[Kamar Darren]
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Darren sudah berada di kamarnya. Setelah beberapa jam yang lalu berada di ruang tengah bersama anggota keluarganya dan juga sempat makan bersama dengan Qenan. Dirinya belum menyadari sampai detik ini kalau anggota keluarganya berusaha mendekatinya.
Bagaimana dengan anggota keluarganya? Jangan ditanya lagi. Mereka semua sangat bahagia. Langkah pertama mereka berhasil. Salah satunya Agneta.
Agneta berhasil membuat Darren makan dengan lahap. Makan dari hasil masakannya. Ditambah segelas susu dari Carissa sang Bibi.
Saat ini Darren tengah fokus mengecek tugas-tugas kuliahnya, tugas-tugas kantornya, Galeri Lukisan dan Shoowroom miliknya melalui laptop.
Ketika tengah fokus menatap layar laptop, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
TING!!
TING!!
To : Noe Alfredo
Ren. Aku dengar kampusmu akan mengadakan Tour Keliling di beberapa kota di Berlin. Aku sarankan. Tunda dulu kegiatan itu. Dia akan mengacaukan kegiatan tersebut.
Saat membaca pesan dari salah satu kakak mafianya dari kelompok Black Guerrilla kening Darren mengkerut. Tanpa pikir panjang lagi, Darren langsung menghubungi kakaknya itu.
Setelah membaca pesan dari salah satu kakak mafianya. Darren langsung menghubungi kakak mafianya itu.
"Hallo, kak Noe."
"Hallo, Ren! Kau pasti bingungkan saat baca pesan dariku."
"Ya, kak. Ada apa sebenarnya?"
"Orang itu ingin menghancurkanmu melalui kegiatan Tourmu sepuluh hari lagi."
"Apa yang akan direncanakan oleh si brengsek itu, kak?"
"Aku dapat informasi kalau brengsek itu akan mencegat bus kalian ditengah jalan. Dan brengsek itu juga tidak akan segan-segan untuk membunuh semua teman-teman kampusmu."
"Brengsek. Mau apa lagi dia? Apa belum puaskah dia menghancurkanku dengan cara memfitnahku didepan keluargaku sehingga membuatku membenci keluargaku sendiri."
"Tenang, Ren. Kau tidak sendirian. Ada kami bersamamu. Ada kelompok Area Boy, Latin King, The Crips dan Almighty Black juga."
"Terima kasih, kak."
"Lebih baik kau batalkan saja kegiatan itu. Atau kau tetap lanjutkan, tapi sebagai gantinya kegiatan itu kau lakukan di Hamburg saja."
"Baiklah, kak. Terima kasih sarannya."
"Ya, sudah. Kakak tutup dulu telepon. Kakak akan mencari lebih banyak lagi informasi mengenai si brengsek itu."
"Baik, kak."
TUTT!!
TUTT!!
Panggilan terputus.
"Brengsek. Mau apa lagi kau, hah?!" ucao Darren penuh amarah.
***
Waktu menunjukkan pukul 12 malam dimana semua orang sudah tertidur nyenyak. Sedangkan Axel saat ini berada di dalam perjalanan pulang ke rumah. Dan Axel tidak sendirian, melainkan bersama sopirnya.
Axel baru pulang dari Shoowroom milik sahabat kelincinya itu. Axel dan kedua sahabatnya yaitu Jerry dan Dylan baru menyelesaikan lima mobil pesanan dari dua perusahaan. Sisa tiga mobil lagi.
Satu jam dalam perjalanan, akhirnya Axel sampai di gerbang rumahnya.
Saat Axel turun dari mobilnya. Dirinya terkejut saat melihat adik perempuan Salsa berlari ke arahnya
"Kakak."
GREP!
"Hei, ada apa sayang? Apa yang terjadi?"
"Di dalam... di dalam ada orang jahat. Mereka menyandera Papa dan Mama. Kak Radeva dan kak Anshel tidak ada di rumah."
"Apa?" Axel terkejut saat mendengar ucapan sang adik
"Sialan. Siapa mereka?"
Axel melepaskan pelukannya dari Salsa, lalu menatap wajah adik perempuannya itu. "Salsa, dengarkan kakak. Sekarang kamu pergi ke rumahnya kak Darren. Kak Darren saat ini ada di rumah keluarganya."
"Tapi kak."
"Pergilah!" kata Axel pada Salsa. "Paman aku titip Salsa. Bawa Salsa bertemu dengan Darren sahabatku."
"Baik, tuan muda. Ayo nona Salsa," ajak Dimaz.
Setelah kepergian Salsa dan sopirnya, Axel pun masuk ke dalam rumahnya.
***
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Darren, Salsa terus menangis. Dirinya terus memikirkan keadaan kedua orang tuanya dan Kakak laki-lakinya.
"Paman. Bisa lebih cepat tidak. Aku takut Paman."
"Iya, nona. Paman mengerti. Sebentar lagi kita sampai."
Lima menit kemudian, akhirnya Salsa dan sopirnya Dimaz.
"Kita sudah sampai nona."
Salsa langsung keluar dari dalam mobilnya. Dan langsung menekan Bell yang ada di depan gerbang tersebut
TING!! TONG!!
TING!! TONG!!
TING!! TONG!!
Lalu terlihat satpam menghampiri keduanya.
"Hei, kalian siapa? Kenapa malam-malam begini mengganggu kediaman majikan saya?"
"Hiks... maafkan aku, Paman. Aku ingin bertemu dengan kak Darren. Aku... hiks... aku adiknya kak Axel. Kak Axel itu sahabatnya kak Darren."
Mendengar penuturan dari Salsa membuat satpam itu menjadi tidak tega. Tanpa pikir panjang lagi, satpam itu pun membuka pintu gerbang tersebut.
Saat pintu gerbang itu terbuka. Salsa langsung berlari memasuki perkarangan rumah mewah milik keluarga Smith. Sedangkan Dimaz bersama sang satpam menunggu di pos.
^^^
[Di Depan Pintu]
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
Salsa mengedor-ngedor pintu tersebut dengan kuat.
"Kak Darren. Kak Darren. Aku mohon buka pintunya."
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
"Kak Darren... Hiks... Buka pintunya."
^^^
[Kamar Erland]
Agneta yang sedang tertidur, tiba-tiba terbangun. Dirinya terbangun karena mendengar suara seseorang mengedor-ngedor pintu rumahnya.
"Sayang, bangunlah." Agneta membangunkan suaminya dengan menggoyangkan tubuh suaminya.
Tak butuh lama, suaminya pun bangun. "Ada apa sayang?"
"Aku mendengar ada seseorang mengetuk pintu rumah kita."
"Mungkin kau hanya mimpi sayang."
Agneta berpikir sejenak. "Mungkin juga," pikir Agneta.
Lalu saat Agneta ingin tidur kembali. Suara gedoran pintu itu terdengar lagi.
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
DUK!! DUK!!
"Sayang. Tukan bunyi lagi. Ayolah, sayang. Sebaiknya kita lihat. Siapa tahu memang ada seseorang yang datang?"
"Baiklah."
Lalu Erland dan Agneta memutuskan untuk keluar dari kamar mereka.
^^^
[Ruang Tengah]
Saat Erland dan Agneta sudah berada di bawah. Mereka melihat semua putra-putra mereka kecuali Darren terbangun.
"Kenapa kalian semua bangun?" tanya Erland.
"Bagaimana kami semua tidak terbangun? Kami semua mendengar suara seseorang mengetuk pintu sangat kuat diluar," jawab Adnan.
"Tukan, sayang. Bukan aku saja yang dengar. Putra-putramu juga dengar."
Erland menatap wajah Agneta kesal. "Hei. Mereka juga putra-putramu kalau kau lupa."
"Iya, sayang. Iya."
"Biarkan Mama yang buka pintunya." Agneta pun melangkah menuju ruang tamu. Disusul oleh Darka dan Nathan di belakang.
^^^
[Ruang Tamu]
CKLEK!!
Saat pintu terbuka, Agneta, Darka dan Nathan melihat seorang gadis berdiri di depan pintu dengan wajah yang basah, mata yang merah dan juga sembab.
"Hei, manis. Kamu siapa sayang?" tanya Agneta lembut.
"Hiks... Kak Darren."
"Ayo, masuklah sayang." Agneta membawa masuk Salsa ke dalam rumah dan menuntunnya menuju ruang tengah.
^^^
[Ruang Tengah]
Di ruang tengah Erland dan putra-putranya yang lainnya melihat ke arah Salsa.
"Ma. Siapa dia?" tanya Andra.
"Mama tidak tahu, sayang. Saat Mama tanya, gadis ini langsung terisak dan menyebut nama Darren."
"Kak Darren... Hiks... aku mau bertemu dengan kak Darren."
Erland yang tidak tega melihat Salsa menangis sembari menyebut nama putranya langsung menyuruh putranya Mathew untuk memanggil Darren.
"Mathew. Bangunkan kak Darren, sayang. Papa tidak tega melihat gadis itu."
"Baik, Pa."
^^^
[Kamar Darren]
TOK!! TOK!!
TOK!! TOK!!
"Kak Darren. Ada yang mencarimu!" teriak Mathew di depan pintu kamar Darren.
TOK!! TOK!!
TOK!! TOK!!
"Kak Darren. Kakak dengar tidak?"
Tidak ada jawaban sama sekali dari Darren.
"Aish! Kenapa sih paling susah sekali membangunkan sikelinci bongsor seperti kak Darren?" gerutu Mathew.
Saat Mathew ingin mengetuk pintu kamar Darren kembali, pintu tersebut terbuka.
CKLEK!!
Pintu tersebut terbuka dan Darren berdiri di depan pintu itu dengan tatapan mematikan miliknya.
"Ada apa?" ketus Darren.
"Maaf kak. Ada yang mencarimu di bawah."
"Malam-malam begini siapa yang mencariku? Apa orang itu mau cari mati bertamu malam-malam ke rumah orang?"
Mathew yang mendengar penuturan dari Darren menjadi takut.
"Aku tidak tahu, kak. Dia seorang gadis. Dia datang dalam keadaan menangis dan juga menyebut namamu kak. "
Darren berpikir sejenak. "Siapa?" tanya Darren dalam hatinya.
"Dimana dia sekarang?"
"Di ruang tengah. Mama berusaha menenangkannya."
Darren langsung pergi begitu saja menuju ruang tengah di lantai bawah. Tapi seketika langkahnya terhenti. Darren membalikkan badannya dan melihat ke arah Mathew.
Darren mendekatkan wajahnya ke telinga Mathew. Dan membisikkan sesuatu disana. "Tunggu hukuman dari kakak, Mathew Smith. Kau sudah berani mengatakan hal yang terlarang untuk kakak."
DEG!!
Jantung Mathew berdegub begitu kencang saat mendengar ancaman dari Darren. Mathew hanya bisa menelan ludahnya kasar. "Mampus. Matilah kau Mathew," batin Mathew.
Setelah mengatakan hal itu, Daren turun ke bawah.
***
[Ruang Tengah]
"Hei, cantik. Jangan menangis lagi, oke!" hibur Agneta.
"Kak Darren... Hiks."
"Iya, iya. Bibi tahu. Sekarang Mathew, putra Bibi sedang memanggil kak Darren."
"Salsa," panggil Darren saat dirinya melihat keberadaan Salsa.
Salsa yang mendengar namanya dipanggil mengalihkan pandangannya melihat ke arah Darren dan Salsa langsung berlari menghampiri Darren.
GREP!
"Hiks... Hiks."
Salsa memeluk tubuh Darren dan menangis disana. Anggota keluarganya yang melihat Salsa yang tiba-tiba memeluk Darren dibuat heran, bingung dan juga penasaran.
"Ada apa Salsa? Kenapa kau menangis? Lalu kau dengan siapa kesini?" tanya Darren.
Salsa melepaskan pelukannya dari Darren. "Hiks... Kakak ikut aku sekarang... Hiks. Ayo, kak! Ikut aku sekarang." Salsa menarik tangan Darren.
"Salsa, tunggu. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Katakan pada kak."
"Ada beberapa orang yang datang ke rumah. Orang-orang itu menyandera Mama, Papa dan para Pelayan. Di rumah hanya ada aku, Papa dan Mama."
"Lalu Axel dimana?" tanya Axel dengan suara yang sedikit marah.
"Kak Axel baru saja pulang dari Shoowroom nya kak Darren. Lalu kak Darren menyuruhku kesini bersama paman Dimaz. "
"Benar-benar tu anak. Dibilangin jangan lembur. Pukul 9 malam sudah harus berada di rumah. Ini malah baru pulang. Awas saja kau Axel," gerutu Darren saking kesalnya.
"Sayang," panggil Erland.
Darren melihat ke arah Ayahnya.
"Iya."
"Kalau Papa boleh tahu gadis ini siapa, nak?"
"Dia Salsa adiknya Axel. Axel sahabat aku. Aku juga dekat dengan keluarganya."
"Kak. Ayo, kak."
"Tunggu sebentar Salsa. Kakak harus menghubungi seseorang dulu."
"Tapi, kak."
"Percayalah. Tidak akan terjadi sesuatu pada mereka. Mereka akan baik-baik saja. Kakakmu itu juga jago dalam ilmu bela dirinya. Apalagi Papamu."
"Tapikan Papa diikat. Bagaimana bisa Papa ikut berkelahi?"
Darren tersenyum gemas mendengar penuturan dari Salsa. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya. Mereka juga ikut tersenyum mendengarnya.
Darrenmenekan nama kontak Noe Alfredo. Dan panggilan tersambung.
"Hallo, Ren! Ada apa kau menghubungi kakak malam-malam begini?"
"Aku butuh butuh bantuanmu kakak."
"Bantuan apa?"
"Aku butuh lima puluh orang-orangmu. Ada beberapa orang yang sudah berani menyerang salah satu sahabatku."
"Siapa?"
"Axel. Yonantan Axel Immanuel. Aku mau kakak mengirimkan 25 orang langsung ke rumahnya Axel, lalu menghabisi orang-orang itu selama aku dalam perjalanan kesana. Dan 25 nya lagi kirim ke rumahku."
"Baiklah. Kakak akan perintahkan mereka. Ada lagi?"
"Pastikan orang-orangmu memakai pelindung dan lengkap dengan perlengkapan mereka. Kitakan tidak tahu senjata apa yang mereka bawa saat menyerang rumahnya Axel"
"Kau tenang saja. Masalah itu serahkan padaku."
"Kakak masih menyimpan akses untuk melacak setiap sudut rumahnya Axel kan?"
"Iya, Rel. Kakak masih menyimpan semua akses kamera pelacak rumahmu dan rumah sahabat-sahabatmu."
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup teleponnya kakak."
"Baik, Ren. "
PIP!!
"Aku pergi dulu. Nanti akan ada 25 orang yang datang ke rumah ini. Mereka akan berjaga-jaga disini. Aku takut orang-orang itu juga akan datang menyerang rumah kita. Dan aku minta pada kalian, jangan ada yang membukakan pintu."
"Kak Davin, kak Andra. Aku mengandalkan kalian berdua untuk melindungi anggota keluarga."
"Baik, Ren." Davin dan Andra menjawab dengan kompak.
"Mana ponselmu, kak Davin?"
Davin menyerahkan ponselnya pada Darren. "Ini, Ren."
Darren mengambil ponsel Davin, lalu memasukkan kode kamera pengintai yang ada di setiap sudut rumahnya.
"Kak Davin. Kemarilah dan lihat ini!" seru Darren.
Davin pun langsung mendekat pada Darren. "Ini adalah beberapa kamera yang terpasang di setiap sudut rumah kita. Jadi kakak hanya lihat dari sini saja. Kalau ada yang mencurigakan kakak dan yang lainnya bisa mengatasinya."
Mereka semua melongo tak percaya. Sejak kapan rumah mewah mereka terpasang kamera pengintai. Darren yang menyadari wajah bengong anggota keluarganya hanya tersenyum gemas melihatnya.
"Nanti akan aku ceritakan semuanya pada kalian. Jadi jangan perlihatkan wajah kucel kalian itu."
Sontak mereka semua terkejut atas apa yang dikatakan Darren. Dan wajah mereka semua pun kembali seperti biasa.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintunya."
Berikan Komentar, Like dan Votenya.
Terima Kasih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
R1v4Ldo_
Suka ceritanya
2022-10-19
1