Keenan terduduk di halaman rumah sakit sambil menatap kosong kearah pasien yang sedang menjalani perawatan dengan ditemani oleh suster mereka masing-masing.
Melihat pasien lansia membuat Ken teringat dengan kesalahan yang telah ia lakukan. Benar kata sang mama, dirinya telah membuat banyak masalah bagi orang lain, tetapi meski begitu ia tampak begitu berat jika harus menikahi Kinanti. Selama ini dirinya hanya ingin menganggap Kinanti sebagai adik dan bukan istrinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, menikah dengan orang yang tidak ku kenal? bagaimana mungkin!" desis Ken mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kakak." Panggil Kiara mendatangi sang kakak yang sejak tadi ia perhatikan dari jauh.
"Kenapa?" tanya Keenan menggeser tubuhnya memberi celah untuk sang adik duduk di sebelahnya.
"Kau sedang bingung dengan permintaan mama kan? maksudku dengan menikahi Kinanti?" tanya Kiara yang hanya dijawab anggukkan kecil.
"Apa yang membuatmu bingung, memang benar jika kau tidak mengenal Kinanti dan secara tiba-tiba kau harus menikahinya. Tetapi ingatlah dengan masa depannya, Kak. Keluarga nya sudah tidak ada dan aku rasa aku tidak perlu jelaskan siapa yang membuatnya seperti ini." Cetus Kiara pelan namun sangat dewasa.
"Bagaimana jika aku tidak bisa membuatnya bahagia, Kia? bagaimana jika nantinya aku hanya membuatnya menderita." Ucap Ken frustasi.
"Kenapa kau berpikir begitu, Ken?" tanya seseorang dari belakang mereka berdua.
"Papa." .
"Kenapa kau berpikir begitu, Ken?" ulang Harun duduk di sebelah sang putra setelah Kiara beranjak dari duduknya.
"Karena aku tidak mencintainya, Pa." Jawab Ken lirih.
"Kau tahu, mama dan papa dulu menikah tanpa cinta. Mama mu menggantikan posisi mantan papa tepat di hari pernikahan." Ucap Harun mulai menceritakan kisahnya dengan sang istri.
"Papa tidak mencintai mama mu bahkan papa selalu membuat hatinya sakit, papa bahkan pernah meminta cerai darinya. Tetapi kayakinan dan keteguhan mama akhirnya membuat benih cinta mulai hadir dalam diri papa, dan lihat sekarang kami sama sama bahagia." Lanjut Harun sambil sesekali mengusap bahu putranya.
"Seperti itulah, Ken. Cinta bisa hadir karena keyakinan, jika kau tidak mencintai Kinanti maka bukan berarti selamanya akan seperti itu. Kau bisa mencintai Kinanti setelah kalian menikah," ucap Harun yang di dengarkan dengan baik oleh Keenan.
"Tapi, Pa. Situasinya berbeda," timpal Ken membuat sang papa tersenyum hangat.
"Dimana perbedaannya?" tanya Harun membuat Keenan terdiam.
***
Sandra menatap gadis yang sedang melamun itu dengan tatapan sendu, seorang gadis yang kehilangan banyak hal karena putranya dan sekarang justru sang putra menolak untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya.
"Maafkan putra saya, Kinanti." Lirih Sandra tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu.
"Tenang, Tante. Aku yakin kak Ken akan mengerti dengan semua ini, ia hanya butuh waktu untuk menerimanya." Tutur Rival yang setia menemani Sandra.
"Mama." Panggil Keenan yang datang bersama papa dan juga Kiara.
Sandra tidak menjawab, ia masih terlalu kecewa dengan putranya. Ken yang mengetahui bahwa sang mama marah lantas meraih tangan Sandra dan mencium nya sebagai permintaan maaf.
"Maafkan aku, mama. Aku tahu aku salah dan sekarang aku jauh lebih bersalah karena lari dari tanggungjawab, tapi sekarang aku sadar bahwa semua harus di hadapi, papa sudah membuatku mengerti dengan semua ini." Ucap Ken dengan masih memegang tangan Sandra.
"Aku akan menikahi Kinanti, Ma." Lanjut Ken dengan nada beratnya.
Sandra terkejut sekaligus bahagia mendengar ucapan Keenan barusan, ia menarik bahu Ken hingga putranya itu kini menatapnya.
"Kamu serius kan, Ken?" tanya Sandra mengusap kepala putranya pelan.
"Iya, Ma." Jawab Keenan mengangguk pasti.
Sandra memeluk putranya dengan erat, setidaknya Ken akan bertanggungjawab. Meski dirinya juga belum mengetahui seperti apa sifat dan kepribadian Kinanti tetapi tanggungjawab tetaplah tanggungjawab.
"Kita masuk untuk memenuhi Kinanti." Ajak Sandra menarik tangan Keenan diikuti oleh yang lain.
Kinanti, seorang gadis yang kini tengah terbaring di atas bangsal dengan tatapan kosong yang mengarah ke atas langit-langit kamar. Keenan berdiri di sebelah bangsal gadis itu, kemudian meriah tangan lembut Kinanti dan menggenggamnya erat.
"Kinanti." Panggil Ken membuat gadis itu menoleh padanya.
"Kamu siapa?" tanya Kinanti menarik tangan dari genggaman tangan Keenan.
"Sayang, aku tunangan mu." Jawab Keenan berusaha tersenyum paksa.
LANJUT BESOK YA 😉
BERSAMBUNG.............
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ummi Ragil
tolong lebih perhatikan lagi nulis nama2 terbalik2
2022-03-25
0
Dwi setya Iriana
pengakuan ken👍👍👍👍
2021-09-07
0
Ninik Dwi Rahmawati
uo
2021-08-14
0