Ke esokkan paginya semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah, termasuk gadis cantik bernama Alie Salsa Immanuel. Adik dari Yonantan Axel Immanuel. Salsa seumuran dengan Mathew.
Saat mereka tengah berbincang-bincang. Terdengar suara derap langkah seseorang menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan sikeras kepala Darren.
Mereka yang mendengar hal itu, langsung kompak mengalihkan pandangannya melihat kearah anak tangga. Dapat mereka lihat Darren yang telah rapi dengan pakaian santainya.
"Kak Darren," panggil Salsa.
Darren yang dipanggil pun melihat ke arah Salsa. Darren menghampiri Salsa yang sedang duduk di samping Agneta di ruang tengah.
"Kenapa ada disini? Dan kapan datangnya?" tanya Darren yang pura-pura tidak mengetahuinya.
"Yak, kak Darren! Pertanyaan macam apa itu? Apakah kemarin malam saat kakak bertarung melawan orang-orang itu. Dan orang-orang itu berhasil melukai kepala kakak sehingga kakak jadi amnesia begini." Salsa berbicara dengan bibir yang dimanyunkan.
Darren yang mendengar ucapan Salsa hanya tersenyum. "Hehehe. Maafkan kakak. Mau pulang atau tinggal disini selamanya?"
"Mau pulanglah. Kalau aku tinggal disini. Bisa-bisa aku akan cepat tua karena setiap hari ketemu kakak."
"Kenapa? Tidak senang bisa ketemu kakak setiap hari?"
"Senang sih. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Kak Darren itu nyebelin. Mau menang sendiri dan tidak mau mengalah. Aku selalu kalah kalau berdebat dengan kakak."
Mereka semua hanya tersenyum gemas melihat interaksi Darren dan Salsa. Diam-diam Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin merasakan kecemburuan saat melihat kedekatan Darren dan Salsa. Dulu mereka yang ada diposisi Salsa. Sekarang Salsa yang menggantikan posisi mereka.
Lalu detik kemudian muncullah kilasan-kilasan tentang kebersamaan mereka dengan kakak kesayangan mereka itu. Salah satunya adalah saat kakak kesayangan mereka itu membela dan menolong mereka saat dibully dan difitnah.
Flasback On
TING!!
TONG!!
CKLEK!!
"Kalian sudah pulang?" Davin yang melihat kelima adiknya pulang dalam keadaan lesu dan juga mata yang sembab.
"Ada apa?"
Sedangkan kelima adik-adiknya tidak menjawab pertanyaan dari Davin. Mereka berlalu begitu saja meninggalkan Davin dan menuju ruang tengah.
"Kenapa mereka?" Davin menyusul adik-adiknya ke ruang tengah.
Di ruang tengah telah berkumpul Smith bersaudara, kecuali Darren. Darren sedang berada di kamarnya.
"Kalian kenapa?" Gilang bertanya.
"Kalau ada masalah. Ceritakan pada kami. Jangan diam saja" kata Adnan.
Adrian dan adik-adiknya tidak menjawab pertanyaan dari para kakak-kakaknya. Mereka tetap memilih bungkam.
"Yak! Kalian kenapa sih? Dari tadi kita bertanya dan kalian hanya diam saja," kesal Andra.
"Dra," tegur Davin sembari menggelengkan kepalanya.
TAP!!
TAP!!
TAP!!
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Orang itu adalah Darren. Darren melangkah menuju dapur. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara panggilan dari ruang tengah. Darren langsung membalikkan badannya.
"Kak Darren," panggil Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvi. Mereka berlari ke arah Darren dan langsung....
GREP!!
Mereka langsung menerjang tubuh Darren. Hal itu sukses membuat tubuh Darren hampir terhuyung ke belakang. Untuk Darren bisa menahannya.
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka yang melihat hal itu sungguh bahagia. Mereka baru menyadari satu hal. Hanya Darren yang dibutuhkan oleh Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvon. Mereka hanya terbuka pada Darren.
"Hiks.. Hiks.. Hiks."
Darren yang mendengar isakan dari kelima adik-adiknya menjadi khawatir. "Hei. Ada apa? Kenapa kalian menangis? Apa keenam singa-singa itu sudah menyakiti kalian?" tanya Darren sembari mengejek keenam kakak-kakaknya.
"Uhuukk." para kakaknya tersendat saat mendengar penuturan dari Darren.
"Dasar adik kurang ajar."
"Kelinci bongsor sialan."
"Ingin rasanya tu mulut disumpal dengan cabe. Biar kepedasan."
"Memang ya tu mulut seenak jidatnya ngatain orang."
"Dasar kurap."
Kini Darren dan kelima adiknya sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Sekarang cerita pada kakak. Ada apa?"
