15

"Aku tidak menyangka bahwa sebuah nyawa hanya kau anggap sebelah mata."

Teri tidak tau kenapa tiba-tiba saja Dylan mengatakan itu padanya, apa saat ini dia salah bicara, kenapa cara bicara Dylan begitu menakutkan untuk Teri yang masih berusia 8 Tahun.

"Saya... Tidak pernah berpikir seperti itu Pangeran, saya hanya berpikir bahwa kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi, bila saya mendengarkan ucapan dari orang-orang yang sudah berpengalaman,"

Dylan hanya diam mendengar ucapan dari Teri, dirinya kembali berjalan dengan sinar matahari yang menyilaukan penglihatan mereka.

"Maka dari itu, kita harus mencari tau siapa orang yang telah menyebar berita bohong ini, takutnya jika kita membiarkan berita ini terbesar akan ada banyak orang yang mencoba masuk ke dalam hutan terlarang ini."

"Ah... Saya tidak pernah berpikir sampai sana," ucap Teri sambil tersenyum tipis.

Dylan kembali diam begitu juga dengan Teri, suasana diantara mereka seketika menjadi canggung, dengan Dylan yang terus menatap ke depan sedangkan Teri yang sedang diam menatap kepala beruang.

"Terima kasih Pangeran..." jawab Teri sambil memejamkan matanya.

Dylan hanya diam, saat dirinya merasakan nafas Teri sedang tertembus dilehernya, seketika tubuhnya merasakan panas dingin, mengetahui bahwa Teri sudah kembali tertidur dalam kondisi dirinya yang masih mengendongnya.

Sadarlah Dylan.

...~*~...

Disaat hari sudah gelap, Dylan dan Teri baru sampai di titik berkumpulnya para peserta lomba serta para warga yang ikut menonton.

"Pangeran! Pangeran sudah ditemukan!" teriak salah satu prajurit di sana.

Semua orang yang ada di sana nampak terkejut saat melihat Dylan yang baru datang dengan mengendong Teri dibelakang.

"Pangeran!"

"Ini saya kembalikan putri anda yang telah tersesat Tuan Duke."

Regis langsung mengambil Teri yang masih tertidur pulas di pundak Dylan, wajah Luna nampak senang saat tau bahwa putri mereka baik-baik saja, begitu juga dengan semua orang yang hadir di sana.

"Di mana anda menemukan putri saya Pangeran?" tanya Regis.

"Dia tersesat, saat ingin mencari kelinci di hutan terlarang."

Deg!

"Apa!"

Wajah semua orang nampak terkejut saat tau bahwa Teri ditemukan di hutan terlarang, hutan yang banyak berisikan hewan buas dan tempat terlarang bagi banyak orang tertentu yang masuk ke sana.

"Sepertinya dia ke sana karena temakan omongan orang yang mengatakan bahwa di sana ada kelinci."

"Itu tidak mungkin hutan terlarang sama sekali tidak ada kelinci, cari tau siapa orang yang telah menyebar berita bohong ini!" perintah ketua prajurit yang ada di sana kepada bawahannya.

"Baik!"

Mata Teri perlahan-lahan terbuka saat dirinya mendengar ada suara keributan, hal pertama yang dia liat adalah wajah penuh kekhawatiran dari Regis serta Luna, lalu wajah dingin Dylan yang sedang menatapnya dengan datar.

"Ayah... Ibu..."

Dengan terisak Luna langsung memeluk tubuh mungil Teri yang masih dalam keadaan setengah sadar, masih dalam keadaan dipeluk Teri menatap ke arah Dylan yang sudah dibawa pergi oleh ketua prajurit kekaisaran menuju tenda milik kelurga kerjaan.

"Syukurlah kau baik-baik saja sayang," ucap Luna yang sudah merasa lega.

"Iya..."

...~*~...

Besok paginya saat kejadian Dylan dan Teri menghilang membuat perjalanan acara itu menjadi tidak lancar, karena sebagain pria serta prajurit kekaisaran sibuk mencari keberadaan Teri dan Dylan yang telah menghilang kemarin.

Ragnar Reston Kaisar Homounculus yang telah memulai acara itu telah memutuskan bahwa pemenang dari perlombaan ini adalah Dylan Reston, karena hanya dia satu-satunya peserta yang berhasil membawa satu kepala beruang ke hadapan semua orang.

"Terima kasih," Dylan dengan senang hati langsung menerima hadiah yang telah diberikan oleh kaisar Homounculus.

Dengan wajah datar dia membalikkan badannya kehadapan semua orang, seketika teriakan dari para warga yang menonton acara itu terdengar hingga memenuhi lapangan tempat diselenggarakannya acara itu.

"Silahkan anda memberikan mahkota bunga ini, pada seseorang yang anda cintai Pangeran."

Dylan terdiam menatap sebuah mahkota bunga yang dibawa oleh salah satu pelayan ke hadapannya.

Mata Dylan kembali menoleh ke arah para penonton, dimana banyak sekali para gadis yang seumuran dengan dirinya berteriak dengan histeris saat Dylan secara terang-terangan menatap ke arah mereka.

"KYA!!! Pangeran!"

"Pangeran, lihat ke sini!"

"Pangeran, berikan mahkota bunga itu pada saya!"

"Pangeran!"

Kening Dylan langsung mengerut saat teriakan dari para gadis membuat kepalanya menjadi pusing.

"Berisik sekali," gumam Dylan.

Lalu matanya tidak sengaja menatap ke arah Teri yang terlihat diam sambil menatap kepala beruang hasil tangkapan Dylan.

Sebuah senyum tipis langsung terbit dari bibirnya, Dylan langsung mengambil mahkota bunga itu, dan kembali berjalan menuju tempat Teri berada.

Semua orang yang ada di sana terdiam saat melihat Dylan berjalan mendatangi Teri dengan membawa mahkota bunga.

"Nona Ronan!"

Teri langsung menoleh ke arah Dylan saat namanya dipanggil, mata Teri langsung terbuka lebar saat menyadari Dylan yang sudah berdiri dihadapannya.

"Pangeran?"

"Nona Ronan! Atas kemenangan yang sudah aku peroleh hari ini, maka... Aku Pangeran dari kerjaan Homounculus akan memberikan mahkota bunga ini kepada anda, atas apa yang sudah kita berdua dapatkan secara bersamaan."

"Ah..."

Dylan melangkah lebih dekat ke arah Teri, untuk menaruh mahkota bunga itu ke atas kepala Teri, dengan senang hati Teri langsung merendahkan tubuhnya dihadapan Dylan agar dia lebih mudah memakaikan mahkota itu di atas kepala Teri.

"Terima kasih Pangeran," balas Teri penuh sopan.

Suara tepuk tangan langsung terdengar dengan meriah saat Dylan telah menaruh mahkota bunga itu ke atas kepala Teri, Teri pun langsung tersenyum ke arah Dylan yang terlihat datar saat Teri menatap dirinya.

Srek!

Setelah selesai dengan serah terima hadiah, Dylan kembali berjalan meninggalkan Teri yang masih terpaku menatap dirinya.

Tak lama Dylan pergi, segerombolan perempuan yang seumuran dengan Teri tiba-tiba saja datang dengan memasang muka sinis menatap dirinya.

"Tidak saya sangka ternyata Pangeran akan memberikan mahkota bunga itu kepada anda Nona Ronan," sahut salah satu perempuan di sana.

"Ya... Bukan hal yang aneh Pangeran memberikan mahkota bunga itu pada Nona Ronan, mengingat bahwa Pangeran bisa mendapatkan kepala beruang itu juga karena Nona Ronan!" sahut perempuan yang lain.

"Hah... Kalo tau Pangeran akan memberikan mahkota bunga seperti ini, saya sendiri pun rela jika harus membahayakan diri sendiri."

"Nona Ronan, Anda adalah perempuan beruntung yang telah diselamatkan oleh Pangeran," sahut perempuan lain.

Entah kenapa mendengar kumpulan perempuan ini berbicara membuat dirinya merasa kesal, apakah mereka semua tau bahwa yang dia alami kemarin bisa saja membuat dirinya kehilangan nyawa apa lagi jika saat itu Dylan tidak datang, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti dia sendiri pun tidak bisa menebak.

"Sama seperti kata Pangeran," ucap Teri sambil tersenyum licik ke arah mereka.

Sekumpulan perempuan itu langsung terdiam menatap ke arah Teri, yang sedang tersenyum remeh ke arah mereka.

"Hanya karena menginginkan sesuatu, nyawa pun kalian anggap remeh."

Tangan Teri langsung terkepal kuat menatap tajam ke arah kumpulan perempuan itu "Jika kalian memang menginginkan mahkota bunga ini, maka ambilah."

Teri dengan tatapan dingin langsung melepaskan mahkota bunga itu dihadapan kumpulan perempuan itu.

Brak!

Mahkota bunga itu jatuh ke atas tanah, bersamaan dengan mata mereka yang terbuka lebar.

"Jika kalian memang menginginkannya maka ambilah! Karena bagi saya nyawa itu lebih penting, dibanding sebuah mahkota bunga seperti ini!" tambah Teri yang langsung pergi dari sana.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!