Ana tidak pernah punya niat untuk balas dendam, ataupun bertemu langsung dengan karakter yang dia buat, fokus dia saat ini hanyalah ingin membahagiakan kedua orang tua Teri agar dia bisa kembali pulang ke dunianya.
Tekad Ana selama ada di dunia ini ialah jangan sampai dirinya bertemu dengan karakter yang dia buat selain kedua orang tua Teri, apa lagi jika dia bertemu dengan pemeran utama.
Jangan sampai itu terjadi, karena Ana sendiri pun tidak tau harus berhadapan bagaimana jika dirinya bertemu dengan pemeran utama yang telah dia buat.
Aku harus pergi dari sini.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ana langsung membalikkan badannya dari hadapan Dylan yang merupakan Putra Mahkota di kekaisaran Homounculus.
Tak lama dari itu prajurit kekaisaran yang lain datang, bersamaan dengan Iris yang baru. saja datang.
"Dylan kau tidak apa-apa kan?"
Ana terdiam mendengar suara Iris yang menyebut nama Dylan, persis seperti jalan cerita yang dia buat, Iris akan memanggil Dylan dengan nama panggilan mereka, jika mereka berada di luar Istana.
Jadi seperti ini rasanya menjadi Teri.
Perasaan marah ini, apa ini perasaan yang selama ini kau pendam Teri?
Melihat Dylan yang begitu perhatian dengan Iris, membuat Ana memutuskan untuk pergi saja dari sana, sebaiknya dirinya pergi dari hadapan Dylan jika tidak mau masalah baru muncul.
"Aku tidak apa-apa Iris," balas Dylan tersenyum.
Wajah Dylan kembali menoleh ke tempat Ana berdiri tadi, namun ketika dia menoleh Ana sudah tidak ada di sana.
Dia sudah pergi.
...~*~...
Saat tiba di rumah, Ana langsung melepas jubahnya di ruang tamu, Luna datang dengan membawa segelas air untuk Ana.
"Bagaimana? Apa jualannya lancar?"
Ana langsung menerima minuman yang diberikan Luna, dan langsung meminumnya tanpa pikir panjang setelah Ana selesai minum dirinya langsung memamerkan hasil jualannya pada Luna.
"Wah... Banyak sekali, apa semuanya laku terjual?" tanya Luna, Ana dengan semangat menganggukkan kepalanya.
"Wah... Ibu turut senang Teri, akhirnya kamu bisa menghasilkan uang sendiri."
Tak lama dari itu, Regis datang dengan dahi yang mengerut.
"Bagus jika jualan mu laku terjual, tapi... Tidak bagus untuk keranjang yang baru kau beli."
Deg!
Senyum Ana langsung luntur saat mengingat bahwa keranjang yang dia pakai untuk jualan tadi telah hancur.
"Ada apa dengan keranjang mu? Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" tanya Regis penasaran.
Luna yang baru melihat keranjang itu hancur langsung dibuat shock, dirinya dengan pelan langsung mengambil keranjang itu untuk dia liat lebih dekat.
"Ah... Itu saya tidak sengaja memakai keranjang itu untuk memukul seseorang."
"Apa!" pekik Regis dan Luna bersamaan.
"Ma... Maksud saya bukan memukul orang seperti yang kalian pikir, di festival tadi ada seorang pencopet yang mengambil tas milik seorang wanita, karena pencopet itu berlari ke arah saya, akhirnya saya pukul saja pencopet itu dengan keranjang hehehe," ucap Ana menjelaskan panjang lebar.
"Pencopet itu jatuh, dan keranjang saya jadi rusak hahaha seperti itulah kejadian yang sebenarnya," kekeh Ana.
Regis dan Luna langsung mengedipkan mata mereka, mengetahui fakta terbaru dari anak mereka, sekarang bukan hanya bisa buat cake, kini mereka menyadari bahwa anak mereka mempunyai keahlian lain, yaitu.... memukul orang.
Entah kenapa melihat wajah mereka, aku punya firasat tidak enak.
"Baiklah kalo begitu, karena ini sudah malam, sebaiknya kau masuk ke kamar sekarang, ayah yakin kau pasti sangat lelah seharian ini."
"Ah... Iya kalo begitu saya akan kembali ke kamar, selamat malam ayah ibu."
"Selamat malam," balas Luna tersenyum.
