganggukkan kepalanya.
Luna hanya tersenyum melihat tekad Ana yang begitu bersemangat menjalankan bisnisnya, "Nak perlu kau tau ibu sangat senang melihat kau yang begitu bersemangat seperti ini," balas Luna dengan tersenyum.
"Terima kasih ibu."
Ana langsung tersenyum mendapatkan pujian dari Luna, tak lama dari itu Ana kembali melihat catatan miliknya.
"Nak! Apa kau tidak ada niatan untuk membuka toko?"
"Iya?"
"Melihat keahlian mu sekarang, sangat disayangkan jika tidak dikembangkan."
Ana hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Luna, "Saya memang berniat seperti itu ibu, namun membuka toko membutuhkan biaya yang tidak sedikit, makanya saya mau pelan-pelan berjualan agar uang yang terkumpul bisa membangun sebuah toko roti yang mengatas namakan kelurga kita."
Ana berkata dengan sangat gembira, karena keinginan Ana memang seperti itu dari awal, mendapatkan uang banyak membalikkan posisi kelurga Ronan, mendapatkan kehormatan serta kebagian.
Luna tidak tau harus berkata apa, melihat Ana yang begitu bersemangat membuat dirinya sangat bangga, dulu putrinya suka sekali membuat onar dan gemar menghamburkan uang, sekarang anaknya menjadi sangat bersemangat untuk membalikkan derajat kelurga mereka.
Rasanya aku ingin menangis.
Tak lama dari itu kereta kuda yang ditumpangi mereka telah sampai dipusat perbelanjaan, Ana langsung turun dari kereta kuda diikuti oleh Luna setelah itu.
Wajah mereka nampak senang saat melihat begitu ramainya para warga yang melakukan aktivitas mereka masing-masing, dari berdagang, hingga berbelanja sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Ibu ayo kita pergi," ajak Ana.
Luna dan Ana langsung berjalan ketempat tujuan mereka, yang pertama kali mereka cari adalah bahan pokok untuk makan malam mereka barulah setelah itu, Ana mencari kebutuhan untuk jualannya.
"Apa ibu lelah?" tanya Ana saat melihat wajah lesu Luna.
"Ah... Apa begitu terlihat," kekeh Luna.
Merasakan stamina Luna yang mulai berkurang, Ana dengan cepat langsung mencari cafe untuk mereka beristirahat sebentar.
"Ibu bagaimana jika kita istirahat di cafe itu?" tawar Ana menunjuk sebuah cafe yang dekat dengan mereka.
"Ah... Baiklah."
Tanpa banyak bicara Ana langsung membawa Luna pergi menuju cafe yang dekat dengan mereka.
"Selamat datang Nona anda ingin memesan apa?" tanya pelayan itu pada Ana.
"Bisakah kau menyediakan kami teh hangat, lalu kami juga pesat cake yang ada di sana," balas Ana menunjuk pada kue yang ada pada lemari kaca.
"Ah itu, baiklah tunggu sebentar pesanan anda akan segera datang," ucap Pelayan itu pada Hana.
Setelah pelayan itu pergi, Ana kembali fokus pada Luna yang terlihat begitu lelah karena habis berbelanja.
"Bagaimana perasaan ibu sekarang?"
Luna tersenyum menatap Ana yang begitu khawatir padanya, "Tidak apa-apa ibu hanya sedikit lelah," balas Luna tersenyum.
"Kalo begitu ibu istirahat saja disini, biar saya yang akan melanjutkan sisanya."
"Kau yakin?" dengan cepat Ana langsung menganggukkan kepalanya.
Tidak mungkin juga bagi Ana menyuruh Luna untuk terus menemaninya, mengingat fisik Luna tidak begitu kuat dengan fisiknya.
"Maaf sudah menunggu lama, ini pesanan anda."
"Ah... Terima kasih," balas Ana yang langsung tersenyum pada pelayan itu.
Pelayan itu langsung menaruh pesanan Ana ke atas meja, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Luna dan Ana di sana.
"Minumlah teh hangat ini ibu, agar perasaan ibu menjadi lebih baik."
"Terima kasih nak," balas Luna yang langsung menerima cangkir teh itu.
Kring!
Suara lonceng dari Pintu cafe berbunyi, dengan cepat salah satu pelayan yang ada di sana, langsung mendatangi sekumpulan perempuan yang baru saja datang.
"Selamat datang di cafe kami, para Nona," sapa pelayan itu dengan hangat.
"Rita! Kau yakin ingin makan di sini?" bisik salah satu temannya.
"Aku dengar makan di sini enak, makanya aku penasaran, hey kau berikan menu terbaik dari cafe ini cepat!"
"Baik!" dengan cepat pelayan itu langsung kembali ke dapur untuk melapor
Setelah pelayan itu pergi, empat perempuan itu kembali melirik isi dari cafe ini, sampai matanya tidak sengaja bertemu dengan Ana yang sedang menyantap makanannya.
"Hey! Kalian liat siapa yang ada di sana?" tanya perempuan itu tersenyum.
Ketiga perempuan itu langsung mengikuti arah tunjuk perempuan itu, yang membuat mata mereka seketika terbuka lebar.
"Astaga! Bukankah itu Nona Ronan!"
"Ah... Kalo diliat lebih teliti lagi, perempuan itu memang Nona Ronan."
"Apa setelah diusir hidupnya menjadi hina seperti itu."
"Kalian tidak percayakan bahwa dia akan menjadi seperti ini, kalo begitu... Mari kita beri dia pelajaran atas perbuatannya yang dulu pernah mempermalukan kita!" ucap perempuan itu menatap Ana dengan tajam.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments