Hari semakin berlalu, setiap hari Teri lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, dengan berdiam diri sambil membaca beberapa buku yang belum dia pelajari.
Sejak kejadian itu Teri tidak serajin dulu lagi untuk pergi ke Istana, dia akan pergi ke istana jika dipanggil oleh Ratnar saja kaisar Homounculus, selebihnya di akan menghabiskan waktu di rumah dengan membaca beberapa buku.
"Nona sebentar lagi pesta pembentukan negara akan dimulai, apakah anda tidak ingin pergi keluar untuk membeli sebuah gaun baru?" tanya salah satu pelayan Teri.
Mendengar itu Teri hanya diam sambil menatap buku yang sedang dia baca, "Nona?" panggil pelayan itu lagi.
Tak
Mata pelayan itu langsung terbuka lebar disaat Teri dengan kasar langsung menutup bukunya, dirinya kembali melihat ke arah luar dimana cuaca saat ini begitu bagus untuk jalan keluar.
"Kenapa harus membeli gaun baru? sedangkan yang lama saja masih bagus!" ucap Teri ke arah pelayan itu.
"Ah... Ma..Maaf Nona saya tidak bermaksud seperti itu," ucap pelayan itu yang langsung menundukkan kepalanya.
"Keluarlah, dan bawakan kembali aku teh yang baru!" perintah Teri.
"Baik Nona!"
Tanpa membatah pelayan itu langsung keluar dari kamar Teri untuk membawakan teh yang baru, sedangkan Teri kembali membuka bukunya untuk kembali dia pelajari.
...~*~...
Hari semakin berlalu dan hanya tinggal menunggu hari saja pesta pembentukan negara akan diadakan.
Sebelum pesta diadakan Ratnar ayah dari Dylan memanggil dirinya untuk segera menemuinya di Istana, tentu saja tanpa membantah Teri langsung berkunjung ke Istana, setelah dirinya kemarin mendapat surat undangan dari Kaisar Homounculus.
"Sudah lama aku tidak ke Istana."
Dengan wajah yang begitu datar Teri menaruh kepalanya di sandaran kursi saat kereta kuda yang dia naikin sedang berjalan menuju istana.
"Sebaiknya aku tidur saja sampai keretanya sampai."
...~*~...
Tidak terasa kereta yang ditumpangi Teri akhirnya telah tiba di istana, pelayan Teri dengan sigap langsung membukakan pintu kereta kuda untuk dirinya keluar.
"Senang bisa bertemu dengan anda lagi Nona Ronan, bagaimana kabar anda?" tanya kepala pelayan padanya.
"Kabar saya baik-baik saja Tuan, bagaimana dengan anda?"
"Saya pun sama Nona, senang bisa melihat anda kembali berkunjung ke istana Nona."
Teri hanya tersenyum mendengar ucapan dari kepala pelayan istana, "Terima kasih Tuan, apa anda tau di mama Yang Mulia sekarang?" tanya Teri.
"Ya... Saya tau, akan saya antar anda ke sana," jawab kepala pelayan itu.
Dengan langkah yang begitu ringan kepala pelayan langsung mengantar Teri menuju ruang kerja Kaisar, dengan Teri yang ada di sampingnya.
"Nona! Akhir-akhir ini anda jarang sekali berkunjung ke Istana apa anda begitu sibuk? hingga tidak bisa berkunjung ke istana lebih sering lagi?" tanya kepala pelayan itu sambil tersenyum.
Mendengar ucapan dari Kepala pelayan, Teri hanya tersenyum, "Tidak juga, hanya saja saat ini saya sedang banyak mempelajari beberapa teori untuk menjadi putri mahkota, anda tau kan jadi Putri Mahkota itu tidak mudah?"
"Ah... begitu, pantas saja anda jadi jarang terlihat, ternyata anda sedang banyak belajar ya."
Tanpa membalas ucapan dari kepala pelayan Teri hanya tersenyum membalas ucapan dari kepala pelayan istana yang terus mengajaknya berbicara.
"Yang Mulia Pangeran pun sama memiliki banyak sekali kesibukan yang membuat suasana di istana menjadi semakin sepi."
"Ah..."
"Jujur saja Nona, waktu anda sering berkunjung ke Istana suasana istana begitu hangat dengan kehadiran anda yang selalu memberi semangat pada kami."
"Hahaha begitu ya?" kekeh Teri sambil menampilkan senyum terpaksa.
Deg!
Tanpa sadar mata Teri langsung menangkap sosok perempuan yang ada di taman istana, sosok perempuan itu tidak lain adalah Iris, mata Teri langsung terbuka lebar saat melihat Iris yang sedang berjalan di taman Istana dengan beberapa pelayan yang menemaninya.
