2

Ana dengan mata yang berkaca-kaca langsung mengunci pintu kamarnya, tangisannya seketika pecah saat menyadari bahwa cita-citanya yang ingin menjadi penulis terkenal telah putus dengan keputusan bibinya yang ingin menikahinya.

Dari awal bibinya memang sudah tidak setuju jika dirinya berkuliah selain membuang waktu, kuliah juga banyak mengeluarkan biaya terutama untuk pembayaran SPP yang tidak sedikit.

Maka dari itu bibinya melarang keras untuk Ana bisa berkuliah, namun Ana tetap ingin berkuliah bagaimana pun caranya dia akan berkerja keras asal dirinya bisa membayar spp uang kuliah tanpa bantuan dari kelurga pamannya.

Dengan melalui lulusan jalur beasiswa akhirnya Ana bisa berkuliah di jurusan yang dia inginkan, dirinya sangat senang kala itu akhirnya impiannya untuk menjadi penulis sedikit lagi akan tercapai.

Namun semua itu menjadi sia-sia dengan keinginan bibinya, yang begitu berharap dia bisa menikah dengan salah satu anak temannya.

Tangisnya seketika pecah, uang asuransi yang seharusnya jadi miliknya telah diambil oleh kelurga bibinya, agar bisa membeli mobil baru, surat tanah serta rumah milik keluarganya pun ikut dikuasai oleh kelurga bibinya.

Tidak ada lagi yang tersisa untuknya, selain tempat tinggal yang masih ingin dia pertahankan.

"Ayah... Ibu..."

Karena terlalu lelah untuk menangis menyebabkan Ana menjadi mengantuk, dengan mata yang sudah begitu berat akhirnya Ana tertidur dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.

...~*~...

Sebuah cahaya yang begitu terang menyinari matanya, Ana menipiskan penglihatannya saat cahaya itu terus menusuk kedalam indra penglihatannya.

"Ana Folger."

Setelah cahaya itu menipis. Ana dengan perlahan membuka kelopak matanya dengan pelan, satu sosok perempuan cantik berdiri dihadapannya, Ana mengedipkan beberapa kali matanya saat ingin mencoba melihat dengan jelas sosok perempuan yang ada dihadapannya.

"Siapa di sana?" tanya Ana penasaran.

Ana tidak bisa dengan jelas melihat wajah dari perempuan itu, yang bisa dia liat dari perempuan itu hanyalah warna rambutnya yang berwarna merah terang, dengan pakaian yang begitu glamor dia kenakan.

"Ana Folger atau Sana? Menurut mu mana nama yang lebih cocok untuk memanggil mu?"

Tap

Tap

Tap

Mata Ana langsung terbuka lebar saat melihat wajah dari perempuan itu, matanya yang berwarna hitam mengkilap serta bibirnya yang tidak pernah menunjukan senyum itu, mirip sekali seperti karakter yang pernah dia bayangkan.

"Si... Siapa kau?" tanya Ana dengan mata yang terbuka lebar.

"Entahlah, Menurut mu siapa aku ini?" tanya perempuan itu tersenyum tipis.

"Aku penasaran, melihat mu sekarang apa aku harus memanggil mu Tuhan atau Dewa? mengingat bahwa kau yang telah membuat hidupku hancur seperti ini!'

Deg!

"A... Apa maksud mu?"

"Kau masih belum tau siapa aku?" tanya Perempuan itu, Ana hanya diam.

"Aku adalah Teri Anak dari Duke Ronan, atau bisa kau kenal sebagai karakter Antagonis yang telah kau buat hancur."

Deg!

"Hah?"

"Sekarang kau tau kan siapa aku? Orang yang telah kau buat hancur, bukan hanya masalah percintaan saja, bahkan kelurga ku pun kau buat hancur."

Bruk!

Ana langsung terduduk ditempat dia berdiri sakin shock nya, dia sampai tidak sadar bahwa karakter yang dia buat ini bisa hidup seperti dirinya.

Matanya masih menatap tidak percaya dengan apa yang dia liat saat ini, mengetahui bahwa perempuan cantik ini merupakan karakter yang dia buat, membuat nafasnya seketika naik turun, sulit untuk dirinya percaya, bagaimana bisa karakter fiksi yang dia buat dengan rekayasa bisa hidup seperti ini.

Pandangannya langsung jatuh ke bawah, rasanya dia tidak sanggup untuk menunjukan wajahnya dihadapan Teri atau karakter yang telah dia buat sengsara.

"Ana..." panggil Teri yang ikut duduk dihadapan Ana.

"Kau harus menanggung semua rasa sakit yang telah kau berikan pada ku selama ini."

"Apa?"

"Aku ingin meminta mu untuk membuat ku bisa hidup dengan bahagia, hanya itu yang ku mau, jangan buat aku dibenci banyak orang, dan buat juga kelurga ku untuk bisa hidup dengan tenang tanpa harus dihujat banyak orang."

