[KEDIAMAN SMITH]
[Kamar]
Darren pulang ke rumah keluarganya. Kalau bukan sang Bibi yang memohon padanya, Darren enggan untuk menginjakkan kakinya dirumah keluarga Smith lagi.
Flasback On
"Bi."
"Ada apa, sayang?"
"Aku mau pulang."
"Tapi...."
"Pulang."
"Paman akan tanyakan pada Dokter dulu." Evan pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren.
Selang beberapa menit, Evan datang bersama seorang Dokter.
"Dokter. Izinkan aku pulang, ya. Aku sudah baik-baik saja."
"Melihat kondisi anda sekarang. Baiklah. Saya akan izinkan anda pulang. Tapi saya ingatkan, anda harus banyak istirahat dan jangan kelelahan untuk satu minggu ini."
"Baiklah, Dok. Saya akan jalankan perintah anda itu."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Qenan, Willy. Kalian langsung saja ke kantor. Biarkan aku pulang bersama Bibi Carissa dan Paman Evan."
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi," Pamit Qenan dan Willy.
"Kalian hati-hati!" teriak Darren.
"Oke!" teriak Qenan dan Willy balik.
"Sayang."
"Iya, Bi."
"Bibi mohon. Kali ini kamu harus nurut keinginan Bibi."
"Apa?"
"Pulanglah ke rumah."
Seketika wajah Darren berubah masam, marah dan dingin. Tatapan matanya yang begitu tajam. Anggota keluarganya yang melihat mengerti akan tatapan dan perubahan wajahnya. Merekalah yang telah membuat seorang Darren menjadi seperti sekarang ini. Dimana Darren yang menyimpan kebencian dan rasa sakit atas sikap mereka enam bulan lalu.
"Maaf, Bi. Aku tidak bisa. Aku sudah bersumpah untuk tidak menginjakkan kakiku di rumah itu lagi," ucap Darren.
DEG!
Mereka terkejut mendengar jawaban dari Darren. Mereka sadar bahwa Darren sangat-sangat membenci mereka semua, kecuali Carissa, Evan, Dafa, Tristan dan Davian.
"Sayang."
"Jangan paksa aku, Bi."
"Bibi mohon. Paling tidak hanya satu minggu saja. Setidaknya Bibi bisa menjagamu sampai kau benar-benar sembuh dan bisa beraktivitas lagi seperti biasa." Mohon Carissa sembari melipat kedua tangannya di hadapan Darren.
Darren yang melihat Carissa yang memohon sembari melipat tangannya di hadapannya menjadi tidak tega.
"Baiklah. Aku akan pulang ke rumah. Hanya satu minggu. Tidak lebih. Aku melakukan ini semata-mata hanya untuk Bibi."
Terukir senyuman manis di bibir Carissa. Begitu juga dengan Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan kelima putranya Agneta. Mereka sangat bahagia Darren mau pulang ke rumah.
"Iya, sayang. Hanya satu minggu. Tidak lebih," kata Carissa.
"Awas. Kalau sampai Bibi mengkhianatiku. Aku akan membenci Bibi. Selamanya! Berlaku juga untuk Paman Evan, kak Dafa, kak Tristan dan kak Davian."
DEG!
Mereka benar-benar terkejut mendengar penuturan Darren. Mereka tak habis pikir kalau Darren telah terlebih dahulu memikirkan hal itu. Memang benar? Baik Carissa, Evan dan ketiga putranya berencana untuk membantu Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin untuk berdamai dengan Darren.
"Baiklah. Kami mengerti!" ucap Evan.
Evan tidak ingin berdebat dengan kelinci nakalnya.
Flasback Off
Darren tengah duduk di sofa. Dirinya baru selesai menghubungi Qenan dan menyuruh Qenan untuk mengantarkan laptop miliknya ke kediaman Keluarga Smith.
Saat Darren tengah fokus dengan ponselnya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya.
CKLEK!!
Dan orang itu melangkah masuk ke dalam kamar Darren dengan membawa nampan di tangannya. Orang tersebut melihat ke arah Darren yang sedang fokus dengan ponselnya. Seakan-akan tidak terusik akan kehadirannya.
Orang itu adalah Davin.
"Ren. Kakak kesini membawakan makan malam untukmu. Karena kamu tidak ikut makan malam bersama malam ini."
Davin meletakkan nampan tersebut di atas meja. Tapi sebelum nampan itu menyentuh meja. Darren bersuara.
"Bawa kembali makanan itu ke bawah," sahut Darren dingin tatapan matanya masih fokus pada ponselnya.
"Tapi Ren. Kamu harus makan. Dan setelah itu kamu harus minum obat."
"Kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan mengatur hidupku. Sekarang bawa makanan itu keluar," ucap Darren dengan suara tinggi.
"Ren, ka..." ucapan Davin terpotong.
PRAANGG!!
Darren menepis nampan itu dengan kuat sehingga membuat makanan serta minuman itu tumpah dan berserakan di lantai.
"Darren," lirih Davin.
"Aku sudah menyuruh anda Davin Aldan Smith untuk membawa makanan itu ke bawah. Tapi anda keras kepala dan tetap memaksaku untuk makan. Kau pikir kau itu siapa, hah?!" Bentak Darren.
"Tapi kakak..." ucapan Davin lagi-lagi terpotong.
"Keluar dari kamarku!" usir Darren.
"Darren, " lirih Davin.
"Keluuaaarrr!" teriak Darren.
"Hiks." Davin menangis dan akhirnya Davin pun keluar dari kamar Darren.
"Dasar menjijikkan.. Penjilat."
^^^
[Ruang Makan]
Seluruh anggota keluarga Smith kecuali Darren dan Davin telah berkumpul di ruang makan. Mereka akan makan malam bersama.
"Ingat. Satu minggu aku bisa menahan Darren disini. Sisanya kalian lakukan sendiri. Itu urusan kalian," ucap Carissa ketus.
"Selama satu minggu Darren disini. Cobalah tarik perhatiannya. Buat Darren nyaman di rumah ini," kata Evan.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat adik kami nyaman!" seru Adnan.
Saat mereka tengah membicarakan Darren. Mereka dikejutkan suara langkah kaki yang menuju ke arah mereka. Lalu mereka semua melihatnya keasal suara tersebut. Dapat mereka lihat Davin yang berjalan ke arah meja makan dengan wajah sedih. Terlihat ada bekas air mata di wajahnya.
"Davin, kamu kenapa sayang?" tanya Erland.
"Hiks... aku gagal mendekati Darren. Saat aku membawakan makan malam untuknya, Darren membuang makanan itu. Awalnya Darren menyuruhku untuk membawa makanan itu kembali ke bawah. Tapi aku terus berusaha membujuk Darren untuk makan agar bisa meminum obatnya," kata Davin.
Mereka semua terdiam saat setelah mendengar penuturan dari Davin.
"Lebih baik kita makan malam saja dulu. Nanti setelah itu baru kita pikirkan bagaimana caranya membujuk Darren untuk mau makan," kata Dafa.
"Apa yang dikatakan Dafa benar. Kita makan saja dulu," ucap Evan.
Lalu mereka pun memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Setelahnya selesai, barulah mereka mencari cara untuk membujuk Darren untuk makan malam.
^^^
[Ruang Tengah]
Mereka kini berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Carissa masih berada di dapur. Carissa menyiapkan makan malam untuk Darren dan akan mengantarkannya ke kamar.
Setelah selesai, Carissa pun pergi meninggalkan dapur dan menuju kamarnya Darren. Dirinya tidak mau membuat keponakan manisnya itu terlambat makn malam, apalagi sampai terlambat minum obatnya.
Saat Carissa melangkahkan kakinya menuju kamar Darren yang ada di lantai dua dimana letak kamar Darren memang mengarah ke ruang tengah. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!!
TAP!!
TAP!!
Mereka semua melihat ke arah Darren yang menuruni anak tangga.
"Darren," panggil Carissa.
"Bibi Carissa."
"Kenapa gak bilang kalau mau turun?" tanya Carissa lembut.
Darren tersenyum. "Aku memang tidak berniat turun. Hanya saja aku ingin membukakan pintu untuk seseorang," jawab Darren.