"Kami di sekolah dibully kak. Sudah dua minggu ini. Awalnya kami bertiga tidak ingin mengadukan masalah ini pada kakak. Tapi kami sudah tidak kuat lagi. Kami bukan tidak bisa melawan. Tapi setiap kami melawan. Besoknya mereka datang dengan jumlah yang lumayan. Mereka mengeroyok kami. Sehebat apapun bela diri kita. Tapi kalau sudah dikeroyok, kita pasti bakal kalah juga." Natha berucap dan diangguki oleh Ivan dan Melvin.
"Lalu kalian?" tanya Darren pada Adrian dan Mathew.
"Kami.. kami dituduh telah mencuri uang sumbangan sebesar 100jt, kak!" jawab Adrian.
"Apa?!" teriak Darren dan para kakak-kakaknya.
"Bagaimana bisa?" tanya Davin.
"Kami tidak tahu, kak Davin. Uang itu sudah ada di dalam tas kami berdua. Dan masing-masing jumlah uangnya 50jt dalam setiap amplopnya," kata Mathew.
"Kami tidak mencurinya, kak Darren. Sumpah!" kata Adrian.
"Bagaimana ini kak? Pihak sekolah hanya memberikan waktu tiga hari untuk kami mau mengakuinya. Jika kami mengakuinya. Pihak sekolah akan memaafkan kami," kata Mathew.
"Lalu apa yang akan dilakukan oleh para brengsek itu jika kalian tidak mau mengaku?" tanya Andra yang kini sudah marah.
"Kami.. kami akan dikeluarkan dari sekolah secara tidak terhormat. Dan nama kami juga akan dimasukkan ke daftar hitam di seluruh sekolah yang ada di dunia ini. Jadi kata lain. Kami tidak akan bisa sekolah lagi kak Andra," jawab Adrian."
"Brengsek!" Davin dan Andra saat ini benar-benar emosi saat mendengar ucapan Adrian.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Seenaknya saja pihak sekolah mengambil keputusan seperti itu," Dzaky juga ikut emosi.
"Sudahlah, kak. Kalian tenanglah. Kalian tidak perlu khawatir. Aku tahu siapa dalangnya. Dan aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan aku pastikan orang yang sudah meletakkan dua amplop itu ke dalam tasnya Adrian dan Mathew akan merasakan kesakitan luar biasa. Bahkan anggota keluarganya juga akan ikut merasakan atas perbuatan anak-anaknya. Dan untuk pihak sekolah, aku akan buat mereka bersimpuh di kaki Adrian dan Mathew. Seperti apa yang mereka lakukan pada kedua adiku ini begitu juga yang akan mereka dapatkan. Dan aku juga akan membalas orang-orang yang sudah membully Nathan, Ivan dan Melvin. Dan aku minta pada kalian untuk tidak melakukan hal apapun."
"Baiklah, Ren." mereka menjawab bersamaan.
"Dan kalian. Kembalilah ke kamar. Untuk satu minggu ini kalian tidak usah sekolah dulu."
"Baik, kak." Dan mereka pun pergi meninggalkan para kakaknya untuk menuju kamar mereka.
"Kau sudah berani mengusik keluargaku," batin Darren.
^^^
Tiga hari setelah kelima adik-adiknya mengadukan hal masalah mereka padanya. Kini Darren berada di sekolah Adrian dan Mathew.
Saat ini semua telah berkumpul di lapangan lengkap dengan sebuah televisi, sebuah DVD dan alat-alat lainnya. Disana juga ada para orang tua dari anak-anak mereka. Mereka semua benar-benar berniat sekali ingin mempermalukan Adrian dan Mathew. Mereka tidak tahu siapa itu keluarga Smith.
Sesuai permintaan pihak sekolah bahwa setelah tiga hari Adrian dan Mathew harus mengakui bahwa telah mencuri uang tersebut.
"Bagaimana Adrian, Mathew? Apa kalian mau mengaku bahwa memang kalian yang mencuri uang itu?" tanya Kepala sekolah.
Sedangkan Adrian dan Mathew masih bungkam. Mereka menunggu perintah dari kakaknya yaitu Darren.
Sedangkan Darren menatap tajam ke arah kepala sekolah dan juga mereka semua yang saat ini sedang menghina dan mengumpati kedua adik-adiknya.
"Maaf kalau saya menyela disini," kata Darren
"Anda siapa?" tanya Wakil kepala sekolah.
"Saya Darren. Darrendra Smith. Saya Alumni sekolah ini. Saya lulus dari sekolah ini empat tahun yang lalu. Tidak menyangka empat tahun saya lulus dari sekolah ini ternyata banyak yang berubah. Salah satunya adalah peraturan. Setahu saya dulu tidak ada peraturan seperti ini. Dimana seorang murid yang kedapatan mencuri langsung dituduh dan dicap sebagai pencuri. Tanpa mencari bukti terlebih dahulu, pihak sekolah langsung membuat keputusan memberikan waktu 3 hari untuk sipelaku mau mengakui kesalahannya didepan semua orang. Kalau tidak, sipelaku akan dikeluarkan secara tidak terhormat dan juga namanya akan dimasukkan kedaftar hitam disetiap sekolah yang ada didunia ini. Waaww! Saya benar-benar kagum akan peraturan sekarang."
