Darren berlahan melangkah mundur. Air matanya tidak bisa lagi ditahan. Darren menangis. Menangis dalam diam tanpa isakan.
"Aku kecewa dengan kalian semua. Kalian memperlakukan aku seperti penjahat dirumah ini. Tidak ada satupun dari kalian yang mempercayaiku. Kalian lebih percaya dengan video yang kalian tonton itu sebelum kalian menyelidiki kebenarannya. Untuk apa lagi aku berada dirumah ini. Lebih baik aku pergi dari rumah ini," ucap Darren.
"Dan aku sangat yakin sekarang ini. Aku bukanlah putra kandung anda dan aku bukan adik kandung kalian. Jika aku benar-benar putra dan adik kandung kalian. Kalian tidak akan bersikap begini padaku."
Mendengar ucapan Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren bisa berbicara seperti itu.
"Kau benar Darren. Kau bukan putra kandung dari Erland Faith Smith. Dan kau bukan adik kandung dari keenam kakak-kakakmu. Kau hanya putra dan adik angkat mereka!" seru Carrisa.
"Carrisa/Bibi!" teriak Erland dan keenam putranya.
"Kenapa? Aku benar bukan? Jika Darren putra dan adik kandung kalian. Kalian tidak akan memperlakukan Darren seperti ini," ucap Carrisa dengan menatap remeh Erland dan keenam keponakannya.
Erland dan keenam putranya melihat kearah Darren. Dapat dilihat oleh mereka bahwa Darren mempercayai apa yang diucapkan oleh Carrisa.
"Darren..." perkataan Erland terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu bersuara.
"Aku lebih percaya perkataan bibi Carrisa kalau aku bukanlah putra dan adik kandung kalian," ucap Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju kamarnya di lantai dua.
"Sudah puaskah kalian! Aku muak dengan sikap kalian seperti ini. Tapi aku berterima kasih karena Darren lebih mempercayai perkataanku dari pada kalian keluarga kandungnya."
Setelah mengatakan hal itu, Carrisa pergi menuju kamarnya dan disusul oleh suaminya Evan
"Sudahlah, Pa! Jangan dipikirkan apa yang dikatakan, Bibi! Bibi seperti itu karena terlalu memanjakan anak tak tahu diri itu. Dan soal Darren yang lebih percaya perkataan bibi Carrisa. Kita akan buat Darren percaya pada kota," kata Davin.
Setelah mengingat semua itu. Darren menatap tajam mantan anggota keluarganya.
"Mau apa kalian kemari?" Darren bertanya dengan suara tinggi.
"Sayang," lirih Erland.
"Jawab saja pertanyaanku sialan. Dan jangan perlihatkan wajah-wajah menjijikkan kalian seperti itu padaku. Kalian pikir aku akan iba dan luluh, hah?!" bentak Darren dengan wajah dinginnya.
"Darren. Kenapa bicara seperti itu, Nak? Papa tahu Papa salah. Maafkan Papa sayang. Maafkan Papa," ucap Erland yang sudah menangis.
"Papa? Hei, tuan! Apa anda sedang bermimpi? Aku bukan putra kandung anda. Aku hanya putra angkat anda. Jadi jangan berlagak seperti ayah saya, oke!" Darren menatap penuh amarah wajah Erland.
Dong Gun terkejut dan merasakan sesak di dadanya saat mendengar perkataan putra bungsunya yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah putra kandungnya. Dan juga putranya memanggilnya dengan sebutan Tuan, bukan Papa untuknya.
"Jungkook sayang Mama," panggil Agneta lembut dan tangannya menggenggam tangan Darren.
Darren melirik kearah tangannya yang digenggam oleh Agneta, lalu detik kemudian, Darren menarik kasar tangannya dari genggam Agneta. Hal itu sukses membuat Agneta terkejut atas sikap penolakan Darren. Agneta menangis. Hatinya sakit saat kesayangannya menolaknya.
"Jangan beraninya kau menyentuhku," ucap Darren. Darren melihat kearah Qenan dan Willy. "Qenan, Willy. Suruh mereka semua pergi dari sini. Aku jijik melihat wajah-wajah sok baik mereka," pinta Darren tanpa menatap anggota keluarganya.
"Ren, kami!" Qenan dan Willy menatap Darren.
Darren yang mendengar nada suara kedua sahabatnya itu mengerti. Dan akhirnya Darren pun diam.
Melvin mendekati ranjang Darren. Lalu....
GREP!
Melvin memeluk tubuh lemah Darren. Melvin menangis terisak di sana. "Hiks... Hiks... Kak Darren. Aku mohon jangan membenciku. Saat kejadian itu aku tidak ada disana. Saat itu aku ada di rumah sakit. Kak Darren... Hiks."
Mereka yang mendengar isakan Melvin menjadi sedih.
Darren melepaskan pelukan Melvin dengan sedikit kasar. Dan menatap tajam kearahnya. Melvin yang melihat tatapan tajam dari kakaknya itu tidak berani menatapnya. Melvin menundukkan kepalanya.
"Dengarkan aku. Pertama kau memang tidak salah. Kedua kalau kejadian saat itu hanya Darka Smith yang menjadi korbannya. Aku bisa pastikan kau juga akan ikut menyalahkanku, seperti keempat saudara-saudaramu itu. Ketiga kau adalah putra dari perempuan itu," tunjuk Darren dengan menggunakan kedua matanya. Darren menatap tajam kearah Agneta. Dan keempat kau dan keempat saudara-saudaramu itu bukanlah adik-adikku," tutur Darren dingin. "Sekarang menjauhlah dariku!" bentak Darren.
"Hiks... Hiks." Melvin terisak hebat. Lalu memeluk tubuh ibunya. "Mama... Hiks... Aku mau Kak Darren. Aku mau Kak Darren. Aku tidak mau Kak Darren membenciku. Aku menyayangi Kak Darren... Hiks."
Agneta menangis mendengar aduan putra bungsunya. Hatinya benar-benar sakit. "Tenang sayang. Kita akan membawa pulang Kak Darren, oke!"
"Darren," panggil Carrisa.
Darren melihat kearah suara yang memanggilnya. Detik kemudian, Darren pun menangis saat melihat orang yang begitu dirindukannya.
"Bi-bibi Carrisa," panggil Darren dan air matanya pun mengalir dari sudut matanya.
"Qenan, Willy. Bantu aku untuk duduk."
Qenan dan Willy pun membantu Darren untuk duduk. Dan kini Darren sudah dalam posisi duduk. Carrisa mendekati Darren keponakan kesayangannya itu.
GREP!
Carrisa memeluk erat tubuh sang keponakannya itu. Carrisa sangat merindukan tubuh hangat keponakan kelinci nakalnya ini.
"Hiks... Hiks... Hiks." Darren menangis terisak di pelukan Carriaa. "Aku merindukan Bibi. Aku merindukan, Bibi... Hiks."
Anggota keluarganya yang mendengar suara isakannya menjadi makin bersalah. Mereka semua menangis melihat Darren yang sangat merindukan Carrisa, Bibi kesayangannya.
Carrisa menangis sejadi-jadinya saat mendengar untaian kerinduan dari Darren. Dirinya juga sama seperti Darren. Sama-sama menyimpan kerinduan untuk keponakan manisnya ini. "Bibi juga merindukanmu sayang. Sangat!" Carrisa mencium kepala Darren.
Carrisa melepaskan pelukannya dari Darren. Lalu menatap wajah tampan keponakannya itu. Tangannya menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Setelah itu, Carrisa memberikan ciuman-ciuman di seluruh wajahnya.
Setelah puas, Carrisa kembali menatap wajah tampan keponakannya itu. "Sekarang katakan pada Bibi. Selama enam bulan ini kamu tinggal dimana? Apa Bibi boleh datang mengunjungimu?"
Darren tersenyum tulus pada Carrisa. "Aku tinggal di rumahku, Bi! Rumah yang aku beli sendiri dari hasil kerjaku selama ini. Bibi, Paman Evan dan ketiga kakak-kakak sepupuku boleh kok datang berkunjung. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian."
Carrisa, Evan, dan ketiga kakak sepupunya tersenyum bahagia mendengar ucapannya. Tapi mereka juga sedih hanya mereka saja yang diperbolehkan berkunjung. Sedangkan anggota keluarga yang lainnya tidak. Bagaimana pun, baik Carrisa dan Evan tidak ingin menyakiti Erland dan Agneta yang berstatus sebagai orang tua dari keponakan manis mereka itu. Carrisa dan Evan tidak ingin menjadi egois dan jahat hanya menguasai Darren dan makin menjauhi Darren dari mereka semua. Ditambah lagi perkataan Carrisa yang terpancing akan ucapan Darren yang mencurigai dirinya bukanlah bagian dari keluarga Smith.
"Terima kasih sayang. Bibi akan sering-sering mengunjungimu," jawab Carrisa, lalu mencium keningnya.
Kemudian Carrisa menyerahkan ponselnya pada Darren. "Ini."
"Bibi memberikan ponsel jelek ini padaku," sahut Darren seenaknya.
Yang lainnya tersenyum mendengar penuturan dari Darren. Tapi tidak dengan Carrisa. Carrisa menatap horor Darren.
"Hei, ini ponsel baru. Dua bulan lalu Bibi baru membelinya. Dan kau seenaknya mengatakan jelek, hah!" Carrisa berbicara sembari memperlihatkan wajah sangarnya.
"Aish, Bibi! Jangan perlihatkan wajah lucu Bibi itu padaku. Bibi pikir aku akan takut. Justru sebaliknya aku ingin tertawa," kata Darren.
Carrisa membelalakkan matanya saat mendengar penuturan dari Darren. Sedangkan yang lainnya tertawa.
"Hahahaha."
"Kau benar sayang. Melihat wajah Bibimu seperti ini kita bukannya takut. Tapi kita malah tertawa," kata Evan menambahkan.
Carrisa melirik suaminya dengan Bibir dimanyunkan dan mata yang dibuka lebar. Evan yang melihat wajah kesal sang istri langsung mengerti.
"Hehe. Sorry sayang," ucap Evan sembari melipat tangan di hadapan Carrisa.
"Aish. Baru dipelototin sama Bibi Carrisa aja udah ciut. Dasar suami takut istri," ejek Darren.
"Hahahaha." semuannya tertawa. Yang paling keras tertawanya adalah ketiga putra-putranya yaitu Dafa, Tristan dan Davian.
"Kau benar sekali Darren. Papa itu memang sangat takut pada Mama," ucap Dafa.
"Sama kita-kita aja galak. Tapi kalau sudah berurusan sama Mama. Papa langsung ciuut. Hahaha." Tristan juga ikut menggoda ayahnya.
"Hahahaha. betul-betul," kata Davian.
"Yak! Kalian benar-benar ya. Apa kalian mau jadi anak durhaka, hah?" kesal Evan yang diserang ketiga putra-putranya.
"Hahahaha. Papa lucu," tawa mereka bertiga.
"Sabar diperbanyak sayang," ucap Carrisa yang melihat wajah kesal suaminya.
"Hah." Evan menghela nafasnya.
"Ketik nomor ponselmu di ponsel Bibi ini," kata Carrisa.
Darren pun langsung menekan nomornya, kemudian menjadi save di ponsel milik Carrisa
"Sudah." Darren menyerahkan ponsel itu pada Carrisa.
"Bi."
"Ada apa, sayang?"
"Aku mau pulang."
"Tapi...."
"Pulang."
"Paman akan tanyakan pada Dokter dulu." Evan pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren.
Selang beberapa menit, Evan datang bersama seorang Dokter.
"Dokter. Izinkan aku pulang ya. Aku sudah baik-baik saja."
"Melihat kondisi anda sekarang. Baiklah. Saya akan izinkan anda pulang. Tapi saya ingatkan anda harus banyak istirahat dan jangan kelelahan untuk satu minggu ini."
"Baiklah, Dok! Saya akan jalankan perintah anda itu."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Qenan, Willy. Kalian langsung saja ke kantor. Biarkan aku pulang bersama Bibi Carrisa dan Paman Evan."
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Willy dan Qenan.
"Kalian hati-hati!" teriak Darren.
"Oke!" teriak Qenan dan Willy balik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
Dewi Pratiwi
ada apa sih author kok sampai salah penyebutan nama terus,apa saat membuat cerita ini adik iparku Jungkook membuatmu sedih 🤔🤗
2024-08-06
0
axelio
ntah knp baca ini mata gw gak bisa liat, klo liat tulisannya pasti burem terus. waktu buka mata eh tangan gw kok penuh ma air sih gw knp coba.
2024-05-14
0
Beti Hartati
😭😭😭😭
2024-01-30
0