Melihat ada Iris di sana, langkah Teri langsung terhenti begitu juga dengan kepala pelayan yang sedang menemaninya.
"Ada apa Nona?"
"Perempuan yang ada di sana? Apa dia sering berkunjung ke istana?" tanya Teri.
Mata kepala pelayan itu langsung melirik ke arah Iris yang juga sedang dipandang oleh Teri.
"Owh perempuan itu adalah Nona Kalika teman dekat Pangeran, beliau memang sering datang ke sini sebagai teman cerita Pangeran."
"Sering datang?" tanya Teri memastikan.
Mata Teri dan mata Iris tidak sengaja bertemu membuat keduanya seketika menjadi kaget, namun Teri masih bisa menjaga ekspresi wajahnya untuk tetap terlihat datar.
"Ah... Nona Kalika tersenyum ke arah anda Nona."
Teri hanya menatap datar wajah Iris yang saat itu sedang melambaikan tangannya ke arah dirinya.
"Ayo kita pergi."
Tanpa mau membalas sapaan dari Iris, Teri langsung melanjutkan perjalanannya menuju ruang kerja Kaisar, Kepala pelayan yang melihat Teri sudah berjalan pergi dengan cepat langsung menyusulnya.
Menyebalkan sekali, bahkan melihat dia tersenyum saja membuatku merasa kesal.
...~*~...
Tak lama mereka berjalan, akhirnya Teri sampai di ruang kerja Kaisar, kepala pelayan langsung mengetuk pintu kerja Ratnar memberitahukan bahwa Teri telah tiba.
"Suruh dia masuk!"
"Baik Yang Mulia, Nona silahkan anda masuk."
Tanpa membantah Teri langsung masuk ke ruang kerja Kaisar, didalam sana sudah ada Dylan yang juga sedang menghadap pada Ratnar ayahnya.
"Salam pada Yang Mulia kaisar Homounculus," sapa Teri pada Ratnar.
"Silahkan anda duduk nona Ronan," balas Ratnar.
Dengan pelan Teri langsung duduk di samping Dylan yang sedang menatap dirinya, merasakan bahwa Dylan sedang menatap dirinya membuat dia merasa sedikit tidak nyaman dengan itu.
Kenapa dia menatap ku seperti ingin memakan ku?
"Baiklah aku akan mengatakan secara langsung, maksud dan tujuan ku memanggil kalian."
Dylan dan Teri masih diam menatap Ratnar yang sedang berbicara "Saat upacara pembentukan negara nanti, pertunangan kalian akan diumumkan didepan publik, maka dari itu kalian harus datang secara bersamaan ke pesta nanti!"
Apa?
Walau tidak bersuara, namun Teri bisa melihat wajah ke tidak sukaan Dylan dengan keputusan yang Ratnar buat.
"Baiklah jika itu yang anda mau Yang Mulia, Kami akan menurutinya," balas Dylan pada Ratnar.
Teri hanya diam, dirinya lebih memilih membisu dibanding ikut campur dengan keputusan yang sudah kaisar mereka buat.
"Untuk pakaian dan perhiasan akan ditentukan langsung oleh pihak Kerajaan, jadi kalian hanya perlu datang tanpa menyiapkan apa pun."
"Baik Yang Mulia," jawab Teri dan Dylan secara bersamaan.
"Jika tidak ada lagi yang ingin anda bahas, maka izinkan saya untuk membawa nona Ronan pergi."
"Ya... Bawalah dia pergi," jawab Ratnar pada Dylan.
Dengan sebuah lirikan saja, Teri sudah tau bahwa Dylan saat ini sedang menyuruh dirinya untuk segera keluar mengikutinya.
"Baiklah kalo begitu saya juga izin pamit Yang Mulia, semoga hari ini dan seterusnya anda selalu diberkati oleh dewa Yang Mulia," balas Teri memberikan salam perpisahan pada Ratnar.
...~*~...
Di luar kerja Kaisar, Dylan langsung menarik tangan Teri untuk segera menjauh dari ruang kerja Kaisar.
"Ada apa dengan mu?" tanya Dylan langsung.
"Apa maksud anda Pangeran?"
"Apa kau masih tidak mengerti dengan yang aku ucapkan?"
"Bicaralah yang jelas Pangeran?" tanya Teri dengan raut wajah yang begitu dingin.
"Ha... Kenapa? Akhir-akhir ini kau tidak pernah lagi menemui ku?"
"Apa perlu saya menjawab ini?"
"Apa?" tanya Dylan yang langsung terdiam.
"Bukankah tanpa saya jawab, anda sendiri pun tau jawabannya."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments