Setelah makan malam, orang tua mereka pamit untuk pulang begitu pun dengan Kiara. Keenan dan Kinanti mengantar ketiga nya sampai ke depan pintu apartemen dan berharap akan bisa kumpul kembali.
Setelah ketiga nya tak terlihat dari mata mereka, barulah Ken dan Kinanti masuk ke dalam rumah mereka.
"Kamu pasti lelah, lebih baik kamu mandi dan aku akan siapkan pakaian untukmu tidur." Tutur Kinanti seraya memegang pergelangan Keenan tanpa sadar.
"Baiklah." Sahut Ken melepaskan tangan Kinanti kemudian beranjak dari tempatnya.
Kinanti menyusul Ken ke kamar, ia mengambil setelan piyama tidur pria kemudian meletakkannya di pinggir ranjang. Karena dirinya juga belum mengganti baju, Kinanti ikut mengambil piyama tidur yang akan ia gunakan.
Setelah lumayan lama, akhirnya Ken keluar hanya bertahtakan handuk di pinggang nya. Kinanti hampir tersedak air liur nya melihat penampilan Keenan yang begitu menggoda iman.
"A-aku akan berganti pakaian." Ujar Kinanti buru buru masuk ke dalam kamar mandi.
Keenan menatap kearah pintu, ia mengangkat sedikit bahu nya karena bingung pada tingkah Kinanti itu.
Sementara Kinanti menatap dirinya di cermin, ia meniti setiap pori-pori wajahnya barangkali ada sesuatu yang membuat Ken selalu enggan menatap nya.
"Wajahku tidak ada apa apa, kenapa Ken selalu saja menghindar." Gumam Kinanti meraba wajahnya sendiri.
Tak mau ambil pusing, segera ia membasuh wajah kemudian melakukan ritual mandi yang memakan waktu hampir 20 menit.
"Menyegarkan sekali," gumam Kinanti dengan langkah kaki yang keluar dari kamar mandi.
Kinanti menolehkan kepalanya, ia melihat Ken sudah berbaring dan memejamkan matanya dengan selimut yang masih ia tindih di bawah kakinya.
Kinanti melempar handuk ke sofa kemudian mendekati Ken, ia mengangkat kaki Ken kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya.
Kinanti duduk di sebelah Ken, ia memandang wajah tampan Ken yang begitu tenang. Tanpa ia sadari, tangannya terulur untuk mengusap wajah Ken dengan gerakan yang lembut.
"Kenapa aku merasa kamu tidak mencintaiku, Ken." Bisik Kinanti lirih.
Kinanti menundukkan kepalanya, ia mencium kening Ken kemudian memberikan kecupan di bibir yang selalu berkata dingin padanya.
"Night husband," ucap Kinanti kemudian berbaring di sebelah Ken dan memeluk nya erat.
***
Keesokan harinya, Ken duduk manis di meja makan sambil menunggu sarapan buatan Kinanti matang. Sambil menunggu, mulutnya tak henti menguap karena kantuk yang menyerang nya setelah semalaman tak bisa tidur.
"Ken, kamu gak tidur semalam? aku perhatikan sejak tadi kamu terus menguap." Tanya Kinanti mendekati Ken.
"Aku begini karena mu, Kinan." Batin Keenan mengingat kejadian semalam.
Keenan sebenarnya belum tidur ketika Kinanti mengusap wajah bahkan mencium bibirnya, ia sempat tersentak mendapat perlakuan itu dari Kinanti, namun ia memilih diam saja, sampai kehangatan mulai menjalar ketika Kinanti memeluk nya erat.
Ken beranjak dari tempat tidur, ia merasa gusar ketika melihat wajah tenang Kinanti dan mengingat perlakuan tulus gadis itu padanya. Hal itu berdampak sekarang, ia mengantuk dan lingkaran hitam sedikit terlihat dibawah matanya.
"Ken." Panggil Kinanti seraya memegang bahu Keenan.
"Eumm iya?" sahut Ken tersadar dari lamunan nya.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Kinanti lagi.
"Iya," jawab Keenan singkat.
"Ini sarapan mu," tutur Kinanti menyodorkan sandwich buatan nya pada Ken.
"Aku akan buatkan kopi agar kamu tidak mengantuk lagi, sebentar ya." Ucap Kinanti dianggukki oleh Keenan.
Kinanti menuang air panas ke dalam gelas, entah darimana kecoa itu berasal dan bisa berada di dekat Kinanti yang begitu merinding melihatnya.
Karena terkejut, Kinan tanpa sengaja menjatuhkan panci air panas di tangannya dan sebagian air panas itu mengenai kakinya.
"Awwww…" ringis Kinanti memegangi pinggiran wastafel.
Ken yang mendengar suara benda jatuh dan juga rintihan Kinanti lantas mengalihkan pandangan nya dari ponsel. Ia terkejut melihat Kinanti tengah menahan sakit, sementara asap tipis keluar dari lantai karena hawa panas dari air yang tumpah.
"Kinan, kau baik baik saja?" tanya Keenan khawatir.
"Panas, Ken. Kaki ku terasa panas," jawab Kinan dengan suara yang menahan.
"Kenapa kau tidak hati hati sih." Omel Keenan membuat Kinanti mengerucutkan bibirnya sebal.
"Lain kali hati hati." Pesan Ken kemudian dengan kekuatan penuh ia mengangkat tubuh Kinanti dalam gendongan nya.
"Ken turunan aku!" pekik Kinanti reflek memeluk leher suaminya.
Ken tak mengidahkan ucapan Kinanti, ia membawa Kinanti ke dalam kamar kemudian merebahkan gadis itu pelan.
"Jika sadang perhatian begini, ketampanan mu bertambah, Ken." Ucap Kinanti tanpa sadar.
LANJUT??? KOMEN DULU YA,😅 😅
BERSAMBUNG.................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Marhaban ya Nur17
kinan Keenan wkkwkw
2024-04-29
0
Dewi Nurmalasari
dia yg dh hancurin hidup kinan, tpi dia yg ky berasa rugi
2024-04-24
0
Lea Azalhea
thor kok kinanti panggil nama ke suaminya.. gk enak aja bacanya thor
2022-03-01
0