"Memangnya siapa yang akan datang, Nak?" tanya Erland lembut.
"Sahabatku Qenan. Kenapa? Tidak boleh?" ucap dan tanya Darren ketus dengan ekspresi wajah yang tak bersahabat.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang? Ya, boleh dong. Kapanpun sahabat-sahabat kamu mau datang. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk mereka," jawab Erland.
TING!!
TONG!!
"Ach, itu pasti Qenan! Bentar Bi." Darren langsung berlari menuju pintu utama.
"Ini makanannya bagaimana?!" teriak Carissa.
"Bibi letakkan saja di meja ruang tengah. Nanti aku makan!" teriak Darren balik.
"Hah! Dasar keponakan kurang ajar." Carissa meletakkan makanan itu di atas meja ruang tengah.
Mereka yang mendengar gumaman kekesalan Carissa tersenyum.
"Sudah tahu seperti itu masih saja dekat-dekat," ejek Evan.
"Karena dia keponakan kesayanganku. Wajahnya paling imut dari yang imut. Sayangkan kalau diangguri," kata Carissa.
"Aish, Bibi! Memangnya Bibi mau apakan adikku?" tanya Gilang kesal atas penuturan Carissa.
"Mau tahu. Apa mau tahu banget?" goda Carissa.
"Hahahaha." mereka tertawa melihat wajah kesal Gilang.
^^^
[Ruang Tamu]
CKLEK!!
Pintu dibuka oleh Darren. Dan dapat dilihat olehnya sahabatnya Qenan sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo, masuk!" Darren langsung menarik kuat tangan Qenan.
"Yak, Ren! Kau pikir aku ini apaan. Tidak ditarik-tarik juga keles," kesal Qenan yang tangannya ditarik-tarik oleh buntelan kelincinya.
Setelah sampai di ruang tengah, Darren pun melepaskan tangan Qenan.
^^^
[Ruang Tengah]
"Mana laptopnya. Berikan padaku."
TAK!!
Qenan menjitak kening Darren sehingga membuat Darren meringis.
"Yak! Kenapa kau menjitakku Mingtem sialan?"
"Sudah tahu salah. Masih berani protes."
"Memangnya salahku apa?"
Darren menatap tajam kearah Qenan. Qenan pun tak mau kalah. Dirinya juga menatap tajam kearah Darren.
Anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum bahagia. Mereka bangga akan persahabatan Darren dan sahabat-sahabatnya.
"Eeehheemm!" Carissa berdehem
Hal itu sukses membuat Darren dan Qenan terkejut. Dan melihat kearah Carissa.
"Bibi," ucap keduanya kompak.
"Sudah pandang-pandangannya?" goda Carissa.
"Aish, Bibi. Apaan sih?" Darren mempoutkan bibirnya kesal.
Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah merengut Darren.
"Jangan lupa dihabiskan makan malamnya," ucap Carissa.
Darren menatap makanan yang sudah ada di atas meja ruang tengah.
"Harus habis?" tanya Darren.
"Iya? Kenapa?" tanya Carissa balik.
"Tidak. Cuma nanya," jawab Darren yang tatapan matanya masih fokus pada makanan tersebut.
Darren hanya bisa menelan ludahnya kasar. Bagaimana tidak? Makanan yang disediakan Carissa adalah semangkuk bubur, segelas susu, segelas air putih dan obat.
Baik Carissa maupun anggota keluarganya sangat-sangat tahu bahwa Darren paling anti yang namanya bubur atau nasi lembek.
Mereka diam-diam tersenyum bahagia dan juga gemas melihat wajah tak suka Darren saat melihat semangkuk bubur yang dibuat oleh Carissa.
"Aish, Bibi! Kau kejam sekali. Jadi ini alasan Bibi menyuruhku pulang dan berniat menjagaku agar Bibi bisa meracuniku dengan makanan itu," sahut Darren.
"Kau tidak akan mati dengan memakan bubur itu, Darren. Jadi jangan lebai dech," balas Carissa.
"Dasar psikopat tua," gumam Darren sembari mendudukkan pantatnya di sofa.