Setelah mengucapkan salam, Ana langsung berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, dirinya dengan semangat langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Nyaman sekali kasur ini," lirih Ana yang langsung memejamkan matanya.
...~*~...
Di sebuah tempat, seorang pria terduduk di pagar balkon dengan mata menatap kosong ke depan.
Kejadian yang baru saja dia alami di Festival tadi terus terbayang dipikirannya, sosok perempuan yang dulu begitu terobsesi kepadanya entah kenapa, seperti terlihat ketakutan saat bertemu dengannya.
Dan lagi penampilan dari perempuan itu sangat berbeda, dari terakhir dia bertemu, apakah dengan dia diusir dari ibu kota membuat perempuan itu langsung tersadar?
"Dylan?"
Dylan yang merupakan putra Mahkota kerjaan Homonculus langsung menolehkan kepalanya saat, sosok perempuan cantik memanggil dirinya.
"Iris."
"Saya membawakan teh hijau agar pikiran anda menjadi lebih tenang," ucap Iris yang sudah duduk di sofa ruang kerja Dylan.
"Terima kasih Iris, kau begitu perhatian pada ku," balas Dylan yang langsung duduk dihadapan Iris.
Iris Langsung tersenyum saat mendengar perkataan dari Dylan, dengan penuh kehati-hatian dirinya menyeduh teh hijau itu ke dalam segelas cangkir.
"Silahkan diminum Pangeran," ucap Iris setelah selesai meracik tehnya.
"Terima kasih," balas Dylan yang langsung meminum teh itu.
Malam yang begitu tenang tanpa ada masalah, menjadi malam yang begitu didambakan oleh banyak orang, namun itu berbeda dengan Dylan walaupun saat ini dia sedang berbicara dengan Iris, tetapi didalam kepalanya penuh tanda tanya soal Ana.
Kenapa aku jadi memikirkan dia?
...~*~...
Besok paginya Dylan kembali sibuk dengan aktivitasnya seperti biasa, bekerja sebagai tangan kanan Kaisar tidak semudah yang dibayangkan banyak orang.
"Teo!"
"Iya Pangeran?"
Teo pria tinggi berambut kuning itu merupakan kelurga Vergeet dimana kelurga ini kenal sebagai ahli politik, sama dengan kelurga Ronan yang begitu ahli dalam ilmu hukum dan politik.
Bukan hanya kepintarannya saja Dylan mengangkat Teo sebagai sekretarisnya, juga karena Teo merupakan teman lama Dylan dari mereka awal masuk akademik hingga mereka debut, Dylan memang sudah akrab dengan Teo.
"Apa kau tau kabar kelurga Ronan saat ini?"
"Iya?"
Entah kenapa tiba-tiba saja kuping Teo menjadi tuli, saat mendengar Dylan menyebut kata Ronan.
"Apa kau tuli? Aku mengatakan apa? Atau kau pura-pura tidak dengar?" tanya Dylan dengan mata yang menatap tajam wajah Teo.
Mendengar Dylan yang berkata dengan nada penuh penekanan membuat dirinya langsung menjadi tegang, dengan cepat dia membetulkan posisi berdirinya agar tidak membuat Dylan semakin marah.
"Soal keluarga Ronan, berita yang saya dengan baru-baru ini, mengatakan bahwa kelurga Ronan telah menetap di bagian Timur."
"Bagian Timur? Teryata mereka melarikan diri cukup jauh juga," gumam Dylan menatap ke arah depan.
"Selain itu?"
"Ah... Maaf kan saya Pangeran hanya itu yang saya tau, apa perlu saya mencari tau lebih lanjut?" tawar Teo, Dylan langsung terdiam.
Ini aneh, kenapa aku tiba-tiba kepikiran dengan perempuan itu.
"Ya cari tahu semua soal kelurga Ronan, dari pekerjaannya, kesehariannya, terutama pada Nona Ronan sendiri, karena aku belum yakin dia bisa berubah dengan cepat."
"Baik Pangeran."
"Satu lagi, jangan sampai ketahuan oleh mereka, bahwa saat ini mereka sedang diawasi."
"Baik, saya mengerti Pangeran."
"Kalo begitu kau boleh pergi."
Tanpa membatah Teo langsung keluar dari ruang kerja Dylan, meninggalkan Dylan sendirian di sana.
Mungkin aku sudah gila, mengawasi perempuan yang dulu telah ku usir.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Siti Murni
Lanjut Thor...
2022-06-29
1