Willy dan Qenan menggerutu kesal sembari mengumpati sahabat kelincinya itu.
"Dasar kelinci buluk sialan."
"Ren," panggil Qenan.
"Hm." jawab Darren dengan matanya menatap layar ponselnya.
"Apa kau kuliah hari ini?" tanya Qenan.
"Iya," jawab Darren.
"Lalu lukamu itu, bagaimana?" tanya Willy yang khawatir.
"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Luka di bahu kiriku ini sudah sembuh. Lagiankan lukanya cuma di bahu, bukan berarti aku gak bisa melakukan apapun," sahut Darren.
"Baiklah. Kita bertemu di Kampus. Sekalian kita membahas masalah BAKSOS tersebut," juara Qenan.
"Kalau aku telat nyampe di kampus. Kalian langsung saja mulai. Jangan menungguku. Aku mungkin akan pulang dulu ke rumah dan membahas masalah ini bersama kak Darka," sahut Darren yang tidak menyadari bahwa mulutnya menyebut nama kakak kesayangannya itu
Qenan dan Willy mendengar Darren menyebut kak Darka tersenyum. Mereka berdua tahu bahwa Darren tidak menyadari akan hal itu.
Darren yang melihat kedua sahabatnya itu tersenyum, memicingkan kedua matanya. Darren sedikit curiga akan senyuman kedua sahabatnya tersebut.
"Kenapa senyam senyum, hah? Kalian masih waraskan?" tanya Darren.
"Kalau kami gila mana mau kau berteman dengan kami," kata Willy.
"Eemmm!! Benar juga. Mana ada orang yang mau berteman dengan orang gila. Tapi kalau orang gilanya tampan seperti kalian. Aku bersedia," ujar Darren sembari tersenyum manis menatap wajah Willy dan Qenan.
Disaat Willy ingin membalas ucapan Darren. Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Sudah sana pergi. Ngapain masih disini. Bukannya tadi kalian bilang ada beberapa tugas kalian yang belum selesai. Belum lagi kalian akan ke Kampus. Jadi jangan buang-buang waktu kalian untuk hal-hal yang tidak berguna. Apa kalian hanya ingin menerima gaji buta saja dariku?" sahut Darren yang sengaja membuat kedua sahabatnya itu makin kesal padanya.
"Sialan kau, Ren!" umpat Willy dan Qenan bersamaan.
Willy dan Qenan beranjak dari duduknya. Mereka melangkah menuju pintu keluar. Tanpa Darren sadari, Willu menyembunyikan bantal sofa di belakang tubuhnya.
Dan setelah itu...
PLAAKKK!!
BUUGGHH!!
"Aaakkkhhh." Darren meringis saat merasakan pukulan di kepalanya.
Willy memukul kepala Darren dengan bantal sofa dan Qenan memukul kepala Darren dengan tangannya. Mereka melakukannya secara bersamaan.
"Tiang listrik, Mingten! Sialan... Brengsek kalian!" teriak Darren sembari mengusap-usap kepalanya.
Sedangkan tersangka pemukulan langsung lari keluar dari ruangan meninggalkan Darren yang saat ini tingkat kekesalan sudah mencapai ubun-ubun. Mereka tidak ingin menjadi korban amukan dari siluman kelinci tersebut.
***
[SHOOWROOM BMW]
Saat ini Axel, Jerry dan Dylan sudah berada di Shoowroom BMW milik Darren. Mereka hanya mampir sebentar untuk mengecek keadaan para pekerja dan mengecek kondisi semua mobil-mobil yang ada disana.
Sepuluh menit yang lalu mereka bertiga mendapat pesan dari Qenan kalau hari akan membahas masalah BAKSOS di Kampus. Jadi mereka akan ke Kampus sekitar lima belas menit lagi.
"Bagaimana? Semuanya baik-baik sajakan?" tanya Dylan pada anggota pekerjanya.
"Aman, Bos."
"Syukurlah."
"Uji cobanya bisa dilakukan empat hari lagi, Bos."
"Baiklah. Aku akan sampaikan ini pada Darren."
Dylan berada di ruangan komputer. Dirinya sedang mengecek semua mesin-mesin mobil rakitan mereka sebelum diuji coba.
CKLEK!!
Pintu dibuka oleh seseorang. Lalu orang itu melangkah masuk.
"Bagaimana Dylan?"
Dylan menolehkan wajahnya melihat orang itu. "Semuanya dalam keadaan baik dan jauh dari kata sempurna. Empat hari lagi semua mobil-mobil itu sudah bisa diuji coba, Xel!"
"Oh iy, Axel. Apa Darren akan melakukannya lagi?" tanya Dylan.
"Aku juga tidak tahu, Lan. Tapi kayaknya iya. Darren akan melakukannya lagi. Kau tahu sendirikan bagaimana watak dan sifat Darren selama ini. Dia itu keras kepala," ucap Axel.
"Tapi bagaimana dengan luka di bahunya itu? Kalau Darren ikut dalam uji coba mobil-mobil itu. Aku takut luka di bahunya itu akan tambah parah. Apalagi Darren bawa mobilnya sudah kayak orang kesurupan," kata Dylan.
Baik Dylan maupun Axel sama-sama khawatir akan Darren. Mereka berharap saat uji coba empat hari lagi Darren tidak ikut.
"Sudahlah. Nanti kita bicarakan lagi dengan sikeras kepala itu," jawab Axel.
"Hahaha." mereka pun tertawa.
"Jerry mana?" tanya Dylan.
"Ada diluar. Dia sedang mengecek semua mobil dan memasukkan kedaftar lift pesanan pelanggan," jawab Axel.
^^^
Jerry sedang menghitung dan mengecek mobil-mobil yang kini tersusun rapi di ruang depan. Lebih tepatnya di ruangan dimana para pengunjung keluar masuk Shoowroom. Luas ruangan itu begitu luas.
"Apa sudah semuanya?" tanya Jerry pada salah satu pegawainya.
"Sudah, Bos."
"Cek sekali lagi. Dan jangan sampai ada kesalahan," perintah JErry.
"Baik, Bos."
Jerry dan beberapa pekerjanya kini fokus mengecek semua mobil-mobil itu. Mereka hanya ingin memastikan semuanya dalam keadaan aman, baik dan tanpa ada yang kurang.
"Bos. Ini catatannya. Semuanya komplit dan dalam keadaan baik."
Jerry mengambil buku yang disodorkan oleh pekerjanya itu. Dan langsung mengecek satu persatu.
"Kerja yang bagus," puji Jerry. "Siapakan tenaga dan energi kalian untuk empat hari ke depannya. Mobil-mobil ini akan siap diuji coba," kata Jerry.
"Siap, Bos."
***
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Darren sudah berada di rumahnya sejak sepuluh menit yang lalu. Bahkan saat ini Darren sedang makan siang bersama.
Awalnya Darren tidak ingin, tapi karena paksaan dari Bibinya. Akhirnya Darren pun menurut.
"Bagaimana kuliahmu, Nak?" tanya Erland pada Darren putra ketujuhnya.
Darren melirik sekilas sang Ayah. Eeh, maksudnya mantan Ayahnya. Itu menurutnya. Tapi tidak dengan Ayahnya. Lalu kembali fokus pada makanannya. Darren yang melihat tidak ada tanggapan dari putranya itu hanya bisa diam dan berusaha sabar. Erland tidak marah pada putranya itu. Dirinya sadar. Putranya itu seperti itu karena kesalahan dirinya.
"Hei, siluman kelinci. Tidak sopan sekali kamu, ya. Kalau ada yang bertanya itu dijawab. Bukan diabaikan," sahut Carissa.
Darren menatap wajah cantik Carissa dengan wajah merengutnya. Mereka semua yang ada di meja makan diam-diam memekik gemas saat melihat wajah imut Darren.
"Bibi Carissa yang paling bawel, yang paling cerewet daaannn...." Darren sengaja menghentikan ucapannya.
"Dan apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Carissa penasaran.
"Males. Kalau berdebat dengan Bibi gak ada untungnya. Yang ada aku bakal rugi besar," jawab Darren, lalu melanjutkan acara makannya yang tertunda.
"Rugi? Kenapa harus rugi?" tanya Carissa lagi.
"Sudahlah, Bibi Carissa yang cantik dan baik hati. Lanjutkan saja makannya. Tuuh. Makanan Bibi masih banyak di piring. Jangan dibuang. Mubazir," kata Darren.
Carissa melihat kearah makanannya. Dan benar saja. Makanan masih banyak. "Eeh. Tunggu dulu. Perasaan tadi makananku tidak sebanyak ini. Kenapa malah jadi banyak gini?" batin Carissa.
"Darreeennn!" teriak Carissa.