Darren pun berlahan mulai menyendokkan bubur tersebut ke dalam mulutnya, walau masih terlihat jijik di wajahnya.
"Apa kau bilang?" tanya Carissa yang telinganya mendengar gumaman Darren.
"Aku tidak bilang apa-apa. Telinga Bibi saja yang terlalu sensitif," jawab Darren.
Saat satu sendok bubur itu sudah masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba Darren memuntahkannya kembali.
"Huueeekk.. Huueeeekkk! Uuhhuukk."
Hal itu sukses membuat anggota keluarganya panik dan khawatir. Agneta langsung berpindah duduk di samping Darren dan mengelus lembut punggung putranya itu.
"Sayang. Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya Agneta.
Darren belum menyadari Agneta yang saat ini duduk di sampingnya.
"Yak, Bibi! Kau benar-benar ingin membunuhku ya. Buburmu ini rasanya... Huuueeekkk!"
"Sayang. Minum dulu, nih." Agneta memberikan segelas air putih pada Darren. Dan Darren pun menerimanya. Darren langsung menghabiskan air tersebut
Carissa benar-benar khawatir dan juga merasa bersalah pada keponakan manisnya itu. Lalu Carissa mencicipi bubur tersebut.
Setelah dirasakan apa rasa dari bubur yang dimasaknya itu. Carissa hanya bisa tersenyum malu.
"Hehehehe. Asin," ucap Carissa tanpa beban.
"Hah." mereka semua menghela nafas atas sikap ceroboh Carissa.
"Dasar orang tua pikun," ejek Darren. Carissa melotot. "Jangan-jangan susu ini juga asin. Pasti Bibi masukkin garam ke dalam susu ini. Iyakan?" ucap dan tanya Darren.
"Gak tahu. Tapi mungkin juga," jawab Carissa asal.
"Bibi," kesal Darren.
"Biar kakak yang minum terlebih dahulu untuk membuktikan asin atau manis!" seru Darka.
Darka mengambil susu tersebut, lalu mencicipinya. Sedangkan Darren terus memperhatikan wajah Darka.
Setelah dapat dirasakan apa rasa susu tersebut. Darka kembali menaruhnya di atas meja. Matanya menatap wajah tampan adiknya itu. Lalu tersenyum.
"Minumlah. Rasanya manis dan enak."
Darren mengalihkan pandangannya melihat ke arah susu tersebut. Sebelumnya Darren kembali menatap wajah Darka.
Darka yang mengerti pun mengangguk. Akhirnya Darren mengambil susu itu dan langsung meminumnya, walau sedikit ragu.
Saat air susu itu menyentuh lidahnya. Kedua matanya membulat sempurna. Hal itu sukses membuat anggota keluarganya memekik gemas saat melihat wajah imutnya, termasuk Qenan. Tanpa ragu-ragu lagi, Darren meneguk habis isi gelas tersebut dan tanpa sisa.
Darren menjilati bibirnya. "Bibi ini enak sekali. Aku mau lagi dong. Sekarang!" seru Darren dengan wajah memelasnya.
"Baiklah. Bibi akan buatkan." Carissa pun kembali ke dapur.
"Bibi buatnya dua, ya. Yang satunya untuk Qenan! " teriak Darren.
"Oke, sayang!" teriak Carissa.
"Sayang. Kamu kan belum makan malam nih. Bagaimana kalau Mama bikinkan makanan kesukaannya kamu? Kamu bisa makan bersama Qenan, " ucap Agneta sembari mengelus lembut rambut Darren. Dirinya berharap putranya itu mau menerima tawarannya tersebut.
Diluar dugaan. Darren langsung menjawab. "Baiklah."
Hal itu sukses membuat mereka semua bahagia karena Darren tidak menolak tawaran dari Agneta. Padahal yang sebenarnya Darren saat ini benar-benar sedang tidak fokus. Makanya Darren dengan gampangnya menyetujui tawaran dari Agneta.
Agneta tidak membuang kesempatan tersebut. Dirinya langsung pergi menuju dapur untuk memasak makanan kesukaan kesayangannya itu.
...**Mohon Dukungannya...
Berikan Komentar, Like dan Vote**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments