BAB 8

Kinanti menatap Keenan dengan tatapan tak percaya, bingung sekaligus takut. Perasaan nya bercampur aduk, ia berusaha mengingat sesuatu namun hasilnya hanya membuat kepalanya terasa sakit.

"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku tidak mengingat apapun?" tanya Kinanti menangis sambil memegangi kepalanya.

"Kamu mengalami kecelakaan, Sayang. Dan sangat menyesal karena kamu harus kehilangan ingatanmu untuk selamanya." Jawab Keenan lirih.

Tangis Kinanti semakin terdengar, Sandra mendekat kemudian langsung memeluk tubuh gadis itu sambil mengelus punggung nya dengan pelan.

"Tenang, Nak. Jangan khawatir, ada kami bersama kamu," tutur Sandra lembut.

"Tante siapa?" tanya Kinanti bingung.

"Saya mama nya Ken, kemudian itu papa, adik dan juga sepupunya. Mereka semua dulu yang paling dekat dengan kamu," jawab Sandra mengenalkan semuanya pada Kinanti.

"Jadi aku benar tunangan Keenan?" tanya Kinanti menatap Sandra penuh tanya.

Sandra mengangguk, ia mengusap kepala gadis itu yang di perban dengan lembut kemudian tersenyum hangat pada gadis yang akan menikah dengan putranya ini.

"Lalu dimana keluargaku?" tanya Kinanti berhasil membuat tubuh Keenan melemas bahkan dirinya hampir jatuh ke lantai jika tidak berpegangan pada pinggiran bangsal.

Rival mendekati sepupunya, ia memegang bahu Ken kemudian mengusapnya pelan berharap jika Ken bisa lebih tenang.

"Kinanti, kamu tidak memiliki keluarga. Maksud tante, keluarga kamu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan selama ini kamu menjadi gadis mandiri yang sangat kuat. Itulah mengapa Ken sangat mencintai kamu," jelas Sandra ragu dengan kalimat terakhirnya.

"Benarkah tante?" tanya Kinanti dijawab anggukan oleh Sandra.

Kinanti beralih menatap Keenan, tangannya terangkat bermaksud untuk meminta Ken mendekat padanya. Sementara Ken, ia bingung tetapi tetap mendekati Kinanti dengan langkah yang ragu.

"Maaf, tapi aku akan berusaha mengingat semuanya." Lirih Kinanti menggenggam tangan Keenan erat.

"Iya." Balas Keenan singkat, ia bingung harus membalas ucapan Kinanti seperti apa.

"Kak Kinan, cepat sembuh ya!" seru Kia dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu?" tanya Kinanti dengan bingung.

"Aku Kiara, adiknya kak Ken dan sebentar lagi akan jadi adikmu." Jawab Kiara dengan riang.

"Dan aku Rival, sepupunya kak Ken. Aku yang selalu mengganggu acara romantis kalian berdua," sambung Rival tak kalah riang.

Kinanti tersenyum, ia tidak menyangka jika selama ini ia memiliki keluarga yang begitu menyenangkan. Matanya kembali menatap Keenan lalu memberikan senyum hangat pada tunangan nya itu.

"Aku akan keluar sebentar." Pamit Keenan segera pergi dari kamar rawat Kinanti tanpa membalas senyuman gadis itu.

***

Berhari-hari telah berlalu, Kini Kinanti sudah bisa diajak keluar dari kamar rawat dan jalan jalan di sekitar rumah sakit. Keenan dengan setia menemani Kinanti karena orangtua dan juga adiknya harus mengurus tugas mereka masing-masing.

"Ken disini saja," pinta Kinanti menepuk pelan tangan Ken yang mendorong nya dari belakang.

Ken mengunci kursi roda itu agar tak jalan, ia kemudian mengambil posisi di depan Kinanti dan berjongkok di hadapan gadis itu.

"Ken, boleh aku tanyakan sesuatu?" tanya Kinanti menatap Keenan serius.

"Hmm, katakanlah." Jawab Ken mengangguk kecil.

"Sebesar apa cintamu padaku?" tanya Kinanti yang berhasil menyita oksigen di sekitar Ken.

Ken gelagapan, ia mencari-cari sesuatu yang bisa ia jadikan objek pelarian tatapan Kinanti yang terpaku padanya. Keenan berdiri seraya berdehem membuat Kinanti mendongak guna melihat wajah tunangannya itu.

"Ken." Panggil Kinanti pelan.

"Eummm iya?" sahut Keenan masih dengan perasaan bercampur aduk.

"Apa jawaban nya? kenapa kamu terlihat gugup?" tanya Kinanti sedih.

"Haruskah aku menjawabnya, Kinan. Cintaku untukmu tidak bisa di ukur, perasaan ini tulus sehingga aku sendiri tidak tahu berapa besar cintaku padamu." Jawab Keenan berhasil membuat senyuman indah terbit di wajah cantik Kinanti.

"Terimakasih, aku senang mendengarnya." Ucap Kinanti di balas senyum kecil oleh Keenan.

"Matahari nya sudah terik, lebih baik kita masuk sebelum kita terbakar disini." Ajak Keenan kemudian memutar dan mendorong kursi roda Kinanti masuk ke dalam rumah sakit.

Sesampainya di kamar rawat Kinanti, Ken membantu Kinanti turun dari kursi rodanya kemudian memindahkan nya ke bangsal. Karena Kinanti kesulitan naik, akhirnya Ken menggendong kemudian merebahkan Kinanti pelan di bangsal.

"Apa kamu mau minum?" tanya Keenan menawarkan.

"Iya, aku haus." Jawab Kinanti seraya menganggukkan kepalanya.

Keenan mengambil sebotol air mineral yang ia beli sendiri kemudian membukanya dan membantu Kinanti untuk meminumnya. Wajah mereka yang dekat membuat pandangan keduanya saling bertemu.

Iris mata hitam milik Kinanti menatap tulus pada Keenan, hal itu justru membuat Keenan merasakan rasa bersalah yang teramat besar. Ia menjauh kemudian mengusap wajahnya pelan.

"Aku akan ke toilet sebentar." Pamit Keenan kemudian pergi tanpa menunggu jawaban Kinanti.

LIKE, KOMEN DAN VOTE 🤗

BERSAMBUNG...................

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

sulit emang buat Ken, Krn setiap liat Kinan dia akan terus ingat kesalahannya...

2024-02-17

2

Fitriyani

Fitriyani

asal Ken jgn punya pacar aja lh y thor...🤣

2022-08-14

0

Bu Diah

Bu Diah

Mungkin maksudnya brankar bukan bangsal ya. Ceritanya cukup menarik.

2022-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!