"Hei, kau. Kalau tidak ada urusannya. Lebih kau pergi dari sini. Jangan ikut campur dalam masalah sekolah ini!" bentak wakil kepala sekolah.
"Maaf sebelumnya. Anda tidak bisa mengusir saya dari sini. Saya datang kesini demi kedua adik-adiknya saya yaitu Adrian Smith dan Mathew Smith."
"Ooh jadi kau itu..."
"Maaf Tuan. Saya belum selesai bicara. Jadi jangan dipotong dulu. Oke!"
"Saya tidak mau berlama-lama disini dan lagian juga saya sangat jijik melihat wajah-wajah kalian itu. Maka saya langsung saja, ya."
"Hansel."
"Ya, Bos."
"Putar Video itu dan perlihatkan pada sampah-sampah yang hadir disini."
"Baik, Bos." Hansel pun melangkah menuju dimana tempat dvd dan televisi berada.
"Saya harap. Kalian semua memegang perkataan kalian. Dan jangan ada yang berani untuk melawan!" seru Darren.
"Lihatlah baik-baik Isi video itu. Buka mata kalian lebar-lebar."
Mereka semua yang ada di lapangan pun melihat dan menyaksikan tayangan video tersebut.
Mereka semua terkejut dan syok saat melihat enam murid yang masuk ke ruang guru lalu mengambil dua bungkus amplop. Dan mereka juga mendengar kalau keenam murid tersebut akan menjebak dengan memasukkan kedua bungkusan amplop itu ke dalam tas Adrian dan Mathew. Tujuan utama mereka melakukan hal itu adalah agar Adrian dan Mathew dikeluarkan dari sekolah secara tidak terhormat.
Setelah penayangan video itu selesai. Hansel langsung mematikannya dan mengambil kembali video itu.
"Bagaimana? Kalian sudah melihatnya bukan? Jadi kalian sudah tahukan siapa dalang yang sebenarnya?"
"Hansel. Sebarkan video-video itu ke internet dan juga televisi agar semua orang tahu siapa mereka sebenarnya. Dan sebarkan juga video tentang kelakuan para pihak sekolah yang sangat menjijikkan ini agar dinas pendidikan mengetahuinya."
"Siap, Bos."
Mereka yang mendengar penuturan dari Darren benar-benar terkejut dan ketakutan.
"Tolong. Saya mohon jangan lakukan itu, Tuan." mohon kepala sekolah.
"Kami akan menghukum mereka berenam yang telah memfitnah Adrian dan Mathew," kata Kepala sekolah itu lagi.
"Tapi maaf. Saya sudah tidak berminat lagi. Awalnya saya datang kesini ingin bicara baik-baik dengan anda. Tapi sayangnya, iktikad baik saya tidak diterima. Jada maaf sekali lagi."
"Bagaimana hansel?"
"Siap, Bos. Video-video itu telah terkirim. Tunggu beberapa menit, Video-video itu ditonton oleh banyak orang."
Darren tersenyum. "Oh iya Hansel. Satu lagi. Aku hampir melupakannya."
"Apa itu Bos?"
"Kau buat bangkrut Perusahaan milik Ayah mereka tanpa sisa sama sekali sehingga mereka semua jatuh miskin."
"Siap, Bos."
"Jangan.. jangan lakukan hal itu. Kami mohon," para orang tua dari murid yang telah menjebak Adrian dan Mathew menjerit histeris.
"Hukum anak-anak kami dengan cara lain. Tapi jangan buat Perusahaan suami-suami kami bangkrut."
"Maaf. Tidak bisa. Apa yang dilakukan oleh anak-anak kalian dan apa yang telah kalian lakukan pada kedua adikku tidak bisa dimaafkan dengan hanya memberikan hukuman kecil saja. Ini adalah pembelajaran untuk kalian agar lebih bisa menghormati orang lain. Sekalipun orang itu bersalah. Dan jangan pernah memandang seseorang dari luarnya saja. Kalian semua telah salah menilai kedua adikku. Kalian kira kami kekurangan uang sehingga kami tidak bisa memberikan uang kepada mereka berdua. Kalian salah. Kami tidak kekurangan uang sama sekali. Kalau mereka butuh uang, mereka tinggal minta dengan kami keluarganya. Tidak harus mencuri. Permisi!"
"Oh iya. Dikarenakan masalah sudah selesai. Saya selaku kakak dari Adrian Smith dan Mathew Smith mengatakan bahwa hari ini dan seterusnya mereka tidak akan bersekolah lagi disini. Karena saya sudah mendaftarkan mereka kesekolah yang lebih bagus dan berpendidikan."
Setelah mengatakan hal itu Darren dan kedua adiknya pun pergi meninggalkan sekolah tersebut.
Setelah dari sekolah Adrian dan Mathew. Darren akan ke sekolah Nathan, Ivan dan Melvin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments