[DI PERJALANAN]
[Dalam Mobil]
Baik Salsa maupun Darren, keduanya sama diam. Tidak ada yang bersuara. Darren sesekali melirik kearah Salsa.
"Apa perkataanmu bisa kakak percayai, Alie Salsa Immanuel?" Darren pun akhirnya berbicara.
Salsa yang mendengar cara Darren bertanya pun paham arah pembicaraannya. Tapi Salsa tidak berniat untuk menjawabnya.
Melihat Salsa yang tetap tak mau menjawab pertanyaannya, akhirnya Darren langsung menginjakkan rem mobilnya.
"Jangan kau pikir kakka tidak tahu apa yang terjadi padamu? Jangan kau pikir kakak tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ivan dan Nathan padamu? Kakak hanya ingin tahu darimu langsung, Alie Salsa Immanuel!"
Salsa menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, kak. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan hal ini padamu. Aku tidak mau hubungan kakak dengan keluarga kakak makin hancur kalau aku mengadu padamu."
"Hubungan kakak dengan mereka memang sudah hancur sebelum kau masuk ke dalamnya, Salsa. Dan hubungan ini tidak akan bisa diperbaiki, karena kesalahan mereka terlalu besar pada kakak. Mereka menyakiti kakak, mereka memfitnah dan menuduh kakak, mereka memukuli kakak, mereka pilih kasih terhadap kakak dan mereka telah membohongi kakak tentang ibu kandung kakak selama ini. Jadi sampai kapan pun kakak tidak akan pernah memaafkan kesalahan mereka semua!"
"Jadi berhentilah untuk membela mereka, Alie Salsa Immanuel!"
"Maafkan aku, kak."
Darren akhirnya menyerah. Walau Darren tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi dirinya tidak ingin memaksa Salsa untuk berkata jujur padanya. Dan akhirnya Darren kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Salsa pulang.
Setelah mengantar Salsa, Darren akan ke Perusahaan ACCENTURE. Dan Setelah dari sana, barulah Darren akan ke Showroom BMW (BAMXY) miliknya untuk mengecek mobil yang telah diselesaikan oleh ketiga sahabatnya dan para pekerjanya.
***
[PERUSAHAAN ACCENTURE]
Setelah mengantar Salsa pulang ke rumahnya, kini Darren sudah berada di Perusahaan miliknya. Darren datang ke Perusahaan hanya untuk mengecek para pegawainya, keamanan Perusahaannya dan data-data penting Perusahaannya itu. Darren menempatkan lima belas orang-orang dari kelompoknya sendiri yaitu JK-GUARD97. Kelompoknya itu masih beranggotakan 100 orang dan baru berdiri sekitar 2 tahun. Tapi para anggotanya itu sudah mahir dalam ilmu bela diri, mengusai berbagai macam senjata dan juga komputer. Darren hanya menempatkan para anggotanya untuk berjaga-jaga di Perusahaan Accenture, Galeri Lukisan dan Showroom BMW (BAMXY) miliknya.
Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya juga memiliki kelompok pendukung. Kelompok yang selalu siap membantunya. Seperti Black Guerrilla, The Crips, Almighty Black, Area Boy dan Latin Kings. Lima kelompok tersebut sangat berbahaya. Walau dikenal berbahaya, tapi kelima kelompok tersebut sering membantu orang-orang yang ditindas, orang-orang yang selalu dijahati oleh kelompok-kelompok lain.
Para pemimpin dari kelima kelompok tersebut berhubungan baik dan juga bersahabat dengan Darren, Dylan, Jerry, Axel, Willy, Qenan, Rehan dan Darel. Hubungan mereka terjalin sudah cukup lama. Sekitar 7 tahun lamanya.
Untuk anggota keluarga juga mengetahui hal itu. Tapi tidak untuk anggota keluarga Smith. Mereka tidak mengetahui tentang hal itu. Disaat Darren dekat dengan kelima kelompok tersebut, hubungannya dengan anggota keluarganya sedikit renggang. Lebih tepatnya dirinya selalu terabaikan, tersisihkan dan dilupakan oleh keluarganya. Yah! Itu menurut Darren. Tapi sebenarnya anggota keluarganya sangat menyayanginya melebihi apapun. Mereka selama ini tidak menyadari bahwa mereka tanpa sadar telah menyakiti perasaannya. Hal itulah membuat seorang Darren menutup diri pada anggota keluarganya sehingga terjadilah kejadian dimana dirinya dituduh telah melukai kedua saudaranya yaitu Darka dan Melvin.
^^^
[Ruang Kerja]
Darren sudah berada di ruang kerjanya saat ini. Mengetahui kedatangan Darren. Willy dan Qenan langsung datang ke ruangannya.
TOK!!
TOK!!
TOK!!
CKLEK!!
Pintu dibuka dan masuklah dua pemuda tampan ke ruangan Darren.
"Hei, Ren!" sapa Willy dan Qenan. Mereka langsung duduk di sofa.
Melihat keduanya telah duduk. Darren pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berpindah duduk di sofa bersama kedua sahabatnya itu.
"Bagaimana bahumu, Ren?" tanya Willy.
"Sudah lebih baik. Kalian tidak perlu khawatir," jawab Darren.
"Bagaimana? Apa kau sudah tahu siapa pelaku penyerangan rumah Axel?" tanya Qenan.
"Aku juga tidak yakin dengan tuduhanku ini. Awalnya aku berpikir bahwa dalangnya adalah orang yang sama dengan orang yang menusuk kak Darka dan Melvin. Tapi saat Axel bilang padaku bahwa salah satu dari orang-orang itu meminta agar kami menyerahkan rancangan mobil tersebut. Aku berpikir bahwa dalangnya adalah orang baru yang tidak menyukai kita," jawab Darren.
Qenan, Willy dan sahabatnya yang lainnya sudah mengetahui kejadian penyerangan rumah Axel kemarin malam. Axel sudah menceritakan semuanya pada mereka.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Willy.
"Kita tidak mungkinkan membiarkan masalah ini begitu saja. Bisa saja besok atau besoknya keluarga kita yang diserang," kata Qenan.
"Kalian tidak perlu khawatir. Untuk saat ini kita hanya perlu hati-hati dan waspada. Aku juga sudah meminta bantuan dengan kak Noe untuk menyelidiki masalah ini dan mencari tahu siapa dalangnya," sahut Darren.
"Ach! Baiklah kalau begitu," jawab Qenan dan Willy bersamaan.
"Oh iya. Aku lupa memberitahu sesuatu pada kalian!" seru Darren.
"Apa?" tanya Qenan dan Willy bersamaan.
"Masalah acara BAKTI SOSIAL kita di luar kota dibatalkan. Kita tidak akan jadi berangkat kesana," jawab Darren.
"Memangnya kenapa, Ren?" tanya Qenan.
"Masalah ini juga ada hubungannya dengan penyerangan rumah Axel. Tapi aku juga tidak yakin. Tapi kak Noe bilang padaku saat kita dalam perjalanan keluar kota orang-orang itu akan membunuh kita semua. Termasuk mahasiswa dan mahasiswi yang ikut dalam kegiatan ini. Jadi kak Noe memintaku agar acara kita ini dilakukan di kota Hamburg saja," jawab Darren.
"Brengsek! Siapa orang itu sebenarnya? Kenapa dia ingin sekali melenyapkan kita?" ucap Willy penuh amarah.
"Lalu acaranya akan dilakukan dimana?" tanya Qenan.
"Di kampus saja," jawab Darren.
"Baiklah. Aku, Qenan, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel akan mengatur semuanya. Dan kau juga jangan lupa membicarakan masalah ini dengan Dekan dan Dosen pembimbing dalam kegiatan ini," tutur Willy.
"Baiklah kalau begitu aku juga akan membahas masalah ini dengan wakilku," ujar Darren.
"Yaelah. Susah amat tu mulut untuk menyebut nama kakak sendiri. Tadi saja dengan entengnya menyebut namanya. Sekarang hanya menyebut wakilku," ejek Willy.
"Kalau orang yang gengsinya seluas langit pasti bakal susah untuk dijinakkin, Nan!" seru Willy yang ikut mengejek Darren.
BUUGGHH!!
BUUGGHH!!
Darren melempari dua bantal sofa masing-masing di wajah Willy dan Qenan sehingga membuat keduanya meringis. Lemparan Darren tepat di wajah keduanya.
"Aakkhhh."
Bantal sofa yang ada di ruang kerja Darren sangat tebal. Beda dengan bantal sofa yang ada di rumah. Jadi siapa pun yang terkena lemparan dari bantal sofa milik Darren akan terasa sakit. Tidak terlalu sakit. Tapi lumayan membuat orang tersebut meringis.
"Kenapa kau melempari kami, hah?!" protes Willy dan Qenan bersamaan.
"Apa? Mau lagi?" tanya Darren dengan kedua tangannya memegang bantal sofa lainnya.
"Tidaaakkkk!" Willy dan Qenan menjawab bersamaan. Sementara Darren yang melihat kedua sahabatnya tersenyum kemenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
wohoaaa manteep thor 😁👍
grazy uup ya thorr🤧
2024-02-01
0