"Aku yakin kau pasti bisa mengabulkan permintaan ku ini, mengingat bahwa kau lah yang telah membuat dunia ini."

"Ta... Tapi."

"Ana! Permintaan ku tidaklah sulit, aku hanya ingin bahagia Ana, aku hanya ingin bahagia, aku mohon buat diriku dan kelurga ku bahagia," pekiknya yang membuat Ana menjadi terdiam.

"Hanya itu yang ku mau Ana, aku mohon sekali pada mu Ana," ucapnya yang terus memohon pada Ana.

Ana langsung terdiam menatap wajah Teri, jika dia mengabulkan permintaan Teri itu berarti dia akan membuat seri ke 2 dari cerita yang telah dia buat.

"Ba... Baiklah."

Mata Teri langsung terbuka lebar menatap wajah Ana, "Aku akan membuat mu bahagia," ucap Ana tersenyum.

"Tenang saja dunia ini aku yang menciptakan, hanya aku yang tau masa depan dari cerita ini, maka dari itu berhentilah memohon pada ku."

"Apa kau sungguh-sungguh?"

Dengan cepat Ana langsung menganggukkan kepalanya, "Iya."

Detik kemudian Teri langsung tersenyum lebar, dia dengan pelan langsung memeluk Ana dengan lembut, Ana hanya tersenyum mendengar Teri yang terus mengucapkan terima kasih pada dirinya berkali-kali

"Terima kasih Ana."

"Iya sama-sama."

Setelah pertemuan itu cahaya terang kembali menyelimuti mereka, bayangan Teri mulai menghilang, Ana hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya saat Teri terus mengucapkan terima kasih pada dirinya.

Setelah Teri menghilang dari hadapannya, kini giliran dirinya yang akan keluar dari ruang yang hampa ini.

Shrek!

Suara korden yang sedang dibuka terdengar dengan jelas di telinganya, bersamaan dengan cahaya matahari yang memasuki ruangan itu.

"Teri bangun! Ini sudah siang!"

"Hmmm."

"Teri!"

"Hmmm"

"TERI!"

"IYA!"

Deg!

"Kau ini! Kenapa belum bangun! Apa kau tau sekarang sudah jam berapa?"

"Ini... di mana?"

Ana langsung melirik sekitar ruangan saat merasakan ada sesuatu yang tidak bereres.

"Siapa kau?" tanya Teri menatap perempuan paru baya yang ada dihadapannya.

"Siapa? Kau tanya siapa? Teri! Bangun sekarang! Ini akibatnya jika kau terlalu banyak minum alkohol."

"Apa?"

Mata Ana langsung melirik ke sebuah cermin yang terdapat pada kamar itu, dengan matanya yang terbuka lebar, dirinya langsung turun dari tempat tidur menyadari ada yang aneh pada tubuhnya.

"Wa.... Wajah ku," tanya Ana yang langsung menyentuh wajahnya.

"Kenapa bisa seperti ini? Apa ini mimpi?" tanya Ana tak percaya.

"Teri! Sebentar lagi kita akan berkunjung ke rumah keluarga Atlante, gunakan pakaian yang bagus jika kau tidak ingin diinjak-injak di sana."

"Ah... Baik," jawab Ana dengan pelan.

Setelah urusannya dengan Ana selesai, wanita itu kembali keluar dari kamar Teri dengan anggun.

"Wanita itu, apakah dia pelayan di sini? Sebentar apa perempuan tadi menyebut ku Teri?"

Deg!

Mata Ana kembali terbuka lebar saat dia menyadari bahwa saat ini dirinya telah terjebak di dalam tubuh Teri, karakter yang telah dia buat ke dalam novel.

"Sulit dipercaya, aku benar-benar terperangkap di dalam tubuh Teri."

Mata Ana kembali melirik ke arah cermin, "Apa ini yang kau maksud dengan tanggung jawab Teri?" tanya Ana tak percaya.

"Apa dengan membawa ku masuk ke dunia mu? Aku bisa membuat mu bahagia?" tanya Ana dengan kesal.

"Hah..."

Ana langsung menarik nafas kasar, jika dia berada disini lalu siapa yang akan menentukan masa depan dunia ini?

"Tunggu! Apa maksud Teri... dia menginginkan aku menjadi dirinya?"

Mata Ana langsung terbuka lebar saat dirinya menyadari ada sesuatu yang ganjal, "Tunggu... Apa Teri ingin aku merasakan bagaimana rasanya menjadi dirinya?" tanya Ana pada dirinya lagi.

"Tunggu! Jika aku ada disini lantas ada dimana sekarang Teri?" tanya Teri yang mulai panik

TBC

Terpopuler

Comments

itha Nurhayati 😎

itha Nurhayati 😎

lanjut Kaka 🥰🥰

2022-06-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!