"Mulai lagi," batin mereka semua.
"Carissa. Kenapa berteriak seperti itu?" kesal Erland
"Salahkan saja putramu itu, kak. Lihatlah," Carissa menunjukkan piringnya pada Carissa.
Mereka semua melihat kearah piring Carissa yang berisi banyak makanan.
"Yah, Bibi! Sejak kapan Bibi makan sebanyak itu?" ledek Dzaky.
Carissa menatap horor Dzaky. Dzaky yang sudah ditatap seperti itu oleh Bibinya langsung kembali fokus pada makanannya. Lalu detik kemudian, Carissa menatap wajah tampan keponakan kelincinya yang kini sibuk dengan makanannya.
"Jangan pura-pura tidak tahu ya, Darrendra Smith!" seru Carissa kesal.
Carissa tahu ini pasti keponakan kelincinya itu yang diam-diam menukar piring miliknya dengan piring milik Bibinya.
"Uhuukk."
Darren terkejut dan juga tersendak. Bahkan reflek menjatuhkan sendok yang dipegangnya saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Carissa. Seketika wajahnya berubah menjadi marah dan juga dingin.
Tanpa melihat wajah Bibi kesayangannya itu, Darren pun berucap. "Jangan pernah sekali lagi Bibi memanggil namaku seperti itu. Namaku Darrendra. Selamanya akan tetap seperti itu. Kalau Bibi masih memanggilku seperti itu. Maka Bibi akan masuk ke dalam daftar kebencianku. Aku pulang ke rumah ini itu karena Bibi. Jadi tolong hargai aku."
DEG!!
Carissa terkejut saat mendengar ucapan Darren. Dirinya baru sadar bahwa keponakan manisnya itu sudah tidak lagi menggunakan marga Smith di belakang namanya.
Setelah mengatakan hal itu, Darren pun pergi meninggalkan meja makan. Dirinya saat ini benar-benar kecewa akan sang Bibi. Tapi jujur, Darren tidak benar-benar marah pada Bibinya itu. Darren tahu bahwa Bibinya itu tidak sengaja mengucapkan hal itu.
Baru beberapa langkah. Darren berhenti sejenak, lalu membalikkan badannya.
"Kak Gilang, kak Darka. Nanti sepuluh menit lagi tunggu aku di ruang tengah. Aku ingin membahas masalah kegiatan BAKSOS kampus kita bersama kalian berdua."
Gilang dan Darkatersenyum. "Baiklah, Ren!" jawab mereka bersamaan.
Darren dapat melihat senyuman tulus di bibir Gilang dan Darka. Darren tahu arti senyuman itu. "Jangan terlalu berharap dan jangan terlalu bahagia saat aku memanggil kalian dengan sebutan kakak. Aku memanggil kalian dengan sebutan kakak hanya karena menghormati kalian saja. Tidak lebih. Jadi buang jauh-jauh pikiran kalian itu untuk aku mengakui kalian sebagai kakakku lagi," ucap Darren.
Senyuman Gilang dan Darka seketika luntur saat mendengar penuturan dari Darren yang begitu menyayat hati mereka. Bukan Gilang dan Darka saja. Bahkan Davin, Andra, Dzaky dan Adnan juga merasakan sakit di hati mereka. Segitu bencikah adik mereka pada mereka semua. Apakah tidak ada sedikit celah untuk mereka untuk bisa masuk ke hatinya lagi?
Setelah mengatakan hal itu, Darren pun pergi meninggalkan semua anggota keluarganya. Darren berniat untuk bersiap-siap, karena dirinya akan ke kampus sebentar lagi.
"Darren," batin Gilang dan Darka. Mereka berdua menangis.
Dzaky dan Adnan yang kebetulan duduk di samping mereka mengusap lembut punggung kedua adik-adiknya itu.
"Kakak harap kalian berdua yang sabar, ya. Jangan dimasukkan ke dalam hati akan perkataannya barusan. Anggap saja perkataannya itu ungkapan kekecewaannya selama ini pada kita," kata Dzaky.
"Hiks... ini semuanya salah kalian. Kalian yang telah menggoreskan luka di hatinya Darren. Tapi kenapa Darren malah ikut membenciku juga. Padahal aku tidak salah apapun... hiks," ucap Darka terisak.
Darka beranjak dari duduknya. Dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
wohoaaa manteep thor 😁👍
grazy uup ya thorr🤧🤧
2024-02-02
0